Wednesday, September 30, 2020

Ikan Remang Putih Atau Undulated Moray (Gymnothorax undulatus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Ikan Remang Putih Atau Undulated Moray (Gymnothorax undulatus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Muraenidae, Hidup di Terumbu karang dan berbatu, 0–150 m; sirip punggung tinggi dan berpangkal tepat sebelum bukaan insang, warna kepala dapat berubah dari gelap ke kuning, tubuh dan sirip dengan bintik-bintik coklat tidak teratur dipisahkan oleh retikulum tipis pucat yang bergabung menjadi garis-garis pucat di dekat ujung ekor; Indo–Pasifik; 150 cm.

 

White Remang or Undulated Moray (Gymnothorax undulatus) Fish; Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Muraenidae family, Live in Coral and rocky reefs to 150 m depth; dorsal fin high and its origin well before gill opening, head colour variable from dark to yellow, body and fins with irregular dark brown spots separated by thin pale reticulum that merges into pale stripes near tail tip; Indo–Pacific; to 150 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Tuesday, September 29, 2020

Ikan Remang Atau Highfin Moray (Gymnothorax pseudothyrsoideus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Ikan Remang Atau Highfin Moray (Gymnothorax pseudothyrsoideus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Muraenidae dan Ophichthidae, Hidup di Terumbu karang dan berbatu, 0–68 m; sirip punggung tinggi dan berpangkal tepat sebelum bukaan insang, warna dapat berubah, bintik hitam kecil sering membentuk 4 barisan bintik yang lebih besar yang tak teratur, terkadang dengan retikulum kuning, tepi sirip punggung dan sirip dubur putih dekat ujung ekor; Indo–Pasifik Barat; 80 cm.


Remang Fish or Highfin Moray (Gymnothorax pseudothyrsoideus); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Muraenidae and Ophichthidae families, Live in Coral and rocky reefs, to 68 m depth; dorsal fin high and its origin well before gill opening, colour variable, small dark spots often form about 4 irregular rows of larger spots, sometimes with yellow reticulum, dorsal and anal fin margins white near tail tip; Indo–W. Pacific; to 80 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Monday, September 28, 2020

Ikan Remang Atau Peppered Moray (Gymnothorax pictus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Ikan Remang Atau Peppered Moray (Gymnothorax pictus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Muraenidae, Hidup di Terumbu karang, kedalaman 0–5 m; sirip punggung di atas atau dekat bukaan insang, dua baris gigi vomerine, warna bervariasi, pucat dengan bintik hitam kecil pada ikan muda, menyatu dalam 2–3 baris bercak gelap lebih besar pada ikan dewasa, bintik perut bertambah jumlahnya sesuai umur; Indo–Pasifik; sampai 140 cm.

 

Remang Fish Or Peppered Moray (Gymnothorax pictus); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Muraenidae family, Live on Coral reefs, 0–5 m depth; dorsal-fin origin above or near gill opening, two rows of vomerine teeth, colour variable, pale with small dark spots in young, aggregating into 2 or 3 rows of larger dark blotches in adults, belly spots increase in number with age; Indo–Pacific; to 140 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Sunday, September 27, 2020

Ikan Remang Panjang Atau Giant Moray (Gymnothorax javanicus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Ikan Remang Panjang Atau Giant Moray (Gymnothorax javanicus); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Muraenidae dan Albulidae, Hidup di Terumbu karang, 0–50 m; bukaan insang berbercak hitam mencolok, ikan muda cokelat dengan bintik-bintik gelap pada kepala, tubuh dan sirip, ikan dewasa coklat pucat dengan campuran banyak bintik hitam kecil dan 3–4 baris bercak coklat besar, beberapa bintik di tenggorokan dan perut; Indo–Pasifik; sampai minimal 250 cm.

