Friday, July 31, 2020

Basics Of Zooplankton Identification



Essential anatomical terminology must be learned in order to positively identify an organism.

General elements that need to be assessed for all zooplankton groups are:

1. body shape and size

2. relative length of various appendages, including antennae, legs, and setae

3. presence and relative sizes of spines

 

Although several anatomical features used to differentiate species are listed in the literature, this Guide only makes mention of the key details which taxonomists use for rapid identifications. The attempt was to keep the list of features to a minimum while ensuring accurate species assignments. Although some dissection may be required, this Guide generally only depicts anatomical details that can be viewed under a dissection microscope. For more detailed information on certain features (ex. cyclopoid 5th legs), refer to the sources listed in Section 4.

 

After gaining some experience, you will develop a mental picture of what a typical specimen of each common species looks like. Therefore, although first identifications will take time in order to consult the literature and keys, this will not always be a necessary step. Each zooplankton group has a series of major characteristics used for positive identification. Once you memorize what to look for the speed of processing will dramatically increase. If ever in doubt, always refer to the keys.

 

If an identification is still uncertain after following these steps, it is always best to adopt a more general designation rather than take a “guess”. For example, the taxonomy of Bosmina is notoriously complicated by the elements mentioned in the introduction to this Guide. Very fine distinctions separate members of the 5 species found within the Sudbury Region. Therefore, if in doubt, assign a member of this family to the proper genus (i.e. Eubosmina or Bosmina) rather  than attempting a tentative species designation.

 

Identification to the family (for Cladocera) or order (for Copepoda) level is fairly easy. From there you must refer to the main identification characteristics for each group, outlined in the following Sections.

 

Writer

Jessintya Palupi

Fisheries Tech Brawijaya University 2014

 

Editor

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fisheries Tech Brawijaya University 2015

Thursday, July 30, 2020

Classification and Definition Cyclops is?


Cyclops are tiny crustaceans of the family Cyclopidae, also called water fleas. They are usually found in stagnant bodies of fresh water such as wells and ponds in poor agricultural communities in rural or periurban areas. In sub-Saharan Africa, India and Yemen they are the intermediate hosts of guinea worm, Dracunculus medinensis, a parasite that causes guinea-worm disease or dracunculiasis. The disease is transmitted to humans when they drink water containing infected cyclops.

 

Guinea-worm disease is rarely fatal but is severely debilitating. The lower limbs are most commonly affected but the worms, which are up to a metre in length, can emerge from any part of the body. There are no drugs to treat the disease but highly effective and simple preventive measures are available. Most countries where it is endemic have adopted a programme aimed at eradication through such measures as, for instance, supplying safe drinking-water. Several countries have already made dramatic progress: the disease was eliminated from Pakistan in 1996, after seven years of concentrated efforts and in India the number of cases was reduced by more than 99% between 1995 and 1984. Worldwide, the incidence of the disease fell from 3.5 million in 1986 to approximately 122 000 in 1995.

 

Classification Cyclops

Order Cyclopoida

Family Cyclopidae

Genus Acanthocyclops

Genus Cyclops

Genus Diacyclops

Genus Eucyclops

Genus Macrocyclops

Genus Mesocyclops

Genus Orthocyclops

Genus Paracyclops

Genus Tropocyclops

Cladoceran zooplankton genera/species found in 92 Sudbury Region lakes from 1990 to 2004 (by Martyn Futter – DESC, 2002; updated by Julie Leduc, 2004)


Recent taxonomic changes

1. Eucyclops neomacruroides and Eucyclops speratus (order Cyclopoida) are now called Eucyclops elegans (Hudson et al., 1998)

2. Eucyclops serrulatus (order Cyclopoida) is now called Eucyclops agilis (Torke, 1976)

3. several species comprise what is termed the Acanthocyclops vernalis complex (order

Cyclopoida). According to Hudson et al. (1998), the only members found in Ontario that

can be positively differentiated are Acanthocyclops brevispinosus and Acanthocyclops robustus.

4. Tropocyclops prasinus mexicanus (order Cyclopoida) is now called Tropocyclops extensus  (Dussart and Fernando, 1990)

Taxa listed in the EMRB zooplankton database sorted by genus, updating taxonomic distinction (by Robert Girard - DESC) (Note that changes are highlighted in bold italics and that shaded species are those found within the Sudbury Region)


Writer

Jessintya Palupi

Fisheries Tech Brawijaya University 2014

 

Editor

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fisheries Tech Brawijaya University 2015

Wednesday, July 29, 2020

Bacteriastrum Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Bacteriastrum Sp adalah plankton yang termasuk kelas Bacillariophyceae family Chaetocerotaceae. Bacteriastrum merupakan jenis plankton yang menguntungkan.

Klasifikasi Bacteriastrum Sp
Divisi : Heterokontophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Centrales
Family : Chaetocerotaceae
Genus : Bacteriastrum
Spesies : Bacteriastrum sp

Morfologi atau Ciri Khusus Bacteriastrum Sp
• Mempunyai sel yang berbentuk silinder
• Dinding mengandung zat silika
• Ukurannya berkisar 0,01 – 1,00 mm.
• Memiliki lebih dari dua setae per valve
• Bentuk diatom dapat berupa sel tunggal atau rangkaian sel yang panjang.
• Setiap sel dilindunggi oleh dinding dan menyerupai kotak.
• Pada setiap setae sel yang berdekatan menyatu untuk jarak tertentu.
• Membagi lebih jauh dan bercabang (bifurkasi)
• Bentuknya kecil dan mempunyai banyak kloroplas.
• Spesies yang memiliki organ raphe (bersifat motil)

Habitat Bacteriastrum Sp
Bacteriastrum sp hidup di dalam seluruh perairan laut. Dan merupakan salah satu penyusun plankton. Banyak ditemukan di laut terbuka, baik perairan pantai maupun perairan oseanik.dapat ditemukan diperairan tawar dan perairan laut. Tapi kebanyakan ditemukan di dalam perairan tawar. Perkembangan spesies ini secara berlebihan dapat menjadikan perairan atau tempat tinggal/ hidupnya menjadi rusak dan terganggu.

