Friday, January 17, 2020

Ikan Kuniran; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) adalah ikan air laut yang mempunyai ciri fisik berkepala tumpul, bentuk badan memanjang dan pipih dengan penampang melintang bagian depan punggung memiliki beberapa garis bengkok yang dalam, sirip dan ekor ikan berwarna kuning. Ikan Kuniran mempunyai garis berwarna coklat kemerahan memanjang dari moncong melewati mata sampai ke pertengahan dasar pangkal ekor.

KLASIFIKASI IKAN KUNIRAN

Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Kelas
: Actinopterygii
Subkelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Subordo
: Percoidei
Famili
: Mullidae
Genus
Upeneus
Spesies
Upeneus moluccensis
Nama FAO
Goldband goatfish
Nama Lokal    
: Ikan Kuniran (Demak)

MORFOLOGI IKAN KUNIRAN
Deskripsi morfologi ikan kuniran antara lain badannya memanjang, tinggi badan hampir sama dengan panjang kepala, dan lengkung kepala bagian atas agak cembung. Sungut dengan ujung tidak melewati atau mencapai bagian belakang kuping tulang penutup insang bagian depan. Maxilla (rahang atas) mencapai atau hampir mencapai garis tegak bagian depan mata. Panjang sirip perut (ventral) adalah 2/3 dari panjang sirip dada (pectoral). Kepala dan badan bagian atas merah terang sampai kekuningan, bagian bawah kuning agak terang dan agak keputihan dengan strip memanjang mulai dari belakang mata sampai dasar ekor bagian atas. Sungut berwarna putih. Ujung bagian atas sirip ekor mempunyai 6-7 garis melintang. Ujung tepi sirip ekor (caudal) bagian bawah berwarna keputihan (Permana, 2010).

Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) merupakan jenis ikan yang memiliki bentuk badan memanjang sedang, pipih samping dengan penampang melintang bagian depan punggung, serta ukuran maksimum tubuhnya yang dapat mencapai 20-25 cm. Ikan ini banyak ditemukan di perairan pantai. Jenis ini hidup di pantai berpasir sampai kedalaman 100 meter. Kebiasaan makanan ikan kuniran adalah 59,49% jenis udang, 14,51% ikan-ikan kecil, dan 13,51%  moluska (Budi dan Ardhi, 2009)

CIRI-CIRI IKAN KUNIRAN
Ikan kuniran termasuk dalam golongan ikan demersal dengan kandungan lemak rendah yang memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut: panjang rata-rata 20-22 cm, memiliki ekor dan sebuah garis berwarna kuning horizontal sepanjang tubuhnya, serta memiliki sungut dibagian dagu yang digunakan untuk mencari makanan di dalam pasir (Subagio et al., 2004).

Ikan kuniran tersebar hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia. Seperti yang diketahui, kelompok ikan demersal mempunyai ciri-ciri bergerombol tidak terlalu besar, aktifitas relatif rendah dan geraknya juga tidak terlalu jauh. Sehingga dari ciri-ciri yang dimiliki tersebut, kelompok ikan demersal cenderung relatif rendah daya tahannya terhadap tekanan penangkapan (Ariyani, 2012).

Selain tersebar di seluruh wilayah Indonesia, Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis) juga menyebar diseluruh Lautan yang bersuhu sedang sampai hangat. Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis) yang berada di sekitar Laut Mediterania, awalnya bermigrasi dari Laut Merah setelah pada tahun 1869 Terusan Suez dibuka. Ikan Kuniran (Upeneus moluccensis) yang berada disekitar negara bagian Turki ini mempunyai kurang lebih 11 kandungan mineral yang ditemukan di daging dan siripnya (Abdullah dan Senol, 2011).