 

Long Remang Or Giant Moray (Gymnothorax javanicus); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Muraenidae and Albulidae families, Live in Coral reefs to 50 m depth; gill opening in a conspicuous black blotch, juveniles tan with dark spots on head, body and fins, adults pale brown with mix of many small dark spots and 3–4 rows of large brown blotches, few spots on throat and belly; Indo–Pacific; to at least 250 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Saturday, September 26, 2020

Ikan Remang Atau Blackspotted Moray (Gymnothorax isingteena); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Ikan Remang Atau Blackspotted Moray (Gymnothorax isingteena); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Muraenidae dan Megalopidae, Hidup di Terumbu karang dan berbatu, kedalaman sampai 150 m; putih sampai coklat pucat dengan banyak bintik hitam berukuran sedang hingga besar di kepala dan tubuh, tersusun tidak beraturan dan tidak berbaris, jarak antara bintik biasanya lebih besar dari ukuran bintik, beberapa bintik di perut; Indo–Pasifik Barat; sampai 180 cm.

 

Remang or Blackspotted Moray (Gymnothorax isingteena); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Muraenidae and Megalopidae families, Live in Coral and rocky reefs, to at least 150 m depth; white to pale brown with many medium to large black spots on head and body, spots arranged irregularly and not in rows, interspaces between spots usually larger than spots, few spots on belly; Indo–W. Pacific; to 180 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Friday, September 25, 2020

Belut Laut Atau Seale’s Moray (Gymnothorax dorsalis); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Belut Laut Atau Seale’s Moray (Gymnothorax dorsalis); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Muraenidae dan Elopidae, Hidup di Pasir dan lumpur, 0–110 m; mirip dengan 4.7 & 4.8 tapi panjang depan dubur lebih pendek (~2.3 kali TL), barisan gigi maksila bagian dalam lebih pendek daripada di barisan luar, pori-pori kepala putih dan terdapat 3 pori-pori infraorbital (yang terakhir di bawah mata bagian depan); Pasifik Barat; 126 cm.

 

Sea Eel or Seale's Moray (Gymnothorax dorsalis); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Muraenidae and Elopidae families, Live in Sand and mud to 110 m depth; similar to 4.7 and 4.8 but shorter preanal length (~2.3 times in TL), inner maxillary tooth row much shorter than outer row, white head pores and 3 infraorbital pores (last below front of eye); W. Pacific; to 126 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Thursday, September 24, 2020

Ikan Bandeng Laki Atau Longjaw Bonefish (Albula forsteri); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

 


Ikan Bandeng Laki Atau Longjaw Bonefish (Albula forsteri); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Elopidae dan Albulidae, Hidup di Pesisir dan muara sungai; moncong menonjol, mulut kecil terletak di bawah, ujung rahang bawah menyudut, sirip punggung tunggal, sisik relatif kecil, sirip ekor besar dan bercagak, bagian atas perak hingga hijau- kebiruan, keperakan di sisi; terutama di Pasifik Barat; sampai 80 cm.

 

Male Milkfish or Longjaw Bonefish (Albula forsteri); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Elopidae and Albulidae families, Live in Coastal and estuarine; snout protruding, mouth small and inferior, tip of lower jaw angular, 1 central dorsal fin, scales relatively small, caudal fin large and forked, silvery to bluish green dorsally, silvery on sides; mainly W. Pacific; to 80 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Wednesday, September 23, 2020

Ikan Bulan-Bulan Atau Indo–Pacific Tarpon (Megalops cyprinoides); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi



Ikan Bulan-Bulan Atau Indo–Pacific Tarpon (Megalops cyprinoides); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi

Masuk kedalam famili Elopidae dan Megalopidae, Hidup di Pesisir dan muara sungai; tubuh agak lebar dan pipih dengan sisik besar, sirip punggung tunggal terletak di tengah dengan jari terakhir memanjang dan berfilamen, rahang bawah menonjol melebihi moncong, tidak ada sisik tebal, hijau kebiruan di atas, keperakan di sisi; tropis Indo–Pasifik Barat; sampai 150 cm.

 

Fish Moon or Indo-Pacific Tarpon (Megalops cyprinoides); Morphology, Habitat, Characteristics, Classification

Enter the Elopidae and Megalopidae families, Live in Coastal and estuarine; body moderately deep and compressed with large scales, 1 central dorsal fin with last ray elongate and filamentous, lower jaw projects beyond snout, no scutes present, bluish green above, silvery on sides; tropical Indo-West Pacific; to 150 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M. Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Tuesday, September 22, 2020

Ikan Bulan-Bulan Atau Hawaiian Giant Herring (Elops hawaiensis); Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi


 

Morfologi, Habitat, Ciri-Ciri, Klasifikasi Ikan Bulan-Bulan Atau Hawaiian Giant Herring (Elops hawaiensis)

Masuk kedalam famili Elopidae, Hidup di Pesisir; tubuh memanjang dengan banyak sisik kecil, sirip punggung tunggal terletak di tengah, mulut besar di ujung, sirip ekor besar dan sangat bercagak, hijau kebiruan di atas, keperakan di sisi, sirip keputihan polos atau kekuningan; Pasifik Barat-Tengah; sampai 120 cm.

