Sunday, May 31, 2020

Ikan Sidat (Anguilla Bicolor); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan sidat (Anguilla sp.) sampai saat ini telah ditemukan 18 spesies yang tersebar di Indo-Pasifik, Atlantik dan Oseania (Fahmi dan Hirnawati 2010). Ikan Sidat yang dikelompokkan menjadi 2 golongan besar yang didasarkan posisi dorsalnya yaitu long fin dan short fin (Skrzynski 1974). Indonesia memiliki tujuh jenis ikan sidat dari total 18 jenis di dunia. Ketujuh jenis itu, dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu yang kelompok bersirip punggung pendek dan kelompok yang bersirip punggung panjang. Kelompok bersirip punggung pendek diantaranya adalah Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor Pacifica, sedangkan kelompok yang memiliki sirip punggung panjang adalah Anguilla borneoensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebesensis, Anguilla megastoma dan Anguilla interioris (KKP 2011).

KLASIFIKASI  IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
klasifikasi ikan sidat (Anguilla bicolor) sebagai berikut :
Filum : Vertebrata
Sub Filum : Craniata
Super Kelas : Gnathostomata
Kelas : Teleostei
Sub Kelas : Actynopterigii
Ordo : Anguilliformes
Sub Ordo : Anguilloidei
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Spesies : Anguilla bicolor

HABITAT IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Sidat termasuk ikan katadromus, yaitu ikan yang dewasa berada di hulu sungai atau danau, tetapi bila sudah matang gonad akan beruaya dan memijah disana. Memijah di kedalaman laut hingga lebih dari 6.000 m, telur-telur naik ke permukaan dan menetas menjadi larva. Larva sidat yang terbawa arus, bermetamorfosa menjadi leptocephalus (berbentuk seperti daun), dan terus mengarungi samudera menuju kepantai / perairan tawar.

Setelah mencapai pantai dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun, sudah berupa glass eel dengan tubuh transparan hingga terlihat insang (berwarna merah terang) dan hatinya. Di Pelabuhan Ratu, glass eel mencapaimuara sungai dengan ukuran 45-60 mm (0,15–0,2 g), sedang di Eropa mencapai ukuran 75-90 mm. Mencapai pantai, glass eel memasuki muara sungai dan terus naik dan hidup di hulu-hulu sungai, danau, dan rawa, atau tinggal di perairan rawa pasut atau perairan payau

FISIOLOGI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Belut (Monopterus albus) dan Sidat (Anguilla sp.) merupakan ikan bertulang sejati yang hidup di air tawar yang memiliki kesamaan dan perbedaan secara fisiologis. Namun kandungan nutrisinya terutama asam lemak belum tentu sama. Kandungan asam lemak pada belut dan sidat didasarkan pada pola konsumsi dari keduanya. Oleh karena itu tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk memperoleh minyak hewani dari belut dan sidat serta mengetahui perbandingan komposisi asam lemak yang terkandung didalamnya. Penelitian ini diawali dengan persiapan bahan simplisia dan uji parameter mutu simplisia, selanjutnya dilakukan proses ekstraksi minyak dengan cara refluks. Rendemen yang diperoleh pada minyak belut adalah 0,056% dan minyak sidat adalah 1,486%. Hasil uji parameter mutu minyak belut dan sidat seperti bobot jenis adalah 0,652 dan 0,826; bilangan asam adalah 7,656 mg NaOH/gram dan 6,038 mg NaOH/gram; bilangan peroksida adalah 66,667 meq oksigen/kg dan 21 meq oksigen/kg. Hasil analisis KG-SM pada minyak belut mengandung asam heksadekanoat (asam palmitat) sebesar 100%, sedangkan minyak sidat mengandung asam heksadekanoat (asam palmitat) sebesar 48,55% dan asam 9-oktasdesenoat (asam oleat) sebesar 51,44%.

MORFOLOGI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Ikan Sidat yang telah diambil darahnya, selanjutnya dibedah untuk diamati gonadnya. Pengamatan morfologi gonad dilakukan untuk melihat jenis kelamin ikan (Beullens et al., 1997) dan tipe gonad (Kagawa et al., 2005). Ikan Sidat yang telah diambil darahnya, dibedah untuk diamati gonadnya. Pengamatan morfologi gonad dilakukan untuk melihat jenis kelamin ikan (Beullens et al., 1997) dan tipe gonad (Kagawa, 2005). Beullen et al., (1997)

membagi bentuk gonad ikan Sidat menjadi 3 kelas yaitu bentuk benang tipis (gonad yang belum terdiferensiasi, bentuk lobul (gonad jantan) dan bentuk lamela dengan lipatan transversal (gonad betina). Kagawa (2005) mengelompokkan tipe gonad berdasarkan bentuk morfologi yaitu tipe normal (gonad berada pada kedua sisi rongga tubuh); tipe abnormal, gonad hanya berada pada salah satu sisi rongga tubuh dan tipe steril (tidak terdapat gonad pada rongga tubuh)

CIRI-CIRI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
1. Tubuh si terletak da yang relative kecil dadat berbentuj bulat memanjang
2. Sekilas mirip belut yang dijumpai diareal persawahan
3. Salah satu karakter yaitu baguan tubuh sidat yang memembedakan nya dari belut adalah keberadaan sirip terletak pada dibelakang kepala sehingga telingga sehingga mirip seperti daun telingga

REPRODUKSI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Perkembangan gonad sidat sangat unik dan jenis kelaminnya berkembang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Pada saat anakan kondisi seksualnya berganda sehingga tidak mempunyai jaringan yang jelas antara jantan dan betinanya. Pada tahap selanjutnya sebagian gonad akan berkembang menjadi ovari (indung telur) dan sebagian lagi menjadi testis dengan perbandingan separuh dari populasinya adalah jantan dan separuh lagi betina.

