Sunday, May 31, 2020

Ikan Sidat (Anguilla Bicolor); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan sidat (Anguilla sp.) sampai saat ini telah ditemukan 18 spesies yang tersebar di Indo-Pasifik, Atlantik dan Oseania (Fahmi dan Hirnawati 2010). Ikan Sidat yang dikelompokkan menjadi 2 golongan besar yang didasarkan posisi dorsalnya yaitu long fin dan short fin (Skrzynski 1974). Indonesia memiliki tujuh jenis ikan sidat dari total 18 jenis di dunia. Ketujuh jenis itu, dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu yang kelompok bersirip punggung pendek dan kelompok yang bersirip punggung panjang. Kelompok bersirip punggung pendek diantaranya adalah Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor Pacifica, sedangkan kelompok yang memiliki sirip punggung panjang adalah Anguilla borneoensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebesensis, Anguilla megastoma dan Anguilla interioris (KKP 2011).

KLASIFIKASI  IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
klasifikasi ikan sidat (Anguilla bicolor) sebagai berikut :
Filum : Vertebrata
Sub Filum : Craniata
Super Kelas : Gnathostomata
Kelas : Teleostei
Sub Kelas : Actynopterigii
Ordo : Anguilliformes
Sub Ordo : Anguilloidei
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Spesies : Anguilla bicolor

HABITAT IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Sidat termasuk ikan katadromus, yaitu ikan yang dewasa berada di hulu sungai atau danau, tetapi bila sudah matang gonad akan beruaya dan memijah disana. Memijah di kedalaman laut hingga lebih dari 6.000 m, telur-telur naik ke permukaan dan menetas menjadi larva. Larva sidat yang terbawa arus, bermetamorfosa menjadi leptocephalus (berbentuk seperti daun), dan terus mengarungi samudera menuju kepantai / perairan tawar.

Setelah mencapai pantai dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun, sudah berupa glass eel dengan tubuh transparan hingga terlihat insang (berwarna merah terang) dan hatinya. Di Pelabuhan Ratu, glass eel mencapaimuara sungai dengan ukuran 45-60 mm (0,15–0,2 g), sedang di Eropa mencapai ukuran 75-90 mm. Mencapai pantai, glass eel memasuki muara sungai dan terus naik dan hidup di hulu-hulu sungai, danau, dan rawa, atau tinggal di perairan rawa pasut atau perairan payau

FISIOLOGI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Belut (Monopterus albus) dan Sidat (Anguilla sp.) merupakan ikan bertulang sejati yang hidup di air tawar yang memiliki kesamaan dan perbedaan secara fisiologis. Namun kandungan nutrisinya terutama asam lemak belum tentu sama. Kandungan asam lemak pada belut dan sidat didasarkan pada pola konsumsi dari keduanya. Oleh karena itu tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk memperoleh minyak hewani dari belut dan sidat serta mengetahui perbandingan komposisi asam lemak yang terkandung didalamnya. Penelitian ini diawali dengan persiapan bahan simplisia dan uji parameter mutu simplisia, selanjutnya dilakukan proses ekstraksi minyak dengan cara refluks. Rendemen yang diperoleh pada minyak belut adalah 0,056% dan minyak sidat adalah 1,486%. Hasil uji parameter mutu minyak belut dan sidat seperti bobot jenis adalah 0,652 dan 0,826; bilangan asam adalah 7,656 mg NaOH/gram dan 6,038 mg NaOH/gram; bilangan peroksida adalah 66,667 meq oksigen/kg dan 21 meq oksigen/kg. Hasil analisis KG-SM pada minyak belut mengandung asam heksadekanoat (asam palmitat) sebesar 100%, sedangkan minyak sidat mengandung asam heksadekanoat (asam palmitat) sebesar 48,55% dan asam 9-oktasdesenoat (asam oleat) sebesar 51,44%.