 

Morphology, Habitat, Characteristics, Classification of Moonfish or Hawaiian Giant Herring (Elops hawaiensis)

Enter the Elopidae family, Live on Coastal; body elongate with numerous very small scales, 1 central dorsal fin, mouth large and terminal, caudal fin large and deeply forked, bluish green above, silvery on sides, fins plain whitish or yellowish; W. Central Pacific; to 120 cm.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno S.Pi

 

Daftar Pustaka

White, W. T., P., R. Last., Dharmadi., R. Faizah., U. Chodrijah., B. I. Prisantoso., J. J. Pogonoski., M Puckridge., S. J. M. Blaber. 2013. Market Fishes Of Indonesian. Australian Centre For International Agricultural Research

Monday, September 21, 2020

Ikan Cupang Asli Kalimantan (Betta ideii); Klasifikasi, Habitat, Distribusi



Kali ini kita bahas dunia air. Kalimantan adalah syurganya satwa endemik. Salah satunya foto ikan ini. Ikan ini adalah ikan cupang asli kalimantan yg penyebarannya juga terbatas hanya terdapat di daerah kalimantan selatan. Berikut penjelasan mengenai ikan ini:

 

Klasifikasi Ikan Cupang Asli Kalimantan (Betta ideii)

Ordo : Perciformes Keluarga : Osphronemidae

Betta ideii TAN & NG, 2006

 

Habitat Ikan Cupang Asli Kalimantan (Betta ideii)

Deskripsi resmi menyebutkan bahwa ikan dikumpulkan dari cekungan pantai yang mengalir ke Selat Laut tetapi rincian yang lebih spesifik tidak tersedia saat ini.

 

Diduga ia mendiami jenis lingkungan yang mirip dengan spesies lain dalam kelompok B. unimaculata , yaitu sungai berhutan yang mengandung air mengalir yang relatif jernih.

 

Distribusi Ikan Cupang Asli Kalimantan (Betta ideii)

Tampaknya terbatas pada bagian selatan provinsi Kalimantan Selatan (Kalimantan Selatan), Kalimantan dan Pulau Laut (Pulau Laut) di Indonesia. Yang terakhir adalah pulau kecil (panjang 60 mil dan lebar 20 mil) yang dipisahkan dari Kalimantan oleh jalur air sempit yang dikenal sebagai Selat Laut.

 

Sumber Artikel

Repost Postingan Facebook Ibnu Alrsyd

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Pustaka

Foto di ambil dari akun FB Muhammad Marvel dan sudah minta ijin dari beliau untuk di distribusikan sebagai edukasi.

Sunday, September 20, 2020

Faktor-Faktor Ekosistem Sungai Fisika, Kimia, Biologi



Faktor Fisika

Naiknya suhu menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menurun, sehingga organisme air sulit untuk respirasi. Banyaknya jumlah partikel tersuspensi di dalam air akan mempengaruhi kekeruhan atau turbiditas perairan. Turbiditas pada ekositem perairan juga sangat berhubungan dengan kedalaman, kecepatan arus, tipe substrat dasar, dan suhu perairan. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunnya daya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan juga akan berakibat terhadap mekanisme pernafasan organisme perairan (Sinambela et al., 2015).

 

Suhu sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi, dan volatilisasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air. Selain itu, menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen (Effendi, 2003 dalam Burdames et al., 2014).

