Saturday, October 31, 2020

Antibiotik; Pengertian, Jenis, Mekanisme Kerja



Gambar Mekanisme Kerja Antibiotik

 

Pengertian dan Jenis Antibiotik

Antibiotik merupakan obat yang berasal dari bahan alami maupun sintesis yang memiliki kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Serrano, 2005). Antibotik harus aman dan tidak beracun untuk inang, karena penggunaannya sebagai agen kemoterapi untuk pengobatan infeksi penyakit (Romero, et al., 2012).

Antibiotik yang dapat digunakan untuk pengobatan ikan terinfeksi penyakit ada beragam jenis. Antibiotik yang sering digunakan pada budidaya sudah banyak bersifat resisten, sehingga menteri kelautan memberi kebijakan dengan adanya undang-undang tentang obat ikan yang berisi beberapa obat keras yang diperbolehkan, obat keras yang dilarang, dan obat bebas terbatas. Jenis obat keras yang diperbolehkan antara lain: jenis tetrasiklina, makrolida, kuinolon, anthelmentik, zat pewarna (methylene blue, acriflavine, dan lain-lain), hormon (GnRH, LHRHa, HCG), dan vaksin. Jenis obat keras yang dilarang antara lain: jenis amfenikol, nitromidazole, nitrofuran, makrolida, polipeptida, dan lain-lain. Jenis obat bebas terbatas antara lain: desinfektan, antiseptik, dan lain-lain (KEPMEN-KP, 2014).

 

Mekanisme Kerja Antibiotik

Menurut Romero, et al. (2012), masing-masing antibiotik memiliki struktur kimia yang berbeda, oleh karena itu antibiotik juga bekerja pada masing-masing bagian yang berbeda dari bakteri. Mekanisme kerja antibiotik :

1) Efek Bakterisidal, yaitu antibiotik bekerja membunuh bakteri dengan cara merusak pembentukan dinding sel bakteri atau isi selnya. Contoh antibiotik ini antara lain penicillin, fluoroquinolones, dan metronidazole.

2) Efek Bakteriostatis, yaitu antibiotik bekerja dengan cara menghentikan bakteri saat melakukan pembelahan dengan mengganggu produksi protein pada bakteri, replikasi DNA, atau aspek metabolisme seluler dai bakteri tersebut. Contoh antibiotik ini antara lain tetracycline, sulfonamide, chloramphenicol dan macrolida.

 

Penulis

Husna Nabilla Rodhyansyah

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Romero, J., C. G. Feijoo and P. Navarrete. 2012. Amtibiotics in Aquaculture-Use, Abuse and Alternatives. Health and Environment in Aquaculture. 39p.

Serrano, P. H. 2005. Responsible Use of Antibiotics in Aquculture. FAO Fisheries Technical Paper. Rome. 97p.

Friday, October 30, 2020

Bakteri Edwardsiella tarda; Klasifikasi, Morfologi, Infeksi, Gejala Klinis, Pertumbuhan dan Perkembangbiakan

  


Bakteri Edwardsiella tarda (Dokumentasi Pribadi)

 

Klasifikasi Bakteri Edwardsiella tarda

Menurut Bujan, et al. (2017), klasifikasi bakteri E. tarda adalah sebagai berikut :

Kingdom : Eubacteria

Filum : Proteobacteria

Ordo : Enterobacteriales

Famili : Enterobacteriaceae

Genus : Edwardsiella

Spesies : Edwardsiella tarda

 

Morfologi Bakteri Edwardsiella tarda

Bakteri E. tarda merupakan bakteri gram negatif, pendek, anaerob fakultatif yang memiliki panjang sekitar 2-3 m dan diameter 1 m. Bakteri tersebut mampu hidup pada daerah dengan pH 4-10, dan suhu 14-450C. Bakteri  E. tarda berbentuk batang, tidak membentuk spora atau kapsul dan motil dengan memiliki flagella. E. tarda merupakan bakteri yang menginfeksi beberapa spesies ikan air tawar bahkan hingga manusia yang bersifat pathogen. Secara karakteristik biokimia, E. tarda merupakan bakteri yang mengandung enzim katalase dan mampu memproduksi hidrogen sulfida dan indol (Park, et. al., 2012).

 

Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Bakteri Edwardsiella tarda

Menurut Hartati (2015), kurva pertumbuhan bakteri terbagi dalam 4 fase, yaitu:

1) Fase lag (lag phase) merupakan fase permulaan, dimana kecepatan pertumbuhan nol atau >0 (tidak maksimum), disebut juga fase adaptasi.

2) Fase logaritma (log phase) merupakan fase eksponensial, dimana kecepatan pertumbuhan mencapai maksimum. Massa dan jumlah sel bertambah secara eksponensial.

3) Fase tetap (stationary phase) merupakan fase statis, dimana kecepatan pertumbuhan mulai menurun.

4) Fase penurunan atau death phase, dimana jumlah kematian lebih tinggi dari pertumbuhan.



Kurva pertumbuhan bakteri.

 

Bakteri E. tarda merupakan bakteri gram negative yang memiliki sifat anaerobik fakultatif, sehingga perkembangannya dapat terjadi tanpa adanya oksigen atau minim oksigen. E. tarda dapat tumbuh dan berkembang pada media selektif seperti agar MacConkey. Selain dengan agar MacConkey, dapat ditambahkan kolistin untuk meningkatkan laju E. tarda dari campuran kultur dibandingkan dengan media SS (Salmonella dan Shigella Agar) (Buller, 2014). Bakteri ini hidup pada suhu 14-450C (Park, et al., 2012). Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 350C. Apabila suhu kurang dari 100C atau lebih dari 450C maka E. tarda tidak dapat tumbuh (Lubis, et al., 2014).

 

Infeksi dan Gejala Klinis Serangan Bakteri Edwardsiella tarda

Edwardsiella tarda adalah penyebab penyakit Edwardsielliosis/ Emphisematous Putreactive Disease of Catfish (EPDC) atau Edwardsiella Septicaemia (ES). Penyakit Edwardsiella dikenal sebagai penyakit utama pada budidaya catfish di Amerika. E. tarda tidak memproduksi endotoksin seperti umumnya bakteri gram negatif lainnya, tetapi menghasilkan 2 eksotoksin yang dapat menyebabkan lesi (Narwiyani dan Kurniasih, 2011).

 


Gejala Klinis Serangan Bakteri Edwardsiella tarda


Serangan E. tarda pada ikan dalam tahap infeksi ringan hanya menampakkan luka-luka kecil, sebagai perkembangan penyakit lebih lanjut, luka bernanah berkembang di dalam otot rusuk dan lambung. Pada kasus akut, luka bernanah secara cepat bertambah dengan berbagai ukuran, kemudian luka-luka terisi gas dan terlihat bentuk cembung menyebar ke seluruh tubuh. Warna tubuh hlang dan luka-luka merata di seluruh tubuh. Jika luka digores maka akan tercium bau busuk (H2S) (Andriyanto et al., 2009). Gejala klinis yang timbul pada ikan karena infeksi bakteri E. tarda dapat dilihat pada Gambar dibawah.

