Monday, August 31, 2020

Proses Daya Cerna Protein Di Ikan


 

Menurut Suhardjo dan Kusharto (1992) dalam Saputra (2014), suatu protein yang mudah dicerna menunjukkan bahwa jumlah asam amino yang dapat diserap dan digunakan oleh tubuh tinggi. Sebaliknya, suatu protein yang sukar dicerna karena sebagian besar akan dibuang oleh tubuh bersama feses. Proses daya cerna terhadap protein dimulai dengan perombakan terhadap ikatan peptida yang terjadi di dalam lambung dengan menggunakan media yang asam dari cairan lambung. Dari lambung, protein yang sudah dicerna akan masuk ke usus. Kemudian cairan pankreas menghasilkan dua macam “protein-splitting enzyme”, yaitu enzim tripsin dan kimotripsin (pancreatic protease): 30% dari protein dirombak menjadi asam amino sederhana dan langsung diserap usus, sedangkan 70% protein dipecah menjadi dipeptida, tripeptida, atau terdiri atas lebih dari tiga asam amino.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Saputra, D. 2014. Penentuan daya cerna protein in vitro ikan bawal (Colossoma macropomum) pada umur panen berbeda. ComTech. 5(2): 1127-1133.

Sunday, August 30, 2020

Aktivitas Enzim Lambung Ikan Omnivora



Menurut Day et al. (2011), beberapa ikan diketahui tidak memiliki lambung sejati.  Akan tetapi, tidak adanya lambung sejati tersebut dapat diatasi oleh ikan dalam mencerna makanan. Aktivitas enzim protease pada ikan omnivora sama dan beberapa lebih tinggi dari ikan karnivora. Meskipun tidak memiliki lambung sejati, namun aktivitas enzim amilase pada ikan omnivora lebih tinggi dari ikan karnivora. Hal ini menunjukan bahwa aktivitas enzim protease dan amilase memberikan dampak secara fisiologis pada lambung.

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Day, R. D., D. P. German, J. M. Manjakasy, I. Farr, M. J. Hansen and I. R. Tibbetts. 2011. Enzymatic digestion in stomachless fishes : how a simple gut accmmodates both herbivory and carnivory. J. Comp.Physiol B. 181 : 603-613.

Saturday, August 29, 2020

Enzim Di Usus Ikan Omnivora Nila (Oreochromis Niloticus)



Menurut Abro (2014),ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan pemakan segalanya atau yang sering disebut omnivora. Namun, meskipun tergolong omnivora, kebiasaan makan pada ikan akan memiliki kecenderungan memakan kepada salah satu jenis makanan yang lebih dominan.  Pada ikan nila (Oreochromis niloticus), enzim utama pada pencernaannya terlibat dalam metabolisme α-amilase dan α-glukosidase. Amilase adalah enzim yang disintesis di pankreas dan disekresi ke usus dimana sebagian besar enzim ditemukan didalam usus, dan diserap mukosa usus. Aktivitas amilase dalam tubuh umumnya tergantung pada kebiasaan makanannya. Umumnya, spesies ikan omnivora memiliki aktivitas amilase lebih tinggi daripada ikan karnivora.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Abro, R. 2014. Digestion and Metabolism of Carbohydrates in Fish. Thesis. Faculty of Veterinary Medicine and Animal Sciences,Uppsala.

Friday, August 28, 2020

Hubungan Enzim Protease Dengan Kebiasaan Makan Ikan Karnivora Maupun Omnivora


 

Menurut Thongprajukaew et al. (2013), aktivitas protease memiliki peran penting pada ikan karnivora maupun omnivora. Diantara protease asam dan alkalin, tripsin protease alkalin yang merupakan kunci untuk efisiensi pakan dan pertumbuhan, sedangkan kimotripsin merupakan kunci untuk membatasi pertumbuhan. Hal ini menyebabkan rasio aktivitas protease  tripsin maupun kimotripsin sebagai faktor efisiensi pencernaan dan pertumbuhan pada hewan akuatik. Pada hewan karnivora, tripsin berkontribusi kira-kira sebanyak 40-50% dari keseluruhan aktivitas pencernaan protein dan berperan sebagai aktivitas regulasi protease pankreatik. Pencernaan karbohidrat begitu rendah pada ikan karnivora sebaliknya pada amylase sangat penting, namun amilase juga berperan untuk menyeleksi komponen pencernaan protein.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Thongprajukaew, K., U. Kovitvadhi, S. Kovitvadhi, A. Engkagul and Krisna Rungruangsak-Torrissen. 2013. Evaluation of growth performance and nutritional quality of diets using digestive enzyme markers and in vitro digestibility in Siamese fighting fish (Betta splendens Regan, 1910). African Journal of Biotechnology. 12(14): 1689-1702.