Faktor Kimia

Menurut Sinambela dan Sipayung (2015),  dalam suatu ekosistem sungai terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberadaan ekosistem didalamnya. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh signifikan yakni faktor kimia yang meliputi tingkat keasaman atau kekuatan asam (pH) yang termasuk parameter untuk menentukan kualitas air. Organisme perairan dapat hidup ideal dalam kisaran pH antara asam lemah sampai dengan basa lemah. Perairan yang bersifat asam kuat atau basa kuat akan membahayakan kelangsungan hidup biota, karena akan menggangu metabolisme dan respirasi. Faktor kimia selanjutnya adalah jumlah DO (Dissolved Oxygen) merupakan senyawa yang sangat dibutuhkan oleh organisme air untuk proses respirasi. Selain kedua faktor tersebut terdapat pula nilai BOD yang menunjukkan kandungan bahan organik dalam perairan. Jika semakin tinggi nilai BOD maka perairan tersebut banyak mengandung bahan organik di dalamnya. Banyaknya kandungan BOD bisa juga diakibatkan oleh meningkatnya kandungan fosfat sehingga mempengaruhi eutrofikasi dan dapat menyebabkan blooming alga.

 

Menurut lumaela et al. (2013), pencemaran sungai dapat diketahui melalui jumlah kandungan oksigen yang terlarut dalam air. Salah satu cara yang ditempuh untuk maksud tersebut yaitu dengan uji Chemical Oxygen Demand. Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Limbah rumah tangga dan industri merupakan sumber utama limbah organik dan merupakan penyebab utama tingginya konsentrasi COD, selain itu limbah peternakan juga menjadi penyebab tingginya konsentrasi COD.

Faktor Biologi

Menurut Mulia dan Ngabekti (2015), kondisi suatu sungai sangat dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki oleh lingkungan di sekitarnya. Masukkan bahan-bahan organik dan non-organik yang berasal dari lingkungan menyebabkan terjadinya perubahan kondisi perairan baik faktor fisika, kimia, dan biologi. Makrozoobenthos adalah salah satu faktor biologi yang mempengaruhi eksosistem sungai. Sifat hewan makrozoobenthos memiliki banyak keuntungan bila digunakan sebagai indikator biologi diantaranya mudah diidentifikasi, hidup di dasar perairan, pergerakannya lambat, mempunyai habitat relatif menetap sehingga selalu terdedah oleh air di sekitarnya.

 

Menurut Butler (1978) dalam Ridwan et al. (2016), menyatakan bahwa dalam lingkungan yang dinamis, analisis biologi khususnya analisis struktur komunitas hewan benthos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas perairan. Salah satu aspek biologi yang mempengaruhi ekosistem sungai adalah makrozoobenthos. Makrozoobenthos merupakan organisme yang hidup menetap (sesile) dan memiliki daya adaptasi yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan sehingga sangat baik digunakan sebagai bioindikator lingkungan perairan. Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran. Makrozoobenthos juga merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan paling banyak digunakan sebagai indikator pencemaran logam. Dengan adanya makrozoobenthos, ekosistem sungai menjadi semakin baik.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Burdames, Y. dan Edwin L. A. Ngangi. 2014. Kondisi lingkungan perairan budidaya rumput laut di Desa Arakan, Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Budidaya Perairan. 2(3): 69-75.

Lumaela, A. K., B. W. Otok dan Sutikno. 2013. Pemodelan Chemical Oxygen Demand (COD) sungai di Surabaya dengan metode Mixed Geographically Weighted Regression. Jurnal Sains Dan Seni Pomits. 2 (1):100-105.

Mulia, V. L. dan S. Ngabekti. 2015. Keanekaragaman spesies makrozoobenthos sebagai indikator kualitas air Sungai Kreo sehubungan dengan keberadaan TPA Jatibarang. Unnes Journal of Life Science. 4(2): 73-78.

Ridwan, M., R. Fathoni, I. Fatihah dan D. A. Pangestu. 2016. Struktur komunitas  makrozoobenthos di empat muara Sungai Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten. Al-Kauniyah Jurnal Biologi. 9 (1): 57-65.

Sinambela, M. dan M. Sipayung. 2015. Makrozoobentos dengan parameter fisika dan kimia di perairan sungai Babura Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Biosains. 1(2): 44-50.

Sinambela, M. dan M. Sipayung. 2015. Makrozoobentos dengan parameter fisika dan kimia di perairan sungai Babura Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Biosains. 1(2): 44-50.