 

Leukosit

Leukosit merupakan salah satu sel darah yang mempunyai peranan penting dalam sistem imun ikan. Total leukosit pada ikan yang bertambah mengindikasikan adanya peningkatan sistem imun ikan, sehingga dapat terindikasi sedang terserang oleh zat asing (Satyarini, et al., 2014). Menurut Sukenda et al. (2008), leukosit berfungsi sebagai pertahanan dalam tubuh, yang bereaksi dengan cepat terhadap masuknya antigen ke dalam tubuh. Menurut Triyaningsih, et al. (2014), jumlah leukosit total ikan teleostei normal berkisar antara 20.000 – 150.000 sel/mm3.

 

Menurut Sutjiati (1990), sel-sel leukosit dapat dibedakan menjadi berikut ini:

• Neutrofil granulosit: dengan nukleus bersegmen, apabila dilakukan pewarnaan makan berwarna merah ungu, bagian plasma berwarna merah muda bergranula kecil kecil lembut.

• Eusinofil granulosit: nukleus sering menyatu dalam satu titik, plasma penuh dengan granula besar.

• Monosit: sel bedar dengan nukleus besar dan padat berbentuk seperti ginjal.

• Limfosit: lebih kecil dari pada monosit, plasma tidak bergranula, nukleus besar hampir memenuhi volume sel.

 

Differensial Leukosit

Differensial leukosit terdiri atas limfosit, monosit, dan neutrofil. Pengamatan differensial leukosit bertujuan yaitu untuk mengetahui perbedaan presentase komponen sel leukosit. Limfosit sebagai salah satu indikator pertahanan alami tubuh dan merupakan sistem kekebalan non spesifik yang dapat melindungi tubuh dari serangan mikroba, monosit berperan penting untuk memakan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh dan memberikan informasi tentang serangan penyakit kepada leukosit, sedangkan neutrofil merupakan jenis sel darah putih yang juga berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh yang bekerja sebagai respon adanya infeksi dalam tubuh (Utami, et al., 2013).

 

Limfosit berfungsi sebagai sel penghasil antibodi, berbentuk bundar dengan sejumlah kecil sitoplasma tidak bergranula. Limfosit berdiameter berkisar antara 8-12µm. sitoplasma berwarna biru pucat, inti berbentuk bulat hingga oval (Abbas, et al., 2010). Monosit berfungsi sebagai sel yang memfagosit zat-zat asing dalam tubuh. Monosit berbentuk oval atau bundar, dengan diameter berkisar antara 6 - 15 mikron, memiliki inti berbentuk oval (Dopongtonung, 2008). Neutrofil berfungsi sebagai penghancur bahan asing melalui proses fagositik (Suhermanto, et al., 2011).Jumlah neutrofil di dalam darah akan meningkat apabila diinfeksi bakteri.

 

Penulis

Husna Nabilla Rodhyansyah

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Abbas, A.K., A. H. Lichtman and S. Pillai. 2010. Cellular and Molecular Immunology Sixth Edition. W. B. Saunders Company. Philadelphia. 572p.

Andriyanto, S., Haririah., Y. Yulianti., S. H. I. Purnomo., S. T. Astuti., Nurlaila., T. Samudro dan B. P . Priyosoeryanto. 2009. Deteksi E. tarda secara immunohistokimia pada ikan patin (Pangasius pangasius). Indonesian Journal of Veterinary Science and Medicine. 1(1): 7-12.

Bujan, N., H. Mohammed., S. Balboa., J. L. Romalde., A. E. Toranzo., C. R. Arias dan B. Magarinos. 2017. Genetic studies to re-affiliate Edwardsiella tarda fish isolates to Edwardsiella piscicida and Edwardsiella anguillarum species. Systematic and Applied Microbiology. xxx: 1-8.

Buller, N. B. 2014. Bacteria and Fungi from Fish and Other Aquatic Animal: A Practical Identification Manual. Department of Agriculture and Food Western. Australia. 881p.

Dopongtonung, A. 2008. Gambaran Darah Ikan Lele (Clarias spp) yang Berasal dari Daerah Laladon-Bogor. SKRIPSI. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 36 hlm.

Hartati, A.S. 2015. Peran Mikrobiologi dalam Bidang Kesehatan. Penerbit Andi. Yogyakarta. 114 hlm.

Lubis, D. A., H. Syawal dan M. Riauwaty. 2014. Identifcation of pathogenic bacteria of tilapia (Oreochromis niloticus) in Subdistrict Marpoyan Damai Pekanbaru. Jurnal Online Mahasiwa (JOM) Bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan. 2(1): 1-8.

Narwiyani, S dan Kurniasih. 2011. Perbandingan patogenitas Edwardsiella tarda pada ikan mas koki (Charassius auratus) dan ikan celebes rainbow (Telmatherina celebensis). Jurnal Riset Akuakultur. 6(2): 291-301.

Satyarini, W.H., Sukenda., E. Harris dan N. B. P. Utomo. 2014. Pemberian fikosianin Spirulina meningkatkan jumlah sel darah, aktivitas fagositosis, dan pertumbuhan ikan kerapu bebek juvenile. Jurnal Veteriner. 15(1): 46-56.

Suhermanto, A., S. Andayani dan Maftuch. 2011. Pemberian total fenol teripang pasir (Holothuroidea scabra) untuk meningkatkan leukosit dan diferensial leukosit ikan mas (Cyprinus carpio) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Kelautan. 4: 49-56.

Sukenda., L. Jamal., D. Wahjuningrum dan A. Hasan. 2008. Penggunaan kitosan untuk pencegahan infeksi Aeromonas  hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. Jurnal Akuakultur Indonesis. 7(2): 159-169.

Utami, D. T., S. B. Prayitno., S. Hastuti dan Ayi Santika. 2013. Gambaran parameter hemaotologis pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberi vaksin DNA (Streptococcus iniae) dengan dosis yang berbeda. Journal of Aquaculture Management and Technology. 2(4): 7-20.

Thursday, October 29, 2020

Ikan Lele (Clarias sp.); Klasifikasi, Morfologi, Habitat dan Penyebaran



Gambar Ikan Lele (Clarias sp.) (Suryaningsih, 2014)

 

Klasifikasi Ikan Lele (Clarias sp.)

Menurut Darseno (2010), klasifikasi ikan lele adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Ostariophysi

Subordo : Silaroidae

Famili : Clariidae

Genus : Clarias

Species : Clarias sp.

 

Morfologi Ikan Lele (Clarias sp.)

Lele memiliki kumis sebagai alat penciuman yang berfungsi sebagai alat peraba ketika bergerak dalam mencari makanannya. Warna tubuh lele adalah coklat terang, coklat gelap bahkan hitam. Warna tubuh ini sifatnya permanen atau tanpa mengalami perubahan. Badan lele berbentuk memanjang. Di bagian tengah badannya mempunyai potongan membulat, dengan kepala pipih ke bawah (depressed), dan bagian belakangnya berbentuk pipih ke samping (compressed). Bagian atas dan bagian bawah pelat kepala ikan lele tertutup oleh pelat tulang yang membentuk ruangan rongga di atas insang, yang di dalam ruangan rongga tersebut terdapat alat pernapasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat. Sirip ekor membundar dan berpisah dengan sirip anal maupun sirip punggung. Sirip dadanya diengkapi dengan sepasang patil yang digunakan sebagai senjata yaitu sebagai alat pembela diri dari luar. Sepasang patil ini juga digunakan untuk melompat dari kolam dan melarikan diri ke saluran air (Sutrisno, 2007).