Thursday, August 27, 2020

Perbandingan Antara Lambung Ikan Herbivora, Karnivora Dan Omnivora



Menurut Furne et al.(2008) dalam Gadri et al.(2014), enzim-enzim yang berperan dalam pencernaan adalah protease, amilase dan lipase yang mengkatalisis pemecahan nutrien komplek (protein, karbohidrat dan lemak) menjadi nutrien sederhana.  Pada lambung ikan karnivora terdapat enzim protease dan pada ikan herbivore terdapat enzim amylase. Sedangkan pada lambung ikan omnivore terdapat gabungan antar kedua jenis yaitu protease dan amylase. Aktivitas amilase semakin meningkat dengan meningkatnya umur ikan. Ikan herbivora memiliki aktivitas amilase lebih tinggi daripada aktivitas protease dan lipase. Demikian juga aktivitas protease dan lipase ikan omnivara dan karnivora lebih tinggi daripada amilasenya.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Gadri, S.F.A.,U.Susilo, S.Priyanto. 2014. Aktivitas protease dan amilase pada hepatopankreas dan intestine ikan nilem Osteochilus hasselti C.V. Scripta Biologica.1(1):43-48.

Wednesday, August 26, 2020

Perbedaan Usus Pada Ikan Herbivora, Karnivora Dan Omnivora


 

Menurut Izvekova et al. (2013), ada beberapa perbandingan perbedaan usus pada ikan herbivora, karnivora dan omnivora. Perbedaan ini berupa aktivitas ditribusi enzim yang dihasilkannya. Ikan nile tilapia (Oreochromis niloticus) termasuk ikan omnivora cenderung herbivora, diantaranya ada enzim maltase (aktivitas distribusinya maksimum), aminopeptida alkalin phosphatase dan lipase (aktivitas distribusinya maksimum). Ikan lele (Cyiprinus carpio) termasuk dalam ikan omnivora, diantaranya ada enzim protease (aktivitas distribusinya maksimum). Dan ikan cendro (Strongylura krefftii) termasuk ikan karnivora, diantaranya ada enzim amylase, tripsin, aminopeptidase ( aktivitas distribusinya maksimum ) dan enzim maltase, lipase (aktivitas distribusinya sedang).

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Izvekova, G.I., M.M Solovyev, E. N. Kashinkaya and E. I. Izvekov. 2013. Variations in the activity of digestive enzymes along the intestine of the burbot Lota lota expressed by different methods. Fish Physiol Biochem . 39 : 1181–1193.

Tuesday, August 25, 2020

Kelenjar Pencernaan Ikan Karnivora (Ikan Lele)


 

Proses pencernaan makanan dipercepat oleh sekresi kelenjar pencernaan. Adapun kelenjar pencernaan ikan lele terdiri dari hati dan kantong empedu. Lambung dan usus juga dapat berfungsi sebagai kelenjar pencernaan. Kelenjar pencernaan ini menghasilkan enzim pencernaan yang berguna dalam membantu proses penghancuran makanan. Kelenjar pencernaan pada ikan karnivora (ikan lele) menghasilkan enzim-enzim pemecah protein (Mahyuddin, 2007).

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Mahyuddin, K.2007.Panduan lengkap agribisns lele:Jakarta.Penebar Swadaya.

Monday, August 24, 2020

Enzim Pada Lambung Ikan Karnivora

 


Menurut Langeland et al. (2015), ikan menurut kebiasaan makan umumnya dibagi ke dalam karnivora, omnivora dan herbivora. Umumnya percaya bahwa hal ini tercermin dalam enzim pencernaan. Menunjukkan bahwa ikan karnivora memiliki aktivitas α-amilase meskipun kurangnya pati dalam pakan alami mereka. Aktivitas enzim pencernaan dapat digunakan dalam pemilihan bahan pakan dan bisa menghasilkan kapasitas pencernaan dari Ikan. Sebagai contoh, studi tentang enzim pencernaan pada ikan telah membantu menentukan batas untuk penyertaan diet protein dan karbohidrat.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Langeland, M., J.E. Lindberg and T. Lundh. 2013. Digestive enzymes activity in Eurasian Perch (Perca fluviatilis) and Arctic Charr (Salvelinus alpinus). Aquaculture Research and Development. 5(1) : 1-8.

Sunday, August 23, 2020

Enzim Pada Usus Ikan Karnivora Lele (Clarias Sp.)