Saturday, September 19, 2020

Hubungan Interaksi Antar Organisme dalam Ekologi Perairan

 


Menurut Radiarta (2013), plankton (fitoplankton dan zooplankton) mempunyai peran yang sangat besar dalam ekosistem perairan, karena sebagai sumber makanan bagi hewan perairan lainnya. Distribusi fitoplankton dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya dalam perairan atau tersebar dalam zona eufotik. Kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik dalam perairan menjadikan fitoplankton dikenal sebagai produsen primer.

 

Menurut Putri dan Sari (2015), fitoplankton merupakan salah satu biota yang sensitif akan perubahan karakteristik perairan. Sensifitas fitoplankton sering dijadikan indikator terhadap kondisi ekologis suatu perairan. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton pada suatu perairan sangat bergantung kepada ketersediaan unsur hara. Selain itu intensitas cahaya, suhu, kecerahan, pH, dan gas-gas terlarut juga mempengaruhi keberadaan fitoplankton. Oleh karena itu, ketersediaan zat hara dan faktor lingkungan diduga berkorelasi dengan kelimpahan dan struktur komunitas fitoplankton.     

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Radiarta, I. N. 2013. Hubungan  antara distribusi fitoplankton dengan kualitas perairan di selat Alas, kabupaten Sumbawa, Nusa  Tenggara Barat. Jurnal Bumi Lestari. 13(2): 234-243.

Radiarta, I. N. 2013. Hubungan antara distribusi fitoplankton dengan kualitas perairan di selat alas, kabupaten sumbawa, nusa tenggara barat. Jurnal Bumi Lestari. 13(2): 234-243.

Friday, September 18, 2020

Rantai Makanan + Gambar

 

Menurut Liwutang et al. (2013), komunitas plankton memegang peranan penting dalam ekosistem perairan, karena plankton khususnya fitoplankton merupakan dasar dari rantai makanan. Beberapa jenis fitoplankton juga dapat menyerap dan mengakumulasi bahan pencemar yang masuk ke perairan. Sebagai produsen utama dalam rantai makanan, dimana fitoplankton akan dimakan oleh zooplankton dan zooplankton dimakan oleh ikan kecil dan ikan kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar dan seterusnya. Hal ini sangat berbahaya jika bahan pencemar yang terakumulasi dalam ikan akhirnya masuk ke dalam tubuh manusia karena dapat menimbulkan kematian.

 


(New, 2010)

 

Menurut Blanchette et al. (2014), rantai makanan pada sungai tropis ditandai dengan banyaknya spesies omnivora, misalnya, ikan predator besar dapat menduduki posisi trofik paling tinggi dengan memakan ikan yang lebih kecil. Dalam spesies yang sama, dapat terjadi pergeseran yang signifikan terkait ukuran dalam posisi trofik. Trofik yang fleksibilitas dapat memperpanjang ke jaring-jaring  makanan yang lebih luas, dengan ikan dan serangga air yang mengisi peran ekologi di air sungai.

 


(Soto et al. 2013)

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Blanchette, M. L., A. M. Davis, T. D. Jardine and R. G. Pearson. 2014. Omnivory and opportunism characterize food webs in a large dry-tropics river system. Freshwater Science. 33(1): 142–158.

Liwutang, Y. E., F. B. Manginsela, J. dan F. W. S. Tamanampo. 2013. Kepadatan dan keanekaragaman fitoplankton di perairan sekitar kawasan reklamasi pantai Manado. Jurnal Ilmiah Platax. 1(3): 109-117.

New, M. B., Valenti, J. H. Tidwell, L. R. D'Abramo and M. N. Kutty. 2009. Freshwater Prawns: Biology and Farming. Wiley-Backwell. 159 p.

Soto, D. X., E. Gacia and J. Catalan. 2013. Freshwater food web studies: a plea for multiple tracer approach. Limnetica. 32(1): 97-106.

Thursday, September 17, 2020

Siklus Hidrologi + Gambar


Sistem Hidrologi merupakan perpindahan air permukaan yang ada di bumi merupakan perpindahan yang sangat rumit (komplek). Sistem hidrologi bekerja secara global, dimana secara keseluruhan satuan–satuan dari arah perpindahan air yang mungkin terjadi akan menyatu kedalam sistem perpindahan besar. Istilah hidrologi berasal dari akar bahasa yunani yaitu “hydor” yang artinya air. Sistem hidrologi ini bekerja atas dasar energi panas dari sinar matahari yang memanaskan air di lautan sebagai reservoir utama yang berada dibumi. Akibat dari radiasi matahari ini, air mengalami penguapan atau (evaporasi). Setelah mengalami penguapan (evaporasi) uap air akan membentuk kumpulan awan di langit, dan akan menjatuhkan butir–butir air ke tanah dan akan meresap ke pori-pori permukaan tanah dan akan menjadi air tanah, gletser, air sungai, dan kembali kelaut dan akan kembali mengalami evaporasi kembali dengan bantuan sinar matahari (Noor, 2014).

