Monday, January 6, 2020

Kerang Bambu, Lorjuk, Atau Ensis; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Kerang Bambu Lorjuk atau Ensis merupakan merupakan kerang air laut berukuran sedang. Kerang ini termasuk ke dalam genus Ensis. Bentuk cangkang dari bivalvia ini memanjang, dengan dua cangkang yang memiliki sisi simetris. Bentuk cangkang Ensis sp. yang menyerupai pisau cukur atau pisau lipat, membuat biota ini lebih dikenal dengan nama Razor clam atau Jack knife.

Biota yang termasuk ordo Veneroida ini memiliki cangkang berwarna kecoklatan. Bagian cangkang yang agak putih dilengkapi garis-garis coklat, membuat biota ini sekilas mirip dengan bilah bambu. Biota ini di Indonesia umumnya dikenal dengan nama kerang bambu. Masyarakat Jawa Timur (terutama di Madura) menyebut kerang bambu dengan nama lorjuk.

KLASIFIKASI KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Kingdom
: Animalia
Filum
: Mollusca
Sub filum
: Conchifera
Kelas
: Bivalvia
Ordo
: Heterodonta
Sub ordo
: Veneroida
Famili
: Pharidae
Genus
: Ensis
Spesies
: Ensis sp
Nama lokal
: Kerang bambu lorjuk atau Ensis

MORFOLOGI DAN CIRI-CIRI KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Kerang Bambu lorjuk merupakan kerang air laut berukuran sedang. Kerang ini termasuk ke dalam genus Ensis. Bentuk cangkang dari bivalvia ini memanjang, dengan dua cangkang yang memiliki sisi simetris. Bentuk cangkangEnsis sp. yang menyerupai pisau cukur atau pisau lipat, membuat biota ini lebih dikenal dengan nama Razor clam atau Jack knife.

Biota yang termasuk ordo Veneroida ini memiliki cangkang berwarna kecoklatan. Bagian cangkang yang agak putih dilengkapi garis-garis coklat, membuat biota ini sekilas mirip dengan bilah bambu. Biota ini di Indonesia umumnya dikenal dengan nama kerang bambu. Masyarakat Jawa Timur (terutama di Madura) menyebut kerang bambu dengan nama lorjuk.

REPRODUKSI KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Proses reproduksi kerang bambu lorjuk atau Ensis dipengaruhi oleh variasi musim, kondisi lingkungan, ketersediaan makanan, dan karakteristik genetik. Reproduksi Ensis selain dipengaruhi oleh suhu, juga dipengaruhi oleh konsentrasi klorofil-a di perairan.

Seperti bivalvia pada umumnya, kerang bambu Ensis sp merupakan hewan dioecious, artinya dalam satu individu hanya terdapat satu jenis kelamin: jantan atau betina. Pemijahan dilakukan secara eksternal di perairan. Hasil penggabungan sel sperma dan sel telur selanjutnya membentuk larva veliger. Larva Ensis juga mengalami fase planktonik sekitar satu bulan, sebelum akhirnya menetap di substrat. Belum ada hasil penelitian yang pasti yang bisa menegaskan apakah larva Ensis memiliki kemampuan untuk memilih substrat atau proses menempati substrat ini terjadi secara pasif: yang ditentukan oleh hidrodinamika laut, faktor biotik dan abiotik, serta kesempatan (Breen et al. 2011).  Setelah larva menetap pada substrat, larva akan mengalami perkembangan menjadi juvenile dan selanjutnya akan berkembang menjadi dewasa.

Seperti bivalvia pada umumnya, Ensis sp merupakan hewan dioecious, artinya dalam satu individu hanya terdapat satu jenis kelamin: jantan atau betina. Pemijahan dilakukan secara eksternal di perairan. Hasil penggabungan sel sperma dan sel telur selanjutnya membentuk larva veliger. Larva Ensis juga mengalami fase planktonik sekitar satu bulan, sebelum akhirnya menetap di substrat. Belum ada hasil penelitian yang pasti yang bisa menegaskan apakah larva Ensis memiliki kemampuan untuk memilih substrat atau proses menempati substrat ini terjadi secara pasif: yang ditentukan oleh hidrodinamika laut, faktor biotik dan abiotik, serta kesempatan (Breen et al. 2011).  Setelah larva menetap pada substrat, larva akan mengalami perkembangan menjadi juvenile dan selanjutnya akan berkembang menjadi dewasa.

Musim pemijahan Ensis umumnya berbeda-beda pada setiap lokasi. Cardoso et al. (2009) melaporkan bahwa pemijahan E. americanus dimulai pada bulan April/ Mei dan pemijahan kedua pada bulan Agustus/ September di perairan laut Dutch Wadden. Selanjutnya Darriba et al. (2004) melaporkan bahwa pemijahan E. arcuatus di Spanyol dimulai pada musim panas, bersamaan dengan fenomena up welling  dan blooming fitoplankton. E. macha di perairan pesisir selatan Argentina dan Chili diduga memijah selama musim semi dan akhir musim gugur (Baron et al. 2004).