REPRODUKSI IKAN KUNIRAN
Fekunditas merupakan ukuran penilaian terhadap potensi reproduksi ikan, yaitu jumlah telur yang terdapat di dalam ovari ikan betina. Fekunditas ikan Kuniran dianalisis dengan data panjang total dan berat tubuh pada TKG III dan TKG IV. Fekunditas ikan Kuniran berkisar antara 19.850-92.713 butir dengan kisaran panjang ikan antara 114 mm –172 mm dan kisaran berat antara 22,01 gram –75,27 gram . Tingkat kematangan gonad ikan Kuniran jantan pada setiap zona didominasi oleh TKG I dan II dan TKG ikan Kuniran betina setiap zona didominasi oleh TKG III dan IV. Hubungan antara TKG dengan IKG jantan dan betina menunjukkan bahwa nilai IKG akan meningkat seiring dengan kenaikan TKG dengan nilai IKG lebih kecil dari 20% merupakan kelompok ikan yang dapat memijah lebih dari satu kali setiap tahunnya, serta ikan Kuniran termasuk berfekunditas besar karena jumlah telurnya lebih dari 10.000 butir yaitu berkisar 19850-92713 butir (Iswara et al., 2014). Beberapa penelitian yang telah  dilakukan oleh Saputra et al.,(2009) fekunditas yang dihasilkan oleh ikan Kuniran di Perairan Demak berkisar 44.320-2.455.286 butir dengan panjang 110 mm –215 mm danberar 20 gram –135 gram. Ukuran pertama kali matang gonad ikan Kuniran adalah 124,65 mm. Penelitian yang telah dilakukan oleh Sjafei dan Susilawati (2001) memperoleh ukuran pertama kali matang gonad ikan Kuniran di Teluk Labuhan Banten sebesar 120 mm untuk ikan jantan dan 125 mm untuk betina; di Perairan Demak ukuran pertama kali matang gonad sebesar 157 mm.

HABITAT IKAN KUNIRAN
Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) termasuk ke dalam jenis ikan demersal. Sebagai ikan konsumsi, ikan ini bernilai kurang ekonomis dibandingkan beberapa jenis ikan demersal lainnya. Ikan ini banyak digunakan sebagai bahan baku pakan dalam budidaya udang dan ikan . Harga dari ikan kuniran relatif murah sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membeli ikan ini. Ikan kuniran hampir tersebar diseluruh perairan Indonesia, salah satunya adalah sepanjang Laut Utara Jawa (Ariyani, 2012).

Menurut Iswara et al (2014), Ikan Kuniran termasuk golongan ikan demersal yang umumnya ditemukan di laut tropis dan subtropis dan biasanya di daerah sekitar terumbu karang. Ada sekitar 50 - 60 spesies ikan Kuniran yang diketahui di dunia. Ikan ini umumnya berwarna merah, kuning, dan silver.

Ikan kuniran hidup di perairan dengan dasar berlumpur, panjang ikan dapat mencapai ukuran 20 cm, serta tersebar luas di Indo-Pasifik Barat. Umumnya ikan-ikan demersal jarang sekali mengadakan migrasi ke daerah yang jauh. Hal ini terjadi karena ikan demersal mencari makan di dasar perairan sehingga kebanyakan dari mereka hidup pada perairan yang dangkal. Ikan Kuniran jarang sekali mengadakan ruaya melewati laut dalam dan cenderung untuk menyusuri tepi pantai. Kedalaman optimum ikan famili Mullidae ialah antara 40 – 60 m. Tipe substrat juga mempengaruhi kondisi kehidupan ikan famili Mullidae untuk dapat berkembang dengan baik. Ikan kuniran hidup di perairan dengan substrat berlumpur atau lumpur bercampur dengan pasir, namun ada juga ikan kuniran yang mencari makanan hingga ke daerah karang (Safitri, 2012).

MANFAAT IKAN KUNIRAN
Salah satu ikan yang dapat digunakan dalam pembuatan kamaboko adalah ikan Kuniran.Ikan Kuniran mudah diperoleh di pasaran sepanjang tahun.Ikan Kuniran merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting dan telah menjadi salah satu ikan yang digemari di dunia. Ikan Kuniran memiliki kandungan lemak rendah, rasa dagingnya khas, enak, lezat dan gurih sehingga digemari oleh masyarakat (Subagio et., al. (2004).

Komposisi daging ikan secara umum nilai gizinya terdiri dari air sebesar 60-80%, protein 18-30%, lemak 0.1-2.2%, karbohidrat 0,0-1,0% dan sisanya adalah vitamin dan mineral. Menurut Lab Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan Cirebon, komposisi nilai gizi utuk fillet ikan kuniran kering terdiri dari protein 60,8%, lemak 2,9%, abu 4,3% dan kadar air 1,4% (Boris, 2008).

TINGKAH LAKU IKAN KUNIRAN
Makanan adalah organisme, bahan, maupun zat yang dimanfaatkan ikan untuk menunjang kehidupan organ tubuhnya. Kebiasaan makan (feeding habit) adalah tingkah laku ikan saat mengambil dan mencari makanan. Tipe-tipe makanan ikan yang umum ditemukan adalah plankton, nekton, bentos dan detritus. Berdasarkan jenis kelompok makanannya ikan dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu herbivora, karnivora, dan omnivora (Safitri, 2012).

Ikan kuniran merupakan ikan karnivora yang memiliki panjang usus lebih pendek daripada ukuran tubuhnya. Ikan kuniran memiliki sungut di rahang bagian bawah (Prabha dan Manjulatha 2008). Ikan karnivora umumnya mempunyai gigi untuk menyergap, menahan, dan merobek mangsa dan jari–jari tapis insangnya menyesuaikan untuk penahan, memegang, memarut dan menggilas mangsa. Selain itu ikan karnivora juga mempunyai lambung, dan usus pendek, tebal dan elastis (Effendie 2002).

PERAN IKAN KUNIRAN DI PERAIRAN
Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) termasuk ke dalam jenis ikan demersal. Sebagai ikan konsumsi, ikan ini bernilai kurang ekonomis dibandingkan beberapa jenis ikan demersal lainnya. Ikan ini banyak digunakan sebagai bahan baku pakan dalam budidaya udang dan ikan . Harga dari ikan kuniran relatif murah sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membeli ikan ini. Ikan kuniran hampir tersebar diseluruh perairan Indonesia, salah satunya adalah sepanjang Laut Utara Jawa(Aryani, 2012).

Ikan Ekor Kuning dikenal pada hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di bagian timur dengan kondisi Terumbu Karang masih baik. Alat tangkap yang sering digunakan adalah perangkap (Bagan), Muro Ami, terkadang Gill Net. Paling sering ikan ini ditangkap dengan menggunakan alat terlarang dan tidak ramah lingkungan, seperti peledak (bom). Tergantung jenisnya, ikan ini bisa mencapai panjang 40 – 60 cm, yang sering tertangkap pada ukuran 25 – 30 cm. Jumlah yang tercatat ditemukan di Indonesia mencapai 16 jenis (Wiadnya dan Setyohadi, 2012)

PENULIS

Ayu Raeshya Aulea

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Affandi R & Tang UM. 2004 . Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru:Unri Press
Awong H, Ibrahim S, Somo K, & Ambak MA. 2011. Observation on Weight-Length Relationship of Priacanthus tayenus (Richardson, 1846) Spesies in Darvel Bay, sabah, Malaysia. World Journal of Fish and Marine Science 3 (3): 239-242.
Budi K, Eko dan F.E Ardi Wiharto. 2009. Ensiklopedia Populer Ikan Air Laut, Yogyakarta: Lily Publisher.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia Tahun 2004. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Effendie MI. 2002. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 163 hal.
FAO. 1999. The Living Marine Resources od Western Central Pasific. FAO Species Identification Guide for Fishery Purpose. Department of Biological Sciences Old Dominion University Norfolk, Virginia, USA.
Golani D, Sonin O, Edelist D. 2011. Second records of the Lessepsian fish migrants Priacanthus sagittarius and Platax teira and distribution extension of Tylerius spinosissimus in the Mediterranean. Aquatic Invasions Journal Compilation. 6 (1) : 1-11.
https://www.dictio.id/t/apa-yang-anda-ketahui-tentang-ikankuniran/45605
Ibrahim S, Muhammad M, Ambak MA, Zakaria MZ, Mamat AS, & Isa MM, & Hajısamae S. 2003. Stomach Contents of Six Commercially Important Demersal Fishes in the South China Sea. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 3: 11-16.
Okada, M. 1992. History of Surimi Technology in Japan. Dalam: Surimi Technology. Lanier TC, Lee CM, editors. New York : Marcel Dekker
Premalatha P. 1997. On the fishery and biology of Priacanthus hamrur Forsskal along the South West Coast of India. India Journal Fish. 44(3) : 265-270.
Sivakami S, Raje SG, Feroz MK, Shobha JK, Vivekananda E, Kumar R. 2001. Fishery and biology of Priacanthus hamrur (Forsskal) along the Indian coast. Indian journal of fisheries. 48(3) : 277-289.
Starnes WC. 1984. Priacanthidae. In FAO species identification sheets formfishery purposes. Western Indian Ocean (Fishing Area 51), edited by W. Fischer and G. Bianchi. Vol. 3. Rome, FAO (unpaginated).
Wiadnya, DGR., dan Setyohadi, D. 2012. Modul Pengantar Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Brawijaya
www.google.com/googleimage.2015.Diakses tanggal 23 Oktober 2015

4 comments:

  1. Terimakasih atas informasinya.
    Untuk tahu rasa ikan kuniran yang sudah diolah menjadi kerupuk, silakan berkunjung ke web: kerupukikan.com

    ReplyDelete
  2. Mohon izin bertanya kak, itu dibagian morfologi ikan kuniran, (Permana, 2010) tidak ada daftar pustaka nya ya?

    ReplyDelete