 


(Noor, 2014)

 

Menurut Triatmodjo (2008) dalam Mampuk et al . (2014), siklus hidrologi merupakan proses berkelanjutan dimana air bergerak dari bumi ke atmosfer dan kemudian kembali ke bumi. Air di permukaan tanah dan laut menguap ke udara. Uap air tersebut bergerak dan naik ke atmosfer, yang kemudian mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air yang berbentuk awan. Selanjutnya titik-titik air tersebut jatuh sebagai hujan ke permukaan laut dan daratan. Hujan yang jatuh sebagian tertahan oleh tumbuh-tumbuhan (intersepsi) dan selebihnya sampai ke permukaan tanah. Sebagian air hujan yang sampai ke permukaan tanah akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan sebagian lainnya mengalir di atas permukaan tanah (aliran permukaan atau surface run off) mengisi cekungan tanah, danau, dan masuk ke sungai dan akhirnya mengalir ke laut. Air yang meresap ke dalam tanah sebagian mengalir di dalam tanah (perkolasi) mengisi air tanah yang kemudian keluar sebagai mata air atau mengalir ke sungai. Akhirnya aliran air di sungai akan sampai ke laut. Proses tersebut berlangsung terus menerus yang disebut dengan siklus hidrologi.

 


(Chandra, 2007)

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Chandra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Kedokteran EGC. Jakarta. 217 hlm.

Mampuk, C. D., T. Mananoma dan L. Tanudjaja. 2014. Pengembangan sistem penyediaan air bersih di kecamatan Poso kota Sulawesi Tengah. Jurnal Sipil Statik. 2(5): 233-241.

Noor, D. 2014. Pengantar Geologi. Deepublish. Yogyakarta. 609 hlm.

Wednesday, September 16, 2020

Ciri-Ciri Ekologi Kolam


Menurut Pagora et al. (2015), pada kolam pasca tambang jenis plankton yang mendominasi adalah golongan fitoplankton. Sedangkan golongan zooplankton relative lebih sedikit. Artinya stabilitas komunitas suatu organism termasuk kedalam tingkat moderat, dimana kondisi komunitas di semua lokasi sampling mudah berubah hanya dengan mengalami pengaruh lingkungan yang relative kecil. Apabila dalam suatu lingkungan terjadi penurunan keragaman secara tajam sampai hanya sebagian kecil saja populasi yang dominan, maka lingkungan tersebut telah mengalami tekanan akibat pencemaran dan populasi, hal demikian disebut sebagai indicator pencemaran. Semakin tinggi jumlah spesies dalam suatu komunitas, maka habitat tersebut semakin baik dari segi ekosistem.

 

Menurut pamungkas et al. (2011), air menggenang atau habitat lentik berasal dari kata lenis yang berarti tenang. Contohnya adalah danau, kolam, rawa, atau pasir terapung. Stratifikasi vertical pada perairan menggenang yang diakibatkan oleh intensitas cahaya yang termasuk keperairan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu lapisan eufotik yang merupakan lapisan yang masih mendapatkan cukup cahaya. Lapisan konfensasi  yang merupakan lapisan dengan intensitas cahaya sebesar 1% dari intensitas cahaya permukaan, dan lapisan protundal yang merupakan lapisan yang terletak dibawah. Lapisan kompensasi merupakan lapisan dengan intensitas cahaya sangat kecil bahkan tidak mendapatkan cahaya atau afotik.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Pagora, H., Ghitarina dan D. Udayana. 2015. Kualitas plankton pada kolam pasca tambang batu bara yang dimanfaatkan untuk budidaya perairan. Zira’ah. 40(2) : 108-113.

