Friday, January 17, 2020

Ikan Swanggi; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan salah satu jenis ikan demersal yang umumnya mendiami suatu perairan dasar atau daerah berbatu. Ikan swanggi termasuk ke dalam salah satu dari enam ikan demersal ekonomis penting di Laut Cina Selatan (Ibrahim et al. 2003). Secara umum ikan ini mencari makan secara nokturnal tetapi dapat juga mencari makan secara diurnal dengan sama baiknya. Makanan utamanya adalah dari jenis crustacea (dominan udang), cephalopoda kecil, polychaeta, dan ikan kecil (Starnes 1984).

Ikan Swanggi merupakan salah satu jenis ikan yang cukup banyak dikonsumsi karena harganya yang tidak terlalu mahal. Jumlah hasil tangkapan ikan Swanggi di PPP Morodemak tergolong banyak, namun data hasil tangkapannya tidak tercatat. Penangkapan ikan Swanggi dengan menggunakan alat tangkap Cantrang yang memiliki mesh size kecil jika dilakukan terus menerus memungkinkan perkembangan stok dari ikan ini menjadi terhambat dan mengancam potensi dari ikan Swanggi ini (Anindhita et al., 2014).

KLASIFIKASI IKAN SWANGGI
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Kelas
: Pisces
Subkelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Subordo
: Percoidei
Famili
: Priacanthidae
Genus
: Priacanthus
Spesies
: Priacanthus tayenus
Nama Indonesia
: Ikan Swanggi
Nama FAO
:Purple-spotted bigeye, Beauclaire tache pourpre (perancis), Catalufa mota purpúreo (Spanyol)

MORFOLOGI IKAN SWANGGI
Ikan swanggi secara morfologi memiliki badan agak tinggi, agak memanjang, dan pipih secara lateral. Tubuh, kepala, iris mata, dan sirip berwarna merah muda atau kemerah-merahan. Pada sirip perut memiliki bintik-bintik kecil berwarna ungu kehitam-hitaman dengan 1 atau 2 titik lebih besar di dekat perut. Bintik-bintik pada sirip perut ini yang membedakan ikan swanggi dengan ikan famili Priacanthidae yang lain (FAO 1999). Panjang maksimum ikan swanggi yaitu 29,5 cm di Brunei Darussalam (Awong et al. 2011).

Tulang belakang pada preoperkulum berkembang dengan baik. Jumlah tulang tapis insang pada lengkung insang pertama 21 sampai 24. Jari-jari sirip punggung berjumlah X jari-jari keras dan 11 sampai 13 jari-jari lemah. Jari-jari pada sirip dada 17-19. Sisik-sisik pada bagian tengah lateral dengan bagian posterior atas hilang dan memiliki sedikit duri kecil pada ikan yang lebih besar. Sisik-sisik lateral berjumlah 56 sampai 73 dan sisik-sisik linear lateralis berjumlah 51 sampai 67. Sisik pada baris vertikal (dari awal sirip dorsal sampai anus) 40 sampai 50 (FAO 1999).

Ikan swanggi merupakan ikan karang demersal dengan karakteristik khusus berwarna merah muda, memiliki mata besar, dan pada sirip perut terdapat bintik berwarna ungu kehitam-hitaman (FAO 1999). Menurut data statistik perikanan PPP Labuan, produksi tangkapan ikan swanggi dari awal tahun 2011 sampai saat ini menduduki posisi kelima dari total produksi tangkapan ikan demersal di PPP Labuan Banten, yaitu sebesar 4376.70 kg atau sekitar 4.90%.