 


Menurut Chaudhuri (2012), ikan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu ikan karnivora yakni pemakan daging-dagingan. Protein dalam daging awalnya dicerna di perut oleh pepsin dan asam. Proses selanjutnya akan mengalami degradasi menjadi senyawa sederhana oleh peptide dan asam amino bebas. Proses ini terjadi pada bagian sistem pencernaan yakni di dalam usus dengan menggabungkan berbagai protease. Ikan karnivora bahwa memiliki kegiatan protease yang lebih tinggi daripada spesies herbivora dan omnivora.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Chaudhuri, A., S. Mukherjee and S. Homechaudhuri. 2012. Diet composition and digestive enzymes activity in carnivorous fishes inhabiting mudflats of Indian Sundarban estuaries.Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences .12: 265-275.

Saturday, August 22, 2020

Hubungan Enzim Protease Dengan Kebiasaan Makan Ikan


Aktivitas tripsin pada separuh pasca-OTS ditemukan secara signifikan menurun pada usus distal.  Hal ini menunjukkan bahwa fungsi pencernaan diarahkan menuju maksimalisasi asimilasi protein dalam pertukaran untuk efisiensi asimilasi karbohidrat yang mengalami penurunan, yang mungkin dapat menguntungkan untuk herbivora. Selanjutnya, tingkat aktivitas peningkatan protease dan lipase ditemukan pada ikan herbivore. Aktivitas enzim ini diperkirakan dapat memungkinkan herbivore untuk memaksimalkan asimilasi setiap protein yang tersedia dan lipid dalam pakan mereka. Dengan demikian protein dapat dimanfaatkan secara efisien (Day et al., 2011).

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Day, R. D., D. P. German ,and I. R. Tibbetts. 2011. Why can't young fish eat plants? Neither digestive enzymes nor gut development preclude herbivory in the young of a stomachless marine herbivorous fish. Comparative Biochemistry and Physiology, Part B. 158: 23-29.

Friday, August 21, 2020

Perbandingan Antara Lambung Pada Ikan Karnivora, Herbivor, Dan Karnivor


Menurut Furne et al.(2008) dalam Gadri et al.(2014), enzim-enzim yang berperan dalam pencernaan adalah protease, amilase dan lipase yang mengkatalisis pemecahan nutrien komplek (protein, karbohidrat dan lemak) menjadi nutrien sederhana.  Pada lambung ikan karnivora terdapat enzim protease dan pada ikan herbivore terdapat enzim amylase. Sedangkan pada lambung ikan omnivore terdapat gabungan antar kedua jenis yaitu protease dan amylase.Aktivitas amilase semakin meningkat dengan meningkatnya umur ikan. Ikan herbivora memiliki aktivitas amilase lebih tinggi daripada aktivitas protease dan lipase. Demikian juga aktivitas protease dan lipase ikan omnivara dan karnivora lebih tinggi daripada amilasenya.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Gadri,S.F.A.,U.Susilo, S.Priyanto. 2014. Aktivitas protease dan amilase pada hepatopankreas dan intestine ikan nilem Osteochilus hasselti C.V. Scripta Biologica. 1 (1) : 43-48.

Thursday, August 20, 2020

Perbandingan Antara Usus Ikan Karnivor, Herbivor Dan Omnivor

 


Menurut Furne et al. (2005) dalam Oktavianto (2014), ikan karnivora , hebivora dan omnivora memiliki tingkat aktivitas enzim yang berbeda. Enzim amylase dihasilkan pada usus ikan. Aktivitas enzim amilase pada ikan herbivora lebih tinggi daripada aktivitas enzim protease. Pada ikan karnivora memiliki aktivitas enzim protease yang lebih tinggi daripada enzim amlase. Pada ikan omnivore juga enzim protease lebih tinggi daripada enzim amlase.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Oktavianto, D., U. Susilo dan S. Priyanto. 2014. Respon aktivitas amilase dan protease ikan gurami Osphronemus gouramy lac. terhadap perbedaan temperatur air. Scripta Biologica . 1 (4) :  14-18.

Wednesday, August 19, 2020

Perbandingan Usus dan Lambung Ikan Herbivora

 


Menurut Tanu et al. (2012), komposisi enzim pada saluran pencernaan ikan berkorelasi dengan kebiasaan makan mereka.   Enzim pada usus ikan herbivora didominasi oleh enzim selulase. Ikan herbivora tidak bisa menghasilkan enzim selulase sendiri. Hal ini karena ikan herbivora tidak dimiliki endogenous selulase. Oleh karena itu ikan herbivore memproduksi selulosa dari pakan yang mengandung bakteri penghasil selulosa. Sedangkan pada lambungnya menghasilkan enzim lipase, amilase dan HCL.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Tanu, D.D. Deobagkar, R. Khandeparker, R. A. Sreepada, S. V. Sanaye and H.B. Pawar. 2012. A study on bacteria associated with the intestinal tract of farmed yellow seahorse, Hippocampus kuda (Bleeker, 1852): characterizationand extracellular enzymes. Aquacult. Res. 43(3) : 386-394.

