Friday, October 30, 2020

Bakteri Edwardsiella tarda; Klasifikasi, Morfologi, Infeksi, Gejala Klinis, Pertumbuhan dan Perkembangbiakan

  


Bakteri Edwardsiella tarda (Dokumentasi Pribadi)

 

Klasifikasi Bakteri Edwardsiella tarda

Menurut Bujan, et al. (2017), klasifikasi bakteri E. tarda adalah sebagai berikut :

Kingdom : Eubacteria

Filum : Proteobacteria

Ordo : Enterobacteriales

Famili : Enterobacteriaceae

Genus : Edwardsiella

Spesies : Edwardsiella tarda

 

Morfologi Bakteri Edwardsiella tarda

Bakteri E. tarda merupakan bakteri gram negatif, pendek, anaerob fakultatif yang memiliki panjang sekitar 2-3 m dan diameter 1 m. Bakteri tersebut mampu hidup pada daerah dengan pH 4-10, dan suhu 14-450C. Bakteri  E. tarda berbentuk batang, tidak membentuk spora atau kapsul dan motil dengan memiliki flagella. E. tarda merupakan bakteri yang menginfeksi beberapa spesies ikan air tawar bahkan hingga manusia yang bersifat pathogen. Secara karakteristik biokimia, E. tarda merupakan bakteri yang mengandung enzim katalase dan mampu memproduksi hidrogen sulfida dan indol (Park, et. al., 2012).

 

Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Bakteri Edwardsiella tarda

Menurut Hartati (2015), kurva pertumbuhan bakteri terbagi dalam 4 fase, yaitu:

1) Fase lag (lag phase) merupakan fase permulaan, dimana kecepatan pertumbuhan nol atau >0 (tidak maksimum), disebut juga fase adaptasi.

2) Fase logaritma (log phase) merupakan fase eksponensial, dimana kecepatan pertumbuhan mencapai maksimum. Massa dan jumlah sel bertambah secara eksponensial.

3) Fase tetap (stationary phase) merupakan fase statis, dimana kecepatan pertumbuhan mulai menurun.

4) Fase penurunan atau death phase, dimana jumlah kematian lebih tinggi dari pertumbuhan.



Kurva pertumbuhan bakteri.

 

Bakteri E. tarda merupakan bakteri gram negative yang memiliki sifat anaerobik fakultatif, sehingga perkembangannya dapat terjadi tanpa adanya oksigen atau minim oksigen. E. tarda dapat tumbuh dan berkembang pada media selektif seperti agar MacConkey. Selain dengan agar MacConkey, dapat ditambahkan kolistin untuk meningkatkan laju E. tarda dari campuran kultur dibandingkan dengan media SS (Salmonella dan Shigella Agar) (Buller, 2014). Bakteri ini hidup pada suhu 14-450C (Park, et al., 2012). Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 350C. Apabila suhu kurang dari 100C atau lebih dari 450C maka E. tarda tidak dapat tumbuh (Lubis, et al., 2014).

 

Infeksi dan Gejala Klinis Serangan Bakteri Edwardsiella tarda

Edwardsiella tarda adalah penyebab penyakit Edwardsielliosis/ Emphisematous Putreactive Disease of Catfish (EPDC) atau Edwardsiella Septicaemia (ES). Penyakit Edwardsiella dikenal sebagai penyakit utama pada budidaya catfish di Amerika. E. tarda tidak memproduksi endotoksin seperti umumnya bakteri gram negatif lainnya, tetapi menghasilkan 2 eksotoksin yang dapat menyebabkan lesi (Narwiyani dan Kurniasih, 2011).

 


Gejala Klinis Serangan Bakteri Edwardsiella tarda


Serangan E. tarda pada ikan dalam tahap infeksi ringan hanya menampakkan luka-luka kecil, sebagai perkembangan penyakit lebih lanjut, luka bernanah berkembang di dalam otot rusuk dan lambung. Pada kasus akut, luka bernanah secara cepat bertambah dengan berbagai ukuran, kemudian luka-luka terisi gas dan terlihat bentuk cembung menyebar ke seluruh tubuh. Warna tubuh hlang dan luka-luka merata di seluruh tubuh. Jika luka digores maka akan tercium bau busuk (H2S) (Andriyanto et al., 2009). Gejala klinis yang timbul pada ikan karena infeksi bakteri E. tarda dapat dilihat pada Gambar dibawah.

 

Leukosit

Leukosit merupakan salah satu sel darah yang mempunyai peranan penting dalam sistem imun ikan. Total leukosit pada ikan yang bertambah mengindikasikan adanya peningkatan sistem imun ikan, sehingga dapat terindikasi sedang terserang oleh zat asing (Satyarini, et al., 2014). Menurut Sukenda et al. (2008), leukosit berfungsi sebagai pertahanan dalam tubuh, yang bereaksi dengan cepat terhadap masuknya antigen ke dalam tubuh. Menurut Triyaningsih, et al. (2014), jumlah leukosit total ikan teleostei normal berkisar antara 20.000 – 150.000 sel/mm3.

 

Menurut Sutjiati (1990), sel-sel leukosit dapat dibedakan menjadi berikut ini:

• Neutrofil granulosit: dengan nukleus bersegmen, apabila dilakukan pewarnaan makan berwarna merah ungu, bagian plasma berwarna merah muda bergranula kecil kecil lembut.

