Friday, May 29, 2020

Ikan Wader Cakul; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


 
Gambar Ikan Wader Cakul (Mayang, 2014)

Ikan Wader Cakul (Puntius binotatus) merupakan salah satu spesies Wader yang dibeberapa daerah di Indonesia biasa disebut sebagai Beunteur (Sunda), Wader Bintik atau Wader Cakul (Jawa), Puyan (Banjar), Tanah atau Sepadak (Bengkulu). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai spotted barb atau common barb. Sedang dalam bahasa Malaysia disebut Bunter, Putih, Tebal Sisek. Dalam bahasa ilmiah (latin) dinamakan Puntius binotatus. Spesies Wader Cakul (Puntius binotatus). Ikan Wader Cakul biasa ditemukan bersama spesies wader lainnya daerah tropis mulai dari pantai hingga daerah berketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut dengan kisaran pH 6 – 6.5 dan suhu perairan 24◦ - 26◦ C. Wader Cakul menyukai air selokan dangkal, sungai bahkan danau yang berair jernih (Nelson, 2006).

KLASIFIKASI IKAN WADER CAKUL
Menurut Rahmawati (2006), klasifikasi ikan wader cakul (Puntius binotatus) adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Cypriniformes
Suborodo : Cyprinodea
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius binotatus

MORFOLOGI IKAN WADER CAKUL
Menurut Kottelat, et al. (1993), sirip punggung ikan wader cakul  (Puntius binotatus) memiliki 7-10 jari-jari bercabang dan sirip duburnya memiliki 5-6 jari-jari bercabang. Jari-jari terakhir sirip dubur tidak mengeras.jari-jari sirip punggung ada yang bergerigi, dan ada yang tidak bergerigipada bagian belakangnya. Mulutnya kecil, bibir halus dan tidak ada tonjolan di ujung rahang bawah.

Menurut Saanin (1984), ikan wader cakul (Puntius binotatus) perutnya membundar, memiliki 2 pasang sungut, mulutnya dapat disembulkan, rahang tidak bergerigi. Memiliki beberapa bercak hitam dan seluruh tubuhnya bersisik. Ikan wader cakul (Puntius binotatus) memiliki gurat sisi yang lengkap. Memiliki kurang dari 40 sisik sepanjang gurat sisik, diantara gurat sisi dengan gurat sisi punggung terdapat maksimal 7 sisik. Sekeliling batang ekor 12 sisik.

Morfologi ikan Wader Cakul tubuhnya berwarna abu-abu kehijauan atau keperakan. Memiliki dua buah tanda lingkaran kecil yang terdapat di pangkal sirip belakang dan di tengah batang ekor. Ukuran ikan ini kecil sampai sedang, yang sebagian besar didapat dengan panjang total 10 cm, namun beberapa ikan ini mampu mencapai panjang 17 cm. Perutnya membundar, memiliki 2 pasang sungut, mulutnya dapat disembulkan, permulaan sirip punggung di depan permulaan sirip perut dan sirip perut jauh ke belakang, di muka dubur, rahang tidak bergigi. Sirip punggung ikan wader memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dengan bagian belakangnya bergerigi dan 7-9 jari-jari lemah, sirip duburnya memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dan 5 jari-jari lemah bercabang, jari-jari lemah mengeras paling belakang tidak bergerigi. Ikan ini memiliki ukuran kepala 3,3 - 4,5 kali lebar mata, dan tinggi batang ekornya sama dengan panjangnya dan 1/3 - 1/2 kepala. Ikan ini memiliki beberapa bercak hitam dan seluruh tubuhnya bersisik (Nelson, 2006).