Karakterisik Bacteriastrum Sp
- Pigmen : Klorofil a, c, β-karoten, fukoxanthin, diatoxanthin, diadinoxanthin
- Kloroplas : Diselimuti oleh sampul kloroplas bermembran ganda dan   ribosom   berlapis kloroplas  er (cer); dengan manset tilakoid (thylakoid girdle).
- Produk akhir : Chrysolaminaran (β-1,3-glukan) dan minyak/lemak.
- Penutupan sel : Silika dan materi organik lainnya berupa frustule dengan dua katup yang terhubung oleh manset (girdle), hypovalve atau hypotheca dan epivalve atau epitheca .
- Non flagella : Uniselular atau berkoloni, seringkali ditemukan berantai.
- Lokomosi : Bentuk pennate, bergerak dengan mengeluarkan sekresi mucilage melalui organ raphe

Reproduksi Bacteriastrum Sp
Perkembangbiakan pada Bacteriastrum sp yaitu terjadi secara aseksual dan seksual. Aseksual, dengan pembelahan sel, hypotheca baru dibentuk sebagian dengan valve dari frustule induk dalam batasan – batasan tertentu. Seksual, diatom merupakan diploid, terjadi meiosis dan pembentukan gamet, fusi gamet menghasilkan auxospore. Kemudian proses reproduksi yang selengkapnya dengan melakukan pembelaan sel sederhana (binari sel division). Pembelahaan ini menyebabkan sebahagian sel mengecil dan setelah beberapa kali membelah, sel akan mencapai ukuran minimum. Apabila kedua sel kecil itu bertemu, mereka akan membuang sebahagiaan dindingnya dan membentuk auxospora sehingga sel akan berbentuk normal kembali. Selain itu juga bereproduksi dengan cara oogami. Sel diatom menghasilkan sperma dan telur. Sperma kemudian bergabung dengan telur membentuk zigot. Zigot akan tumbuh dan berkembang menjadi berukuran normal seperti aslinya. Setelah diatom mencapai ukuran normal, diatom akan kembali melakukan reproduksi aseksual melalui pembelahan mitosis.

Tingkah Laku Bacteriastrum Sp
Memiliki alur yang memusat (central) pada permukaan cawannya. Hal ini berkaitan dengan cara hidupnya yakni supaya memudahkan untuk melayang di dalam air, terdapat alat-alat melayang yang berupa duri atau sayap, atau dengan perantaraan lender. Pergerakan pada spesies bacteriastrum yaitu pasif mengikuti arus yang ada didalam perairan tersebut.

Peran Bacteriastrum Sp Di Perairan Serta Manfaat Bacteriastrum
Bacteriastrum mempunyai peran dalam perairan yaitu sebagai bahan isolasi, bahan penyekat dinamit, dan bahan penggosok. Dan berperan juga sebagai produsen primer di dalam perairan dan keberadaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada lingkungan tersebut. Spesies bacteriastrum merupakan sumber makanan bagi organisme lain yang ada didalam peraran. Spesies ini mmapu menghasilkan makanan sendiri karena memiliki klorofil yang digunakan untuk melakukan fotosintesis. Tetapi apabila pertumbuhan bacteriastrum didalam perairan meningkat dan melimpah melebihi batas maksimal maka akan menjadikan periaran tersebut tidak baik dan dapat menimbulkan bloomming sehingga dapat mengganggu pertumbuhan organisme perairan lainnya.

Penulis
Catur Budi Noviya
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Daftar Pustaka
http://eprints.undip.ac.id164941ANTIK_ERLINA.pdf
http://eprints.uny.ac.id82495lampiran%20-%2008308144017.pdf
http://oceandatacenter.ucsc.edu/PhytoGallery/Diatoms/Bacteriastrum.html
http://www.chbr.noaa.gov/pmn/image_gallery_diatom.
Sulaiman, Tectona Grandis. 2012. Struktur Komunitas Bacillariophyta (Datom) Pertambakan Marunda Cilincing. Jakarta :Universitas Indonesia

Tuesday, July 28, 2020

Hemiaulus Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Hemiaulus adalah plankton yang termasuk kelas Bacillariophyceae. Hemiaulus hidup di dalam perairan, bergerak melayang layang di kolom perairan. Pergerakannya mengikuti arus. Sanagt besar untuk terpengaruhi keadaan di dalam perairan. Diatom termasuk organisme autotrof karena memiliki pigmen-pigmen fotosintesis. Pigmen fotosintensisnya adalah klorofil a, klorofil c, karoten, fukosantin, diatoksantin, dan diadi-noksantin.

Klasifikasi Hemiaulus
Kingdom : Plantae 
Phylum : Bacillariophyta
Kelas : Bacillariophyceae
Ordo : Centrales
Family : Hemiaulaceae
Genus : Hemiaulus 
Spesies : Hemiaulus

Morfologi atau Ciri Hemiaulus
• Mempunyai sel-tangga seperti dengan tanduk panjang
• Ada katup permukaan datar
• Mempunyai dinding pennales dan Centrales
• Dengan lubang besar dan persegi panjang
• Sel selnya bersatu dalam lurus atau melengkung dan rantai sering memutar
• Memiliki inti sel dan kloroplas.
• Bersifat uni selular walaupun ada juga yang berkoloni.