Tuesday, August 18, 2020

Enzim Pada Lambung Ikan Mas

 

Menurut Langeland et al. (2013), pemanfaatan  nutrien dari makanan yang dicerna bergantung pada keberadaan dan jumlah enzim dalam sistem pencernaan. Kebiasaan ikan berdasarkan makannya dapat dilihat dari aktivitas enzim pada sistem pencernaan. Pada spesies ikan herbivor, aktivitas enzim amilase menunjukan aktivitas yang aktif dan tersebar dalam  lambung. Enzim amilase memiliki fungsi untuk mencerna serat. Beberapa spesies juga ditemukan memiliki aktivitas enzim amilase pada lambungnya.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Langeland, M., J.E. Lindberg and T. Lundh. 2013. Digestive enzymes activity in Eurasian Perch (Perca fluviatilis) and Arctic Charr (Salvelinus alpinus). Aquaculture Research and Development. 5(1) : 1-8.

Monday, August 17, 2020

Enzim Pada Usus Ikan Mas

 


Menurut Hoseinifar et al. (2015), enzim yang terdapat pada pencernaan ikan yaitu enzim amilase, lipase dan protease yang terdapat pada usus. Aktivitas enzim amylase diukur dengan larutan yang mengandung zat tepung dengan substrat 540 nm. Pada Ikan Mas aktivitas enzim amylase lebih tinggi apabila dibandingkan dengan aktivitas enzim yang lain. Pemberian jumlah pakan yang berbeda tidak  berpengaruh terhadap aktivitas enzim protease pada Ikan Mas yang termasuk ikan herbivora. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa enzim yang dominan dalam sistem pencernaan Ikan Mas adalah enzim amylase.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Hoseinifar, S. H., H. Eshaghzadeh, H. Vahabzadeh and N. P. Mana. 2015. Modulation of growth enzyme activities and intestinal microbiota in common carp (Cyprinus carpio) larvae using short chain fructooligosaccharide. Aquaculture Research. 1-18.

Sunday, August 16, 2020

Enzim Protease

 

(Sato et al., 2013)

(Mi Li et al., 2011)

 

Pengertian Protease

Menurut Abirami et al.(2011), protease adalah enzim yang melakukan proteolisis yaitu katabolisme protein secara hidrolisis dari ikatan peptida yang mengandungasam amino. Asam bersama-sama dengan rantai polipeptida membentuk protein. Protease bekerja optimal dalam keadaan asam. Jamur menguraikan berbagai enzim dari yang bakteri dan protease adalah enzim penting yang diproduksi oleh jamur. Jamur menghasilkan berbagai enzim proteolitik yang sebagian besar bersifat asam.

 

Menurut Singh et al. (2013), protease adalah salah satu enzim penting dalam industri. Enzim ini mengandung 1-5% dari total kandungan protein. Protease bertanggung jawab untuk proteolisis yaitu katabolisme protein oleh hidrolisis peptide obligasi yang menghubungkan asam amino dengan rantai polipeptida. Mereka mampu melalukan hidrolisis pada semua protein selama mereka tidak menjadi komponen dari sel hidup. Protease memungkinkan sel untuk menyerap dan memanfaatkan produk hidrolitik.

 

Klasifikasi Enzim Protease

Menurut Ward (1993) dalam Rahayu (2014), protease diklasifikasikan berdasarkan sifat-sifat kimia sisi aktif enzim. Pertama yaitu protease serin yang memiliki asam amino serin pada sisi aktifnya. Kedua yaitu protease sulfhidril yang memiliki gugus sulfhidril pada sisi aktifnya. Ketiga yaitu protease metal yang memiliki ion logam pada sisi aktifnya. Keempat yaitu protease asam yang memiliki dua gugus karboksil pada sisi aktifnya.

 

Menurut Hardiany (2013), protease adalah enzim yang mengkatalisis pemecahan protein melalui hidrolisis ikatan peptida. Berdasarkan mekanisme reaksi dan residu situs aktif yang terlibat dalam mekanisme tersebut, protease diklasifikasikan menjadi serin protease, sistein protease, aspartat protease dan zinc (metallo) protease. Sistein protease dapat diklasifikasikan menjadi tiga keluarga besar yaitu keluarga enzim yang berhubungan dengan interleukin 1β converting enzyme (ICE), calpain dan keluarga papain (cathepsin). Cathepsin dapat dibagi lagi menjadi cathepsin K dan cathepsin S. Cathepsin K terletak pada kromosom 1q21 yang berdekatan dengan cathepsin S, sedangkan Cathepsin S ditemukan pada nodus limfe dan limpa. Keluarga calpain merupakan kelompok enzim sistein protease yang memerlukan ion kalsium untuk aktivitasnya. Calpain berimplikasi pada berbagai macam proses seluler yang tergantung kalsium seperti transduksi sinyal, proliferasi sel, progresi siklus sel, diferensiasi, fusi membran, apoptosis dan aktivasi platelet.

