Sunday, April 5, 2020

Rumput Laut (Gracilaria Sp) Pada Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)

ANALISA TINGKAT PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT JENIS GRACILARIA sp DENGAN ...

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Akuakultur berasal dari bahasa Inggris yaitu aquaculture, yang memiliki arti aqua: perairan dan culture: budidaya. Akuakultur merupakan kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit). Yang dimaksud budidaya adalah kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak (reproduksi), menumbuhkan (growth) dan meningkatkan mutu biota akuatik sehingga memperoleh keuntungan.

Dalam beberapa evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa, perikanan budidaya Indonesia menciptakan manfaat yang signifikan bagi ekonomi Indonesia melalui gabungan produksi untuk domestik dan ekspor. Kelayakan ekonomi dan nilai sistem budidaya dievaluasi menurut nilai moneter yang dihasilkannya pada tingkat negara dan juga keuntungan yang diterima oleh usaha budidaya perikanan dan kepala keluarga yang terkait.

Prakteknya, dalam budidaya perairan diperlukan adanya manajemen dalam kualitas air untuk menstabilkan parameter kualitas air, baik parameter fisika maupun parameter kimia. Manajemen kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara fitoremediasi maupun bioremediasi. Fitoremediasi adalah suatu teknologi pemanfaatan tumbuhan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kehadiran bahan pencemar (polutan) didalam tanah air. Contohnya dengan menggunakan eceng gondok dan rumput lau (Gracilaria sp.) Sedangkan Bioremediasi adalah suatu teknologi pemanfaatan mikroorganisme (jamur bakteri) untuk membersihkan senyawa pencemar (polutan) dari lingkungan. Contohnya dengan menggunakan probiotik dalam perairan kolam.

Rumusan Masalah
Apa pengertian budidaya perairan ?
Apa klasifikasi dan morfologi rumput laut (Gracilaria sp) ?
Bagaimana pengaruh rumput laut (Gracilaria sp.) terhadap budidaya ikan ?
Bagaimana pengaruh rumput laut (Gracilaria sp.) terhadap lingkungan budidaya ?

         
Tujuan Makalah
Untuk mengetahui pengertian budidaya perairan.
Untuk mengetahui klasifikasi dan morfolgi rumput lau (Gracilaria sp.)
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh rumput laut (Gracilaria sp.) terhadap budidaya ikan.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh (Gracilaria sp.) terhadap lingkungan budidaya.
         
BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN BUDIDAYA PERAIRAN
Budidaya perairan atau yang sering disebut akuakultur merupakan kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit). Terdapat tiga jenis budidaya yaitu budidaya budidaya ekstensif, budidaya intensif dan budidaya semi intensif. Dan budidaya perairan ada dua macam yaitu monokultur dan polikultur.

KLASIFIKASI RUMPUT LAUT (GRACILARIA SP)

GRACILARIA SP.
Gracilaria sp. Merupakan salah satu alga laut yang merupakan jenis alga yang berasal dari kelas alga merah. Alga ini memiliki ciri-ciri umum antara lain tumbuh bercabang membentuk rumpun dengan tipe percabangan tidak teratur, bentuk thalus pipih atau silindris, ujung thalus umumnya meruncing, permukaan thallus halus dan memiiliki garis tengah berkisa 0.5-4mm serta panjang yang dapat mencapai 30cm (Taylor,1960).

Menurut Prahastha (2010), Gracilaria sp. Hidup sebagai phytobenthic, melekat dan menancapkan thallus dengan bantuan cairan perekat pada substrat padat seperti karang mati, batuan, kayu, kulit kerang dan juga pada substrat yang berlumpur dan berpasir. Alga jenis ini juga membentuk suatu rumpun yang lebat atau rimbun yang berbelit-belit dan berkembang biak dengan seksual dan aseksual.
Klasifikasi Gracilaria sp. Menurut Dawson (1946) sebagai berikut :
Divisio
: Thallophyta
Kelas
: Rhodophyceae
Ordo
: Gigantinales
Famili
: Gracilariaceae
Genus
: Gracilaria
Spesies
: Gracilaria sp.

PENGARUH RUMPUT LAUT (GRACILARIA SP.) TERHADAP BUDIDAYA IKAN
Ada dua macam budidaya perairan yakni budidaya monokultur dan polikutur. Monokultur merupakan sebuah budidaya dengan memelihara saju jenis ikan pada wadah atau kolam yang sama, sedangkan polikultur adalah budidaya dengan memelihara dua jenis atau lebih organismepada wadah yang sama dengan tujuan efiseiensi penggunaan lahan.