Habitat Hemiaulus
Plankton Hemiaulus ini ditemukan di samudera serta perairan neritik. Hal ini baik beriklim sedang dan tropis. Cupp menggambarkannya sebagai memiliki dinding sel lemah mengandung silika. Spesies ini mampu hidup diseluruh perairan.

Karakteristik Hemiaulus
- Pigmen : Klorofil a, c, β-karoten, fukoxanthin, diatoxanthin, diadinoxanthin
- Kloroplas : Diselimuti oleh sampul kloroplas bermembran ganda dan   ribosom   berlapis kloroplas  er (cer); dengan manset tilakoid (thylakoid girdle).
- Produk akhir : Chrysolaminaran (β-1,3-glukan) dan minyak/lemak.
- Penutupan sel : Silika dan materi organik lainnya berupa frustule dengan dua katup yang terhubung oleh manset (girdle), hypovalve atau hypotheca dan epivalve atau epitheca .
- Non flagella : Uniselular atau berkoloni, seringkali ditemukan berantai.
- Lokomosi : Bentuk pennate, bergerak dengan mengeluarkan sekresi mucilage melalui organ raphe .

Reproduksi Hemiaulus
Reproduksi asexual umumnya dengan pembelahan dan sexual secara oogami dan isogami. Reproduksi secara asexsual yaitu pembelahan sel pada diatom sangat dipengaruhi oleh tingkat kecerahan perairan, kadar garam dan kondisi makanan yang tersedia diperakan tersebut. Diatom sangat cepat mempergunakan makanan di sekitarnya sehingga mempunyai kemampuan ganda dalam pembelahan selnya.

Reproduksi aseksual terjadi dengan pembelahan sitoplasma dalam frustul dimana epiteka induk akan menghasilkan hipoteka yang baru, sedangkan hipoteka yang lama akan menjadi epiteka yang menghasilkan hipoteka yang baru pula pada anaknya, dan seterusnya. Dengan demikian suksesi reproduksi aseksual ini akan menghasilkan ukuran sel yang semakin kecil (Nontji, 2008). Hal ini akan menyebabkan kedua sel baru akan sedikit berbeda ukurannya, sel yang terbentuk dari sel dalam akan lebih kecil dari sel yang terbentuk dari sel luar. Dengan demikian ukuran individu-individu dari spesies yang sama tetapi dari generasi yang berlainan akan berbeda.

Pembelahan sel secara aseksual ini akan menghasilkan pertumbuhan populasi yang sangat cepat pada kondisi yang optimal. Namun, dengan pembelahan yang berulang-ulang, akan terjadi pengecilan ukuran sel. Reproduksi aseksual seperti ini menghasilkan sejumlah ukuran yang bervariasi dari suatu populasi diatom pada suatu spesies. Ukuran terkecil dapat mencapai 30 kali lebih kecil dari ukuran terbesarnya. Suatu ketika ukurannya mencapai minimum yang selanjutnya akan dikompensasi dengan tumbuhnya auksospora (auxospore) berukuran besar yang akan membelah dan menghasilkan sel baru yang kembali berukuran besar.

Peran Hemiaulus  Di Perairan
Plankton memiliki peran yang sangat penting dalam perairan yaitu sebagai sumber produsen bagi oragnisme organisme lain didalam perairan tersebut. Diatom yang mati di lautan akan mengendap di dasar laut menjadi tanah diatom. Tanah diatom berguna sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi, penyekat, dinamit, pembuat saringan, bahan penyadap suara, bahan pembuat cat, pernis dan piringan hitam (mader 2004; solomon et al. 2000).

Penulis
Catur Budi Noviya
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Monday, July 27, 2020

Schizocerca Brachionus Plicatilis Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Plicatilis Brachionus (Müller, 1786) adalah rotifer monogonont yang telah lama dianggap sebagai generalis ekologi dengan distribusi kosmopolitan di pedalaman dan habitat laut pesisir (Walker, 1981).

Klasifikasi Schizocerca Brachionus Plicatilis
Kingdom : Animalia
Filum : Trochelminthes
Kelas : Rotifera
Ordo : Monogonanta
Famili : Brachionidae
Genus : Brachionus
Species :Branchionus (schizocerca) diversiconis
  
Morfologi Schizocerca Brachionus Plicatilis
Di antara rotifera, B. plicatilis mungkin salah satu yang terbaik taksa-dipelajari. Telah banyak digunakan sebagai model untuk studi fisiologis dan ekologis [untuk contoh lihat (Walker, 1981; Clément dan Wurdak, 1991; Nogrady et al, 1993;. Kleinow dan Wratil, 1996)] dan ekotoksikologi [ditinjau oleh (Snell dan Janssen, 1995)]. Selain itu, saat ini digunakan di seluruh dunia dalam industri perikanan laut [dikaji oleh (Lubzens et al., 1987,2001)]. Namun, dalam dekade terakhir, beberapa studi banding (Fu et al, 1991a, 1991b, 1993;. Rumengan et al, 1991;. Hagiwara et al, 1995;. Rico-Martínez dan Snell, 1995) mengungkapkan bahwa B. plicatilis adalah bukan spesies tunggal tetapi kompleks setidaknya dua taksa morfologi dikenali, yang disebut L (besar) dan S (kecil) jenis (Oogami, 1976). Atas dasar bukti-bukti ini, Segers (Segers, 1995) kembali diperiksa-nama yang tersedia yang ada dan mengusulkan bahwa B. plicatilis Müller, 1976 dan B. rotundiformis Tschugunoff 1921 adalah nama-nama yang benar untuk L- dan S-jenis, masing-masing . Sejak itu, nama-nama telah diterapkan pada beberapa strain dari seluruh dunia. Meskipun perpecahan ini memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang kompleksitas kompleks spesies, beberapa jalur baru-baru ini bukti menunjukkan bahwa masing-masing rotifer taksa sebenarnya terdiri dari kelompok spesies saudara (Gómez et al, 1995;. Gómez dan Snell, 1996; Serra et al, 1998;. Ortells et al, 2000;.. Gómez et al, 2000).