MORFOLOGI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Ikan Sidat yang telah diambil darahnya, selanjutnya dibedah untuk diamati gonadnya. Pengamatan morfologi gonad dilakukan untuk melihat jenis kelamin ikan (Beullens et al., 1997) dan tipe gonad (Kagawa et al., 2005). Ikan Sidat yang telah diambil darahnya, dibedah untuk diamati gonadnya. Pengamatan morfologi gonad dilakukan untuk melihat jenis kelamin ikan (Beullens et al., 1997) dan tipe gonad (Kagawa, 2005). Beullen et al., (1997)

membagi bentuk gonad ikan Sidat menjadi 3 kelas yaitu bentuk benang tipis (gonad yang belum terdiferensiasi, bentuk lobul (gonad jantan) dan bentuk lamela dengan lipatan transversal (gonad betina). Kagawa (2005) mengelompokkan tipe gonad berdasarkan bentuk morfologi yaitu tipe normal (gonad berada pada kedua sisi rongga tubuh); tipe abnormal, gonad hanya berada pada salah satu sisi rongga tubuh dan tipe steril (tidak terdapat gonad pada rongga tubuh)

CIRI-CIRI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
1. Tubuh si terletak da yang relative kecil dadat berbentuj bulat memanjang
2. Sekilas mirip belut yang dijumpai diareal persawahan
3. Salah satu karakter yaitu baguan tubuh sidat yang memembedakan nya dari belut adalah keberadaan sirip terletak pada dibelakang kepala sehingga telingga sehingga mirip seperti daun telingga

REPRODUKSI IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Perkembangan gonad sidat sangat unik dan jenis kelaminnya berkembang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Pada saat anakan kondisi seksualnya berganda sehingga tidak mempunyai jaringan yang jelas antara jantan dan betinanya. Pada tahap selanjutnya sebagian gonad akan berkembang menjadi ovari (indung telur) dan sebagian lagi menjadi testis dengan perbandingan separuh dari populasinya adalah jantan dan separuh lagi betina.

Dalam siklus hidupnya, setelah tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang di perairan tawar, sidat dewasa yang lebih dikenal dengan yellow eel berkembang menjadi silver eel (matang gonad) yang akan bermigrasi ke laut untuk memijah (Rovara dkk., 2007).

Sidat termasuk hewan yang bersifat katadormus karena pada ukuran anakan sampai dewasa tinggal di perairan tawar namun ketika akan memijah beruaya ke laut dalam. Pemijahan diperkirakan berlangsung pada kedalaman 400-500 meter dengan suhu 16-17 oC dan salinitas 35 permill. Jumlah telur yang dihasilkan (fekunditas) setiap individu betina berkisar antara 7juta-13 juta butir dengan diameter sekitar 1 mm (Matsui, 1982). Telur akan menetas dalam waktu 4-5 hari. Setelah memijah induk sidat biasanya akan mati.

Benih sidat yang baru menetas berbentuk lebar seperti daun yang dinamakan leptocephalus yang memiliki pola migrasi vertikal, yaitu cenderung naik ke permukaan pada malam hari dan siang hari turun ke perairan yang lebih dalam. Selanjutnya benih akan berkembang dalam beberapa tahapan menjadi agak silindris dengan warna agak buram yang dikenal dengan nama glass eel. Pada tahap glass eel biasanya sudah mulai terdapat pigmentasi pada bagian ekor dan kepala bagian atas (Tesch, 1977). Umur glass eel yang tertangkap di muara sungai diperkirakan antara 118-262 hari dengan umur rata-rata 182,8 hari (Setiawan dalam Rovara, 2007). Panjang tubuh glass eel antara 5 – 6 cm dengan berat sekitar 0,2 gram.

TINGKAH LAKU IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
Ikan sidat termasuk dalam genus Anguilla, famili Anguillidae, seluruhnya berjumlah 19 spesies Di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) dikenal ada tujuh spesies ikan sidat yaitu :Anguilla celebensis danAnguilla borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguilla interioris dan Anguilla obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguillabicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (Samudra Pasifik), Anguilla bicolor pasifica yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguilla marmoratamerupakan jenis yang memiliki sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis.