 

Fungsi Enzim Protease

Menurut Arafat et al. (2015), pada usus ikan nila   (Oreochromis niloticus) selain memiliki enzim lipase dan maltase juga mensekresikan enzim protease. Enzim protease ini berperan dalam mempercepat reaksi hidrolisis prptein dan memotong ikatan peptida pada usus ikan. Namun kerja enzim protase ini sangat rendah atau tidak optimal. Sehingga jika diberikan pakan dalam jumlah berlebih dan mengandung protein yang cukup tinggi, membuat proses absorbsi protein bekerja sangat lambat. Proses absorbsi yang tidak optimal atau tidak dapat diserap ini akan dikeluarkan oleh ikan sebagai feses yang akan mencemari perairan dan dapat menyebabkan perairan beracun oleh penumpukan nitrit dan amonia perairan.

 

Menurut Haryati (2003) dalam Pranata et al. (2014), semua aktivitas di dalam tubuh dibantu oleh adanya enzim-enzim yang mengaturnya. Salah satunya enzim protease, enzim ini terletak dalam sistem pencernaan ikan. Biasanya aktivitas enzim ini sudah mulai terdeteksi sejak tahap larva ikan atau sekitar umur 2 hari. Enzim ini berfungsi untuk menghindrolisi protein pada cadangan kunign telur larva, yang akan diserap dan diubah menjadi energi. Pada ikan omnivora memiliki aktivitas enzim protease yang tinggi daripada ikan karnivora atau herbivora.

 

Macam-macam Enzim Protease

Menurut Marks et al. (1996), protease serin dibagi menjadi tiga macam yaitu, tripsin, kimotripsin, dan elastase. Tripsin adalah enzim yang paling spesifik diantara ketiganya dan memutuskan ikatan peptida ditempat gugus karboksil yang berasal dari Lisin atau arginin. Kimotripsin kurang spesifik fungsinya tetapi cenderung memutuskan residu yang mengandung asam amino hidrofabik atau asam. Elastase tidak saja memutuskan elastin tetapi juga protein lain didalam ikatan yang gugus karboksilnya dibentuk oleh asam amino dengan rantai sisi pendek (alanin, glisin, atau serin). Kerja endopeptidase pankreas ini melanjutkan pencernaan protein makanan yang telah dimulai oleh pepsin dilambung. Peptida kecil yang dihasilkan oleh kinerja tripsin, kimotripsin dan elastase, kemudian diserang oleh eksopeptidase, yaitu protease yang memutuskan asam amino satu per satu dari ujung rantai.

 

Menurut Kurniawan (2014), macam-macam enzim protease terdiri atas beberapa jenis enzim yaitu:

• Enzim pepsin, yang berperan memecah senyawa protein menjadi asam amino.

• Enzim tripsin, yang berperan mengurai pepton menjadi senyawa asam amino.

• Senyawa entrokinase, yang berperan mengurai senyawa pepton menjadi senyawa asam amino.

• Enzim peptidase, yang berperan dalam mengurai senyawa peptide menjadi asam amino.

• Enzim renin, yang berperan sebagai pengurai senyawa kasein dan juga susu.

• Enzim gelatinase, yang berperan dalam mengurai senyawa gelatin.

 

Sumber Enzim Protease

Protease merupakan salah satu kelompok enzim yang paling penting di dunia industri dalam beberapa tahun terakhir. Bacillus dapat tumbuh pada kisaran pH 7,0-11,0 dan menghasilkan protease ekstraseluler. Saat ini, sebagian besar enzim protease yang tersedia secara komersial berasal dari kelompok Bacillus sp. B. licheniformis, B. subtilis, B. amyoliquefasciens dan B. majovensis merupakan anggota dari kelompok Bacillus sp. yang paling potensial digunakan untuk memproduksi enzim protease secara komersial. Savinase, Esperase, Maxacal, dan Maxinase merupakan protease deterjen komersial yang diproduksi oleh Bacillus. (Zahidah dan Shovitri, 2013).