Branchionus (schizocerca) diversiconis lebih fleksibel, sangat lemah rata dorsal-bagian perut , halus. Margin antero-punggung dengan empat duri dengan dasar yang luas ,menunjuk ,variabel panjang , biasanya panjang , sama panjang atau median pasangan panjang ; posterior duri ada atau tidak ada ; dengan atau tanpa duri posterior-median pada pembukaan kaki . Trophi dengan semua karakteristik masing-masinmg genus. Sebuah spesies yang sangat polymorphous , dengan banyak varian.Memiliki 4 tanduk 4 kaki salah satunya panjang.

Habitat Schizocerca Brachionus Plicatilis
Studi pada molekul-tanda di B. plicatilis di Cabanes-Torreblanca Marsh (Gómez et al., 1995), daerah payau pesisir Timur Spanyol, mengungkapkan co-terjadinya tiga spesies biologis. Spesies ini terlibat dalam pola yang teratur suksesi musiman di kolam tunggal rawa, dengan jangka waktu yang relatif lama (sampai dengan 4 bulan) koeksistensi dari dua atau tiga spesies (Ciros-Pérez, data tidak dipublikasikan). Selain yang dibedakan oleh beberapa penanda genetik, mereka berbeda dalam morfologi mereka umumnya (yaitu ukuran tubuh dan bentuk) (Gómez, et al 1995.), Pola reproduksi seksual (Carmona, et al 1995;.. Gómez, et al, 1997), dan spesialisasi ekologi (Gómez et al, 1995,1997;.. Ciros-Pérez et al, 2001). Mereka menunjukkan perilaku kawin asortatif (Gómez dan Serra, 1995,1996) dan tidak ada hibrida telah direkam. Ketiga spesies saudara diberi nama mengikuti kriteria Segers 'sebagai B. plicatilis (sensu stricto), B. rotundiformis SS dan B. rotundiformis SM. Meskipun demikian tubuh bukti, lebih besar daripada untuk spesies rotifer lainnya, taksonomi spesies belum ditetapkan.


Reproduksi Schizocerca Brachionus Plicatilis
Dahril (1996) mengatakan bahwa bentuk dan ukuran tubuh Rotifera berbeda antara jantan dan betinanya, dimana ukuran tubuh Rotifera jantan jauh lebih kecil dengan bentuk tubuh agak meruncing ke bagian bawah bila dibandingkan dengan betina rachionus sp. dapat berkembang dengan baik jika dipelihara di tempat yang mendapat sinar matahari (Mujiman, 1998).

Brachionus plicatilis bersifat euthermal. Pada suhu 15°C Brachionus plicatilis masih dapat tumbuh, tetapi tidak dapat bereproduksi, sedangkan pada suhu di bawah 10°C akan terbentuk telur istirahat. Kenaikan suhu antara 15-35°C akan menaikkan laju reproduksinya. Kisaran suhu antara 22-30°C merupakan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi, disamping itu Brachionus plicatilis juga bersifat euryhalin.

Betina dengan telurnya dapat bertahan hidup pada salinitas 98 ppt, sedangkan salinitas optimalnya adalah 10-35 ppt. Keasaman air turut mempengaruhi kehidupannya. Rotifera ini masih dapat bertahan hidup pada pH 5 dan pH 10, sedangkan pH optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi berkisar antara 7,5-8,0 (Isnansetyo & Kurniastuty, 1995).

Tingkah Laku Schizocerca Brachionus Plicatilis
Aktivitas berenang spesies ini dilakukan oleh beat terkoordinasi silia cingulum , dan dikendalikan oleh dua otot innerved disisipkan pada infraciliature tersebut . Rotifera seperti Brachionus calyciflorus yang disukai hewan uji toksikologi air karena kepekaan mereka untuk sebagian toxicants . Ini adalah salah satu organisme makanan hidup yang digunakan untuk produksi massal larva ikan.

Pemilihan spesies ini untuk studi toksikologi secara ekologis juga dibenarkan karena spesies ini tidak hanya sangat melimpah dan memainkan peran utama dalam beberapa proses ekologis dalam komunitas air tawar , tetapi juga memiliki distribusi kosmopolitan . Ini feed mikro alga dan sangat euryhaline dan spesies di mana-mana .

Peran Schizocerca Brachionus Plicatilis di Perairan
Plankton merupakan salah satu komponen terpenting dalam suatu komunitas perairan. Peranan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton sangat penting dalam usaha budidaya karena sebagai sumber makanan bagi organisme yang dibudidayakan. Plankton merupakan pakan alami bagi

Organisme akuatik. Menurut Lubzens et al. (1984; 1987) dalam Golder et al. (2007), menyatakan bahwa zooplankton merupakan pakan alami utama dalam pemeliharaan larva ikan. Oleh karena itu, ketersediaan plankton merupakan salah satu faktor pembatas dalam usaha budidaya. Dalam kondisi normal di alam, plankton tersedia dalam jumlah yang cukup untuk dapat dimanfaatkan oleh setiap organisme akuatik. Permasalahan kebutuhan pakan alami akan muncul saat organisme akuatik berada dalam lingkungan budidaya. Ketersediaan pakan sangat tergantung pada manusia yang memelihara, baik jumlah, jenis maupun waktu pemberiannya. Keberadaan plankton (kelimpahan maupun keanekaragaman) dalam suatu ekosistem kolam budidaya sering mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan unsur hara di dalam kolam budidaya (Jana & Chakrabarti, 1997). Salah satu cara penyediaan pakan alami berupa plankton pada organisme budidaya adalah dengan cara melakukan pemupukan, karena dengan pemupukan akan meningkatkan unsur hara di dalam kolam budidaya yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh plankton untuk berkembang (Kadarini, 1997). Pemupukan dapat dilakukan dengan menambahkan pupuk anorganik, organik, atau kombinasi keduanya ke dalam kolam budidaya (Lucas & Southgate, 2003).