Proses reproduksi Ensis dipengaruhi oleh variasi musim, kondisi lingkungan, ketersediaan makanan, dan karakteristik genentik (Darriba et al. 2005). Selanjutnya Darriba et al. (2004) melaporkan bahwa reproduksi E. arcuatus selain dipengaruhi oleh suhu, juga dipengaruhi oleh konsentrasi klorofil-a di perairan.

Mengingat Ensis merupakan komoditi yang bernilai ekonomis namun memiliki kesulitan pada saat akan diambil dari alam (terkait kemampuan Ensis menggali lubang yang cepat di substrat), maka dilakukan usaha untuk mengembangkan budidaya biota ini. Da Costa et al. (2011) meneliti kemungkinan Ensis Arcuatus untuk dapat dibudidayakan, selanjutnya Kenchington et al. (1998) mencoba menganalisa karakteristik tahap hidup awal E. directus untuk diaplikasikan pada perikanan dan budidaya.

FISIOLOGI KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Bivalvia pada umumnya kaki kerang berbentuk pipih secara lateral dan mengarah ke anterior sebagai adaptasi untuk meliang. Gerak kaki menjulur diatur oleh kombinasi tekanan darah dan otot protractor anterior, dan gerak menarik kaki ke dalam cangkang oleh sepasang otot retractor anterior dan posterior untuk merayap dalam substrat lumpurdan pasir. Beberapa hidup tidak meliang ialah menempel erat pada benda padat sebagai epifauna, hidup bebas diatas permukaan dasar perairan, pengebor benda padat, komensal dan parasit. Sebagai epifauna, kerang hidup menempel dengan erat pada benda seperti kayu, batu, cangkang moluska, dan jembatan.

PERAN KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS DI DALAM  PERAIRAN
Seperti kebanyakan bentos lainnya, kerang bambu memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan.

TINGKAH LAKU KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Bivalvia pada umumnyahidup membenamkan dirinya dalam pasir atau pasir berlumpur dan beberapa jenis diantaranya ada yang menempel pada benda-benda keras dengansemacam serabut yang dinamakan byssal. Berdasarkan makanan dan kebiasaan makannya, jenis-jenis bivalvia dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu pemakan suspensi dan pemakan endapan. Spesies ini umumnya memperoleh makanan dengan cara menyaring partikel-partikel yang ada dalam air laut.

Mengingat Ensis merupakan komoditi yang bernilai ekonomis namun memiliki kesulitan pada saat akan diambil dari alam (terkait kemampuan Ensis menggali lubang yang cepat di substrat), maka dilakukan usaha untuk mengembangkan budidaya biota ini. Peneliti memungkinan E. arcuatus untuk dapat dibudidayakan, selanjutnya mencoba menganalisa karakteristik tahap hidup awal E. directus untuk diaplikasikan pada perikanan dan budidaya.

HABITAT KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Kerang bambu lorjuk atau ensis hidup di pantai terbuka dengan kondisi pantai yang bersih. Biota ini umumnya ditemukan di daerah litoral dan daerah pasang surut, mulai dari daerah surut terendah hingga lepas pantai yang dangkal. Ensis dapat hidup pada substrat berpasir atau berlumpur, misalnya E. macha (Baron et al. 2004).

Biota filter feeder dengan makanan utamanya berupa fitoplankton ini, lebih banyak ditemukan pada karakteristik substrat berupa pantai berpasir. Sebagian besar berupa pasir kuarsa, dan sebagian kecil berupa pasir yang mengandung zat kapur (calcareous). Berdasarkan hasil penelitian Holme (1954), tidak ada bukti bahwa satu spesies pun dari Ensis hidup terbatas pada substrat pasir dengan karakteristik mineralisasi tertentu, misalnya derajat tingkat kebulatan butiran ataupun tekstur permukaan.

Ensis hidup dengan membuat lubang (meliang) dan membenamkan diri di dalam pasir. Siphon pendek yang dimiliki biota ini akan berada di atas permukaan substrat saat tergenang air untuk mencari makan (Baron et al. 2004). Hasil penelitian yang dilaporkan oleh Baron et al. (2004) menunjukkan bahwa Ensis tidak hanya hidup meliang di substrat, ternyata biota ini mampu merayap di permukaan substrat dan berenang. Diduga bahwa Ensis mampu bergerak aktif untuk mencari substrat yang sesuai dengan keinginannya.

Biota yang mampu menancapkan kaki dengan sangat kuat di substrat ini juga memiliki kemampuan menggali lubang dengan sangat cepat. Ensis akan memberikan pancaran air pada saat membuat lubang. Pancaran air ini berfungsi sebagai tekanan, sehingga Ensis bisa dengan cepat masuk ke dalam substrat. Berikut diilustrasikan proses penggalian lubang di substrat pasir oleh Ensis sp.