Dalam siklus hidupnya, setelah tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang di perairan tawar, sidat dewasa yang lebih dikenal dengan yellow eel berkembang menjadi silver eel (matang gonad) yang akan bermigrasi ke laut untuk memijah (Rovara dkk., 2007).

Sidat termasuk hewan yang bersifat katadormus karena pada ukuran anakan sampai dewasa tinggal di perairan tawar namun ketika akan memijah beruaya ke laut dalam. Pemijahan diperkirakan berlangsung pada kedalaman 400-500 meter dengan suhu 16-17 oC dan salinitas 35 permill. Jumlah telur yang dihasilkan (fekunditas) setiap individu betina berkisar antara 7juta-13 juta butir dengan diameter sekitar 1 mm (Matsui, 1982). Telur akan menetas dalam waktu 4-5 hari. Setelah memijah induk sidat biasanya akan mati.

Benih sidat yang baru menetas berbentuk lebar seperti daun yang dinamakan leptocephalus yang memiliki pola migrasi vertikal, yaitu cenderung naik ke permukaan pada malam hari dan siang hari turun ke perairan yang lebih dalam. Selanjutnya benih akan berkembang dalam beberapa tahapan menjadi agak silindris dengan warna agak buram yang dikenal dengan nama glass eel. Pada tahap glass eel biasanya sudah mulai terdapat pigmentasi pada bagian ekor dan kepala bagian atas (Tesch, 1977). Umur glass eel yang tertangkap di muara sungai diperkirakan antara 118-262 hari dengan umur rata-rata 182,8 hari (Setiawan dalam Rovara, 2007). Panjang tubuh glass eel antara 5 – 6 cm dengan berat sekitar 0,2 gram.

TINGKAH LAKU IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Ikan sidat termasuk dalam genus Anguilla, famili Anguillidae, seluruhnya berjumlah 19 spesies Di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) dikenal ada tujuh spesies ikan sidat yaitu :Anguilla celebensis danAnguilla borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguilla interioris dan Anguilla obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguillabicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (Samudra Pasifik), Anguilla bicolor pasifica yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguilla marmoratamerupakan jenis yang memiliki sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis.

Ikan sidat termasuk dalam kategori ikan katadromus, ikan sidat dewasaakan melakukan migrasi kelaut untuk melakukan pemijahan, sedangkan anakan ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar hingga mencapai dewasa.

Wilayah penyebarannya meliputi perairan Indo-Pasifik, Atlantik dan Hindia. Ikan sidat merupakan ikan nokturnal, sehingga keberadaannya lebih mudah ditemukan pada malam hari, terutama pada bulan gelap. Ikan sidat betina lebih menyukai perairan esturia, danau dan sungai-sungai besar yang produktif, sedangkan ikan sidat jantan menghuni perairan berarus deras dengan produktifitas perairan yang lebih rendah.  Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produktifitas suatu perairan dapatmempengaruhi  distribusi jenis kelamin dan rasio kelamin ikan sidat. Perubahan produktifitas juga sering dihubungkan dengan perubahan pertumbuhan dan fekunditas pada ikan sidat jantan tumbuh tidk lebih dari 44 cm dan matang gonad setelah berumur 3-10 tahun.

Apabila sudah datang masa untuk mengadakan ruaya, ikan sidat yang hidup dalam perairan tertutup akan keluar mencari sungai yang menuju ke laut. Selama perjalanan sampai ke tempat pemijahan, ikan sidat tidak makan dan mengalami perubahan akibat perjalanan tersebut. Perubahan tersebut diantaranya adalah tubuhnya menjadi kurus, matanya membesar sampai empat kali lipat, hidungnya semakin lancip dan warna tubuhnya berubah menjadi warna silver. Ikan sidat mampu mencapai jarak perjalanan ruaya hingga 4000 mil. Toleransi kedalaman untuk pemijahannya yaitu pada kedalaman 400 meter, dengan suhu 16° – 17° C.

Di Indonesia ikan sidat diindikasikan berpijah di Selatan Pulau Jawa, hal ini didasarkan  terdapatya larva ikan tersebut di pantai Selatan Pulau jawa. Seperti Pelabuahan Ratu dan Cilacap. Sidat (Anguilla sp.) tergolong gonokhoris yang tidak berdiferensiasi, yaitu kondisi seksual berganda yang keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi intersex yang spontan.

Stadia perkembangan ikan sidat baik tropik maupun subtropik (temperate) umumnya sama, yaitu stadia leptochephalus, stadia metamorphosis, stadia glass eel atau elver, yellow eel dan silver eel (sidat dewasa atau matang gonad). Setelah tumbuh dan berkembang di perairan tawar, sidat dewasa (yellow eel) akan berubah menjadi silver eel (sidat matang gonad), dan selanjutnya akan bermigrasi ke laut untuk berpijah.  Lokasi pemijahan sidat tropis diduga berada di perairan Samudra Indonesia, tepatnya di perairan barat pulau Sumatera  Juvenil ikan sidat hidup selama beberapa tahun di sungai-sungai dan danau untuk melengkapi siklus reproduksinya. Selama melakukan ruaya pemijahan, induk sidat mengalami percepatan pematangan gonad dari tekanan hidrostatik air laut, kematangan gonad maksimal dicapai pada saat induk mencapai daerah pemijahan. 

Proses pemijahan berlangsung pada kedalaman 400 m, induk sidat mati setelah proses pemijahan Waktu berpijah sidat di perairan Samudra Hindia berlangsung sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Mei dan Desember untuk Anguilla bicolor bicolor, Oktober untuk Anguilla marmorata, dan Mei untuk Anguilla nebulosa nebulosa.Di perairan Segara Anakan, Anguillabicolor dapat ditemukan pada bulan September dan Oktober, dengan kelimpahan tertinggi pada bulan September.

Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan. Makanan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah telur ikan hiu, dengan makanan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepali.