 

Habitat dan Penyebaran Ikan Lele (Clarias sp.)

Habitat ikan lele adalah di semua perairan tawar. Lele jarang atau bahkan tidak pernah ditemukan hidup di air payau atau asin. Sungai yang airnya tidak terlalu deras atau perairan yang tenang, seperti danau, waduk, telaga, rawa, serta genangan kecil merupakan lingkungan hidup ikan lele. Ikan lele memiliki organ insang tambahan yang memungkinkan pengambilan oksigen dari udara di luar air, sehingga lele dapat bertahan hidup di perairan yang mengandung sedikit oksigen. Ikan lele juga relatif tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik, sehingga mampu hidup di air yang kotor. Ikan lele hidup dengan baik di dataran rendah sampai daerah perbukitan yang tidak terlalu tinggi. Apabila tempat hidupnya terlalu dingin, seperti di bawah 200C, pertumbuhannya agak terhambat. Sama halnya di daerah pegunungan dengan ketinggian di atas 700 mdpl, pertumbuhan lele kurang begitu baik (Suyanto, 2004).

 

Ikan lele banyak ditemukan di Benua Afrika dan Asia Tenggara. Komoditas ini terdapat di perairan umum berair tawar. Penyebaran lele di Asia yaitu Negara Indonesia, Thailand, Filipina, dan China. Ikan lele di beberapa Negara khususnya di Asia telah diternakkan dan dipelihara di kolam, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Laos, Filipina, Kamboja, Birma dan India. Ikan lele di Indonesia secara alami ditemukan di Kepulauan Sunda Besar maupun Kepulauan Sunda Kecil (Mahyuddin, 2007).

 

Penulis

Husna Nabilla Rodhyansyah

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Darseno. 2010. Buku Pintar Budi Daya dan Bisnis Lele. Agromedia Pustaka: Jakarta. 158 hlm.

Mahyuddin, K. 2010. Panduan Lengkap Agribisnis Patin. Penebar Swadaya: Jakarta. 212 hlm.

Suryaningsih, S. 2014. Biologi Ikan Lele, Suatu Bahan Penyuluhan: “Pemanfaatan Belatung Ampas Tahu Sebagai Pakan Alternatif Untuk Peningkatan Produksi Ikan Lele Dumbo” Bagi Petani Ikan Desa Pingit, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara. Universitas Jenderal Soedirman: Purwokerto.

Sutrisno. 2007. Budi Daya Lele Kampung dan Lele Dumbo. Ganeca Exact. Bekasi. 52 hlm.

Suyanto, S. R. 2004. Budi Daya Ikan Lele (Edisi Revisi). Penebar Swadaya. Jakarta. 92 hlm.

Wednesday, October 28, 2020

Gejala IHHNV(Infectious Hypodermal and Hematopoitic Necrosis Virus), TSV (Taura Syndrome Virus), WSSV (White Spots Syndrome Virus)



1) PENYAKIT VIRUS IHHNV(INFECTIOUS HYPODERMAL AND HEMATOPOITIC NECROSIS VIRUS), DAPAT MENYEBABKAN :
a) Pertumbuhan terhambat, sehingga terjadi perbedaan ukuran yang nyata dalam satu populasi.
b) Serangan dapat mencapai lebih 30% populasi.
c) Multi infeksi dengan virus jenis lain.

Banyak terjadi pada tambak yang menggunakan benur non SPF (Spesific Pathogen Free) yaitu induk lokal. Inang penyakit virus ini antara lain : Penaeus stylirostris, P. vannamei, P. occidentalis, P. californiensis, P. monodon, P. semisulcatus, and P. japonicus.

 

2) PENYAKIT VIRUS TSV (TAURA SYNDROME VIRUS) DAPAT MENYEBABKAN :
a) Udang vaname pada ujung ekor berwarna merah (merah ganda)
b) Adanya bercak hitam pada kulit,
c) Kulit lembek (lunak/keropos)
d) Kematian secara bertahap atau massal.

Virus taura (TSV) mempunyai inang antara lain : P.monodon, P. aztecus, P. duoderum, P. merguiensis, L.setiferus,L.stylirostris, L.vannamei. Virus ini berasal dari negara asal udang vaname dikembangkan. Apabila udang terinfeksi virus ini dapat sembuh, maka udang akan bersifat pembawa dan akan menularkan pada udang lain yang lemah.

 

3) PENYAKIT VIRUS WSSV (WHITE SPOTS SYNDROME VIRUS) DAN INVECTIOUS HYPODERMAL HAEMATOPOETIC NECROSIS (IHHNV)
Gejala penyakit ini antara lain :
a) Diawali dengan nafsu makan yang tinggi (saat awal menyerang Tahun 1994), selanjutnya tidak mau makan.
b) Udang selalu kepermukaan air sepanjang pematang tambak.
c) Ada kematian di dasar, dalam waktu 3 – 7 hari udang habis
d) Adanya bintik-bintik putih di carapace.
e) Histopatologis Inclussion body intranuclear pada organ stomach

 

Di alam WSSV dapat menyerang P. monodon, P. japponicus, P. chinensis, P. indicus, P. merquensis, dan P. setiferus. Pada P. Monodon. WSSVmenyerang stadia post-larva (PL), calon induk/ukuran konsumsi (subadult) dan induk udang (adult). Kejadian infeksi terjadi setiap bulan tidak mengenal musim (kemarau maupun penghujan). Virus WSSV stabil pada suhu dan pH yang ekstrim dan kestabilannya akan bertambah di dalam lingkungan eksternal karena adanya perlekatan virion pada kristal pelindung protein virus (polyhedrin, granulin,s pheroidin).

 

Kristal pelindung ini akan melindungi virus dari pH yang tinggi di dalam saluran pencernaan udang (Walker, 1999). Infeksi yang terjadi pada stadia PL, calon induk dan induk terlihat gejala seperti nafsu makan menurun, udang tampak lemah (lethargy), sering kali terlihat malas berenang, udang yang di pelihara di tambak terlihat berenang di tepi tambak. Karapas udang yang sakit terlihat bercak putih, dan menjadi lunak, badan induk udang warnanya menjadi merah.

 

Gejala seperti ini sama dengan yang dikemukakan oleh Momoyama et al. (1997); Lo & Kou (1998); Sudha et al. (1998) bahwa udang yang terinfeksi WSSV mengalami perubahan pada pola tingkah laku yaitu menurunnya aktivitas renang, berenang tidak terarah dan seringkali berenang pada salah satu sisi saja. Selain itu, udang cenderung bergerombol di tepi tambak dan berenang ke permukaan. Pada infeksi akut terdapat bercak-bercak putih pada karapas dengan diameter 0,5-3,0 mm.