• Eusinofil granulosit: nukleus sering menyatu dalam satu titik, plasma penuh dengan granula besar.

• Monosit: sel bedar dengan nukleus besar dan padat berbentuk seperti ginjal.

• Limfosit: lebih kecil dari pada monosit, plasma tidak bergranula, nukleus besar hampir memenuhi volume sel.

 

Differensial Leukosit

Differensial leukosit terdiri atas limfosit, monosit, dan neutrofil. Pengamatan differensial leukosit bertujuan yaitu untuk mengetahui perbedaan presentase komponen sel leukosit. Limfosit sebagai salah satu indikator pertahanan alami tubuh dan merupakan sistem kekebalan non spesifik yang dapat melindungi tubuh dari serangan mikroba, monosit berperan penting untuk memakan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh dan memberikan informasi tentang serangan penyakit kepada leukosit, sedangkan neutrofil merupakan jenis sel darah putih yang juga berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh yang bekerja sebagai respon adanya infeksi dalam tubuh (Utami, et al., 2013).

 

Limfosit berfungsi sebagai sel penghasil antibodi, berbentuk bundar dengan sejumlah kecil sitoplasma tidak bergranula. Limfosit berdiameter berkisar antara 8-12µm. sitoplasma berwarna biru pucat, inti berbentuk bulat hingga oval (Abbas, et al., 2010). Monosit berfungsi sebagai sel yang memfagosit zat-zat asing dalam tubuh. Monosit berbentuk oval atau bundar, dengan diameter berkisar antara 6 - 15 mikron, memiliki inti berbentuk oval (Dopongtonung, 2008). Neutrofil berfungsi sebagai penghancur bahan asing melalui proses fagositik (Suhermanto, et al., 2011).Jumlah neutrofil di dalam darah akan meningkat apabila diinfeksi bakteri.

 

Penulis

Husna Nabilla Rodhyansyah

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Abbas, A.K., A. H. Lichtman and S. Pillai. 2010. Cellular and Molecular Immunology Sixth Edition. W. B. Saunders Company. Philadelphia. 572p.

Andriyanto, S., Haririah., Y. Yulianti., S. H. I. Purnomo., S. T. Astuti., Nurlaila., T. Samudro dan B. P . Priyosoeryanto. 2009. Deteksi E. tarda secara immunohistokimia pada ikan patin (Pangasius pangasius). Indonesian Journal of Veterinary Science and Medicine. 1(1): 7-12.

Bujan, N., H. Mohammed., S. Balboa., J. L. Romalde., A. E. Toranzo., C. R. Arias dan B. Magarinos. 2017. Genetic studies to re-affiliate Edwardsiella tarda fish isolates to Edwardsiella piscicida and Edwardsiella anguillarum species. Systematic and Applied Microbiology. xxx: 1-8.

Buller, N. B. 2014. Bacteria and Fungi from Fish and Other Aquatic Animal: A Practical Identification Manual. Department of Agriculture and Food Western. Australia. 881p.

Dopongtonung, A. 2008. Gambaran Darah Ikan Lele (Clarias spp) yang Berasal dari Daerah Laladon-Bogor. SKRIPSI. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 36 hlm.

Hartati, A.S. 2015. Peran Mikrobiologi dalam Bidang Kesehatan. Penerbit Andi. Yogyakarta. 114 hlm.

Lubis, D. A., H. Syawal dan M. Riauwaty. 2014. Identifcation of pathogenic bacteria of tilapia (Oreochromis niloticus) in Subdistrict Marpoyan Damai Pekanbaru. Jurnal Online Mahasiwa (JOM) Bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan. 2(1): 1-8.

Narwiyani, S dan Kurniasih. 2011. Perbandingan patogenitas Edwardsiella tarda pada ikan mas koki (Charassius auratus) dan ikan celebes rainbow (Telmatherina celebensis). Jurnal Riset Akuakultur. 6(2): 291-301.

Satyarini, W.H., Sukenda., E. Harris dan N. B. P. Utomo. 2014. Pemberian fikosianin Spirulina meningkatkan jumlah sel darah, aktivitas fagositosis, dan pertumbuhan ikan kerapu bebek juvenile. Jurnal Veteriner. 15(1): 46-56.

Suhermanto, A., S. Andayani dan Maftuch. 2011. Pemberian total fenol teripang pasir (Holothuroidea scabra) untuk meningkatkan leukosit dan diferensial leukosit ikan mas (Cyprinus carpio) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Kelautan. 4: 49-56.

Sukenda., L. Jamal., D. Wahjuningrum dan A. Hasan. 2008. Penggunaan kitosan untuk pencegahan infeksi Aeromonas  hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. Jurnal Akuakultur Indonesis. 7(2): 159-169.

Utami, D. T., S. B. Prayitno., S. Hastuti dan Ayi Santika. 2013. Gambaran parameter hemaotologis pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberi vaksin DNA (Streptococcus iniae) dengan dosis yang berbeda. Journal of Aquaculture Management and Technology. 2(4): 7-20.

1 comment:

  1. Izin promo ya Admin^^
    bosan tidak ada yang mau di kerjakan, mau di rumah saja suntuk,
    mau keluar tidak tahu mesti kemana, dari pada bingung
    mari bergabung dengan kami di ionqq^^com, permainan yang menarik
    ayo ditunggu apa lagi.. segera bergabung ya dengan kami...
    add Whatshapp : +85515373217 ^_~ :))

    ReplyDelete