Kedatangan juvenil sidat di estuaria dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, terutama salinitas, debit air sungai, air tawar dan suhu.  Sidat yang sedang beruaya anadromous menunjukkan prilaku hyperaktif yang tinggi, sehingga bersifat reotropis (ruaya melawan arus). Sidat juga bersifat haphobi (menghindari massa air bersalinitas tinggi) sehingga memungkinkan ruaya melawan arus ke arah datangnya air tawar.

Aktivitas sidat akan meningkat pada malam hari, sehingga jumlah sidat yang tertangkap pada malam hari lebih banyak daripada yang tertangkap pada siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa sidat cenderung memilih habitat yang memiliki salinitas rendah. Salinitas merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap kelimpahan.  Kelimpahan sidat yang paling tinggi terjadi pada saat bulan gelap.

Ikan sidat mampu beradaptasi pada kisaran suhu 12◦C-31◦C, sidat mengalami peurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12◦C. Salinitas yang bisa ditoleransi berkisar 0-35 ppm.  Sidat mempunyai kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu bernapas melalui kulit diseluruh tubuhnya.

Salinitas secara tidak langsung berpengaruh terhadap gas-gas terlarut dan daya racun amoniak. Semakin tinggi salinitas maka kapasitas maksimum oksigen semakin kecil. ikan sidat mempunyai kemampuan bernafas melalui kulit sekitar 60% dan 40% melalui insang. Apabila konsentrasi oksigen menurun hingga 1,0 – 2,0 ppm maka ikan sidat akan sering muncul di permukaan air. Oksigen minimal yang dibutuhkan oleh ikan sidat sekitar 3,0 ppm, bila kurang dari itu dan suhu antara 20ºC – 23ºC akan mengurangi nafsu makan sehingga laju pertumbuhan akan menurun. (Sumber : Makalah ikan sidat, Andri Irawan ; unsoed, 2008)

MANFAAT IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
○ Meningkatkan daya ingat. ( Memiliki omega 3 yang sangat tinggi ).
○ Sebagai antioksidan dan meningkatkan imunitas tubuh.
○ Dapat menurunkan kandungan lemak jahat dalam darah.
○Mendorong terbentuknya lemak pospat dan perkembangan otak besar.
○ Memperbaiki sirkulasi kapiler.
○ Mengobati pembuluh darah otak, rabun jauh/dekat, glaucoma dan penyakit mata kering

Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan salah satu ikan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sidat memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan energi ikan sidat mencapai 270 kkal/100 g, Kandungan vitamin A sidat mencapai 4700 IU/100 g tujuh kali lipat lebih banyak dari telur ayam, 45 kali lipat dari susu sapi. Vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi dan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sidat memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram atau tenggiri 409 mg/100 gram (Baedah 2010). Menurut Deelder (1984)

PERAN IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR) DI PERAIRAN
Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan. Makanan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah telur ikan hiu, dengan makanan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepalus. Berikut ini adalah bentuk sidat (Anguilla bicolor) dari fase leptocephalus sampai pada fase glass eel dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini (Aoyama 2009). Ikan sidat berfungsi sebagai penyeimbang di ekosistem tempat tinggalnya.

PENULIS
Yenni Nur Hidayati
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
http://hargaikansidat.blogspot.co.id/2014/01/manfaat-sidat-bagi-kesehatan_18.html diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 13.20
http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/view/1949diakses pada tanggal 19 desember 2015 pada pukul 12.50
http://media.unpad.ac.id/thesis/230110/2009/230110090129_2_4801.pdf
http://media.unpad.ac.id/thesis/230110/2009/230110090129_2_4801.pdf diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 12.30
http://www.wasiwa.com/2015/03/makalah-morfologi-dan-anatomi-ikan.html  diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 12.35
https://mazara30.wordpress.com/2012/06/03/160/ diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 13.15
https://plus.google.com/102058044058293447150/posts/21fDPYgMYky diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 15.00
https://scholar.google.co.id/scholar?q=fisiologi+ikan+sidat+(anguilla+spp)&hl=en&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ahUKEwjAlO_j2J7KAhWBC44KHZj3DxsQgQMIGDAA diakses pada tanggal 19 desember 2015 pada pukul 12.55

Ikan Koki Atau Ikan Mas Koki (Carrassius Auratus); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan mas koki mempunyai sirip punggung (dorsal) memanjang kemudian bagian belakangnya berjari tulang keras. Sementara itu, sirip ketiga dan keempatnya bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari tulang keras dan bergerigi dan seluruh bagian siripnya berbentuk rumbai-rumbai atau panjang. Garis rusuk atau gurat sisi (linnea lateralis) pada ikan mas koki tergolong lengkap, berada dipertengahan tubuh dengan posisi melentang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Iskandar, 2004).

KLASIFIKASI IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
Kelas : Osteichthyes
SubKelas : Teleostei
Ordo : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius auratu

MORFOLOGI IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
Mas Koki memiliki tubuh gendut pendek, punggung agak bongkok, sirip yang lengkap seperti sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan sirip ekor. Bentuk badan mas Koki biasanya pendek dan gempal yang menjadi salah satu ciri khas tersendiri. Dibawah ini adalah ciri-ciri calon induk mas Koki yang siap dijadikan induk:

1. Umur calon induk minimal 8 bulan, tetapi yang lebih baik berumur 1 tahun.
2. Sehat dan tidak mengalami stress.
3. Tubuhnya tidak ada luka.
4. Tidak sedang terserang penyakit atau parasit.
5. Tubuhnya normal dan tidak cacat.