Pagora, H., Ghitarina dan D. Udayana. Kualitas plankton pada kolam pasca tambang batu bara yang dimanfaatkan untuk budidaya perairan. Ziraa’ah. 40(2): 108-113.

Pamungkas, A. S., F. Husna, Putri dan S. Oktaviyani. 2011. PKM Karaktetistik ekosistem perairan menggenang di Situ Gede. PKM IPB.

Tuesday, September 15, 2020

Pencemaran Yang Terjadi Di Perairan Sungai Maupun Danau Sangat Mempengaruhi Kehidupan?



Pencemaran yang terjadi di perairan sungai maupun danau sangat mempengaruhi kehidupan berkelanjutan makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Maka dari itu perlu di perhatikan segala aspek yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan sungai ataupun danau, baik dari segi penanggulangan maupun dari segi pencegahan terhadap pencemaran itu sendiri. Pencemaran yang terjadi pada danau atau sungai dapat di akibatkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah pembuangan limbah pabrik industri yang ada di sekitar sungai atau danau itu sendiri. Maka perlu di lakukan langkah khusus untuk mencegah adanya pencemaran danau atau sungai yang ada di sekitar pabrik industri.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Monday, September 14, 2020

Bahan Pencemar Yang Masuk Ke Dalam Ekosistem Akuatik


 

Menurut Suryono et al. (2014), bahan pencemar yang masuk ke dalam ekosistem akuatik cenderung terakumulasi dan berikatan di sedimen. Logam berat merupakan salah satu bahan kontaminasi toksik yang sering dikaji dalam penelitian toksisitas sedimen. Bahan polutan yang ada di perairan akan terpapar ke biota akuatik akibat perubahan sifat kimia dan fisika perairan, sehingga baik langsung maupun tidak dapat mengancam kesehatan manusia maupun hewan predator lain dan secara umum dapat menurunkan integritas ekologi perairan.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Sunday, September 13, 2020

Kualitas Perairan Danau Yang Semakin Menurun Akibat?

 


Menurut Iriadi et al. (2015), Kualitas perairan danau yang semakin menurun akibat terjadinya pencemaran, akan mengganggu kehidupan banyak spesies di perairan termasuk jenis endemic. Evaluasi status keberlanjutan pengendalian pencemaran perairan danau harus memperhatikan beberapa aspek terutama ekologi. Hal ini disebabkan karena danau merupakan sebuah ekosistem yang dipengaruhi oleh banyak komponen dalam proses pencemaran yang terjadi.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Saturday, September 12, 2020

Karbohidrat

 


Tujuan Instruksional Khusus

Mampu menggambarkan struktur, menjelaskan definisi, fungsi dan klasifikasi karbohidrat.

 

Pengertian Karbohidrat :

Polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton, yang mengandung atom karbon, hidrogen dan oksigen.

Rumus molekul umum (CH2O)n

Rumus bangun karbohidrat

 

(GAMBAR 1 KARBO)

 

SUMBER KARBOHIDRAT

v Pada Tanaman

1.   Glukosa disintesis dari CO2 (udara) dan H2O (tanah)

melalui proses fotosintesis (melibatkan enzim, klorofil

dan sinar matahari)

2.   KH disimpan sebagai amilum atau diubah menjadi selulosa (sebagai kerangka tanaman)

 

v Pada Hewan

1.   KH dapat disintesis dari lemak dan protein

2.   Sumber KH yg utama pd hewan berasal dari tanaman

 

Klasifikasi Karbohidrat :

      Monosakarida: gula sederhana yang tak dapat

   dihidrolisis menjadi molekul yg lebih kecil dengan

   atom C antara 3 – 6

   Contoh : glukosa, galaktosa, fruktosa, pentosa

       Disakarida : dua satuan monosakarida

   Contoh : sukrosa, laktosa, maltosa

       Oligosakarida: > 2 satuan monosakarida (2-10)

   Contoh : maltotriosa, rafinosa, stakiosa      

       Polisakarida : polimer/banyak satuan monosakarida

   Contoh : glikogen, dekstrin, pati.

