Sunday, November 1, 2020

Sistem Imun Ikan; Spesifik dan Non Spesifik



Sistem Imun Non Spesifik

Ikan memiliki dua sistem pertahanan yaitu sistem pertahanan alamiah (innate immunity) dan sistem pertahanan adaptif (adaptive immunity). Kemampuan sistem imun non spesifik (innate immunity) terdiri dari mekanisme pertahanan seluler dan humoral. Pertahanan seluler non spesifik diperankan oleh monosit/makrofag, neutrophil/granulosit dan sel cytotoxic non spesifik atau sel NK (natural killer). Sedangkan pertahanan humoral non spesifik melibatkan lectins, enzim lytic (lisozyme, complement), transferrin, ceruloplasmin, c-reactive protein dan interferon (Gusman, 2011).

 

Innate immunity adalah pertahanan tubuh yang didapat karena adanya respons yang tidak spesifik dan merupakan bagian dari sistem imun yang berfungsi sebagai barier terdepan pada awal terjadinya infeksi penyakit. Perangkat imun yang berperan pada sistem imun tidak spesifik adalah makrofag, eritrosit, sel assesoris, monosit, sel Natural Killer (NK), sel-sel toksik dan sekresi lisosim. Efektor imunitas nonspesifik utama terhadap bakteri intraselular adalah sel fagosit dan sel NK. Sel fagosit menelan dan mencoba menghancurkan mikroba tersebut, namun mikroba dapat resisten terhadap efek degradasi fagosit. Bakteri intraselular dapat mengaktifkan sel NK secara langsung atau melalui aktivasi makrofag yang memproduksi IL-12, sitokin poten yang mengaktifkan NK. Sel NK memproduksi IFN-ᵞ yang kembali mengaktifkan makrofag dan meningkatkan daya membunuh bakteri yang dimakan. Jadi, sel NK memberikan respons dini, dan terjadi interaksi antara sel NK dan makrofag (Bintari. 2016).

 

Sistem Imun Spesifik

Adaptive immunity atau sistem imun spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh lapis kedua, apabila innate immunity tidak mampu mengeliminasi agen penyakit. Hal ini terjadi akibat fagosit tidak mengenali agen infeksius. Penanggulangannya diperlukan molekul spesifik yang akan berikatan langsung dengan agen infeksius yang dikenal dengan antibodi, sehingga menstimulir proses fagositosis. Pada sistem imun spesifik, kekebalan dapat ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya dengan stimulasi berulang dari molekul asing yang sama. Sel yang berperan sebagai mediator pada proses ini adalah sel limfosit yang mensintesis sel reseptor sesuai dengan antigen determinan yang masuk. Proteksi utama respons imun spesifik terhadap bakteri intraselular berupa imunitas selular. Imunitas selular dibagi menjadi dua tipe reaksi, yaitu aktivasi makrofag oleh sel CD4+ Th1 yang memacu pembunuhan mikroba dan lisis sel terinfeksi oleh CD8+ atau CTL (Bintari, 2016).

 

Pada sistem imun adaptive terdapat dua mekanisme yaitu respon imun humoral diperantarai oleh antibodi yang diproduksi oleh sel-sel limfosit B (atau biasa disebut dengan sel B). Antibodi akan mengenali antigen-antigen mikrobia, menetralisirnya, dan mengeliminasi mikroba tersebut dengan berbagai mekanisme efektor. Antibodi bersifat khusus (hanya mengeliminasi target antigen yang dikenalinya). Tipe antibodi yang berbeda dapat mengaktifkan mekanisme efektor yang berbeda pula. Adapun imunitas yang adaptif seluler (cell-mediated immunity) diperantarai oleh sel T (limfosit T) yang berperan dalam melakukan destruksi sel-sel yang terinfeksi mikroba secara intraseluler (Gusman, 2011). 

 

Penulis

Husna Nabilla Rodhyansyah

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Bintari, I. G. 2016. Deteksi Aeromonas hydrophila pada Ginjal Mencit (Mus musculus) dengan Teknik Imunohistokimia. SKRIPSI. Universitas Airlangga: Surabaya.

Gusman, E. 2011. Sistem pertahanan tubuh ikan: respon pertahanan adaptif, major histocompatibility complex (MHC), resesptor sel T, sitokinin. Jurnal Harpodon Borneo. 4(1): 54-61.

No comments:

Post a Comment