 

Menurut Mahajan dan Shamkant (2010) dalam Fathimah dan Wardani (2014), enzim protease merupakan enzim penting dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena aplikasi-nya sangat luas. Sumber enzim protease yang telah diketahui berasal dari hewan, mikroba, dan tanaman. Tanaman merupakan sumber enzim protease terbesar (43.85%). Prosentase kedua yaitu pada mikroba yang diikuti oleh bakteri (18.09%), jamur (15.08%), alga (7.42%) dan virus (4.41%). Prosentase ketiga yaitu pada hewan (11.15%).

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Abirami, V., S. A. Meenakshi, K. Kanthymathy, R. Bharathidasan, R. Mahalingam and A. Panneerselvam. 2011. Partial purification and characterization of an extracellular protease from penicillium janthinellum and neurosporacrassa. European Journal of Experimental Biology. 1(3) :114-123.

Arafat, M. Y., N. Abdulgani dan R. D. Devianto. 2015. Pengaruh penambahan enzim pada pakan ikan terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Sains dan Seni ITS. 4(1): 2337-3520.

Fathimah, A. N dan A.K. Wardani.2014. Ekstraksi dan karakterisasi enzim protease dari daun kelor (Moringa oliefera Lamk). Jurnal Teknologi Pertanian. 15 (30):191-200.

Hardiany, N. S. 2013. Cathepsin dan Calpain: Enzim Pemecah Protein dalam Sel. eJKI. 1 (1): 75 – 81.

Kurniawan, R.F. 2014. Rahasia Terbaru Kedahsyatan Terapi Enzim. Healthy Books. 129hlm.

Marks, D. B., A.D.Marks dan C.M.Smith. 1996. Biokimia Kedokteran Dasar. Penerbit EGC:Jakarta. 770 hlm.

Mi Li, F. D. Maio, Dongwen Zhou, A. Gustchina, J. Lubkowski, Z. Dauter, D. Baker and  A. Wlodawer. 2011. Crystal structure of XMRV protease differs from the structures of other retropepsins. nature structural & molecular biology.18(2).

Pranata, A., Haryati, M. Y. Karim. 2014. Perkembangan aktivitas enzim pencernaan pada larva bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede 1801). Jurnal Sains dan Teknologi. 14(3):199-208.

Rahayu, S. 2014. Isolasi dan karakterisasi protase dari bakteri sumber air panas Tamalintik Mamasa Sulawesi Barat. Skripsi.  Universitas Hassanudin.

Sato, H., M. Yokoyama and H.Toh. 2013. Genomics and Computational Science For Virus Research. Frontries on Microbiology.p 125.

Singh V. and H. S. Banyal. 2013. Study on fish species recorded from khajjiar lake of chamba district, himachal pradesh, india. International Journal of Science and Nature. 4(1): 96-99.

Zahidah, D dan M.Shovitri. 2013.  Isolasi, karakterisasi dan potensi bakteri aerob sebagai pendegradasi limbah organic. Jurnal Sains dan Semi Pomits. 2 (1) : 2337-3520.

Saturday, August 15, 2020

Mekanisme Hidrolisis Enzimatik


 

Menurut Herpandi et al. (2011), hidrolisis kimia adalah proses hidrolisis yang menggunakan senyawa kimia berupa asam maupun basa yang bertujuan untuk memecah ikatan peptida protein. Keuntungan proses ini adalah lebih mudah dari pada hidrolisis enzimatis. Kekurangan proses ini dapat mengubah struktur protein sehingga fungsinya berubah. Hidrolisis asam lebih sering digunakan dibandingkan hidrolisis basa. HIdrolisat merupakan hasil dari protein yang terhidrolisis berupa peptidase sederhana yang bermacam-macam.

 

Menurut  Sharma et al. (2013), hidrolisis enzimatis merupakan proses hidrolisis dengan bantuan enzim, contohnya pepsin. Pepsin dikenal sebagai enzim yang memecah ikatan asil gliserol dengan sejumlah air dan menghasilkan kumpulan monogliserida, digliserida, asam lemak dan gliserol. Pepsin aktif pada lingkungan yang berminyak namun berair pula. Reaksi hidrolisis lipase yang terjadi pada trigliserida adalah dengan cara pengikatan lipase padaikatan asil (RCOO-) pada sisi aktif positif (NH3+) dan ion hydrogen (H+) pada sisi aktif negative (COO-). Hal ini menyebabkan lepasnya asam lemak dan berakhirnya reaksi.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Herpandi, N. H., A. Rosmadan W. A. W. Nadiah. 2011. The tuna fishing industry: a new outlook on fish protein hydrolysates. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety. 10: 195-207.

Sharma, A., S. P. Chaurasia and A. K. Dalay. 2013. Enzymatic hydrolysis of cod liver oil for the fatty acids production. Catalysis Today. 207: 93-100.