MANFAAT KERANG BAMBU LORJUK ATAU ENSIS
Jantung adalah salah satu organ tubuh manusia yang paling penting dijaga kesehatannya. Nah, dengan mengonsumsi kerang tentunya akan membuat jantung merasakan manfaatnya. Sebuah riset membuktikan bahwa seorang pria yang mengonsumsi kerang sebanyak satu kali dalam seminggu, secara signifikan dapat membantu meminimalisir resiko kematian karena serangan jantung mendadak.

Studi lain juga mengungkapkan bahwa seseorang yang mengonsumsi 280 gram kerang setiap harinya selama tiga minggu akan membantu menurunkan kadar trigliserida atau lebih dikenal sebagai lemak di dalam darah yang akan memicu penyumbatan pembuluh darah. Hal ini dikarenakan di dalam kerang mengandung asam lemak omega 3 yang akan membantu mengendalikan tekanan darah serta mengontrol kadar kolesterol.

Di antara hewan laut yang memiliki cangkang, kerang, kepiting serta tiram adalah makanan yang tinggi akan mineral ini. Kerang juga memiliki kandungan protein yang diperlukan untuk pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan.

Selain itu, kerang mengandung kalsium yang diperlukan tulang, zinc untuk kesehatan prostat, dan zat besi yang dapat membantu tubuh dalam memproduksi sel darah merah.

Kerang juga mengandung vitamin B yang baik bagi kesehatan otak. Kerang juga rendah sodium dan kalori yang tidak akan memicu peningkatan tekanan darah serta berat badan.

Risiko kesehatan
Di balik manfaat mengonsumsi kerang, ternyata kerang juga erat kaitannya dengan risiko kesehatan. Para ahli memperingatkan bahwa kerang adalah hewan laut yang sangat cepat menyerap polutan laut, termasuk bakteri yang dikenal dengan nama salmonella, virus hepatitis A.

Tiram mentah juga biasanya memiliki kandungan bakteri vibrio vulnificus yang akan memicu penyakit serius, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes, jantung, sistem kekebalan tubuh hingga gangguan pada sistem pencernaan.

Kerang juga bisa menyerap polutan berbahaya lainnya seperti merkuri yang jelas saja sangat berbahaya bagi ibu hamil. Kita sendiri sudah menyadari bahwa kondisi perairan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan banyaknya sampah dan kotoran, terutama pada perairan yang dekat dengan kawasan industri.

Ibu hamil memang dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung omega 3. Untuk itulah sebaiknya menghindari mengkonsumsi kerang dan memilih alternatif sumber lain yang jauh lebih aman, seperti biji-bijian, kacang-kacangan dan ikan laut.

Tips aman mengonsumsi kerang bambu
Jika Anda ingin mengonsumsi kerang, maka sebaiknya ikutilah sejumlah tips di bawah ini.

1. Masaklah kerang sampai matang. Hindarilah mengonsumsi kerang setengah matang. Sebaiknya masaklah kerang hingga benar-benar matang dengan cara merebusnya terlebih dahulu untuk menghilangkan bakteri dan virus.

2. Belilah kerang yang dijual di supermarket atau tempat terpercaya. Hindarilah membeli kerang di tempat yang tidak terpercaya. Sebaiknya pastikan Anda membeli kerang yang berasal dari daerah yang jauh dari polusi.

3. Langkah selanjutnya yaitu rebuslah kerang terlebih dahulu sebelum anda memasaknya. Anda bisa memasak kerang dengan cara dipanggang, ditumis, bahkan digoreng.

4. Bersihkan kerang dengan air mengalir sampai bersih sebelum diolah.

5. Hindarilah membeli kerang yang berbau logam atau bahan kimia, termasuk kerang yang sudah mengeluarkan aroma tak sedap dan berlendir.

PENULIS
Elva Atsari
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Baron PJ, LE Real, NF Ciocco, ME Re. 2004. Morphometry, Growth and Reproduction of an Atlantic Population of the Razor Clam Ensis macha(Molina, 1782). Scienticia Marina 68(2): 211-217.
Breen M, T Howell, P Copland. 2011. A Report on Electrical Fishing for Razor Clam (Ensis sp.) and Its Likely Effects on the Marine Environment. Scotland: Marine Scotland Science Report.
Google image. 2015. http://www.google.com/ diakses pada 4 November 2015
Holme NA. 1954. The Ecology of British Species of Ensis. J. Mar.biol.Ass. U.K. 33: 145-172.
https://www.facebook.com/MissCHAOS77/posts/manfaat-kerangbambu-untukkesehatanhttpgooglsl5n7pkerangbambumerupakanmerupa/878173438980098/
Zipcodezoo. 2015. http://www.zipcodezoo.com/ diakses pada 4 November 2015

No comments:

Post a Comment