 

Bercak putih ini pertama kali muncul pada cephalothorax, segmen ke-5 dan ke-6 dari abdominal dan terakhir menyebar ke seluruh kutikula badannya (Kasornchandra & Boonyaratpalin, 1996; Wang et al., 1997a; Lo & Kou, 1998). Sedangkan Koesharyani et al. (2001) mengatakan bahwa induk udang yang berwarna kemerahan termasuk jugai nsang dan hepatopankreas, sewaktu diperiksa dengan metode PCR dari organ pencernaan, lymphoid, dan kaki renang menunjukkan positif terinfeksi WSSV.

 

Kejadian ini dapat menimbulkan kematianudang lebih dari 80% dalam rentang waktu satu minggu. Penelitian yang dilakukan oleh Peng et al.(1998) menyebutkan infeksi WSSV sangat patogenik pada kondisi udang yang diberikan stessor, hal ini karena mekanisme pertahanan tubuh pada udang tidak tidak dapat mencegah atau menahan perbanyakan WSSV di bawah kondisi stres. WSSV dapat menyebar dengan cepat ke berbagai organ seperti jantung, insang, epidermis, otot, maupun sistem pencernaan meski dalam jumlah yang kecil.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Tuesday, October 27, 2020

Viral Nervous Necrosis (VNN); Klasifikasi, Morfologi, Histopatologi, Virulensi dan Mekanisme Penyerangan, Etc



Kerusakan Organ Akibat VNN: (a) Vakuolasi pada retina (Koohkan, et  al.,  2014),  (b)  nekrosis  pada  hati  (Jannah,  et  al.,  2017), (c)   Hemoragi   pada   insang   (Parameswari,   et   al.,   2013), (d) Kerusakan pada insang: Oe. Oedema, Ht. Hipertropi, Hp. Hiperplasia, N. Nekrosis (Yuwanita, et al., 2013), (e) Kerusakan pada insang: x. Hiperplasia, q. Badan Inklusi, y. Hipertropi (Nuryati, et al., 2008) dan (f) Kerusakan pada Hati: OB. Occlusion Body, F. Fibriosis, N. Nekrosis, Cs. Cloudy Swelling, V. Vakuolasi, IB. Inclussion Body (Yuwanita, et al., 2013).

 

Klasifikasi Viral Nervous Necrosis (VNN)

Menurut Chi, et al. (2001), klasifikasi VNN adalah sebagai berikut:

Kingdom : Virus

Divisi : RNA Virus

Class : Single Stranded (+) RNA Virus

Family : Nodaviridae

Genus : Betanodavirus

Spesies : Viral Nervous Necrosis

 

Morfologi Viral Nervous Necrosis (VNN)

Betanodavirus memiliki bentuk yang lurus (linear), memilik dua transkip RNA (transkip RNA 1 dan RNA 2), rantai sense bersifat positif dan untaian RNA bersifat single stranded. Betanodavirus merupakan virus yang tidak memiliki envelope (non-enveloped virus) yang dibungkus dengan isosahedral capsid (lapisan pembungkus RNA yang terdapat pada tubuh virus) dengan diameter antara 29-35 nm. Lapisan pembungkus RNA (kapsid) pada Betanodavirus terdiri dari 32 isomer. Betanodavirus dibagi ke dalam empat genotip berdasarkan urutan nukleotida pada gen protein pada kapsid. Pembagian tersebut diantaranya termasuk RGNNV, SJNNV, BFNNV dan NNV. NNV memiliki partikel virus dengan rata-rata diameter antara 25-34 nm. Virus ini biasanya ditemukan pada bagian otak ikan dengan menggunakan mikroskop elektron (Mao, et al., 2015). Morfologi Betanodavirus disajikan pada Gambar seperti berikut.

 


Gambar Morfologi Betanodavirus. Penampakan morfologi seluruhnya (a) dan penampakan potongan morfologi (b)  (Tang, et al., 2002).

 

Persebaran dan Penyebab Viral Nervous Necrosis (VNN)

Kejadian penyakit VNN di Indonesia dilaporkan terjadi pertama kali pada tahun 1997, di daerah Banyuwangi, Jawa Timur pada budidaya kakap putih kemudian menyebar ke Bali pada tahun 1998, dan merambah ke pembenihan kerapu di Bali yang menyebabkan kematian massal 100%. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa infeksi virus ini terjadi pada lebih dari 40 jenis spesies ikan laut, terutama pada stadia larva dan juvenil yang bisa menyebabkan kematian hingga mencapai prevelensi 100% di hampir seluruh bagian dunia. Namun sekarang yang menjadi perhatian adalah kenyataan bahwa VNN bisa menyerang spesies ikan air tawar, bahkan baru-baru ini VNN menyebabkan kematian massal pada larva nila di Thailand (Prihartini, 2016). Infeksi virus penyebab VNN pada ikan yang dilakukan melalui injeksi intra muskular sangat cepat menyebar dan menginfeksi inang melalui saraf perifer yang ada di otot, kemudian masuk ke dalam sistem saraf pusat dan saraf mata sehingga mengakibatkan ikan kehilangan orientasi berenang dan disfungsi visual. Larva dan juvenil kerapu akan terserang VNN pada suhu 24,5°C-26°C yang merupakan suhu optimal dalam proses infeksi VNN dan dapat menyebabkan kematian pada larva umur 7-45 hari karena sistem saraf yang masih sederhana (Sudaryatma, et al., 2012).

 

VNN merupakan penyakit yang ditemukan menyerang ikan air laut yang dapat menyebabkan kematian yang tinggi pada larva dan juvenil yang terinfeksi. Agen pembawa VNN diidentifikasi berasal dari famili Nodaviridae karena memiliki gen virus dan protein (Chi, et al., 2001). Infeksi alami yang disebabkan oleh VNN termasuk dalam tingkat akut atau parah, dan terjangkitnya penyakit ini sangat hebat ketika virus menyerang pada ikan yang memiliki kondisi stres akibat kepadatan yang tinggi saat budidaya dan temperatur air yang tinggi dalam sistem budidaya (Putri, et al., 2013).

 

Virulensi dan Mekanisme Penyerangan Viral Nervous Necrosis (VNN)

Virulensi adalah tingkat keganasan virus yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit. Tingkat virulensi dipengaruhi oleh jumlah virus, cara virus masuk ke tubuh inang, mekanisme pertahanan inang dan faktor virulensi lainnya. Infeksi virus pada sel dan jaringan selalu menunjukkan adanya gejala klinis atau lesi dan ciri-ciri khusus dari serangan penyakit tersebut, sehingga dapat dilakukan diagnosis berdasarkan ciri-ciri tersebut (Yuwanita, et al., 2013). Di Indonesia dilaporkan bahwa VNN telah menyerang sebagian besar budidaya ikan kerapu dengan tingkat kematian 100%. Penyakit VNN merupakan masalah serius pada budidaya ikan laut terutama kerapu dan kakap karena dapat menyebabkan kematian 50-100% pada larva umur 10-20 hari, sedangkan pada ikan ukuran 2-5 cm dapat menyebabkan kematian sampai 100%, serta kematian kurang dari 20% pada ikan ukuran >15 cm. Virus penyebab VNN umumnya menginfeksi stadia larva sampai juvenil dan menyerang bagian sistem syaraf mata dan otak yang ditandai dengan adanya vakuolasi (Sudaryatma dan Lestari, 2014). Penyakit VNN telah menginfeksi lebih dari 40 spesies ikan pada fase larva dan juvenil. Namun, pada beberapa spesies ikan, VNN juga dapat menyerang ikan dewasa (Nazari, et al., 2014).