Friday, August 14, 2020

Kerja Enzim pada Substrat

 


Menurut Kurniawan (2014), enzim mempunyai kekhasan yaitu hanya bekerja pada satu reaksi saja. Suatu enzim mempunyai ukuran yang lebih besar daripada substratnya. Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan terhadap reaksi kimia dapat terjadi karena reaksi kimia dengan energy aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang berarti pada setiap jenis enzimnya hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia saja. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan struktur kimia dari tiap-tiap enzim tersebut yang bersifat tetap. Bagian enzim yang mengadakan hubungan dengan substrat disebut bagian aktif.

 

Menurut Oktavia et al. (2014), mekanisme kerja enzim juga ditentukan oleh jumlah atau konsentrasi substrat yang tersedia. Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar sedangkan kondisi lainnyatetap maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan. Enzim bekerja untuk menghasilkan senyawa kimia melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah. Percepatan terhadap reaksi kimia dapat terjadi karena reaksi kimia dengan energy aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu yang lebih lama. Enzim dapat bekerja pada satu substrat tertentu yang sesuai dengan bentuk enzimnya.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Kurniawan, R.F. 2014. Rahasia Terbaru Kedahsyatan Terapi Enzim. Healthy Books. 129hlm.

Oktavia, Y., A. Andhikawati, T. Nurhayati dan K. Tarman. 2014. Karakterisasi enzim kasar selulase kapang endofit dari lamun. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.6(1): 209-218.

Thursday, August 13, 2020

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim

 

 

a. pH

Nilai pH dapat mempengaruhi aktifitas enzim, masing-masing enzim memiliki kadar pH optimal. Hal ini mungkin disebabkan perubahan pada pH yang mempengaruhi struktur spasial enzim, sehingga mengubah aktivitas enzim. Kerja ekstrasi dilakukan pada kondisi pH yang berbeda, sementara variabel ekstrasi lain mengatur sebagai berikut: jumlah enzim yang komplek 2%, waktu ekstrasi 3 jam, dan suhu ekstrasi 60 derajat celsius. Hasil ekstrasi polisakarida terus meningkat dengan pH (2.5-4) dan mencapai nilai puncak (6.73%) pada pH 4. Jadi, ekstraksi polisakarida tidak meningkat ketika nilai pH meningkat (Xiulian Yin et al., 2011).

 

Menurut Yusriah dan Kuswytasari (2013), aktivitas protease optimum terjadi pada suhu 400C dengan pH 8. Berdasarkan pH optimumnya, protease di klasifikasikan pada protease asam, netral dan alkalin. Rentang pH 8 – 12 dapat diklasifikasikan sebagai protease alkalin. pH berpengaruh terhadap kecepatan aktivitas enzim dalam mengkatalis suatu reaksi. Hal ini disebabkan konsentrasi ion hidrogen mempengaruhi struktur dimensi enzim dan aktivitasnya. Setiap enzim memiliki pH optimum di mana pada pH tersebut struktur tiga dimensinya paling kondusif dalam mengikat substrat. Aktivitas enzim yang menurun karena perubahan pH disebabkan oleh berubahnya keadaan ion substrat dan enzim.

 

b. Konsentrasi enzim dan substrat

Menurut Suhandana et al. (2013), pembentukan kompleks enzim substrat membatasi kecepatan reaksi enzimatis. Kecepatan maksimum reaksi enzim dicapai pada tingkat konsentrasi substrat yang sudah mampu mengubah seluruh enzim menjadi kompleks enzim substrat pada keadaan lingkungan yang memungkinkan. Reaksi enzim tergantung pada konsentrasi substrat yang ditambahkan, sedangkan pada konsentrasi substrat diatas konsentrasi tersebut kecepatan reaksi menjadi tidak tergantung pada konsentrasi substrat. Aktivitas enzim PPO diuji menggunakan konsentrasi substrat yang berbeda. Konsentrasi substrat yang optimum pada enzim PPO adalah 7,5 mM di mana apabila nilai substrat lebih rendah membuat aktivitas enzim meningkat dan apabila lebih tinggi membuat aktivitas enzim menurun.

