Sunday, September 20, 2020

Faktor-Faktor Ekosistem Sungai Fisika, Kimia, Biologi



Faktor Fisika

Naiknya suhu menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menurun, sehingga organisme air sulit untuk respirasi. Banyaknya jumlah partikel tersuspensi di dalam air akan mempengaruhi kekeruhan atau turbiditas perairan. Turbiditas pada ekositem perairan juga sangat berhubungan dengan kedalaman, kecepatan arus, tipe substrat dasar, dan suhu perairan. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunnya daya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan juga akan berakibat terhadap mekanisme pernafasan organisme perairan (Sinambela et al., 2015).

 

Suhu sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi, dan volatilisasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air. Selain itu, menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen (Effendi, 2003 dalam Burdames et al., 2014).

Faktor Kimia

Menurut Sinambela dan Sipayung (2015),  dalam suatu ekosistem sungai terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberadaan ekosistem didalamnya. Salah satu faktor yang memiliki pengaruh signifikan yakni faktor kimia yang meliputi tingkat keasaman atau kekuatan asam (pH) yang termasuk parameter untuk menentukan kualitas air. Organisme perairan dapat hidup ideal dalam kisaran pH antara asam lemah sampai dengan basa lemah. Perairan yang bersifat asam kuat atau basa kuat akan membahayakan kelangsungan hidup biota, karena akan menggangu metabolisme dan respirasi. Faktor kimia selanjutnya adalah jumlah DO (Dissolved Oxygen) merupakan senyawa yang sangat dibutuhkan oleh organisme air untuk proses respirasi. Selain kedua faktor tersebut terdapat pula nilai BOD yang menunjukkan kandungan bahan organik dalam perairan. Jika semakin tinggi nilai BOD maka perairan tersebut banyak mengandung bahan organik di dalamnya. Banyaknya kandungan BOD bisa juga diakibatkan oleh meningkatnya kandungan fosfat sehingga mempengaruhi eutrofikasi dan dapat menyebabkan blooming alga.

 

Menurut lumaela et al. (2013), pencemaran sungai dapat diketahui melalui jumlah kandungan oksigen yang terlarut dalam air. Salah satu cara yang ditempuh untuk maksud tersebut yaitu dengan uji Chemical Oxygen Demand. Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Limbah rumah tangga dan industri merupakan sumber utama limbah organik dan merupakan penyebab utama tingginya konsentrasi COD, selain itu limbah peternakan juga menjadi penyebab tingginya konsentrasi COD.

Faktor Biologi

Menurut Mulia dan Ngabekti (2015), kondisi suatu sungai sangat dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki oleh lingkungan di sekitarnya. Masukkan bahan-bahan organik dan non-organik yang berasal dari lingkungan menyebabkan terjadinya perubahan kondisi perairan baik faktor fisika, kimia, dan biologi. Makrozoobenthos adalah salah satu faktor biologi yang mempengaruhi eksosistem sungai. Sifat hewan makrozoobenthos memiliki banyak keuntungan bila digunakan sebagai indikator biologi diantaranya mudah diidentifikasi, hidup di dasar perairan, pergerakannya lambat, mempunyai habitat relatif menetap sehingga selalu terdedah oleh air di sekitarnya.

 

Menurut Butler (1978) dalam Ridwan et al. (2016), menyatakan bahwa dalam lingkungan yang dinamis, analisis biologi khususnya analisis struktur komunitas hewan benthos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas perairan. Salah satu aspek biologi yang mempengaruhi ekosistem sungai adalah makrozoobenthos. Makrozoobenthos merupakan organisme yang hidup menetap (sesile) dan memiliki daya adaptasi yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan sehingga sangat baik digunakan sebagai bioindikator lingkungan perairan. Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran. Makrozoobenthos juga merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan paling banyak digunakan sebagai indikator pencemaran logam. Dengan adanya makrozoobenthos, ekosistem sungai menjadi semakin baik.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Burdames, Y. dan Edwin L. A. Ngangi. 2014. Kondisi lingkungan perairan budidaya rumput laut di Desa Arakan, Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Budidaya Perairan. 2(3): 69-75.

Lumaela, A. K., B. W. Otok dan Sutikno. 2013. Pemodelan Chemical Oxygen Demand (COD) sungai di Surabaya dengan metode Mixed Geographically Weighted Regression. Jurnal Sains Dan Seni Pomits. 2 (1):100-105.

Mulia, V. L. dan S. Ngabekti. 2015. Keanekaragaman spesies makrozoobenthos sebagai indikator kualitas air Sungai Kreo sehubungan dengan keberadaan TPA Jatibarang. Unnes Journal of Life Science. 4(2): 73-78.

Ridwan, M., R. Fathoni, I. Fatihah dan D. A. Pangestu. 2016. Struktur komunitas  makrozoobenthos di empat muara Sungai Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten. Al-Kauniyah Jurnal Biologi. 9 (1): 57-65.

Sinambela, M. dan M. Sipayung. 2015. Makrozoobentos dengan parameter fisika dan kimia di perairan sungai Babura Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Biosains. 1(2): 44-50.

Sinambela, M. dan M. Sipayung. 2015. Makrozoobentos dengan parameter fisika dan kimia di perairan sungai Babura Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Biosains. 1(2): 44-50.

No comments:

Post a Comment