 

Mekanisme penyerangan virus RNA pada tahapan pertama yaitu terjadinya penyerangan (attachment) pada sel inang dimana reseptor mulai mengenali virus tersebut pada lapisan membran plasma. Proses berikutnya adalah penetrasi (penetration) yaitu masuknya partikel virus ke dalam sel inang (host), selanjutnya virus akan melepas bagian luar yang melapisi tubuhnya (uncoating) untuk masuk ke dalam sitoplasma dari inang yang terinfeksi. Selanjutnya terjadi proses translasi genom virus RNA menjadi protein-portein. Kemudian, virus akan memperbanyak diri (replication) di dalam membran intraseluler untuk kemudian membentuk virion dan apabila telah sempurna akan melepaskan diri keluar dari sel untuk menginfeksi sel yang lainnya (Setyorini, et al., 2008). Betanodavirus menginfeksi sistem imun non-spesifik dan sistem imun spesifik dari ikan. Beberapa jaringan seperti rongga hidung, sel epitel pada usus dan kulit kemungkinan menjadi jalan masuknya Betanodavirus ke dalam sel inang. Pada kasus infeksi beberapa jenis kerapu oleh Betanodavirus, diperkirakan virus ini menembus bagian sel epitel pada rongga hidung kemudian mencapai saraf olfactory dan selanjutnya menginvasi lobus olfactory dan kemudian virus tersebut melakukan replikasi. Sel epitel pada kulit dan usus juga memungkinkan menjadi jalan masuknya virus VNN. Ketika berada pada tubuh inang, Betanodavirus melakukan perbanyakan diri dan menyebar pada organ target melalui aliran darah sehingga menyebabkan terjadinya lesi pada bagian endokardium. Hipotesis lain menyebutkan bahwa Betanodavirus juga menyerang bagian CNS dengan cara perpindahan axonal melewati saraf otak, kemudian virus tersebut melakukan replikasi pada organ target, sehingga terjadi vakuolasi pada otak ikan yang terserang VNN (Woo dan Cipriano, 2017).

 


Gambar Mekanisme Infeksi VNN pada ikan (Stapleford dan Miller, 2010).

 

Mekanisme Pertahanan Tubuh Ikan

Sistem pertahanan tubuh pada hewan akuatik terdiri dari sistem pertahanan tubuh non-spesifik (innate) dan sistem pertahanan spesifik (adaptive). Pada ikan, respon imunitas dibentuk oleh jaringan limfoid yang menyatu dengan jaringan mieloid yang disebut sebagai jaringan limfomeioid. Pada ikan teleost jaringan limfomieloidnya adalah limfa, timus dan ginjal depan. Berbeda dengan udang, pada ikan terdapat populasi sel B dan sel T. Sel-sel ini sangat berperan dalam respon imunitas baik seluler maupun humoral. Pada sistem imun non spesifik, respon dan faktor humoral terdiri dari transferin, interferon, protein C-reaktif, lectin dan enzyme lysozyme, sedangkan respon dan faktor seluler tediri dari sel makrofag, sel natural killer dan neutrofil. Selain itu bagian tubuh ikan seperti kulit, sisik dan mukus pada permukaan tubuh dan insang juga merupakan alat pertahanan tubuh ikan yang bersifat non spesifik. Respon humoral pada sistem imun adaptive merupakan respon yang bersifat spesifik dan dilakukan oleh suatu substansi yang dikenal sebagai antibodi atau imunoglobulin dimana antibodi tersebut diproduksi oleh limfosit B (sel B), sedangkan respon seluler ikan bersifat spesifik dilakukan oleh cell mediated imunity (sel T) (Alifuddin, 2002).

 

Sama seperti hewan vertebrata lainnya, ikan memiliki respon imun seluler dan humoral serta organ-organ yang berperan dalam menjaga pertahanan tubuh ikan (Tort, et al., 2003). Sistem pertahanan tubuh tersebut akan bekerja setiap adanya infeksi mikroorganisme baik bakteri, virus dan parasit maupun jamur ke dalam tubuh ikan. Pada ikan, sistem pertahanan tubuh terdiri dari sistem pertahanan innate atau sistem pertahanan bawaan /alami atau disebut juga sistem pertahanan non spesifik dan sistem pertahanan dapatan atau yang diinduksi (Acruired) yaitu sistem pertahanan yang akan berfungsi dengan baik apabila diinduksi dengan pemaparan pada patogen atau produk-produk yang berasal dari patogen tersebut (misalnya : LPS dan vaksin). Namun pada ikan lebih mengandalkan sistem pertahanan tubuh nonspesifiknya daripada sistem kekebalan tubuh spesifiknya. Pada ikan, respon imun baru terbentuk secara sempurna setelah ikan dewasa. Ikan-ikan muda tidak mempunyai respon imun spesifik yang sempurna dan bergantung pada respon selular non-spesifik untuk bertahan dari serangan infeksi mikroba. Pertahanan nonspesifik merupakan pertahanan utama pada ikan stadia benih dan ikan muda. Sistem imun nonspesifik pada ikan terdiri dari penghalang fisik seperti mukus dan kulit, sel-sel fagositik yang terdiri dari monosit, makrofag dan leukosit granulosit (basofil, eusinofil, neutrofil). Ketika terdapat zat asing yang masuk ke dalam tubuh, sel-sel fagosit akan mengenali dan menelan partikel-partikel antigenik, termasuk bakteri dan sel-sel inang yang rusak melalui tiga tahapan proses yaitu pelekatan, fagositosis dan pencernaan. Pelekatan pada permukaan sel bersifat selektif dan sel-sel inang yang sehat tidak akan ditelan karena adanya mekanisme pengecualian tipe I MHC (MHC Type I exclusion mechanism) meskipun identifikasi gen-gen MHC terbatas pada beberapa spesies saja. Dampak dari proses fagositik tersebut akan menimbulkan inflamasi sebagai respon protektif awal tubuh dalam mengalangi upaya patogen dan menghancurkannya. Sementara untuk sistem kekebalan tubuh spesifik pada ikan mengarah pada pembentukan antibodi. Antibody akan disintesis ketika ada respon dari luar berupa antigen yang kemudian dipresentasikan oleh sel-sel yang bertugas mempresentasikan antigen (Antigen presenting cells, APCs), antara lain makrofag, sel-sel dendrit dan lymphocyte B (sel B). APCs akan mempresentasikan epitop (determinan antigen) kepada sel T helper melalui molekul MHC (Major histocompatibility complex) kelas II. Sel T akan menerima epitop-epitop tersebut menggunakan reseptor yang disebut TCR (T cell receptor). Setelah menerima kiriman epitop dari APCs, sel T helper kemudian meresponnya dengan mensekresi sitokin. Sitokin (seperti interleukin) tersebut selanjutnya diterima oleh sel B dan sel B akan merespon signal yang diterima dengan mengadakan proliferasi menjadi sel B memori dan sel-sel plasma. Sel B memori akan mengingat epitop yang pernah diterima dengan membentuk reseptor khusus yang secara spesifik mengenali epitop tersebut sehingga ketika epitop yang sama masuk ke dalam tubuh, dengan cepat akan dikenali oleh sel B dan dengan segera akan direspon. Sedangkan sel-sel plasma bertanggung jawab terhadap sintesis antibody (protein immunoglobulin) yang bertugas menghancurkan antigen sasarannya bersama sel T killer (Ode, 2013).