Saanin (1984) dalam Rahmawati (2006), menguraikan bahwa ikan ini perutnya membundar, memiliki 2 pasang sungut, mulutnya dapat disembulkan, permulaan sirip punggung berada di depan permulaan sirip perut dan sirip anus jauh ke belakang di muka dubur, rahang tidak bergerigi. Sirip punggung ikan wader memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dengan bagian belakangnya bergerigi dan 7-9 jari-jari lemah; sirip duburnya memiliki beberapa jari-jari lemah mengeras dan 5 jari-jari lemah bercabang; jari-jari lemah mengeras paling belakang tidak bergerigi. Ukuran kepala 3,3 – 4,5 kali dari lebar mata, tinggi batang ekor sama dengan Panjang ejor dan 0,3 – 0,5 kepala. Ikan memiliki beberapa bercak hitam dan seluruh tubuhnya bersisik. Puntius binotatus memiliki karakter berupa tubuh yang licin, mempunyai empat sungut, gurat sisi sempurna, jari-jari terakhir sirip dorsal mengeras dan bergerigi, 4 ½ sisik antara gurat sisi dan awal sirip dorsal, bintik hitam pada bagian depan sirip dorsal dan bagian tengah batang ekor, ikan muda dan dewasa memiliki 2 hingga 4 titik atau lonjong di tengah badan. (Kottelat et al., 1993 dalam Dwinda dkk., 2012).

CIRI-CIRI IKAN WADER CAKUL
Ikan wader cakul (Puntius binotatus) mempunyai variasi pola warna khusus berdasarkan  ukuran atau umur, yaitu ikan muda terdapat bintik-bintik bulat yang memanjang di pertengahan tubuh, makin dewasa berubah menjadi garis hitam, selai  itu terdapat bintik bulat berwana hitam pada pangkal sirip punggung dan pangkal ekor yang umum dijumpai pada  ikan muda maupun dewasa (Haryono,2006)

HABITAT IKAN WADER CAKUL
Menurut Hashim et al.,(2012) dalam Mujtahidah (2013),penyebaran ikan wader cakul meliputi sungai-sungai yang terdapat di Malaysia dengan 4 spesies lainnya yang tergolong family Cyprinidae .        
         
Ikan ini berasal dari Asia dan penyebaran terluas berada di wilayah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam, tetapi juga diperkenalkan di Singapura dan Palau. Ikan ini di habitat aslinya dapat ditemukan di daerah pegunungan, sungai, dan danau (Lim et al., 2013) .

REPRODUKSI IKAN WADER CAKUL
Menurut Effendie  (2002), sifat seksual primier ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung yang berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium beserta pembuluhnya pada ikan betina dan testis pada pembuluhnya pada ikan jantan.

Menurut Iswahyudi (2013) dalam Mujtahidah (2013), proses pemijahan ikan wader cakul berlangsung pada malam hari, induk ikan jantan dan ikan betina saling berkejaran dan berdampingan kemudian mengeluarkan terlurnya secara bertahap yakni 4-5 kali. Ciri-ciri telur ikan wader cakul bersifat adhesive (menempel pada substrat) dan berwarna bening. Frkunditasnya bekisar antara 3.586-7.814 butir. Perkembangan telur ikan wader cakul mengalami beberapa tahapan atau fase, yaitu: stadium cleavage, stadium morula ,staaium blastula, stadium gastrula, organogenesis dan menetas. Stadium cleavage,terjadi satu jam setelah pembuahan. Stadium morula, terjadi dua jam dua puluh tiga menit setelah pembelahan. Stadium blastula terbentuk setelah stadium morula, terjadi enam jam setelah pembelahan. Stadium gatrula, terjadi tujuh jam setelah pembuahan. Organogenesis, terjadi sembilan jam setelah pembuahan dan menetas pada dua puluh empat jam setelah pembuahan.

PERAN IKAN WADER CAKUL DI PERAIRAN
Terjadi dari permukaan laut untuk setidaknya 2.000 m di atas permukaan laut dan umumnya ditemukan di bawah air terjun di sungai gunung terpencil dan pulau-pulau kecil yang dihuni oleh beberapa ikan air tawar lainnya (Mendiami menengah ke sungai besar, badan air tergenang termasuk kanal mengalir lamban dan brooks Mekong tengah (Ditemukan di tengah untuk kedalaman bawah di perairan cukup dangkal di mana ia makan pada zooplankton, larva serangga dan beberapa tanaman vaskular (Fishbase,2015)

FISIOLOGI IKAN WADER CAKUL
Pada umumnya ikan juga memiliki sistem pencernaan layaknya manusia, adapun saluran atau sistem pencernaan pada ikan adalah Mulut, Esophagus, Lambung, Usus dan Anus (Sinjai, 2013). Menurut Sambas (2010) dalam Mujtahidah (2013), pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif. Pada ikan, pencernaan secara kimiawi dimulai dibagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses pencernaan di segmen usus berasal dari hati,pankreas dan dinding usus itu sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi inilah yang menyebabkan perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek menjadi senyawa sederhana atau yang asalnya berpartikel makro mrnjadi partikel mikro. Brntuk partikel mikro inilah makanan menjadi zat terlarut yang memungkinkan dapat diserap oleh dinding usus yang selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh.

TINGKAH LAKU IKAN WADER CAKUL
Menurut Sitanggang dan Sarwono (2002),Wader cakul memijah di perairan terbuka pada saat menjelang gelap. Setiap kali bertelur, ikan ini menyebarkan antara 200 - 500 butir telur di antara tumbuh-tumbuhan air. Telur-telur ini akan menetas sekitar 48 jam kemudian, dan selama beberapa hari berikutnya burayak (anak ikan) akan berlindung di sela-sela daun tanaman air. Ikan wader dewasa tidak akan segan-segan untuk memangsa telur ataupun burayak dari jenisnya sendiri ( kanibal ).

MANFAAT IKAN WADER CAKUL
Ikan Wader Cakul (Puntius Binotatus) merupakan salah satu jenis ikan di perairan tawar indonesia yang bernilai ekonomis tinggi, banyak ditemukan di danau, kolam, waduk, sungai maupun selokan tang airnya jernih. Hasil dari pemanfaatan ikan ini, sampai saat ini masih diperoleh dari kegiatan penangkapan yakni mengandalkan pasokan dari alam dan belum ada upaya untuk membudidayakan (WPI, 2010) Dalam (Mayang, 2014).

PENULIS
Wiji Dina Anggraini
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Effendi,I.2002. Probiotics of Marine Organisme Disease Protection. Pekanbaru: FPIK. Universitas Riau. 72 hlm.
Fishbase,2015. Puntius binotatus. http://fishbase.org. Diakses 15 Desember 2015 Pukul 19.00 WIB.
Haryono.2006. Studi Morfometrik Ikan Wader Goa (Puntius microps Gunther,1868) Yang Unik Dan Dilindungi Undang-Undang Pusat Penelitian Biologi-Lipi Gd. 34 hlm.
http://eprints.umm.ac.id/56911/4/BAB%20II.pdf
http://eprints.umm.ac.id/57291/43/BAB%20II.pdf
Kottelat, M, AJ Whitten, SN Kartikasari, S Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi: Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Jakarta: Periplus Editions (HK) Ltd. 
Lim,L.S.W.K.Chor,A.D.Tuzan,L.Malltam,R. Gondlpon and J. Ransangan. 2013. Length-Weight Relationships Of The Pond-Cultured Spotted Barb. International Research Journal Of Biological Sciences. 2(7): 61-63.
Mayang, C. D. 2014. Pengaruh Pemberian Probiotik dengan Dosis yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan dan Laju Pertumbuhan Ikan Wader Cakul (Puntius Binotatus). SKRIPSI. Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Brawijaya Malang. 87 Halaman.
Mujtahidah,Tholibah. 2913. Siklus Reproduksi Ikan Wader Cakul (Puntius binotatus) Pada Pertengahan Musim Penghujan Tahun 2013/2014[Skripsi]. Malang: FPIK, Universitas Brawijaya.
Rahmawati,I. 2006. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Beunteur C.V. 1882, Famili Cypronidae Di bagian Hulu Daerah Aliram Sungai (DAS) Ciliwing, Jawa Barat. IPB. 60 hlm.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. jIlid 1. Bina Cipta. Bandung. 256 hlm.
Sinjai,R.2013. Anatomi atau Sistem Pencernaan Pada Ikan. Kanisius.Yogyakarta.63 hlm.
Sitanggang,M dan Sarwono. 2002. Budidaya Wader Cakul. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Depok. 72 hlm.

No comments:

Post a Comment