Sistem budidaya polikultur dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan pendapatan petani budidaya. Perkembangan budidaya menunjukkan bahwa rumput laut dapat dibudidayakan bersama udang dan bandeng di tambak. Pengembangan budidaya rumput laut secara polikultur dengan bandeng maupun udang dimaksudkan untuk meningkatkan produksi udang dan rumput laut serta mengefektifkan penggunaan tambak dengan harapan dapat memperbaiki kualitas lingkungan budidaya.

Polikultur udang vanname dan rumput laut diharapkan dapat menghasilkan udang vanname sebagai komuditas utama dan rumput laut (Gracilaria sp.) yang merupakan komoditas sampingan untuk meningkatkan nilai tambah dan memberikan konstribusi dalam meningkatkan produksi ekspor. Pada sistem monokultur petani budidaya hanya bisa memanen satu produk dalam satu periode. Namun dengan sistem polikultur hasil panen dalam satu periode akan bertambah dengan pemanfaatan lahan luasan yang sama.

PENGARUH RUMPUT LAUT (GRACILARIA SP). TERHADAP LINGKUNGAN BUDIDAYA
Fitoremediasi dapat menjadi pilihan khususnya di perairan tambak, teknologi fitoremediasi dilakukan dengan memanfaatkan tanaman yang memiliki kemampuan menyimpan atau mengakumilasikan didalam selnya dan kemampuan memetabolisme bahan pencemar untuk kebutuhan energi dan pertumbuhan. Salah satu tanaman yang digunakan dalam teknologi fitoremediasi adalah rumput laut (Graciliaria sp.), selain daya akumulasinya tinggi terhadap Nitrogen  sehingga disebut sebagai “Nitrogen Starved Gracilaria” juga mampu memanfaatkan limbah bahan organik sebagai sumber nutrient tersebut untuk kebutuhan energi dan pertumbuhan.

Secara ekologi kawasan pertambakan termasuk kedalam ekosistem peralihan (pertemuan antara perairan tawar dan payau) memiliki tekanan yang berat, karena kebutuhan air tambak yang berkualitas amat tinggi, namun air tambak dipasok dari air laut dan sungai yang sudah banyak mengalami penurunan kualitas, padahal tambak sendiri secara internal menghasilkan limbah organik tinggi yang dapat berakibat buruk terhadap lingkungan tambak budidaya.

Dalam kegiatan budidaya perikanan, khususnya budidaya tambak udang akan menimbulkan sejumlah besar limbah nitrogen (N) dan pospor (P). Dengan sifat fitoekstraksi, dinding thalus Gracilaria mengasborbsi dan menyimpan bahan organik seperti Nitrogen dan Pospor didalam sel-sel thalus. Selanjutnya, limbah bahan organik yang tersimpan pada sel rumput laut, pada saatnya akan didegradasi dengan bantuan fotosintesis sinar matahari akan diasimilasi sehingga terbentuk energi dan sel sebagai refleksi dari pertumbuhan rumpun tanaman rumput laut tersebut.

Kebutuhan pertumbuhan rumput laut (Gracilaria sp.) hampir sama dengan kondisi lingkungan untuk kehidupan bandeng dan udang, sehingga pemanfaatan rumput laut (Gracilaria sp.) Dengan demimkian, penaman rumput laut di perariran tambak budidaya dengan kandungan nitrogen yang berlimpah kelebihan pakan, sangat menguntungkan, dimana rumput laut butuh nitrogen yang cukup untuk pertumbuhan dan disisi lain juga damapt mengurangi pencemaran N-organik yang terjadi di ekosistem perairan. Melimpahnya nutrien di perairan tambak budidaya terjadi karena adanya akumulasi dekomposisi tanaman, limbah domestik, limbah perairan dan industri.         

PENGARUH PADAT PENEBARAN GRACILARIA SP. DALAM BUDIDAYA POLIKULTUR DENGAN IKAN BANDENG (CHANOS CHANOS)
Terdapat pengaruh antara padat tebar Gracilaria sp. terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan bandeng pada budidaya sistem polikultur. Untukini mengefisiensikan relung ekologis yang kosong, dilakukan dengan menebar rumput laut (gracilaria sp) bersama dengan ikan bandeng (chanos chanos). Pemanfaat ini bertujuan untuk memberikan oksigen dan tempat berlindung bagi ikan bandeng dan memberikan nutrient atau pupuk hasil sisa metabolism dari ikan bandeng. Ikan bandeng dan rumput laut dapat hidup bersama. Hal  ini dilakukan agar dapat meningkatkan produksi dengan meningkatkan padat tebar ikan dan melakukan polikultur untuk memanfaatkan relung ekologis.

Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan tiga perlakuan, yakni kolam tanpa gracilaria, kolam dengan 250 kg gracilaria, dan kolam dengan 500 kg gracilaria. Pada hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa hasil kelangsungan hidup sebesar 99.85-100%. Hal ini karena ikan bandeng memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap perubahan suhu dan salinitas. Kebutuhan pakan dan kualitas air juga mendukung tingginya kelangsungan hidup.