REPRODUKSI IKAN SWANGGI
Ikan Swanggi pertama kali matang gonad pada ukuran 184 mm. Nilai tersebut jika dibandingkan dengan nilai Lc50% hanya sedikit perbedaannya. Ukuran Lm50% yang lebih besar dari nilai Lc50% menandakan bahwa ikan yang tertangkap masih dalam masa pertumbuhan atau belum matang gonad.Jika dilihat dari nilai L∞, dapat disimpulkan bahwa ikan yang tertangkap sudah merupakan ukuran yang besar dan layak tangkap. Di perairan Demak peluang untuk ikan Swanggi mengalami growth overfishing relatif kecil. Apabila dilihat dari komposisi TKG yang ada dapat dikatakan juga bahwa recruitment dari sumberdaya ikan Swanggi ini terjamin. Hal tersebut dapat dilihat dari peluang terjadinya recruitment overfishing yang juga relatif kecil karena hasil tangkapan dominan tidak berada pada fase yang siap memijah, sehingga pertumbuhan ikan terjamin dan dapat berkembang (Anindhita et al., 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sivakami et al. (2001) selama periode pengambilan contoh yang dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Desember tahun 1996 sampai dengan 1999 diketahui bahwa dominasi Priacanthus hamrur betina melimpah pada setiap bulan pengambilan contoh kecuali April, Juli, dan Desember, sedangkan berdasarkan Premalatha (1997) nisbah kelamin dari ikan Priacanthus hamrur di pantai barat daya India didominasi oleh ikan betina setiap bulannya, kecuali Juli.

Ikan swangi (P. Tayenus) di perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan memiliki 3 kelompok umur dan panjang ikan tersebar antara 100-292 mm. Ikan ini memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b sebesar 3,3525. Nilai parameter pertumbuhan model von Bertalanffy (K, L∞, to) berturut-turut adalah 346,40; 0,17; 052. Berdasarkan analisis mortalitas dan model produksi surplus didapat nilai mortalitas total (Z) 0,39; mortalitas alami (M) 0,32; mortalitas penangkapan (F) 0,16; eksploitasi (E) 0,42. Upya penangkapan optimum (Fmsy) sebesar 487 trip penangkapan per tahun dengan jumlah tangkapan maksimum lestari (MSY) sebesar 17.200,86 kg ikan/tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) sebesar 13.760,69 kg ikan/tahun (Adilaviana, 2012).

CIRI-CIRI IKAN SWANGGI
Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan ikan karang demersal dari famili Priacanthidae. Karakteristik ikan swanggi adalah mata besar dengan lapisan pemantul cahaya (Reflektif layer), memiliki sisik kasar (Powell 2000), dan bersifat diurnal (Gollani et al. 2011), badan agak tinggi, memanjang, dan tipis secara lateral, memiliki gigi kecil, dan panjang total maksimum mencapai 35 cm (FAO 1999).

Tulang saring insang pada lengkung insang pertama berjumlah 21-24. Duri sirip punggung terdiri dari 10 jari-jari keras dan 11-13 jari- jari lemah. Duri sirip ekor terdiri dari 3 jari-jari keras dan 12-14 jari- jari lemah. Jari sirip dada berjumlah 17-19 jari-jari lemah. Sisik-sisik menutupi bagian badan, kepala, dan dasar sirip ekor (FAO 1999).

Warna tubuh, kepala, dan iris mata adalah putih kemerah-merahan atau putih keperak-perakan, sirip berwarna merah muda, sedangkan ciri utama yang menjadi pembeda terhadap jenis Priacanthus lainnya adalah ikan swanggi (Priacanthus tayenus) memiliki sirip perut dengan bintik kecil ungu kehitam-hitaman dalam membran dengan 1 atau 2 titik besar yang berada di dekat perut (FAO 1999).

HABITAT IKAN SWANGGI
Ikan swanggi umumnya hidup di perairan pantai di antara bebatuan karang dan terkadang di area yang lebih terbuka pada kedalaman 20-200 m atau lebih dalam. Distribusi ikan ini meliputi wilayah pesisir utara Samudera Hindia dari Teluk Persia bagian Timur dan wilayah Pasifik Barat dari Australia bagian Utara dan Pulau Solomon bagian utara sampai Provinsi Taiwan di China. Hasil tangkapan ikan swanggi pada tahun 1990 sampai 1995 dalam buku statistik perikanan tahunan FAO melaporkan jumlah tangkapan per tahun sekitar 23.100 sampai 52.000 ton di samudera Pasifik tengah bagian barat (Starnes 1984).

Ikan Swanggi termasuk jenis ikan demersal, sering kali membentuk gerombolan (schooling). Daerah kesukaannya adalah pantai dekat dengan Terumbu Karang. Ikan-ikan yang lebih kecil ditemukan mendekati pantai. Jenis makanan bervariasi, terutama organisme bentik (Wiadnya dan Setyohadi, 2012).

Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan ikan predator epibenthic (Starnes 1988 in Powell 2000) yang hidup di perairan pantai diantara bebatuan karang dan area terbuka pada kedalaman 20-200 m (FAO 1999). Ikan Priacanthidae tidak memiliki wilayah ruaya yang jauh misalnya Priacanthus saggitarius yang memiliki daerah ruaya hanya disekitar perairan Laut Merah. Demikian juga dengan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) yang terdapat di wilayah perairan Selat Sunda hanya memiliki ruaya di sekitar perairan tersebut saja. Ruaya ikan swanggi dapat berupa ruaya pemijahan ke daerah pesisir pantai, maupun ruaya pembesaran dan makanan di wilayah karang (Golani et al. 2011).

MANFAAT IKAN SWANGGI
Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) atau yang dikenal dengan nama bigeye bullseye merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Ikan swanggi pada awalnya bukan merupakan ikan hasil tangkapan utama, namun belakangan banyak didaratkan di pelabuhan perikanan sebagai salah satu hasil tangkapan yang bersifat komersial. Kandungan gizi yang tinggi mengakibatkan permintaan akan ikan swanggi meningkat dan menjadikan ikan ini sebagai ikan komoditas ekspor (Sivakami et al. 2001).

Ikan swangi (Priacanthus tayenus), merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan. Ikan jenis ini merupakan ikan hasil tangkapan samping yang pemanfaatannya oleh nelayan kurang (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006). Menurut data statistik kelautan dan perikanan 2011 volume produksi ikan swangi lebih rendah dibandingkan ikan gulamah dan ikan ekor kuning yaitu sebesar 38.476 ton. Ikan mata goyang memiliki daging yang berwarna putih sehingga dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti surimi. Surimi didefinisikan sebagai lumatan daging ikan yang telah mengalami proses penghilangan tulang, dan sebagian komponen larut air dan lemak melalui pencucian dengan air, sehingga disebut sebagai konsentrat basah protein myofibril dari daging ikan (Okada, 1992)

TINGKAH LAKU IKAN SWANGGI
Ikan-ikan biasanya akan bermigrasi untuk tujuan pemijahan dan akan kembali ke daerah penangkapan setelah memijah. Banyaknya ikan betina yang ditemukan di daerah penangkapan pada waktu pengamatan dapat diduga karena ikan jantan sedang beruaya menuju feeding ground untuk mencari makan. Ikan swanggi betina yang lebih dominan tertangkap mengindikasikan bahwa kelestarian populasi ikan swanggi di perairan Selat Sunda masih dapat dipertahankan. Dengan rasio ikan betina lebih dominan mengakibatkan peluang pembuahan sel telur oleh spermatozoa sampai menjadi individu baru akan semakin besar (Saputra et al., 2009).

Ikan famili Priacanthidae hidup secara soliter atau kelompok kecil tetapi beberapa spesies membentuk kelompok besar. Pada fase telur, larva, dan awal juvenil, ikan swanggi hidup secara pelagis dan berubah sesuai dengan lingkungan yang cocok. Dalam hal makanan, famili Priacanthidae umumnya mencari makan secara nokturnal tetapi dapat juga mencari makan secara diurnal dengan sama baiknya. Makanan utamanya yaitu dari jenis crustacea, cephalopods kecil, polychaetes, dan ikan kecil (Starnes 1984).

Ikan swanggi relatif aktif mencari makanan sehingga mempunyai kesempatan untuk mendapatkan makanan lebih banyak dan besar. Berdasarkan nilai luas relung makanannya, ikan jantan memiliki luas relung makanan yang lebih besar daripada ikan betina dan ikan besar memiliki luas relung makanan yang lebih luas daripada ikan kecil. Hal ini berkaitan dengan semakin besar ukuran ikan tersebut maka kemampuan bergeraknya semakin aktif daripada ikan kecil serta disertai dengan berkembangnya bukaan mulut yang semakin besar (Rifai, 2012).