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan atau sisa tumbuhan yang telah mati yang mengalami proses pembusukan oleh berbagai sistem dengan bantuan bakteri ataupun mikroorganisme lainnya (Yamada, 1983). Beberapa studi melaporkan bahwa budidaya massal plankton menggunakan pupuk organik telah banyak dilakukan dengan hasil yang lebih maksimal dibanding jenis pupuk yang lain (Jana & Pal, 1983; 1985 dalam Golder et al., 2007).

Fisiologi Schizocerca Schizocerca Brachionus Plicatilis
Pertama kali disebutkan oleh Pallas ( 1766 ) , tapi dia tidak menunjukkan lokalitas di mana dikumpulkan spesies ini . Brachionus calyflorus umum di mana-mana di seluruh wilayah di dunia .

Panjang Lorica 200-600 m , median duri antero- punggung 25-200 m , lateral yang antero-punggung duri 15-95 m , duri postero -lateral hingga 300 m , postero - median duri hingga 120mm .

Plankton di perairan segar dan payau Djarijah (1995) mengatakan bahwa Brachionus plicatilis merupakan organisme eukariot akuatik yang termasuk ke dalam zooplankton yang bersifat filter feeder, yaitu cara mengambil makannya dengan menyaring partikel dari media tempat hidupnya. Zooplankton dari genera Brachionus ini mempunyai variasi ukuran tubuh, yaitu antara 50-300 mikron.

Ukuran tubuh yang bervariasi ini juga dibedakan berdasarkan tipe, yaitu untuk yang berukuran besar (230-400 mikron) digolongkan kedalam tipe L, sedangkan yang berukuran kecil (50-220 mikron) digolongkan kedalam tipe S.

Penulis
M. Hafiidh
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Saturday, July 25, 2020

Pyrocypris Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


Pyrocypris adalah arthopoda yang termasuk kelas ostracoda sub kelas ostracoda incertae sedis. Merupakan udang tingkat rendah (berukuran kecil).

Morfologi Pyrocypris
Kingdom : animalia
Filum : arthopoda
Sub filum : crustaccea
Kelas : ostracoda
Sub kelas : ostracoda incertae sedis
Genus : pyrocypris

Morfologi Pyrocypris
Cirinya: hidup sebagai zooplankton di air, reproduksi secara partenogenesis (telur dapat berkembang menjadi individu baru tanpa adanya pembuahan. Larvanya dinamakan Nauplius. Contoh : Cylops sp, Cladocera sp, Pyrocypris sp, Balanida sp, Phenella exocoeti, Notostraca sp, Candona suburbana, Sakkulina sp, Daphnia pulex, Lepidurus sp, Estheria sp.

67.000 spesies dijelaskan berbagai ukuran dari Stygotantulus stocki pada 0,1 mm (0,004 in), untuk kepiting laba-laba Jepang dengan rentang kaki hingga 3,8 m (12,5 ft) dan massa 20 kg (44 lb). Seperti arthropoda lainnya, krustasea memiliki exoskeleton, yang mereka rontok untuk tumbuh. Mereka dibedakan dari kelompok lain arthropoda, seperti serangga, myriapods dan chelicerates, dengan kepemilikan biramous (dua-parted) anggota badan, dan dengan bentuk nauplius larva.

Kebanyakan krustasea hidup bebas hewan air, namun ada juga yang terestrial (misalnya kutu kayu), beberapa parasit (misalnya Rhizocephala, kutu ikan, cacing lidah) dan beberapa sessile (misalnya teritip). Kelompok ini memiliki catatan fosil yang luas, sampai kembali ke Kambrium, dan termasuk fosil hidup seperti Triops cancriformis, yang masih ada dan tidak berubah sejak periode Trias. Lebih dari 10 juta ton krustasea diproduksi oleh perikanan atau pertanian untuk konsumsi manusia, sebagian besar itu menjadi udang dan udang. Krill dan copepoda tiodak terlalu besar, tetapi mungkin binatang dengan biomassa terbesar di planet ini, dan merupakan bagian penting dari rantai makanan. Penelitian ilmiah crustacea dikenal sebagai carcinology (alternatif, malacostracology, crustaceology atau crustalogy), dan seorang ilmuwan yang bekerja di carcinology adalah carcinologist. .

Amphipods krustasea . Tubuh dibagi menjadi tiga bagian ; cephalothorax , dada , dan perut . Leg toraks pertama dimodifikasi menjadi alat makan ( " bagian mulut " ) , maxilliped , sementara tujuh lainnya pasang kaki toraks digunakan untuk gerakan . Dua pasang kaki toraks pertama yang dimodifikasi untuk menangkap makanan dan juga digunakan oleh amphipods laki-laki untuk memegang betina saat kopulasi/reproduksi . Dua pasang antena yang memanjang dan melengkung bagian perut . Wanita memiliki marsupium di mana mereka membawa-anak mereka sampai mereka siap untuk dilepas ke lingkungan .