Menurut Iskandar (2004), ikan mas koki memiliki bentuk tubuh yang unik dan sisik yang sangat menarik. Tubuh memanjang dan pipih tegak (compressed) dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil) adalah ciri dari bentuk ikan mas koki. Sedangkan bagian ujung mulut memiliki dua pasang sungut dan di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan yang tersusun dari tiga baris. Gigi geraham secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas koki ditutupi oleh sisik yang berukuran relatif kecil. Menurut Lingga dan Susanto dalam Chui et al. (2009)

CIRI-CIRI IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
a. Bentuk tubuh yang pendek dan bulat
b. Mata melebar dan besar
c. Sisi tubuhnya terdapat gurat sisi
d. Memiliki banyak sirip, yaitu sirip dada, sirip perut, sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor
e. Di bagian hidung terdapat tunas pembau
f. Mempunyai lembaran insang yang berfungsi sebagai alat pernapasan
g. Telinga tidak tampak dari luar
h. Kelopak mata kecil serta tidak bisa membuka dan menutup
i. Sisik berderet rapi, mengklap dan menutup seluruh tubuh

HABITAT IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
Habitat pada ikan mas koki ini adalah air yang tergenang, aliran airnya lambat, dangkal , bersih dan biasanya berada didaerah sungai atau danau. Mas Koki dapat bertahan hidup pada air ber pH 6-7 dengan suhu 27-300 C, kandungan oksigen terlarut ≥ 5 ppm.

Di daerah yang mempunyai 4 musim, ikan mas koki melakukan aktivitasnya pada musim semi yaitu, ketika suhu lingkungan mencapai 12-20 derajat C, ikan mas koki mampu memijah sepanjang tahun. Sedangkan air yang digunakan sebagai media hidup mas koki harus memiliki perbandingan gas karbon dioksida (CO2) dan gas oksigen (O2) yang seimbang. Apabila kadar CO2 yang lebih tinggi maka akan mangakibatkan kematian. Ikan mas koki senang hidup di air yang jernih dan bersih dan juga dapat hidup di air keruh atau jenis-jenis air lainnya asal kadar  oksigennya terjamin. Perkembangbiakan ikan mas koki ini cukup baik di lakukan di daerah tropis. Akan tetapi apabila dipelihara dalam akuarium harus ada perlakuan khusus utuk penambahan oksigen. Faktor ini dikarenakan volume akuarium yang kecil sehingga oksigen mudah habis (Fajrin, 2011).

FISIOLOGI IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
Jenis ikan mas koki yang saya amati adalah Oranda Goldfish yaitu jenis ikan mas koki yang memiliki tudung seperti raspberry dikepalanya. Ikan mas koki ini berasal dari Cina dan Jepang. Jenis ikan mas koki ini tidak mudah stress karena memiliki jambul dikepalanya yang berfungsi untuk melindungi kepala ikan dari benturan. Ikan ini sangat rakus terhadap makanan

REPRODUKSI IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
Selain populer, ikan mas koki mudah untuk dibudidayakan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dengan lahan yang sempit dan siklus reproduksinya yang singkat dengan harga jual yang cukup tinggi kita dapat membudidayakan ikan mas koki. Karena keindahan warnanya, gerak-gerik, serta bentuk tubuhnya yang unik ikan mas koki sangat digemari oleh masyarakat. Dan juga dengan harga yang relatif terjangkau, ikan mas koki memiliki pasaran dan tingkat konsumen yang baik dan stabil. Komoditas air tawar ini banyak diminati oleh konsumen ikan hias untuk dipelihara di dalam akuarium, serta ikan ini memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan jenis ikan hias air tawar lainya (Nizar, 2013).

TINGKAH LAKU IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS)
Tingkah laku ini secara membedakan antara mas koki jantan dan betina adalah pada jantan sirip dada kasar seperti garam dan bila dilihat dari atas tubuhnya lebih kecil dan bila ditekan pada perutnya akan keluar cairan putih kental dan pada saat ingin kawin muncul titik-titik putih pada kedua tutup insang dan kedua sirip depannya, Sedangkan pada betina sirip dada halus dan bila dilihat dari atas tubuhnya agak gendut dan bila ditekan pada perutnya akan keluar cairan putih yang bening, pada betina ini tidak muncul titik-titik putih dan anus lebih menonjol. Pada mas koki jantan apabila kawin dia lebih agresif mengejar dan menghimpit betinanya. Apabila ikan mas koki ini lapar maka dia akan berenang diatas dan pergerakannya tidak cepat. Pemberian pakan pada ikan koki ini sehari 2X pagi jam 10.00 dan sore hari jam 15.00. Karena frekuensi ini di anggap ideal karena koki adalah jenis ikan yang mencari makan pada siang hari dan pada jam-jam tersebut kandungan oksigen di air sedang tinggi sehingga memacu nafsu makan koki.

Krustasea, serangga, dan berbagai jenis tumbuhan air adalah sumber makanan alami ikan mas koki di alam liar. Ikan mas koki ini mempunyai peran sebagai pemangsa oportunistik yang makan terus menerus tanpa ada kesadaran untuk berhenti makan seperti halnya ikan lain. Kelebihan dalam pemberian pakan pada ikan mas koki dapat membahayakan kesehatan ikan mas koki, seperti menyumbat ususnya. Hal ini biasanya terjadi pada ikan mas hias hasil pembiakan yang yang memiliki saluran pencernaan yang berbelit-belit. Jika makanan tersedia sangat banyak, mereka akan memakan semuanya dan menghasilkan kotoran yang cukup banyak. Hal ini umumnya karena ketidaksempurnaan ikan mas koki dalam mencerna protein. Pemberian makan berlebihan dapat buktikan melalui meneliti panjangnya kotoran yang keluar dari kloaka ikan (Chui et al, 2009).