Ikan sidat termasuk dalam kategori ikan katadromus, ikan sidat dewasaakan melakukan migrasi kelaut untuk melakukan pemijahan, sedangkan anakan ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar hingga mencapai dewasa.

Wilayah penyebarannya meliputi perairan Indo-Pasifik, Atlantik dan Hindia. Ikan sidat merupakan ikan nokturnal, sehingga keberadaannya lebih mudah ditemukan pada malam hari, terutama pada bulan gelap. Ikan sidat betina lebih menyukai perairan esturia, danau dan sungai-sungai besar yang produktif, sedangkan ikan sidat jantan menghuni perairan berarus deras dengan produktifitas perairan yang lebih rendah.  Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produktifitas suatu perairan dapatmempengaruhi  distribusi jenis kelamin dan rasio kelamin ikan sidat. Perubahan produktifitas juga sering dihubungkan dengan perubahan pertumbuhan dan fekunditas pada ikan sidat jantan tumbuh tidk lebih dari 44 cm dan matang gonad setelah berumur 3-10 tahun.

Apabila sudah datang masa untuk mengadakan ruaya, ikan sidat yang hidup dalam perairan tertutup akan keluar mencari sungai yang menuju ke laut. Selama perjalanan sampai ke tempat pemijahan, ikan sidat tidak makan dan mengalami perubahan akibat perjalanan tersebut. Perubahan tersebut diantaranya adalah tubuhnya menjadi kurus, matanya membesar sampai empat kali lipat, hidungnya semakin lancip dan warna tubuhnya berubah menjadi warna silver. Ikan sidat mampu mencapai jarak perjalanan ruaya hingga 4000 mil. Toleransi kedalaman untuk pemijahannya yaitu pada kedalaman 400 meter, dengan suhu 16° – 17° C.

Di Indonesia ikan sidat diindikasikan berpijah di Selatan Pulau Jawa, hal ini didasarkan  terdapatya larva ikan tersebut di pantai Selatan Pulau jawa. Seperti Pelabuahan Ratu dan Cilacap. Sidat (Anguilla sp.) tergolong gonokhoris yang tidak berdiferensiasi, yaitu kondisi seksual berganda yang keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi intersex yang spontan.

Stadia perkembangan ikan sidat baik tropik maupun subtropik (temperate) umumnya sama, yaitu stadia leptochephalus, stadia metamorphosis, stadia glass eel atau elver, yellow eel dan silver eel (sidat dewasa atau matang gonad). Setelah tumbuh dan berkembang di perairan tawar, sidat dewasa (yellow eel) akan berubah menjadi silver eel (sidat matang gonad), dan selanjutnya akan bermigrasi ke laut untuk berpijah.  Lokasi pemijahan sidat tropis diduga berada di perairan Samudra Indonesia, tepatnya di perairan barat pulau Sumatera  Juvenil ikan sidat hidup selama beberapa tahun di sungai-sungai dan danau untuk melengkapi siklus reproduksinya. Selama melakukan ruaya pemijahan, induk sidat mengalami percepatan pematangan gonad dari tekanan hidrostatik air laut, kematangan gonad maksimal dicapai pada saat induk mencapai daerah pemijahan. 

Proses pemijahan berlangsung pada kedalaman 400 m, induk sidat mati setelah proses pemijahan Waktu berpijah sidat di perairan Samudra Hindia berlangsung sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Mei dan Desember untuk Anguilla bicolor bicolor, Oktober untuk Anguilla marmorata, dan Mei untuk Anguilla nebulosa nebulosa.Di perairan Segara Anakan, Anguillabicolor dapat ditemukan pada bulan September dan Oktober, dengan kelimpahan tertinggi pada bulan September.

Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan. Makanan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah telur ikan hiu, dengan makanan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepali.

Kedatangan juvenil sidat di estuaria dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, terutama salinitas, debit air sungai, air tawar dan suhu.  Sidat yang sedang beruaya anadromous menunjukkan prilaku hyperaktif yang tinggi, sehingga bersifat reotropis (ruaya melawan arus). Sidat juga bersifat haphobi (menghindari massa air bersalinitas tinggi) sehingga memungkinkan ruaya melawan arus ke arah datangnya air tawar.