Habitat Pyrocypris
Crustacea terutama menempati habitat laut, dan di lautan dunia bahwa mereka menunjukkan keanekaragaman terbesar mereka. Namun, mereka terwakili dengan baik pada tanah, terutama oleh kutu kayu atau Slaters dan beberapa gerbong pasir, dan di habitat air tawar. Antara 50.000 dan 67.000 spesies yang dikenal di seluruh dunia. Namun, para ilmuwan memperkirakan jumlah krustasea menjadi 10-100 kali lebih besar dari ini.

Amphipods dapat ditemukan di laut dan air tawar habitat dari dangkal , dipenuhi tumbuhan daerah , dengan kedalaman laut terdalam , kadang-kadang dengan kepadatan 10.000 per meter persegi .

Reproduksi Pyrocypris
Waktu reproduksi bervariasi antara macam-macam amphipods . Beberapa spesies memiliki musim kawin panjang  , sementara yang lain memiliki musim kawin diskrit dan ysang dihasilkan hanya  tunggal . Sebelum kawin , laki-laki dari beberapa spesies seperti Gammarus spp . dan Hyalella azteca menangkap betina dengan gnathopods mereka dan berpegang pada sampai seminggu , menunggu sampai untuk rontok dan siap untuk kawin .

Selama ini , pasangan ini dikatakan dalam precopula . Kopulasi  laki-laki terdiri dari membungkus bagian posterior tubuhnya sekitar sisi ventral betina , membawa uropods di dekat marsupium nya . Dia kemudian melepaskan sperma yang dia menyapu ke marsupium nya dengan bergetar pleopods nya . Setelah kawin selesai , betina melepaskan telur ke dalam marsupium nya di  mana pembuahan terjadi. Masa inkubasi bervariasi dengan spesies , wilayah dan waktu tahun.

Para amphipods muda yang baru menetas tinggal di marsupium sampai wanita mengalami mabung pasca - sanggama . Jumlah instar ( tahap perkembangan ) dialami oleh sebagian besar spesies amphipod yang kurang dikenal . Amphipods biasanya hanya hidup selama satu tahun , meskipun beberapa spesies , seperti Diporeia hoyi , dapat hidup selama lebih dari dua tahun .

Anostracans biasanya bereproduksi secara seksual , meskipun reproduksi partenogenesis terjadi pada beberapa populasi Artemia salina , udang air garam . Perkawinan biasanya terjadi setelah perempuan telah moulted , sehingga perempuan hampir dewasa sering dihadiri oleh beberapa laki-laki . Setelah kawin , betina mempertahankan telur dalam kantong anak-anaknya sampai dia meninggal , dan telur mengendap di bawah . Telur tahan terhadap dessication , pembekuan , dan konsumsi oleh burung . Telur menetas menjadi nauplius atau metanauplius larva yang mengalami beberapa moults sebelum mencapai kematangan . Spesies yang hidup di kolam sementara biasanya hanya memiliki satu generasi per tahun .

Tingkah Laku Pyrocypris
Kepiting dan udang karang adalah krustasea, subdivisi arthropoda – kelompok besar hewan tanpa tulang punggung (invertebrata) yang mencakup serangga, laba-laba, tungau, kalajengking dan springtails. Arthropoda telah bersendi kaki dan kulit luar yang keras yang bertindak sebagai kerangka.

Amphipods lebih aktif pada malam hari dibandingkan siang hari . Karena banyak spesies pemulung dan mengkonsumsi berbagai macam detritus organik , mereka membentuk link trofik penting dalam air tawar dan ekosistem laut , daur ulang bahan organik yang kemudian diteruskan kembali melalui rantai makanan

Manfaat Serta Peran Pyrocypris di Perairan
Amphipods merupakan sumber makanan yang sangat penting bagi banyak spesies ikan, serta untuk opossum udang mysis relicta. Karena pentingnya mereka dalam jaring makanan air, para ilmuwan menggunakan amphipods untuk mempelajari efek dari kontaminan kimia seperti PCB dan DDT pada ekosistem perairan .

Sebagian besar Malacostrata dimanfaatkan manusia sebagai makanan yang kaya protein hewani, contohnya adalah udang, kepiting, dan rajungan. Namun, beberapa jenis Crustacea juga dapat merugikan manusia, contohnya yuyu yang dapat merusak tanaman padi di sawah dan ketam kenari perusak tanaman kelapa di Maluku. Sub-kelas Entomostraca juga dimanfaatkan manusia sebagai pakan ikan untuk industri perikanan.

Crustacea disebut juga kelompok udang-udangan. Hewan ini pada umumnya hidup di perairan baik di air danau, laut, maupun sungai. Crusta- cea mempunyai rangka luar dari kitin yang mungkin menjadi keras karena mengandung kapur. Crustacea  sering juga disebut hewan bercangkang. Untuk mempelajari macam-macam Crustacea.

Fisiologi Pyrocypris
Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu (sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah.Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya.

Sistem pencernaan Crustacea dimulai dari mulut, kerongkong, lambung, usus, dan anus. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf Crustacea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan). Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran darah terbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO2 berdifusi dengan arah berlawanan. O2 ini akan diedarkan ke seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah.      Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina (fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali.

Dewasa spesies terkecil kurang dari 0,1 mm dan berat kurang dari 1 mg . Sebagai perbandingan , krustasea terberat adalah kepiting lumpur yang mencapai berat 40 kg puncak . Laba-laba kepiting Jepang adalah arthropoda terbesar yang pernah hidup , dengan rentang kaki 4 m .