PERAN IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS) DI PERAIRAN
1. Untuk tingkat metabolisme yang bergantungan pada suhu air.
2. Hidup pada iklim subtropics
3. Tergantung pada suhu perairan
4. Ikan termasuk omnivore
5. Sangat edial juga dipelihara didalam aquarium

MANFAAT IKAN KOKI ATAU IKAN MAS KOKI (CARRASSIUS AURATUS) DI PERAIRAN
Ikan Koki juga populer dengan sebutan nama goldfish memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa yaitu dari bentuk strain unik yang berbeda dengan ikan mas lainnya sehingga menjadi bulan – bulanan para hobis aquarium. Ikan Mas Koki memiliki kisaran harga yang cukup ekonomis dan menarik kalau kita jadikan peluang bisnis, harga bibit ikan mas koki di pasaran Rp.1.000-50.000’an tergantung keunikan strain yang di milikinya. Kisaran harga Koki untuk kontes Rp. 200.000-500.000’an lumayan mahal khan…? Tapi lumayan kualitasnya di jamin memuaskan

PENULIS
Yenni Nur Hidayati
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012

DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.umm.ac.id/45405/3/jiptummpp-gdl-ianpradipt-45835-3-babii.pdf
http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/view/1949 diakses pada tanggal 19 desember 2015 pada pukul 12.50
http://media.unpad.ac.id/thesis/230110/2009/230110090129_2_4801.pdf diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 12.30
http://www.ikanhias-yuli.org/2014/03/ikan-koki.html diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 15.25
http://www.wasiwa.com/2015/03/makalah-morfologi-dan-anatomi-ikan.html  diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 12.35
http://www.wedaran.com/19393/fakta-tentang-ikan-mas-koki/  diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 16.00
https://fishesofaustralia.net.au/home/species/1855
https://mazara30.wordpress.com/2012/06/03/160/ diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 13.15
https://plus.google.com/102058044058293447150/posts/21fDPYgMYky diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 15.00

Saturday, May 30, 2020

Ikan Hampala; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Hampala adalah salah satu genus dari famili Cyprinidae. Weber and Beaufort (1916), membagi genus Hampala menjadi tiga jenis berdasarkan pola bercak hitam di tubuhnya yaitu, Hampala ampalong mempunyai dua bercak hitam besar sepanjang gurat sisi, satu dibawah sirip punggung dan satu terletak di ujung sirip dubur. Hampala bimaculata mempunyai dua bercak hitam melintang sisi badan, satu dibawah sirip punggung dan satu di depan batang ekor. Hampala macrolepidota pada ikan yang berukuran besar memiliki bercak hitam antara sirip punggung dengan sirip perut yang kemudian menjadi samar-samar pada ikan yang sangat besar.

Salsabila (1987), melaporkan di Danau Singkarak ada dua jenis genus Hampala yaitu yang memiliki bercak hitam H. macrolepidota (nama daerah: Barau) dan yang lainnya tidak memiliki bercak hitam Hampala sp. (nama daerah: Sasau). Roesma (2013), juga melaporkan bahwa di Danau Maninjau juga ditemukan ikan H. macrolepidota dan Hampala sp.

KLASIFIKASI IKAN HAMPALA
Menurut Fishbase (2015),klasifikasi dari ikan barau yaitu :
Ordo : Cypriniformes,
Famili : Cyprinidae,
Genus  : Hampala
Spesies : Hampala macrolepidota

CIRI-CIRI IKAN HAMPALA
Memiliki mulut yang lebar, ikan hampala yang besar memiliki warna bagaikan intan uang hitam yang mengkilat-kilat yang menyambung dari ekor ke atas bagian tubuh tubuh perut bawah. Namun warna seperti intan yang mengkilat-kilat tidak ditemukan pada hampala kecil dibawah 1kg (Wisaksono,2011).

MORFOLOGI IKAN HAMPALA
Memiliki ciri-ciri bibir atas terpisah dari moncong oleh suatu lekukan yang jelas, pangkal bibir atas terpisah oleh lapisan kulit moncong, mulut terminal atau subterminal, gurat sisi mempunyai 25-30 sisik, sirip perut depan datar atau membulat, sirip anal memiliki 5 jari-jari bercabang tidak memiliki duri pada sirip punggung, hidup di perairan air tawar yaitu di danau dan sungai dan tersebar luas di perairan Indo-Australia (Sumatra, Jawa, Borneo), Malaka, Siam, Indo-China. (Weber and Beaufort, 1916 ; Kottelat et al. 1993 ; Sulaiman & Mayden, 2012).

Ciri-ciri ikan hampala yaitu bentuk tubuh bilateral simetris, mempunyai satu pasang sungut. Warna tubuh keperak-perakan, punggungnya berwarna gelap, mempunyai bercak hitam diantara sirip punggung. Ukuran tubuhnya : TL 180mm, SL 140mm, Bdh 50mm dan Hdl 45mm. Ikan hampala mempunyai D I. 8, P 19 horizontal, V 8, A 7 dan C `16 (Kottelat et al,1993).

TINGKAH LAKU IKAN HAMPALA
Ikan hampala yang kecil akan berenang di permukaan air sungai atau waduk secara bergerombol. Ikan-ikan kecil ini akan berenang dari sungai ke hulu, danau atau waduk (Wisaksono,2011).

HABITAT IKAN HAMPALA
Ikan hampala ini hampir bisa ditemukan di Jawa, Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Malaysia, Thailand, Vietnam hingga China. Di Sumatra bisa di Sungai Asahan dan anak sungai di Danau Toba serta anak sungainya, sungai Musi dan Danau Singkarak dan anak sungainya serta sungai besar lain di Sumatra. Di Kalimantan bisa ditemukan semua sungai disana seperti Kapuas,Barito dan Mahakam. Hampala paling menyukai lokasi di lubuk sungai, waduk atau danau yang beraliran deras dan dangkal. Biasanya lokasi demikian banyak dihuni oleh ikan-ikan kecil yang siap disantap olehnya. Jika dalam waduk ikan ini lebih memilih dekat di daerah yang berpasir, bebatuan sebagai bendungan dan kerikil hal ini berkaitan juga karakter ikan dalam mencari makan (Wisaksono,2011).