Aktivitas sidat akan meningkat pada malam hari, sehingga jumlah sidat yang tertangkap pada malam hari lebih banyak daripada yang tertangkap pada siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa sidat cenderung memilih habitat yang memiliki salinitas rendah. Salinitas merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap kelimpahan.  Kelimpahan sidat yang paling tinggi terjadi pada saat bulan gelap.

Ikan sidat mampu beradaptasi pada kisaran suhu 12◦C-31◦C, sidat mengalami peurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12◦C. Salinitas yang bisa ditoleransi berkisar 0-35 ppm.  Sidat mempunyai kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu bernapas melalui kulit diseluruh tubuhnya.

Salinitas secara tidak langsung berpengaruh terhadap gas-gas terlarut dan daya racun amoniak. Semakin tinggi salinitas maka kapasitas maksimum oksigen semakin kecil. ikan sidat mempunyai kemampuan bernafas melalui kulit sekitar 60% dan 40% melalui insang. Apabila konsentrasi oksigen menurun hingga 1,0 – 2,0 ppm maka ikan sidat akan sering muncul di permukaan air. Oksigen minimal yang dibutuhkan oleh ikan sidat sekitar 3,0 ppm, bila kurang dari itu dan suhu antara 20ºC – 23ºC akan mengurangi nafsu makan sehingga laju pertumbuhan akan menurun. (Sumber : Makalah ikan sidat, Andri Irawan ; unsoed, 2008)

MANFAAT IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR)
○ Meningkatkan daya ingat. ( Memiliki omega 3 yang sangat tinggi ).
○ Sebagai antioksidan dan meningkatkan imunitas tubuh.
○ Dapat menurunkan kandungan lemak jahat dalam darah.
○Mendorong terbentuknya lemak pospat dan perkembangan otak besar.
○ Memperbaiki sirkulasi kapiler.
○ Mengobati pembuluh darah otak, rabun jauh/dekat, glaucoma dan penyakit mata kering

Ikan sidat (Anguilla bicolor) merupakan salah satu ikan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sidat memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan energi ikan sidat mencapai 270 kkal/100 g, Kandungan vitamin A sidat mencapai 4700 IU/100 g tujuh kali lipat lebih banyak dari telur ayam, 45 kali lipat dari susu sapi. Vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi dan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sidat memiliki kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram atau tenggiri 409 mg/100 gram (Baedah 2010). Menurut Deelder (1984)

PERAN IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR) DI PERAIRAN
Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan. Makanan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah telur ikan hiu, dengan makanan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepalus. Berikut ini adalah bentuk sidat (Anguilla bicolor) dari fase leptocephalus sampai pada fase glass eel dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini (Aoyama 2009). Ikan sidat berfungsi sebagai penyeimbang di ekosistem tempat tinggalnya.

PENULIS
Yenni Nur Hidayati
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2012

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
http://hargaikansidat.blogspot.co.id/2014/01/manfaat-sidat-bagi-kesehatan_18.html diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 13.20
http://karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/view/1949diakses pada tanggal 19 desember 2015 pada pukul 12.50
http://media.unpad.ac.id/thesis/230110/2009/230110090129_2_4801.pdf
http://media.unpad.ac.id/thesis/230110/2009/230110090129_2_4801.pdf diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 12.30
http://www.wasiwa.com/2015/03/makalah-morfologi-dan-anatomi-ikan.html  diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 12.35
https://mazara30.wordpress.com/2012/06/03/160/ diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 13.15
https://plus.google.com/102058044058293447150/posts/21fDPYgMYky diakses pada tanggal 19 Desember 2015 pada pukul 15.00
https://scholar.google.co.id/scholar?q=fisiologi+ikan+sidat+(anguilla+spp)&hl=en&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ahUKEwjAlO_j2J7KAhWBC44KHZj3DxsQgQMIGDAA diakses pada tanggal 19 desember 2015 pada pukul 12.55

No comments:

Post a Comment