Ada lebih dari 40.000 spesies yang berbeda dari krustasea . Sekitar 4.000 spesies ini terjadi di air tawar dan hampir 200 spesies yang ditemukan di Amerika Utara Great Lakes . Semua krustasea memiliki sistem peredaran darah terbuka dan mempekerjakan baik hemoglobin atau haemocyanin sebagai pigmen pernapasan. Kebanyakan krustasea memiliki hati punggung, tetapi beberapa krustasea kecil hanya beredar hemolymph mereka dengan gerakan tubuh. Krustasea osmoregulate di air tawar dengan memproduksi jumlah berlebihan urin. Kebanyakan krustasea air tawar memiliki insang toraks dan abdomen yang mereka bertukar gas sedangkan sisanya gas hanya menyebar di seluruh integumen tubuh mereka.

Penulis
M. Hafiidh
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

Daftar Pustaka
Gambar Pyrocypris  Google image, 2015

Friday, July 24, 2020

Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Habrotrocha pusilla is a species of Habrotrocha, described by Bryce in 1893. synonyms: species Habrotrocha pusilla / Callidina pusilla / species Callidina pusilla.

Klasifikasi Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla
Kingdom : Animalia
Phylum :Rotifera
Class : Rotatoria
Order: Eurotatoria
Family: Philodinaea
Genus : Callidina

kingdom: Animalia
phylum: Rotifera
class: Eurotatoria
order: Bdelloidea
family: Habrotrochidae
genus: Habrotrocha

Morfologi Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla
Tubuh  rotifera dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian anterior yang pendek ,badan yang besar dan kaki. Dibagian anterior terdapat corona dan mastax yang merukan ciri khas filum Rotifera. Corona terdiri atas darah sekitar mulut yang bercilia, dan cilia ini melebar di seputar tepi anterior hingga seperti bentuk mahkota.  Mastax terletak antara mulut dan pharynx. Mastax ialah pharynx yang berotot , bulat atau lonjong, dan bagian dalamnya terdapat trophi, semacam rahang berkitin. Trophi terdiri atas 7 buah gigi yang saling berhubungan. Mastax berfungsi untuk menangkap dan menggiling makanan,bentuknya beraneka ragam disesuaikan dengan tipe kebiasaan makan rotifera.

Habitat Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla
Habitat : dengan ganggang hijau mucilagenous , bersama-sama dengan : Macrotrachela papillosa , M. plicata plicata , M. quadricornifera , Bryceella perpusilla status taksonomi : Diterima spesies Menurut The katalog of Life , 3 Januari 2011 Asli nama Callidina pusilla Bryce , 1893 Habitat Tidak ada di laut , Air Tawar.

Spesies Habrotrocha merupakan penghuni umum di antara Sphagnum ( Bateman 1987; Peterson, 1997 dkk , B łedzki . & Ellison 1998) . Habitat bagi Habrotrocha , khususnya H. rosa , termasuk tanaman pitcher ( Sarracenia purpurea ) , di mana mereka adalah sumber makanan utama bagi anggota co - habiting dari Culicidae ( nyamuk ) ( Bateman 1987) fisiologi  menyebabkan jumlah populasi nyamuk meningkat ( Błedzki & Ellison 1998) . Rotifera merupakan sumber penting dari N dan P di rawa / fen penghuni tanaman pitcher. Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar

Reproduksi Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla
Reproduksi rotifer seperti halnya aschelminthes yang lain , semua rotifera juga dioecious. Reproduksi selalu seksual. Individu jantan selalu lebih kecil dari yang betina, biasanya mengalami degenerasi yaitu tidak mempunyai alat pencernaan, hanya memiliki alat reproduksi saja. Partenogenesis merupakan peristiwa yang umum terjadi. Perkawinan pada rotifera biasanya dengan jalan “hipodermic impregnation”, dimana sperma masuk melalui diding tubuh. Tiap nucleus pada ovari menjadi sebuah telur.

Kebanyakan spesies mempunyai ovari dengan sepuluh sampai dua puluh nuclei, maka telur yang dihasilkan selama hidupnya tidak lebih dari jumlah tersebut. Rotifera jantan siap melakukan perkawinan satu jam setelah menetas kemudian akan mati. Bila tidak menemukan rotifera betina , maka rotifera jantan akan mati pada umur 2 sampai 7 hari tergantung jenisnya.

Pada mulanya betina miktik menghasilkan 1- 6 telur kecil. Betina miktik adalah betina yang dapat dibuahi. Telur yang dihasilkan oleh betina miktik akan menetas menjadi jantan. Jantan ini akan membuahi betina miktik dan menghasilkan 1-2 telur istirahat. Telur ini mengalami masa istirahat sebelum menetas menjadi betina amiktk. Betina amiktik adalah betina yang tidak dapat dibuahi. Dari betina amiktik yang terjadi ini maka reproduksi secara aseksual akan terjadi lagi. Betina miktik hanya akan menghasilkan telur miktik demikian pula sebaliknya.

Walaupun telah banyak literatur yang menerangkan adanya perubahan antara betina amiktik menjadi betina miktik ini, namun pembiakan secara bisexual ini belum banyak diketahui secara jelas. Untuk beberapa genera dari famili Brachionidae diketahui bahwa kondisi yang menentukan seekor betina menjadi amiktik atau miktik terjadi beberapa saat sebelum telur mulai membelah. Hal ini juga menunjukkan banwa yang mngontrol produksi betina miktik ini pada umumnya adalah kondisi lingkungan (faktor luar) dan bukan merupakan faktor dalam semata (Davis, 1955).

Tingkah Laku Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla
Habitat terkaya bagi rotifera dikenal sebagai zona vegetasi. Di sinilah kehidupan tanaman akan melimpah dan rotifera dapat ditemukan di atas permukaan tanaman atau memiliki gaya hidup sessile dengan menjadi permanantly melekat pada tanaman dengan menggunakan kaki mereka di ujung posterior (Artana, 2012). Rotifer memiliki masa hidup yang tidak terlalu lama. Usia betina pada suhu 25◦C adalah antara 6-8 hari sedangkan yang jantan hanya 2 hari. Rotifer memiliki toleransi salinitas mulai dari 1-60 ppt, perubahan salinitas yang tiba-tiba dapat mengakibatkan kematian. Salinitas diatas 35 ppt akan mencegah terjadinya reproduksi seksual. Pencegahan ini merupakan hal yang diinginkan dalam kultur missal disebabkan karena keberadaan individu jantan dan kista akan mengurangi tingkat pertumbuhan populasi rotifera. Intensitas cahaya yang baik untuk kehidupan rotifer yaitu 2000-5000 lux, pH berkisar 7,5 sampai 8,5, kosentrasi amoniak bebas tidak boleh lebih dari 1 ppm. Rotifera bereproduksi setiap 18 jam sekali.

Fekunditas total untuk seekor betina secara aseksual dan dalam kondisi yang baik maka 20-25 individu baru. Kuntitas dan kualitas makanan memberikan peranan penting dalam pertubuhan rotifer.Telah ada bukti bahwa variasi dalam distribusi spasial rotifera dalam tubuh air hadir. Ada dikatakan distribusi vertikal di mana kedalaman adalah varaible kunci dalam faktor-faktor yang mempengaruhi rotifer tersebut. Kedalaman yang berbeda menyebabkan variasi suhu, oksigen, cahaya, kepadatan makanan, tekanan predator, dan faktor lainnya. Ini termasuk efek dari arus air memungkinkan spesies yang berbeda dari Rotifera untuk hadir pada kedalaman yang berbeda pada waktu tertentu.

Seiring dengan distribusi verticle, ada juga distribusi horizontal di mana spesies yang berbeda dari rotifera dapat ditemukan di sekitar tepi badan air dari mereka yang ditemukan di tengah. Faktor yang berkontribusi terhadap variasi ini meliputi gerakan gelombang dan arus, kelimpahan jenis rotifera cenderung meningkat dengan meningkatnya kelimpahan fitoplankton, dan menurun dengan meningkatnya suhu, salinitas, dan oksigen terlarut, konsentrasi oksigen, pH, dan suhu (Rimper, 2008).

Peran Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla di Perairan
Rotifera memegang peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem perairan tawar. Disatu pihak memakan serpihan-serpihan organik dan ganggang bersel satu ,dilain pihak rotifera merupakan makanan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing-cacing dan crustacea.Brachionus merupakan rotifera yang banyak dibudidayakan sebagai makanan alami untuk larva ikan dan udang. Karena berukuran kecil sekitar 300 mikro,dan berkembang biak dengan cepat,hingga cocok untuk makanan burayakikan mas yang baru habis kuning telurnya.Didaerah tropis,Brachionus mulai bertelur pada umur 28 jam ,dan setelah 24 jam telur menetas.Selama hidupnya yang 11 hari ,seekor Brachionus menghasilkan  20 butir telur.Pada habitat yang tercemar bahan organik dan berlumut,biasanya banyak dijumpai Bdelloidea seperti Philodina dan Rotaria.

Sebagaian besar larva ikan umumnya memakan tumbuhan dan atau hewan yang berukuran 4-200 mikron. Jenis tumbuhan dan hewan tersebut termasuk didalamnya adalah plankton, yakni organisme yang hidup melayang  dalam air gerakannya selalu mengikuti arus. Namun demikian dari sejumlah spesies yang diketahui tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi pemeliharaan larva, organisme yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan alami dalam pemliharaan larva harua memenuhi kriteria tertentu yaitu: ukuran sel sesuai dengan bukaan mulut larva, kandungan nutrisi cukup tinggi, mudah dicerna dan dapat diserap dalam tubuh larva, gerakannya lambat sehingga larva ikan mudah menangkapnya, mudah dikultur dan mampu bertahan hidup terhadap lingkungan yang fluktuatif salinitas, suhu, dan intensitas cahaya, pertumbuhan populasi membutuhkan waktu yang relatif cepat sehingga dengan segera dapat digunakan dalam keadaan segar dan hidup, usaha pembudidayaannya memerlukan biaya yang relatif sedikit, selama daur hidupnya tidak menghasilkan bahan beracun yang dapat membahayakan kehidupan larva.

Fisiologi Rotifera Habrotrocha pusilla atau Callidina pusilla
Tubuh yang sempit , transparan , dan tidak berwarna adalah ukuran kecil . Ini hanya mencapai 212 mm panjang . Mimbar pendek dan lebar . Roda - organ sangat kecil , dan agak lebih lebar dari setengah jarak antara mulut - ujungnya . Roda - tangkai yang dengan pengecualian dari sulkus kecil benar-benar tumbuh bersama-sama , dan hampir lebih tinggi dari diameter roda - disc . Kaki ini sangat singkat dengan tombol kecil di sisi medial dorsal pertama kaki - sendi . Taji pendek , kerucut dan tidak menyentuh . D. f .: 4/3 atau 3/3 . Hewan tetap biasanya dalam shell yang terbuat dari puing-puing . Shell berwarna coklat . Individu-individu Bohemian tertangkap adalah tanpa kerang , yang menurut Murray terjadi juga di negara-negara lain.

Penulis
M. Hafiidh
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015