 

Gejala Klinis Viral Nervous Necrosis (VNN)

VNN merupakan salah satu jenis virus yang berbahaya dan sering menyebabkan kerugian pada kegiatan budidaya perikanan. Virus ini telah banyak dilaporkan menginfeksi ikan laut yang dibudidayakan di Indonesia dan telah ditetapkan dalam Kepmen nomor 26 tahun 2013 sebagai Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) golongan 1 (Fitriatin dan Manan, 2015). Hasil gejala klinis ikan yang terinfeksi VNN adalah wierling atau berenang memutar, menengadah, berdiam diri di dasar seolah-olah mati, warna tubuh lebih gelap. Virus VNN menyerang syaraf otak, sehingga motorik rusak. Hal tersebut mengakibatkan tidak seimbangnya antara keinginan makan maupun keseimbangan dalam air dengan motorik. Tingkat kelulushidupan yang rendah pada ikan yang terserang VNN diduga karena sifat dari virus VNN yang tidak dapat dimatikan dan bersifat aktif dalam sel inang yang mendukung kehidupannya (Amelia dan Prayitno, 2012).

 

VNN dapat ditularkan melalui air dari ikan yang terinfeksi ke ikan yang sehat dalam waktu 4 hari. Nodavirus juga dapat terdeteksi pada ikan tanpa tanda-tanda penyakit klinis. Gejala klinis ikan yang terinfeksi VNN tampak berputar-putar dan perilaku berenang horizontal serta terjadi inflasi gelembung renang. VNN menyerang bagian otak sehingga menyebabkan ikan berenang berputar, mengambang di permukaan dengan perut menghadap ke atas dan pigmentasi yang lebih pekat pada warna ikan (Lestari dan Sudaryatma, 2014).

 

Histopatologi Viral Nervous Necrosis (VNN)

Pemeriksaan histopatologi pada ikan dapat memberikan gambaran perubahan jaringan ikan yang terinfeksi penyakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai gambaran histopatologi ikan untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan (Insivitawati, et al., 2015). Gambaran histopatologis yang diamati adalah ukuran sel, warna dan kerusakan jaringan. Penilaian tingkat kerusakan jaringan diperoleh dari jumlah kerusakan yang terjadi pada setiap jaringan (Fauzy, et al., 2014).

 

Ikan yang menunjukkan gejala klinis terinfeksi VNN dinekropsi diambil organ mata dan otaknya. Ikan yang telah dinekropsi selanjutnya diuji menggunakan metode uji histopatologi dengan pewarnaan hemaktosilin dan eosin dan diamati di bawah mikroskop perbesaran 400 kali (Novisa, et al., 2015). Pada gambaran histologi ikan yang terserang penyakit VNN, terlihat banyak ruang-ruang kosong pada otak, mata dan sumsum tulang belakang. Terjadi hemoragi di hati dan limpa, serta terjadi infiltrasi sel radang terutama pada mononukleus (Sudaryatma, et al., 2012). Organ mata dan otak merupakan organ yang diambil pada saat preparasi sampel untuk menganalisa Nodaviridae sebagai agen penyebab VNN. Infeksi virus yang digolongkan ke dalam genus Betanodavirus dan family Nodaviridae ini juga menunjukkan karakteristik terjadinya vakuolisasi kuat pada sistem saraf pusat dan retina mata (Novriadi, et al., 2015). Pada otak, vakuolisasi terjadi pada lapisan stratum griseum ventricular dan lapisan stratum album central pada bagian mesencephalon, selain itu vakuola juga dapat ditemukan pada daerah olfactory septal, ventral dan dorsal pada telencephalon. Sementara kerusakan pada mata, terjadi pada bagian lapisan ganglion pada retina (Nazari, et al., 2014). Pada pengamatan histopatologi ginjal ikan yang terinfeksi VNN dengan pemberian jintan hitam 2,5%, ditemukan adanya nefritis kronis (peradangan pada glomerulus). Hal tersebut ditandai dengan adanya infiltrasi sel limfosit. Infiltrasi limfosit merupakan penimbunan bahan patologis dalam jaringan atau sel yang tidak normal atau dalam jumlah yang berlebihan (Sari, et al., 2014). Menurut Zorriehzahra, et al. (2016), pada pengamatan histopatologi, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat lesi (luka) pada jaringan usus. Namun, terjadinya bengkak pada usus merupakan salah satu deteksi ikan yang terserang VNN.

 

Kerusakan Organ Akibat Viral Nervous Necrosis (VNN)

VNN merupakan salah satu virus yang paling banyak menyerang organisme budidaya laut. Hasil diagnosa ikan yang terinveksi VNN, menunjukkan adanya vakuolisasi (kerusakan) yang tejadi pada telencephalon, mesencephalon dan cerebellum. Pada lapisan nuklear dan lapisan ganglion retina juga ditemukan adanya vakuolisasi, selain itu ditemukan pula adanya kerusakan berupa hiperplasia pada gelembung renang (Toufan, et al., 2017). Kerusakan berupa nekrosis, pembengkakan serta adanya bercak merah (ptechiae) juga ditemukan pada bagian operkulum, selain itu pembengkakan juga terjadi pada limpa dan ginjal ikan (Novriadi, et al., 2015). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Yuwanita, et al., (2013), ditemukan kerusakan akibat infeksi VNN pada beberapa organ yang diamati histopatologinya, seperti mata, otak, insang, hati, ginjal dan usus. Ditemukan adanya vakuolasi pada otak, spinal cord dan retina yang merupakan organ target untuk replikasi virus. Selain vakuolasi, ditemukan pula adanya kerusakan berupa hemoragi dan nekrosis pada otak. Kerusakan yang tejadi pada insang antara lain hipertropi, hiperplasia, oedema, vakuolasi dan nekrosis. Pada hati tejadi vakuolasi, nekrosis, inclusion body, occlusion body, fibriosis dan cloudy swelling. Pada ginjal ditemukan adanya vakuolasi, hipertropi dan cloudy swelling, sedangkan pada usus terjadi nekrosis dan vakuolasi.

 

Kerusakan tingkat sedang pada organ yang terserang penyakit ditandai dengan adanya hemoragi, sedangkan kerusakan tingkat berat ditandai dengan adanya nekrosis (Jannah, et al., 2017). Nekrosis merupakan sel-sel yang mempunyai aktivitas yang sangat rendah dan akhirnya mengalami kematian sel jaringan sehingga menyebabkan hilangnya fungsi pada daerah yang mengalami nekrosis (Sarjito, et al., 2007). Kematian sel ini terjadi bersama dengan pecahnya membran plasma. Nekrosis diawali dengan terjadinya reaksi peradangan hati berupa pembengkakan hepatosit dan kematian jaringan. Hemoragi atau pendarahan pada organ yang terserang VNN ditandai dengan adanya bintik darah dalam pembuluh darah (Triadayani, et al., 2010). Nekrosis merupakan pertanda bahwa telah terjadi kerusakan kronis yang bersifat irreversibel.

 

Sementara hemoragi terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Hal ini memicu terjadinya infiltrasi leukosit (Rahayu, et al., 2013). Timbulnya hemorrhagic akan diikuti oleh luka-luka borok pada kulit yang dapat meluas ke jaringan otot dan insang sehingga ikan sulit bernafas. Hiperplasia lamella sekunder pada insang terjadi akibat adanya pembelahan sel epitel yang tidak terkontrol dan pada lamella primer disebabkan oleh pembelahan sel-sel chlorid secara berlebihan. Hiperplasia sel-sel lamella insang diawali dengan beberapa kejadian diantaranya edema, kematian sel dan lepasnya sel-sel epithelium pada lamella insang (Hastari, et al., 2014). Hiperplasia menyebabkan penebalan jaringan epitel di ujung filamen yang memperlihatkan bentuk seperti bisbol atau penebalan jaringan yang terletak di dekat dasar lamela. Terjadinya edema akan diikuti oleh lepasnya epitel dari lamela sekunder yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi epitel sebagai penangkap gas terlarut (Saputra, et al., 2013). Edema atau disebut juga dengan pembengkakan dapat mengakibatkan eritrosit menjadi mudah pecah dan berubah bentuk sehingga terjadi degenerasi hal ini dapat menyebabkan asphyxia (kesulitan bernafas karena kekurangan oksigen), sehingga dapat menyebabkan kematian ikan (Sukarni, et al., 2012). Badan inklusi merupakan benda asing yang terbentuk akibat serangan virus. Benda asing ini terdapat di dalam nukleus/intranuklear dan badan ini merupakan timbunan benda asing yang bentuk dan ukurannya bervariasi, berwarna merah keunguan, eosinofilik, basofilik ataupun amfofilik. Infeksi virus dalam jaringan tersebut membentuk area-area yang kosong tempat sel-sel virus pernah ada, akan tetapi telah ditinggalkan oleh virus dan inti sel mengalami hipertrofi basofilik. Badan inklusi yang mengalami hipertrofi basofilik ditandai dengan inti nukleus berwarna biru karena dominan menyerap basofil dan ukurannya mengalami pembesaran. Hal ini menjelaskan bahwa semakin tinggi tahap infeksi maka semakin pekat warna dan semakin besar diameter badan inklusinya (Nazaruddin, et al., 2014). Hasil pengamatan histopatologi pada ikan yang terinveksi VNN ditemukan adanya kerusakan hipertropi dan terbentuknya vakuola pada otak. Hipertropi merupakan peristiwa dimana sel mengalami pembesaran, sedangkan vakuola merupakan ruang-ruang kosong pada sitoplasma (Amelia dan Prayitno, 2012).  Vakuola  atau  ruang  yang  kosong  pada  lamela  primer  terjadi  karena adanya nekrosis/kematian  suatu sel atau sekelompok sel (Sukarni, et al., 2012). Kerusakan-kerusakan yang tejadi pada organ ikan yang terserang VNN disajikan pada Gambar seperti berikut.

 


Gambar Kerusakan Organ Akibat VNN: (a) Vakuolasi pada retina (Koohkan, et  al.,  2014),  (b)  nekrosis  pada  hati  (Jannah,  et  al.,  2017), (c)   Hemoragi   pada   insang   (Parameswari,   et   al.,   2013), (d) Kerusakan pada insang: Oe. Oedema, Ht. Hipertropi, Hp. Hiperplasia, N. Nekrosis (Yuwanita, et al., 2013), (e) Kerusakan pada insang: x. Hiperplasia, q. Badan Inklusi, y. Hipertropi (Nuryati, et al., 2008) dan (f) Kerusakan pada Hati: OB. Occlusion Body, F. Fibriosis, N. Nekrosis, Cs. Cloudy Swelling, V. Vakuolasi, IB. Inclussion Body (Yuwanita, et al., 2013).

 

Penulis

Anissa Zalsabilla

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Amelia, N. dan S. B. Prayitno. 2012. Pengaruh ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) untuk menginaktifkan Viral Nervous Necrosis (VNN) pada ikan kerapu bebek (Epinephelus fuscoguttatus). Journal of Aquaculture Management and Technology. 1(1): 264-278.

Chi, S. C., B. J. Lo and S. C. Lin. 2001. Charcterization of grouper nervous necrosis virus (GNNV). Journal of Fish Diseases. 24: 3-13.

Chi, S.C., C. F. Lo, G. H. Kou, P. S. Chang, S. E. Peng and S. N. Chen. 1997. Mass mortalities associated with Viral Nervous Necrosis (VNN) disease in two species of hatchery-reared grouper, Epinephelus fuscogutatus and Epinephelus akaara (Temminck & Schlegel). Journal of Fish Diseases.20: 185–193.

Fauzy, A., Tarsim dan A. Setyawan. 2014. Histopatologi organ kakap putih (Lates calcarifer) dengan infeksi Vibrio alginolyticus dan jintan hitam (Nigella sativa) sebagai imunostimulan. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. 3(1): 320-326.

Fitriatin, E. dan A. Manan. 2015. Pemeriksaan Viral Nervous Necrosis (VNN) pada ikan degan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 7(2): 149-152.

Hastari, I. F., Sarjito dan S. B. Prayitno. 2014. Karakterisasi agensia penyebab vibriosis dan gambaran histologi ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dari karamba jaring apung Teluk Hurun Lampung. Jurnal of Aquaculture Management and Technology. 3(3): 86-94.

Jannah, R., Rosmaidar, Nazaruddin, Winaruddin, U. Balqis dan T. Armansyah. 2017. Pengaruh paparan timbal (Pb) terhadap histopatologis hati ikan nila (Oreochromis nilloticus). JIMVET. 1(4): 742-748.

Koohkan, O., R. Abdi, S. J. Zorriehzahra, A. Movahedinia dan I. Sharifpoor. 2014. Acute mortality of Liza klunzingeri in Persian Gulf and Oman Sea associated with nervous necrosis. Comp Clin Pathol. 23: 367-370.

Lestari, A. T. dan P. E. Sudaryatma. 2014. Studi imunohistokimia darah dan suspensi organ kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) yang diinfeksi virus isolat lapang pengebab Viral Nervous Necrosis. Jurnal Sain Veteriner. 32(1): 85-92.