PERAN  IKAN SWANGGI DI PERAIRAN
Ikan swanggi termasuk ke dalam jenis ikan karnivor. Untuk mengetahui kebiasaan makanannya, maka perlu dilakukan pengamatan organ-organ pencernaannya. Organ yang diamati salah satunya yaitu lambung. Lambung merupakan organ pencernaan yang diameternya lebih besar dibandingkan dengan organ pencernaan yang lainnya. Lambung berfungsi sebagai penampung dan pencerna makanan secara kimiawi. Organ lain yang juga berperan dalam pencernaan makanan yaitu pyloric caeca. Organ ini berupa usus-usus pendek dan buntu yang terletak diantara lambung dan usus berfungsi untuk membantu proses pencernaan makanan dan penyerapan makanan (Affandi et al. 2004).

Berdasarkan data harian PPP Labuan selama tahun 2010, ikan swanggi merupakan hasil tangkapan dominan kelima sebesar (8,25 %) dari seluruh hasil tangkapan ikan demersal kecil yang didaratkan di PPP Labuan, Banten. Hasil tangkapan ikan swanggi merupakan hasil tangkapan terbesar setelah ikan kuwe (24,70%), kurisi (23,43%), kuniran (23,04%) dan kapasan (13,70%) (Rifai, 2012).

PENULIS
Ayu Raeshya Aulea
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Adilaviana T. 2012. Kajian stok ikan swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan, Pandeglang, Banten [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor
Affandi R & Tang UM. 2004 . Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru:Unri Press
Anindhita, GK., Saputra, SW., dan Ghofar, A. 2014. Beberapa Aspek Biologi Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) Berdasarkan Hasil Tangkapan yang Didaratkan di PPP Morodemak. Diponegoro Journal of Maquares. 3(3): 144-152
Awong H, Ibrahim S, Somo K, & Ambak MA. 2011. Observation on Weight-Length Relationship of Priacanthus tayenus (Richardson, 1846) Spesies in Darvel Bay, sabah, Malaysia. World Journal of Fish and Marine Science 3 (3): 239-242.
Budi K, Eko dan F.E Ardi Wiharto. 2009. Ensiklopedia Populer Ikan Air Laut, Yogyakarta: Lily Publisher.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia Tahun 2004. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Effendie MI. 2002. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 163 hal.
FAO. 1999. The Living Marine Resources od Western Central Pasific. FAO Species Identification Guide for Fishery Purpose. Department of Biological Sciences Old Dominion University Norfolk, Virginia, USA.
Golani D, Sonin O, Edelist D. 2011. Second records of the Lessepsian fish migrants Priacanthus sagittarius and Platax teira and distribution extension of Tylerius spinosissimus in the Mediterranean. Aquatic Invasions Journal Compilation. 6 (1) : 1-11.
Ibrahim S, Muhammad M, Ambak MA, Zakaria MZ, Mamat AS, & Isa MM, & Hajısamae S. 2003. Stomach Contents of Six Commercially Important Demersal Fishes in the South China Sea. Turk. J. Fish. Aquat. Sci. 3: 11-16.
Okada, M. 1992. History of Surimi Technology in Japan. Dalam: Surimi Technology. Lanier TC, Lee CM, editors. New York : Marcel Dekker
Premalatha P. 1997. On the fishery and biology of Priacanthus hamrur Forsskal along the South West Coast of India. India Journal Fish. 44(3) : 265-270.
Rifai, R. 2012. Kebiasaan Makanan Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richadson, 1846) yang Didaratkan di PPP Labua, Banten. ITB. Bogor
Sivakami S, Raje SG, Feroz MK, Shobha JK, Vivekananda E, Kumar R. 2001. Fishery and biology of Priacanthus hamrur (Forsskal) along the Indian coast. Indian journal of fisheries. 48(3) : 277-289.
Starnes WC. 1984. Priacanthidae. In FAO species identification sheets formfishery purposes. Western Indian Ocean (Fishing Area 51), edited by W. Fischer and G. Bianchi. Vol. 3. Rome, FAO (unpaginated).
Wiadnya, DGR., dan Setyohadi, D. 2012. Modul Pengantar Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Brawijaya
www.google.com/googleimage.2015.Diakses tanggal 23 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment