Friday, May 29, 2020

Ikan Motan (Thynnichthys Thynnoides); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides) diklasifikasikan ke dalam kelas pisces, sub kelas teleostei, ordocypriniformes (kottelat et ai, 1993) atau ostariophysi (saanin, 1984). Sub ordocyprinoidea, famili cyprinidae, genus thynnichthys dan spesies thynnichthysthynnoides blkr. (kottelat et al., 1993). Menurut saanin (1984) ikan ini dikenal jugadengan nama kendie, manangin, lambak, ringan, lumoh dan pingan. Pada daerahpalembang ikan ini dinamakan damaian atau lumopoko dan di kalimantan ikan inidisebut juga ketup atau bau ketup (subardja et al., 1995).

Vass dalam Alamsyah (1982) menyatakan bahwa ikan ini merupakan ikan airtawar yang hidup di sungai-sungai dan perairan umum lainnya, serta merupakan ikanyang banyak terdapat di sungai-sungai Indonesia. Selanjutnya Pulungan (1987)menyatakan bahwa ikan ini termasuk jenis ikan Cyprinid di daerah Riau yang jugamempunyai arti ekonomis penting di pasaran, tetapi tidak termasuk sebagai jenis ikanair tawar kelas satu.

KLASIFIKASI IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Klasifikasi ikan motan (T. thynnoides) menurut Kottelat et al. (1993):
Kingdom : Animalia
Filum  : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas  : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo  : Cypriniformes
Subordo : Cyprinoidea
Famili  : Cyprinidae
Subfamili : Cyprininae
Genus  : Thynnichthys
Spesies : Thynnichthys thynnoides Bleeker, 1852
Nama lokal : Motan, Lambak, Ringan, Lumoh, Pingan, Menangin.

MORFOLOGI IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Ikan motan memiliki jumlah sisik garis rusuk sebanyak 58-60 buah. Di antara garis rusuk dan sirip punggung terdapat 13 baris sisik (Saanin, 1968).  Ikan motan memiliki rumus sirip dorsal 3/8 dan rumus sirip anal 3/5. Bentuk tubuh ikan ini memanjang dan tidak terlalu pipih, kepala agak kecil dengan moncong pendek dan terletak di ujung, posisi mulut terminal, serta mata berukuran kecil. Ikan yang segar memiliki warna tubuh keperakan dengan punggung lebih gelap. Ikan ini memiliki titik hitam kecil di dekat posterior operculum (Taki, 1974).  Kottelat et al. (1993) menyatakan bahwa ikan ini memiliki 58-60 sisik pada gurat sisi, 13 sisik antara sirip punggung dan gurat sisi, 8-10,5 jari-jari bercabang pada sirip punggung, jari-jari terakhir halus dan tidak mengeras.

Jkan Motan ini mempunyai ciri marfoiogi sebagai berikut: kepala meruncing,overculum mempunyai kelopak yang besar, mulut di anterior dan kecil tidak ada bibiratas dan rahang bawah, mempunyai lipatan bibir yang kecil pada sudut rahang, garisrusuk lurus memanjang ke tengah-tengah ekor. Sirip dorsal kecil dan terletak hampirsejajar dengan sirip ventral. Tidak mempunyai lebih delapan ruji bercabang. Tidakada sisir insang dan lamina insang panjang. Tidak ada pseudobranchia (Mohsindan Ambak, 1992). Perbedaan antara spesies T. thynnoides dengan T. vaillanti adalahpada spesies T. thynnoides sisik garis rusuk 58-60, antara garis rusuk dan sirippungung ada 13 ban's sisik. Sedangkan pada T. vaillanti sisik garis rusuk 57 danantara garis rusuk dan permulaan sirip punggung ada 11 baris sisik.

HABITAT IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Ikan motan (Thynnichthys thynnoides) merupakan ikan air tawar yang hidup di sungai besar, kanal, danau tapal kuda, dan rawa banjiran (Shelly, 2008). Kottelat et al. (1993) menyatakan bahwa ikan ini terdistribusi di Sumatera, Kalimantan, Malaya dan Indochina.

CIRI-CIRI IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Mempunyai sisik berwarna putih keperakan, ukuran :panjang lebih besar daripada ukuran tinggi tubuhnya, dan bentuk bilateral simetris. Kepala meruncing, mulutnya terletak di ujung depan kepala atau agak ke bawah dan kecil, moncongnya dapat ditonjolkan ke depan, tapi tidak ada bibir atas dan rahang bawah. Lipatan bibir yang kecil pada sudut rahang, overculum mempunyai kelopak yang besar, garis rusuk lurus dan memanjang ke tengah-tengah ekor, sirip dorsal kecil, dan terletak sejajar dengan sirip ventral. Memiliki tidak lebih delapan ruji bercabang, tapi tidak mempunyai sisir insang. Gelembung renang terdiri atas dua bagian, di mana bagian belakang lebih kecil dari bagian depan (Mohsin dan Ambak, 1992).

TINGKAH LAKU IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Menurut Murtini (2006), ikan motan melakukan pemijahan secara parsial dan berkala karena mengalami kematangan gonad secara bertahap dari bulan ke bulan berikutnya. Ikan ini bersifat potamodromus, yaitu melakukan migrasi dari sungai ke rawa banjiran untuk melakukan pemijahan saat volume air di rawa banjiran meningkat. Ikan motan merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang paling banyak diminati dan dicari nelayan di daerah Kampar Kiri (Simanjuntak et al., 2006).

FISIOLOGI IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari lingkungannya dengan cara osmosis, terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya. Insang ikan air tawar secara aktif memasukkan garam dari lingkungan ke dalam tubuh. Ginjal akan memompa keluar kelebihan air sebagai air seni. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak melarut dan lolos ke dalam air. Ginjal mempunyai glomeruli dalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air seni sebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan malpighi memasuki tubuli ginjal, glukosa akan diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam-garam diserap kembali pada tubuli distal. Dinding tubuli ginjal bersifat impermiable (kedap air, tidak dapat ditembus) terhadap air. Ikan mempertahankan keseimbangannya dengan tidak banyak minum air, kulitnya diliputi mucus, melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan memompa garam melalui sel-sel khusus pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air. Satu-satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang (Wahyuningtyas, 2012)

REPRODUKSI IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
(Cassie, 1954 dalam Effendie, 1992):
1. Tingkat kematangan gonad I: ovari seperti benang, panjangnya sampai ke depan rongga tubuh, warna jernih atau transparan, dan butir telur belum kelihatan.
2. Tingkat kematangan gonad II: ukuran ovari lebih besar, berwarna lebih gelap kekuning-kuningan, butir telur mulai terlihat tapi belum jelas.
3. Tingkat kematangan gonad III: ovari berwarna kuning.Secara morfologi, telur mulai diamati butirannya dengan mata.
4. Tingkat kematangan gonad IV: ovari makin besar, telur berwarna kuning, butir telur mudah dipisahkan, mengisi 50-60% rongga perut, dan usus agak terdesak.
5. Tingkat kematangan gonad V: ovari berkerut habis memijah, dinding tebal, dan butir telur sisa terdapat di dekat pelepasan. Perkembangan ovari kembali seperti pada tingkat II.

Menurut Sukendi (2008),khusus untuk ikan betina, proses reproduksi  yang memegang peranan penting dalam menghasilkan calon induk untuk dipijahkan adalah tahap vitelogenesis. vitelogenesis adalah proses induksi dan sintetis vitelogenin di hati oleh hormon estradiol-17beta, serta penyerapan vitelogenin yang terbawa aliran darah kedalam oosit secara berurutan dan teratur Sehingga hati merupakan organ yang memiiiki protein-protein pengikat yang sangat spesifik terhadap estradiol-17beta dan memiiiki respon terhadap rangsangan hormonal tersebut dengan mensintesis dan mensekresikan vitelogenin kedalam darah. Pada induk ikan jantan, proses reproduksi yang memegang peranan penting dalam menghasilkan calon induk untuk dipijahkan adalahtahap seprmatogenesis. Proses ini meliputi penggandaan/proliferasi spermatogonia melalui pembelahan mitosis yang berulang-ulang dan membentuk spermatosit primer, selanjutnya mereduksi (meitosis) membentuk spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder membelah menjadi spermatid yang selanjutnya mengadakan metamorfose menjadi gamet yang bergerak (motil) disebut dengan spermatozoa. Proses metamorfosa spermatid menjadi spermatozoa disebut dengan spermatogenesis.

MANFAAT IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES)
Ikan Motan ini selalu disenangi oleh masyarakat termasuk juga jenis ikan airtawar yang memungkinkan untuk didomestikasi, karena jenis ikan Motan ini selaludijumpai di kolam hidup bersama dengan ikan Mas ataupun ikan Kapiek atau jenisikan air tawar lainnya di Sungai Kampar (Fauzi, 1978).

PERAN IKAN MOTAN (THYNNICHTHYS THYNNOIDES) DI PERAIRAN
Nugroho (1992) menduga bahwa populasi ikan motan di sistem aliran Sungai Batang Hari, Jambi, telah mengalami penurunan.  Padahal menurut Kartamihardja (2007), ikan motan merupakan salah satu ikan yang dapat dipertimbangkan  sebagai ikan tebaran di zona limnetik waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat karena ikan pemakan plankton ini dianggap dapat mengurangi tingkat kelimpahan plankton yang tinggi di perairan tersebut.

PENULIS
Wiji Dina Anggraini
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Effendi,I.2002. Probiotics of Marine Organisme Disease Protection. Pekanbaru: FPIK. Universitas Riau. 72 hlm.
Effendie, M. I. 1992. Metoda Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bagian Ichtiology.Institut Pertanian Bogor. 112 pp.
Effendie, M.I. 1978. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama,Yokyakarta.
https://docplayer.info/73158492-Ii-tinjauan-pustaka-biologi-ikan-motan-t-thynnoides-blkr.html
Kartamihardja, E. S. 2007. Spektra ukuran biomassa plankton dan potensi pemanfaatannya bagi komunitas ikan di zona limnetik Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 137 pp.
Kottelat, M, AJ Whitten, SN Kartikasari, S Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi: Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Jakarta: Periplus Editions (HK) Ltd. 
Mohsin, A. K. M. & A. M. Ambak. 1992. Freshwater Fishes of Western Peninsular Malaysia. Penerbit University Pertanian. Malaysia.
Murtini, S. 2006. Biologi Reproduksi Ikan Motan (Thynnichthys polylepis) secara Histologi di Waduk Kotopanjang, Kabupaten Kampar, Riau. Manajemen Sumber Daya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. (Tidak Dipublikasikan). 59 pp.
Nugroho, LR. 1992. Strategi Adaptasi Ikan Ringo (Thynnichtys thynnoides, Blkr.) di Perairan Daerah Aliran Sungai Batang Hari Propinsi Jambi [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kuntji Identifikasi Ikan I. Bandung: Binatjipta.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. jIlid 1. Bina Cipta. Bandung. 256 hlm.
Shelly,T. 2008. Pertumbuhan Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides Bleeker, 1852) Di Rawa Banjiran Sungai Kampar Kiri, Riau. Bogor: FPIK, IPB.
Simanjuntak, CPH, MF Rahardjo, S Sukimin. 2006. Iktiofauna Rawa Banjiran Sungai Kampar Kiri. Jurnal Iktiologi Indonesia 6(2):99-109.
Sukendi,2008. Peran Biologi Reproduksi Ikan dalam Bioteknologi Penelitian. Riau: FPIK, Universitas Riau.
Taki, Y. 1974. Fishes of The Lao Mekong Basin. Washington D. C. U. S. Agency for International Development Agriculture Division.

No comments:

Post a Comment