PERAN IKAN HAMPALA DI PERAIRAN
Ikan hampala merupakan predator air tawar yang menyukai makanan ikan, udang, serangga dan larva serangga,suka tinggal di perairan lambat mengalir.Menjadi yang makan ikan setelah mencapai 20 cm (Fishbase, 2015)

FISIOLOGI IKAN HAMPALA
Menurut Alim (2013),sistem sirkulasi bertanggung jawab untuk mengangkut darah dan nutrisi ke seluruh tubuh. Pada ikan dengan darah yang kekurangan oksigen. Darah dibawa oleh vena ke sinus venosus. Sinus venosus adalah konstituen penting dari sistem sirkulasi vertebrata rendah. Darah yang terdeoksigenasi dikumpulkan oleh pembuluh darah kemduian terakumulasi dalam sinus venosus, sebelum memasuki jantung. Darah pertama memasuki atrium jantung, yang merupakan ruang besar. Kemudian memasuki ventrikel, dari mana ia dipompa ke dalam tabung bulbus arteriosus. Melalui bulbus arteriosus, darah menuju aorta kemudian mencapai insang. Insang adalah organ pernapasan pada ikan dan mereka melaksanakan kegiatan yang dilakukan oleh paru-paru manusia. Mereka memfasilitasi pertukaran gas, yaitu penyerapan oksigen dari air dan eliminasi karbon dioksida. Kemudian darah yang mengandung banyak oksigen diangkut seluruh tubuh dengan bantuan pembuluh darah. Darah memfasilitasi transportasi oksigen dan nutrisi. Darah juga mengandung karbon dioksida yang diangkut ke jantung dan kemudian ke insang, setelah itu dikeluarkan dari tubuh.

REPRODUKSI IKAN HAMPALA
Menurut Effendie (1978) pada proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad. Gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan semakin bertambahnya ukuran ikan.Secara garis besar, perkembangan gonad ikan dibagi atas dua tahap perkembangan utama, yaitu tahap pertumbuhan gonad hingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahappematangan produk seksual (gamet). Tahap pertumbuhan berlangsung sejak ikan menetas atau lahir hingga mencapai dewasa kelamin, dan tahap pematangan berlangsung setelah ikan dewasa. Proses pematangan akan terus berlangsung dan akan berkesenambungan selama fungsi reproduksi ikan berjalan normal. Selama proses perkembangan gonad baik pada tahap pertumbuhan maupun tahap pematangan, gonad ikan akan mengalami serangkaian perubahan secara sitologik, histologik dan morfologik, sejalan dengan ini gonad juga akan mengalami perubahan berat, volume dan morfologi.Biasanya indikator dalam menentukan sampai sejauh mana perkembangan yang telah dialami oleh gonad dalam proses oogenesis pada ikan betina atau spermatogenesis pada ikan jantan seialu menggunakan perubahan berat, volume dan morfologi gonad yang terjadi. Tingkat kematangan gonad tertinggi terjadi pada saat ikan akan melakukan pemijahan, pada saat tersebut telur di dalam ovarium atau  spermatozoa dalam testis juga akan mencapai ukuran yang maksimum.

MANFAAT IKAN HAMPALA
Aktivitas penangkapan ikan di Danau Ranau cenderung meningkat termasuk penangkapan ikan hampal, ikan hampal yang bernilai ekonomis menjadi tangkapan utama saat ini selain ikan mujaer. Harganya yang cukup mahal menyebabkan ikan hampal banyak dicari sebagai ikan konsumsi. Ikan hampal juga merupakan ikan predator utama di perairan Danau Ranau terutama ikan dengan ukuran besar (>30 cm) yang disebut oleh masyarakat setempat ikan sebarau. Untuk mempertahankan produksi ikan tersebut selain melakukan konservasi dan pengaturan penangkapan dapat dilakukan dengan penebaran kembali ikan hampal di Danau Ranau. Dukungan Balai Benih Ikan (BBI) milik Dinas Perikanan Kabupaten OKU Selatan di Kota Batu Kecamatan Warkuk dapat dimanfaatkan untuk melakukan penebaran kembali tersebut (Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia).

PENULIS
Wiji Dina Anggraini
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alim,Tanri. 2013. Sistem peredaran darah pada ikan. http://www.biologi-sel.com/2013/05/sistem-peredaran-darah-pada-ikan.html. Diakses Pada 11 Desember 2015 Pukul 12.00 WIB.
Effendie, M.I. 1978. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama,Yokyakarta.
Fishbase,2015. Hampala macrolepidota. http://fishbase.org. Diakses 15 Desember 2015 Pukul 19.15 WIB.
http://scholar.unand.ac.id/19735/10/BAB%20I.pdf
https://www.sea-ex.com/thailand/angling/hampala-barb.htm
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia. Volume 9 Nomor 2 November 2017
Kottelat, M, AJ Whitten, SN Kartikasari, S Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi: Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Jakarta: Periplus Editions (HK) Ltd.   
Wisaksono. 2011. Ikan Hampala Liar dan Bertenaga. http://sonimancing.blogspot.co.id/2011/12/ikan-hampala-liar-dan-bertenaga.html . Diakses pada 15 Desember pukul 18.45 WIB

Friday, May 29, 2020

Ikan Wader Cakul; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


 
Gambar Ikan Wader Cakul (Mayang, 2014)

Ikan Wader Cakul (Puntius binotatus) merupakan salah satu spesies Wader yang dibeberapa daerah di Indonesia biasa disebut sebagai Beunteur (Sunda), Wader Bintik atau Wader Cakul (Jawa), Puyan (Banjar), Tanah atau Sepadak (Bengkulu). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai spotted barb atau common barb. Sedang dalam bahasa Malaysia disebut Bunter, Putih, Tebal Sisek. Dalam bahasa ilmiah (latin) dinamakan Puntius binotatus. Spesies Wader Cakul (Puntius binotatus). Ikan Wader Cakul biasa ditemukan bersama spesies wader lainnya daerah tropis mulai dari pantai hingga daerah berketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut dengan kisaran pH 6 – 6.5 dan suhu perairan 24◦ - 26◦ C. Wader Cakul menyukai air selokan dangkal, sungai bahkan danau yang berair jernih (Nelson, 2006).

