Monday, November 2, 2020

Kualitas Air Budidaya Ikan Lele; Suhu, pH, Oksigen Terlarut (DO)



Suhu Budidaya Ikan Lele

Suhu merupakan salah satu faktor fisika perairan yang sangat penting dan berpengaruh bagi pertumbuhan ikan. Ikan merupakan hewan poikilothermal yaitu hewan yang memiliki suhu tubuh yang sama dengan suhu lingkungan sekitarnya. Ikan merupakan hewan berdarah dingin sehingga suhu berpengaruh langsung pada laju metabolisme ikan. Perubahan suhu dapat menyebabkan perubahan laju metabolisme ikan, semakin tinggi suhu media maka laju metabolisme ikan juga akan meningkat sehingga nafsu makan ikan meningkat (Asis, et al., 2017).

 

Kisaran suhu untuk pemeliharaan ikan lele adalah sekitar 27-30◦C (Ananda, et al., 2015). Putra, et al. (2015) menyatakan bahwa suhu sangat berperan penting dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Suhu juga mempunyai peranan penting dalam menentukan pertumbuhan ikan yang dibudidaya.


Status kualitas air menunjukkan tingkat kondisi kualitas air yang menunjukkan kondisi tercemar ringan atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkannya dengan baku mutu air yang ditetapkan. Kualitas air tersebut dapat ditentukan dengan menggunakan kombinasi parameter fisika (suhu, arus dan kekeruhan), kimia (pH dan DO) dan biologis. Degradasi kualitas air dapat terjadi akibat adanya perubahan parameter kualitas air. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh adanya aktivitas pembuangan limbah, baik limbah pabrik, pertanian maupun limbah domestik dari suatu pemukiman penduduk ke dalam badan air suatu perairan (Purwasih, 2012).


Pengamatan suhu, pH dan oksigen terlarut merupakan parameter yang tak dapat dipisahkan dalam hampir setiap penelitian diperairan. Hal ini karena berbagai aspek distribusi parameter seperti reaksi kimia dan proses biologi sehingga suhu menjadi suatu variabel yang menentukan (Patty, 2013). Suhu berperan penting bagi kehidupan dan perkembangan biota laut, peningkatan suhu dapat menurun kadar oksigen terlarut sehingga mempengaruhi metabolisme seperti laju pernafasan dan konsumsi oksigen serta meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (Affan, 2013). 


pH Budidaya Ikan Lele

Derajat keasaman (pH) air merupakan faktor pembatas pada pertumbuhan ikan dan jasad renik lainnya.  Menurut Cahyono (2011), nilai pH perairan yang sangat rendah (sangat asam) dapat menyebabkan kematian pada ikan. Demikian pula, nilai pH perairan yang sangat tinggi (sangat basa) menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat. Perairan yang asam juga berpengaruh terhadap nafsu makan ikan, yakni nafsu makan menjadi berkurang.

 

pH yang baik untuk kegiatan budidaya ikan air tawar berkisar antara 6 – 9 (Putra, et al., 2015). Menurut Asis, et al. (2017), ikan jenis catfish mampu mentolerir dan hidup dalam perairan atau lingkungan yang bersifat asam hingga pH 5 sekalipun dan bisa bertahan pada perairan basa hingga pH 9. Nilai pH mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan organisme perairan, sehingga pH perairan dipakai sebagai salah satu komponen untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan.


Derajat keasaman (pH) berpengaruh pada setiap kehidupan organisme. Namun, setiap organisme mempunyai batas toleransi yang bervariasi terhadap pH perairan. Toleransi masing-masing jenis terhadap pH juga sangat dipengaruhi faktor lain seperti suhu dan oksigen terlarut. Apabila suhu di perairan tinggi maka oksigen terlarut menjadi rendah. Hal ini akan mengganggu dalam pernafasan dan pengaturan kecepatan metabolisme. Kenaikan pH pada perairan akan menurunkan konsentrasi CO2 terutama pada siang hari ketika proses fotosintesis sedang berlangsung (Handayani dan Patria, 2005).


pH merupakan suatu ukuran konsentrasi ion H. Secara alamiah perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawa yang bersifat asam. pH yang ideal bagi kehidupan biota air tawar adalah antara 6,8 - 8,5. pH yang sangat rendah, menyebabkan kelarutan logam-logam dalam air makin besar, yang bersifat toksik bagi organisme air. Sebaliknya pH yang tinggi dapat meningkatkan konsentrasi amoniak dalam air yang juga bersifat toksik bagi organisme air (Tatangindatu, et al., 2013).