 

Fungsi Karbohidrat :

1.   Sebagai sumber energi dalam tubuh (glukosa)

2.   Sebagai cadangan energi dalam tubuh (glikogen)

3.   Berperan penting dalam proses metabolisme tubuh

4.   Pembentuk struktur sel dengan mengikat protein dan lemak

5.   Berguna untuk pencernaan, seperti selulosa, pektin dan lignin.

6.   Membantu penyerapan kalsium (Laktosa).

7.   Komponen yang penting dalam asam nukleat (Ribosa).  

 

Monosakarida

Ø Memiliki atom karbon 3 sampai 6

Ø Setiap atom karbon memiliki gugus hidroksil, keton

       atau aldehida.

Ø Monosakarida yang mengandung satu gugus aldehid

       (aldosa) & yg mempunyai satu gugus keton (ketosa)

q Gugus aldehid selalu berada di atom C pertama

q Gugus keton selalu berada di atom C kedua

 

Monosakarida

Aldosa (mis: glukosa) memiliki gugus aldehida pada salah satu ujungnya/atom C1.

(Gambar 3 Karbo)

Ketosa (mis: fruktosa) biasanya memiliki gugus keto pada atom C2.

(Gambar 4 Karbo)

 

Tabel 1. Klasifikasi Gula-gula Penting

(Gambar 5 Karbo)

 

Penamaan Gula

Untuk gula dengan atom C asimetrik lebih dari 1, notasi D atau L ditentukan oleh atom C asimetrik terjauh dari gugus aldehida atau keto.

Gula yang ditemui di alam adalah dalam bentuk isomer D.

(Gambar 6 Karbo)

 

Monosakarida

(Gambar 7 Karbo)

 

2. Disakarida : terdiri dari 2 monosakarida

    * Sukrosa    : glukosa + fruktosa

    * Laktosa    : galaktosa  + glukosa

    * Maltosa   : glukosa + glukosa

3. Oligosakarida : terdiri > 2 – 10 monosakarida

4. Polisakarida : > 10 monosakarida

Berikut merupakan polimer glukosa

    * Amilum        

    * Glikogen              

    * Dekstrin

    * Selulosa

(Gambar 8 Karbo)

      Ikatan antara dua molekul monosakarida disebut ikatan glikosidik. Ikatan ini terbentuk antara gugus hidroksil dari atom C nomor satu dengan gugus hidroksil dan atom C pada molekul gula yang lain.

      Ikatan glikosidik biasanya terjadi antara atom C no. 1 dengan atom C no. 4 dengan melepaskan 1 mol air.

(Gambar 9 Karbo)

 

POLISAKARIDA

      Amilum

  * Terdiri dari amilosa dan amilopektin

  * Terdapat pada tumbuh2an : biji2an ( padi/beras, gandum, jagung ) dan umbi2an ( ketela, ubi, kentang )

  * Mempunyai rantai lurus ( ikatan α-1,4 glikosidik ) dan rantai cabang ( ikatan α-1,6 glikosidik )

      Glikogen

  * struktur spt amilum, rantai cabang lebih banyak

  * terdapat di sel hati dan otot pada hewan

      Selulosa

  * berupa rantai lurus ( ikatan β-1,4 glikosidik )

  * karnivora tidak mempunyai enzim selulase

  * terdapat pd dinding sel tanaman

 

Analisa Karbohidrat

      Uji Kualitatif

-         Uji Molisch             - Uji Osazon

-         Uji Benedict           - Hidrolisa Sukrosa

-         Uji Barfoed             - Hidrolisa Pati

-         Uji Seliwanoff        - Reaksi Pati dengan Iodium

-         Uji Tollens        

      Uji Kuantitatif

- Metode Luff Schoorl

- Polarimeter

 

Kebutuhan Karbohidrat pada Ikan

      Karbohidrat sederhana (monosakarida) lebih mudah larut

  dalam air;

       Ikan butuh enzim-enzim tertentu untuk memecah disakarida

  atau polisakarida menjadi monosakarida yang mudah diserap.

       Beberapa enzim tertentu dihasilkan oleh bakteri dalam usus

  ikan.

       Beberapa ikan memiliki organ khusus pada alat pencernaannya

  (pyloric caeca) yang mengandung enzim-enzim yang mampu

  mencerna karbohidrat

Kebutuhan karbohidrat pada pakan ikan :

à ikan mas         : 20 – 30%

à ikan lele          : 10 – 30%

à ikan kerapu    : <10%

à ikan kakap      : 20 – 25%