KLASIFIKASI IKAN WADER CAKUL
Menurut Rahmawati (2006), klasifikasi ikan wader cakul (Puntius binotatus) adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Cypriniformes
Suborodo : Cyprinodea
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius binotatus

MORFOLOGI IKAN WADER CAKUL
Menurut Kottelat, et al. (1993), sirip punggung ikan wader cakul  (Puntius binotatus) memiliki 7-10 jari-jari bercabang dan sirip duburnya memiliki 5-6 jari-jari bercabang. Jari-jari terakhir sirip dubur tidak mengeras.jari-jari sirip punggung ada yang bergerigi, dan ada yang tidak bergerigipada bagian belakangnya. Mulutnya kecil, bibir halus dan tidak ada tonjolan di ujung rahang bawah.

Menurut Saanin (1984), ikan wader cakul (Puntius binotatus) perutnya membundar, memiliki 2 pasang sungut, mulutnya dapat disembulkan, rahang tidak bergerigi. Memiliki beberapa bercak hitam dan seluruh tubuhnya bersisik. Ikan wader cakul (Puntius binotatus) memiliki gurat sisi yang lengkap. Memiliki kurang dari 40 sisik sepanjang gurat sisik, diantara gurat sisi dengan gurat sisi punggung terdapat maksimal 7 sisik. Sekeliling batang ekor 12 sisik.

Morfologi ikan Wader Cakul tubuhnya berwarna abu-abu kehijauan atau keperakan. Memiliki dua buah tanda lingkaran kecil yang terdapat di pangkal sirip belakang dan di tengah batang ekor. Ukuran ikan ini kecil sampai sedang, yang sebagian besar didapat dengan panjang total 10 cm, namun beberapa ikan ini mampu mencapai panjang 17 cm. Perutnya membundar, memiliki 2 pasang sungut, mulutnya dapat disembulkan, permulaan sirip punggung di depan permulaan sirip perut dan sirip perut jauh ke belakang, di muka dubur, rahang tidak bergigi. Sirip punggung ikan wader memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dengan bagian belakangnya bergerigi dan 7-9 jari-jari lemah, sirip duburnya memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dan 5 jari-jari lemah bercabang, jari-jari lemah mengeras paling belakang tidak bergerigi. Ikan ini memiliki ukuran kepala 3,3 - 4,5 kali lebar mata, dan tinggi batang ekornya sama dengan panjangnya dan 1/3 - 1/2 kepala. Ikan ini memiliki beberapa bercak hitam dan seluruh tubuhnya bersisik (Nelson, 2006).

Saanin (1984) dalam Rahmawati (2006), menguraikan bahwa ikan ini perutnya membundar, memiliki 2 pasang sungut, mulutnya dapat disembulkan, permulaan sirip punggung berada di depan permulaan sirip perut dan sirip anus jauh ke belakang di muka dubur, rahang tidak bergerigi. Sirip punggung ikan wader memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dengan bagian belakangnya bergerigi dan 7-9 jari-jari lemah; sirip duburnya memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dan 5 jari-jari lemah bercabang; jari-jari lemah mengeras paling belakang tidak bergerigi. Ukuran kepala 3,3 – 4,5 kali dari lebar mata, tinggi batang ekor sama dengan Panjang ejor dan 0,3 – 0,5 kepala. Ikan memiliki beberapa bercak hitam dan seluruh tubuhnya bersisik. Puntius binotatus memiliki karakter berupa tubuh yang licin, mempunyai empat sungut, gurat sisi sempurna, jari-jari terakhir sirip dorsal mengeras dan bergerigi, 4 ½ sisik antara gurat sisi dan awal sirip dorsal, bintik hitam pada bagian depan sirip dorsal dan bagian tengah batang ekor, ikan muda dan dewasa memiliki 2 hingga 4 titik atau lonjong di tengah badan. (Kottelat et al., 1993 dalam Dwinda dkk., 2012).

CIRI-CIRI IKAN WADER CAKUL
Ikan wader cakul (Puntius binotatus) mempunyai variasi pola warna khusus berdasarkan  ukuran atau umur, yaitu ikan muda terdapat bintik-bintik bulat yang memanjang di pertengahan tubuh, makin dewasa berubah menjadi garis hitam, selai  itu terdapat bintik bulat berwana hitam pada pangkal sirip punggung dan pangkal ekor yang umum dijumpai pada  ikan muda maupun dewasa (Haryono,2006)

HABITAT IKAN WADER CAKUL
Menurut Hashim et al.,(2012) dalam Mujtahidah (2013),penyebaran ikan wader cakul meliputi sungai-sungai yang terdapat di Malaysia dengan 4 spesies lainnya yang tergolong family Cyprinidae .        
         
Ikan ini berasal dari Asia dan penyebaran terluas berada di wilayah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam, tetapi juga diperkenalkan di Singapura dan Palau. Ikan ini di habitat aslinya dapat ditemukan di daerah pegunungan, sungai, dan danau (Lim et al., 2013) .

REPRODUKSI IKAN WADER CAKUL
Menurut Effendie  (2002), sifat seksual primier ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung yang berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium beserta pembuluhnya pada ikan betina dan testis pada pembuluhnya pada ikan jantan.