 

Konsentrasi substrat adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas enzim amilase. Penambahan konsentrasi substrat akan menaikkan aktivitas enzim sampai mencapai batas maksimum. Pada kondisi tersebut semua enzim telah jenuh dengan substrat, sehingga penambahan substrat sudah tidak akan meningkatkan aktivitas enzim amilase. Pada konsentrasi substrat 12,5% enzim memiliki aktivitas maksimum yaitu 0,0476 det-. Peningkatan aktivitas enzim amylase terjadi pada konsentrasi substrat 5-12,5% dan mulai konstan dari konsentrasi 12,5-17,5%. Hal ini disebabkan karena enzim sudah jenuh dengan substrat. Pada konsentrasi substrat yang rendah, sisi aktif tempat terjadinya kontak antara enzim dan substrat hanya menampung substrat yang sedikit. Dalam kondisi ini konsentrasi kompleks enzim-substrat sedikit dan menyebabkan aktivitas enzim kecil. Bila konsentrasi substrat diperbesar, maka semakin banyak substrat yang dapat berhubungan dengan enzim pada sisi aktif tersebut. Akibatnya kompleks enzim-substrat semakin besar dan aktivitas enzim juga semakin besar (Bahri et al., 2012).

 

c. Suhu

Menurut Yusriah dan Kuswytasari  (2013), faktor lain yang berpengaruh terhadap aktivitas protease adalah suhu. Adanya peningkatan suhu akan meningkatkan energi kinetik, sehingga menambah intensitas tumbukan antara substrat dan enzim. Akan tetapi, peningkatan suhu lebih lanjut akan menurunkan aktivitas enzim. Hal ini disebabkan karena enzim akan mengalami denaturasi. Enzim mengalami perubahan konformasi pada suhu yang terlalu tinggi, sehingga substrat terhambat dalam memasuki sisi aktif enzim.

 

Menurut Wuryanti (2004) dalam Noviyanti et al. (2012), kemampuan protease dalam mempercepat reaksi dipengaruhi beberapa faktor yang menyebabkan enzim dapat bekerja dengan optimal dan efisien.Temperatur mempengaruhi aktivitas enzim. Pada temperatur rendah, reaksi enzimatis berlangsung lambat. Sedangkan kenaikan temperatur akan mempercepat reaksi, sehingga suhu optimum tercapai dan reaksi enzimatis mencapai maksimum. Kenaikan temperatur melewati temperatur optimum akan menyebabkan enzim terdenaturasi dan menurunkan kecepatan reaksi enzimatis.

 

d. Aktivitas dan Inhibitor 

Menurut Fikri et al.(2012), aktivator berikatan dengan enzim yang menyebabkan kenaikan kecepatan reaksi enzim, sedangkan inhibitor berikatan dengan enzim dan menyebabkan kecepatan reaksi enzim menurun. Beberapa enzim dan inhibitor memerlukan ion-ion tertentu untuk menjaga kestabilan aktivitasnya. Ion-ion tersebut dapat bertindak sebagai inhibitor pada konsentrasi tertentu, tapi juga dapat menjadi aktivator pada konsentrasi berbeda. Inhibitor berikatan dengan enzim yang belum berikatan dengan activator. Banyak ion logam yang bekerja sebagi inhibitor non-kompetitif.

 

Menurut Sinclair dan Guarente (2011), terdapat beberapa keuntungan dalam mengetahui aktivator dan inhibitor pada enzim. Dapat diketahui bahwa kerja inhibitor tidak selalu menginduksi sel dan fisiologis. Aktivitas inhibitor diperkuat oleh kerja enzim-enzim yang lain. Aktivator biasanya berhubungan dengan protein yang memiliki target lebih besar pada enzim. Mekanisme aktivator dapat mengurangi efek negatif yang ditimbulkan mekanisme inhibitor.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Bahri, Syaifu.,M. Mirzandan M. Hasan.2012. Karakterisasi enzim amilase dari kecambah biji jagung ketan (Zea mays ceratinaL.). Jurnal Natural Science. 1(1): 132-143.

Fikri, M. Z., T. Nurhayanti dan E. Salamah. 2014.Ekstraksi dan karakterisasi parsial ekstrak kasar enzim katepsin dari ikan patin. J. Teknol dan Industri Pangan. 25(1): 119-123.

Noviyanti,T., P.Ardiningsih dan W.Rahmalia.2012.Pengaruh temperatur terhadap aktivitas      enzim protase dari daun sansakng (Pycnarrhena cauliflora Diels). JKK. 1(1):31-34.

Suhandana, M., T. Nurhayati dan L. Ambarsari. 2013. Karakterisasi ekstrak kasar enzim Polyphenoloxidase dari udang windu (Penaeus monodon). Jurnal Ilmu KelautanTropis. 5(2): 353-364.

Xiulian Yin, Qinghong You and Zhonghai Jiang. 2011. Optimization of enzyme assisted extraction of polysaccharides from Tricholoma matsutake by response surface methodology. Carbohydrate Polymers. 86: 1358-1364.

Yusriah dan N.D. Kuswytasari. 2013. Pengaruh pH dan suhu terhadap aktivitas protease          Penicillium sp. Jurnal Seni dan Seni Pomits. 2(1) : 2337- 3520.