Mao, M., Wen, S., A. Peralvarez-Marin, Li, H., Jiang, J., Jiang, Z., Li, X and Lu, H. 2015. Evidence for and characterization of nervous necrosis virus infection in Pacific cod (Gadus macrocephalus). Arch Virol. 160: 2237-2248.

Nazari, A., M. D. Hassan, M. J. Zorriehzahra, T. I. Azmi and S. S. Arshad. 2014. Pathogenicity of viral nervous necrosis virus for guppy fish, Poecilia reticulata. Irian Journal of Fisheries Science. 13(1): 168-177.

Nazaruddin, D. Aliza, S. Aisyah, Zainuddin dn Syafrizal. 2014. Gambaran histopatologis hepatopankreas udang windu (Penaeus monodon) akibat infeksi virus Hepatopancreatica parvovirus (HPV). Jurnal Kedokteran Hewan. 8(1): 27-19.

Novisa, E., Tarsim dan E. Harpeni. 2015. Pengaruh jintan hitam (Nigella sativa) terhadap histopatologi organ kakap putih (Lates calcarifer) yang terinfeksi Viral Nervous Necrosis secara buatan. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. 3(2): 384-388.

Novriadi, R., S. Agustatik dan T. Dwi. 2015. Identifikasi keberadaan Nervous Necrosis Virus dan Iridovirus pada budidaya ikan laut di wilayah kerja balai perikanan budidaya laut Batam. Omni-Akuatika. 14(2): 54-62.

Novriadi, R., S. Agustatik, S. Bahri, D. Sunantara dan E. Wijayanti. 2014. Distribusi patogen dan kualitas lingkungan pada budidaya perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau. Depik. 3(1): 83-90.

Nuryati, S., P. Giri dan Y. Hadiroseyani. 2008. Efektivitas ekstrak bawang putih Allium sativum terhadap ketahanan tubuh ikan mas Cyprinus carpio yang diinfeksi Koi Herpes Virus (KHV). Jurnal Akuakultur Indonesia. 7(2): 139-150.

Parameswari, W., A. D. Sasanti dan Muslim. 2013. Populasi bakteri, histologi, kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gabus (Channa striata) yang dipelihara dalam media dengan pemberian probiotik. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia. 1(1): 76-89.

Prihartini, N. C. 2016. Distribusi pathognomik virulensi VNN (Viral Nervous Necrotic) pada benih nila (Oreochromis sp.). Jurnal Ilmu Perikanan. 7(2): 51-56.

Putri, R. R., U. Yanuar dan A. M. Suryanto. 2013. Perubahan struktur jaringan mata dan otak pada larva ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) yang terinfeksi Viral Nervous Necrosis (VNN) denganpemeriksaan Scanning Electron Microscope (SEM). MSPi Student Journal. 1(1): 1-10.

Rahayu, S. D., Z. L. Zulfatin dan A. Nuriliani. 2013. Efek Histopatologis insektisida λ-cyhalothrin terhadap insang, hati, dan usus halus ikan nila (Oreochromis niloticus L., 1758). Biosfera. 30(2): 53-65.

Saputra, H. M., N. Marusin dan P. Santoso. 2013. Struktur histologis insang dan kadar hemoglobin ikan asang (Osteochilus hasseltii C.V) di Danau Singkarak dan Maninjau, Sumatera Barat. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 2(2): 138-144.

Sari, S. D., Wardiyanto dan A. Setyawan. 2014. Profil histopatologi kerapu tikus (Cromileptes altivelis) yang distimulasi jintan hitam (Nigella sativa) dan diinfeksi Viral Nervous Necrosis (VNN). Aquasains. 3(1): 208-212.

Sarjito, S.B. Prayitno, O.K. Radjasa dan S. Hutabarat. 2007. Karakterisasi dan pathogenesitas agensia penyebab vibriosis pada kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dari Karimunjawa. Aquaculture Indonesiana. 8(2) : 89-95.

Setyorini, N., A. Khusnah dan L. Widajatiningrum. 2008. Kelangsungan hidup ikan koi (Cyprinus carpio) yang terinveksi KHV (Koi herpesvirus). Berkala Ilmiah Perikanan. 3(1): 57-65.

Stapleford, K. A. and D. J. Miller. 2010. Role of cellular lipids in positive-sense RNA virus replication complex assembly and function. Virruses. 2: 1055-1068.

Sudaryatma, P. E. dan A. T. Lestari. 2014. Imunohistokimia patogenitas Viral Nervous Necrosis isolat lapang Bali yang diinfeksikan pada kerapu macan budidaya. Acta Veterinaria Indonesiana. 2(2): 54-61.

Sudaryatma, P. E., A. T. Lestari, N. L. Sunarsih, K. S. Widiarti, S. N. Hidayah dan D. Srinoto. 2012. Imunositokimia Streptavidin biotin: deteksi dini Viral Nervous Necrosis Virus pada lendir ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Jurnal Sains Veteriner. 30(1): 99-109.

Sudaryatma, P. E., A. T. Lestari, Y. Trisnasari, D. L. Lidayana dan W. Nurlita. 2012. Pemeriksaan Viral Nervous Necrosis virus pada sampel air pemeliharaan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dengan metode imunositokimia Sterptavidin biotin. Jurnal Sains Veteriner. 30(2): 2-11.

Sukarni, Maftuch dan H. Nursyam. 2012. Kajian penggunaan ciprofloxacin terhadap histologi insang dan hati ikan botia (Botia macracanthus, Bleeker) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. J. Exp. Life. Sci. 2(1): 6-12.

Tang, L., Lin, C., N. K. Krishna, M. Yeager, A. Schneeman and J. E. Johnson. 2002. Virus-like particles of a fish nodavirus display a capsid subunit domain organization different from that of insect nodaviruses. Journal of Virology. 76(12): 6370-6375.

Toufan, A., F. Pascoli, T. Pretto, V. Panzarin, M. Abbadi, A. Buratin, R. Quartesan, D. Gijon and F. Padros. 2017. Viral Nervous Necrosis in gilthead sea bream (Sparus aurata) caused by reassortant betanodavirus RGNNV/SJNNV: an emerging threat for Mediterranean aquaculture. Scientific Report. 7: 1-13.

Triadayani, A. E., R. Aryawati dan G. Diansyah. 2010. Pengaruh logam timbal (Pb) tehadap jaringan hati ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis). Maspari Journal. 01: 42-47.

Woo, P. T. K. and R. C. Cipriano. 2017. Fish Viruses and Bacteria Pathobiology and Protection. CABI. UK. 364 p.

Yuwanita, R., U. Yanuhar dan Hardoko. 2013. Pathognomonic of Viral Nervous Necrotic (VNN) virulence on larvae of humpback grouper (Cromileptes altivelis). Advances in Environmental Biology. 7(6): 1074-1081.

Zorriehzahra, M. E. J., M. Ghasemi, M. Ghiasi, S. H. Karsidani, G. Bovo, A. Nazari, M. Adel V. Arizza dan K. Dharma. 2016. Isolation and confirmation of Viral Nervous Necrosis (VNN) disease in golden grey mullet (Liza aurata) and leaping mullet (Liza saliens) in the Iranian waters of the Caspian Sea. Veterinary Microbiology. 190: 27-37.