Menurut Iswahyudi (2013) dalam Mujtahidah (2013), proses pemijahan ikan wader cakul berlangsung pada malam hari, induk ikan jantan dan ikan betina saling berkejaran dan berdampingan kemudian mengeluarkan terlurnya secara bertahap yakni 4-5 kali. Ciri-ciri telur ikan wader cakul bersifat adhesive (menempel pada substrat) dan berwarna bening. Frkunditasnya bekisar antara 3.586-7.814 butir. Perkembangan telur ikan wader cakul mengalami beberapa tahapan atau fase, yaitu: stadium cleavage, stadium morula ,staaium blastula, stadium gastrula, organogenesis dan menetas. Stadium cleavage,terjadi satu jam setelah pembuahan. Stadium morula, terjadi dua jam dua puluh tiga menit setelah pembelahan. Stadium blastula terbentuk setelah stadium morula, terjadi enam jam setelah pembelahan. Stadium gatrula, terjadi tujuh jam setelah pembuahan. Organogenesis, terjadi sembilan jam setelah pembuahan dan menetas pada dua puluh empat jam setelah pembuahan.

PERAN IKAN WADER CAKUL DI PERAIRAN
Terjadi dari permukaan laut untuk setidaknya 2.000 m di atas permukaan laut dan umumnya ditemukan di bawah air terjun di sungai gunung terpencil dan pulau-pulau kecil yang dihuni oleh beberapa ikan air tawar lainnya (Mendiami menengah ke sungai besar, badan air tergenang termasuk kanal mengalir lamban dan brooks Mekong tengah (Ditemukan di tengah untuk kedalaman bawah di perairan cukup dangkal di mana ia makan pada zooplankton, larva serangga dan beberapa tanaman vaskular (Fishbase,2015)

FISIOLOGI IKAN WADER CAKUL
Pada umumnya ikan juga memiliki sistem pencernaan layaknya manusia, adapun saluran atau sistem pencernaan pada ikan adalah Mulut, Esophagus, Lambung, Usus dan Anus (Sinjai, 2013). Menurut Sambas (2010) dalam Mujtahidah (2013), pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif. Pada ikan, pencernaan secara kimiawi dimulai dibagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses pencernaan di segmen usus berasal dari hati,pankreas dan dinding usus itu sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi inilah yang menyebabkan perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek menjadi senyawa sederhana atau yang asalnya berpartikel makro mrnjadi partikel mikro. Brntuk partikel mikro inilah makanan menjadi zat terlarut yang memungkinkan dapat diserap oleh dinding usus yang selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh.

TINGKAH LAKU IKAN WADER CAKUL
Menurut Sitanggang dan Sarwono (2002),Wader cakul memijah di perairan terbuka pada saat menjelang gelap. Setiap kali bertelur, ikan ini menyebarkan antara 200 - 500 butir telur di antara tumbuh-tumbuhan air. Telur-telur ini akan menetas sekitar 48 jam kemudian, dan selama beberapa hari berikutnya burayak (anak ikan) akan berlindung di sela-sela daun tanaman air. Ikan wader dewasa tidak akan segan-segan untuk memangsa telur ataupun burayak dari jenisnya sendiri ( kanibal ).

MANFAAT IKAN WADER CAKUL
Ikan Wader Cakul (Puntius Binotatus) merupakan salah satu jenis ikan di perairan tawar indonesia yang bernilai ekonomis tinggi, banyak ditemukan di danau, kolam, waduk, sungai maupun selokan tang airnya jernih. Hasil dari pemanfaatan ikan ini, sampai saat ini masih diperoleh dari kegiatan penangkapan yakni mengandalkan pasokan dari alam dan belum ada upaya untuk membudidayakan (WPI, 2010) Dalam (Mayang, 2014).

PENULIS
Wiji Dina Anggraini
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Effendi,I.2002. Probiotics of Marine Organisme Disease Protection. Pekanbaru: FPIK. Universitas Riau. 72 hlm.
Fishbase,2015. Puntius binotatus. http://fishbase.org. Diakses 15 Desember 2015 Pukul 19.00 WIB.
Haryono.2006. Studi Morfometrik Ikan Wader Goa (Puntius microps Gunther,1868) Yang Unik Dan Dilindungi Undang-Undang Pusat Penelitian Biologi-Lipi Gd. 34 hlm.
http://eprints.umm.ac.id/56911/4/BAB%20II.pdf
http://eprints.umm.ac.id/57291/43/BAB%20II.pdf
Kottelat, M, AJ Whitten, SN Kartikasari, S Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi: Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Jakarta: Periplus Editions (HK) Ltd. 
Lim,L.S.W.K.Chor,A.D.Tuzan,L.Malltam,R. Gondlpon and J. Ransangan. 2013. Length-Weight Relationships Of The Pond-Cultured Spotted Barb. International Research Journal Of Biological Sciences. 2(7): 61-63.
Mayang, C. D. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik dengan Dosis yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan dan Laju Pertumbuhan Ikan Wader Cakul (Puntius Binotatus). SKRIPSI. Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Brawijaya Malang. 87 Halaman.
Mujtahidah,Tholibah. 2913. Siklus Reproduksi Ikan Wader Cakul (Puntius binotatus) Pada Pertengahan Musim Penghujan Tahun 2013/2014[Skripsi]. Malang: FPIK, Universitas Brawijaya.
Rahmawati,I. 2006. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Beunteur C.V. 1882, Famili Cypronidae Di bagian Hulu Daerah Aliram Sungai (DAS) Ciliwing, Jawa Barat. IPB. 60 hlm.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. jIlid 1. Bina Cipta. Bandung. 256 hlm.
Sinjai,R.2013. Anatomi atau Sistem Pencernaan Pada Ikan. Kanisius.Yogyakarta.63 hlm.
Sitanggang,M dan Sarwono. 2002. Budidaya Wader Cakul. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Depok. 72 hlm.