 

Oksigen Terlarut (DO) Budidaya Ikan Lele

Parameter oksigen terlarut dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesegaran air. Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami (Salmin, 2005).

 

Nilai kandungan oksigen terlarut (DO) pada media pemeliharaan ikan lele (Clarias sp.) minimal 3 mg/l. Kisaran ini masih berada dalam kisaran yang mendukung untuk kehidupan ikan. Kandungan oksigen terlarut yang ideal di dalam air untuk budidaya ikan tidak boleh <3,00 mg/l karena dapat menyebabkan kematian organisme air. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad untuk pernafasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan juga untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerob (Gunawan, 2009).


DO yang seimbang untuk hewan budidaya adalah lebih dari 5 mg/l. Jika oksigen terlarut tidak seimbang akan menyebabkan stress pada ikan karena otak tidak mendapat suplai oksigen yang cukup, serta kematian akibat kekurangan oksigen (anoxia) yang disebabkan jaringan tubuh ikan tidak dapat mengikat oksigen yang terlarut dalam darah. Pada siang hari, oksigen dihasilkan melalui proses fotosintesa sedangkan pada malam hari, oksigen yang terbentuk akan digunakan kembali oleh alga untuk proses metabolisme pada saat tidak ada cahaya. Kadar oksigen maksimum terjadi pada sore hari dan minimum menjelang pagi hari (Tatangindatu, et al., 2013).


Oksigen terlarut merupakan suatu indikator kualitas air, kondisi ekologi, produktivitas dan kesehatan suatu perairan. Hal ini disebabkan karena oksigen terlarut digunakan dalam reaksi kimia dan biologi pada suatu ekosistem (Warsa, 2011). Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut tersebut disebabkan penguraian bahan organik yang berasal dari limbah bahan organik yang sangat tinggi, dimana laju produksi oksigen oleh fitoplankton lebih rendah daripada laju pemanfaatan oksigen oleh bakteri, zooplankton dan organisme lainnya (Riswanto dan Tjahjo, 2011).

 

Penulis

Husna Nabilla Rodhyansyah

Mia Surantika Devi

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Affan, J. M. 2013. Seleksi lokasi pengembangan budidaya dalam keramba jaring apung (KJA) berdasarkan faktor lingkungan dan kualitas air di Perairan Pantai Timur Kabupaten Bangka Tengah. Jurnal Sains MIPA. 17(3): 99–106.

Ananda, T., D. Rachmawati dan I. Samidjan. 2015. Pengaruh papain pada pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Journal of Aquaculture Management and Technology. 4(1): 47-53.

Asis, A., M. Sugihartono dan M. Ghofur. 2017. Pertumbuhan ikan patin siam (Pangasionodon hypopthalmus F.) pada pemeliharaan sistem akuaponik dengan kepadatan yang berbeda. Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau. 2(2): 51-57.

Gunawan, S. 2009. Kiat Sukses Budi Daya Lele di Lahan Sempit. Agromedia Pustaka. Jakarta. 148 hlm.

Handayani, S. dan M. P. Patria. 2005. Komunitas zooplankton di perairan Waduk Krenceng, Cilegon, Banten. Jurnal Makara Sains. 9(2): 75-80.

Patty, S. I. 2013. Distribusi suhu, salinitas dan oksigen terlarut di Perairan Kema, Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 1 (3):148-158. 

Purwasih, A. S. 2012. Analisis kualitas perairan sungai raman desa pujodadi trimurjo sebagai sumber belajar biologi SMA pada materi ekosistem. Jurnal Bioedukasi. 3(2): 1-9.

Putra, A. M., Eriyusni dan I. Lesmana. 2015. Pertumbuhan ikan patin (Pangasius sp.) yang dipeliharan dalam sistem resirkulasi. Jurnal Aquacostmarine. 8(3): 1-12.

Riswanto dan D. W. H. Tjahjo. 2011. Variasi sebaran kualitas air di perairan segara Anakan, Kabupaten Cilacap. Seminar Nasional Tahunan VIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan.1-6.

Tatangindatu, F., O. Kalesaran dan R. Rompas. 2013. Studi parameter fisika kimia air pada areal budidaya ikan di Danau Tondano, Desa Paleloan, Kabupaten Minahasa. Jurnal Budidaya Perairan. 1(2): 8-19.

Salmin. 2005. Oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biologi (BOD) sebagai salah satu indikator untuk menentukan kualitas perairan. Oseana. XXX(3): 21-26.

No comments:

Post a Comment