Perlakuan 500 kg gracilaria sp memberikan pengaruh besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya (tanpa gracilaria sp atau 250 kg gracilaria sp). Pertumbuhan pada perlakuan 500 kg gracilaria sp ini disebabkan mendapat pakan tambahan selain plankton dan klekap, yakni thallus gracilaria sp. Bahan organic hasil metabolism dapat digunakan oleh gracilaria sp untuk pertumbuhannya. Air yang kaya akan unsur hara, bebas suspense bahan organic, dan hama pengganggu merupakan syarat bagi pertumbuhan rumput laut.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa padat penebaran gracilaria sp. Memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan panjang ikan bandeng berkisar 5.5-6.9 cm. pada perlakuan 500 kg gracilaria memberikan pengaruh yang lebih besar. Hal ini dapat disebabkan karena tidak terjadi perebutan makanan dan ukuran tambang yang sesuai. Sehingga, pakan tang ada dalam tambak sesuai dengan kebutuhan pakan ikan bandeng.

Sedangkan kualitas air pada kolam menunjukkan bahwa kolam memiliki nilai – nilai parameter yang masih sesuai dengan kisaran optimum dan masih dapat di tolerir oleh ikan bandeng. Kolam juga menunjukan tingkat kecerahan yang tinggi karena gracilaria sp. dapat mengendalikan tingkat kecerahan tambak. Nilai salinitas juga menunjukan nilai yang stabil pada kisaran 15-35 ppm yang masih berada pada rentang nilai yang optimal. Kadar oksigen dalam peraiaran juga menunjukan nilai yang baik dan berada dalam kisaran nilai optimum.

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan padat tebar 500kg gracilaria pada kolam dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Kelangsungan hidup sebesar 100%. Pertumbuhan bobot sebesar 9.26 dan pertumbuhan panjang sebesar 6.892 cm.

GRACILARIA SP. SEBAGAI PENYEIMBANG NITROGEN DAN FOSFAT DALAM BIOREMEDIASI PADA PERAIRAN BUDIDAYA
Menurut Brooker (2008), biormediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim – enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan. Peristiwa ini disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotrasnformasi berujung pada biodegradasi, saat polutan beracaun terdegradasi, strukturnya akan menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun. Budidaya marikultur yang dilakukan secara intensif pada spesies ikan, udang, kerang-keragan dan jenis komoditas akuatik lainnya tidak hanya telah meningkatkan konsentrasi nutrient pada perairan pantai saja, tetapi juga meningkatkan materi anorganik terlarut dan meningkatkan sedimentasi pada lingkungan. Dengan menggunakan sistem akuakultur multi-trofik terintegrasi (IMTA), Gracilaria sp. dapat melakukan fotosintesis dengan bantuan sinar matahari untuk menyaring nutrient dan menghasilkan oksigen. 

Overfishing dan polusi pada perairan menyebabkan panen menjadi buruk dan gagal memenuhi jumlah pasar. Penelitian polikultur antara Gracilaria chouae dengan Sparus microcephalus dilkakukan untuk mengetahui efisiensi rumput laut tersebut sebagai bioremediasi. Hasil penelitian tersebut menunjukan pertumbuhan Gracilaria chouae sebesar 8.47 gram/hari dan saat dipanen mencapai 23 kali dari berat awal saat diletakkan dalam kolam. G. chouae yang digunakan sebagai bioremediation mampu menurunkan kadar nitrogen fosfor sebesar 0.971ppm menjadi 0.570ppm dan 0.052 menjadi 0.028ppm. Hal ini menunjukan bahwa G. chouae dapat digunakan sebagai penurun kadar nitrogen dan fosfat dalam perairan hingga 40%. Pada penelitian lain menunjukan bahwa untuk genus Gracilaria memiliki fungsi sebagai bioremediasi pada perairan karena mampu merubah senyawa organic dan mengurangi jumlahnya dalam perairan sehingga mengurangi tingkat eutrofikasi.

Sedangkan, untuk Gracilaria lemaneiformis dapat menurunkan sekitar 5% konsentrasi nitrogen anorganik yang terlarut dan 27% konsentrasi fosfor anorganik yang terlarut dalam perairan. Pada sistem budidaya polikultur komoditas Litopenaeus vannamei dengan Gracilaria sp. ditemukan bahwa Gracilaria sp. dapat menurunkan Kebutuhan oksigen kimia, nitrogen, dan fosfor.

Sebelum dilakukannya penebaran Gracilaria sp. kolam mengalami eutrofikasi, namun setelah dilakukannya kultivasi, kandungan bahan organic dalam perairan mengalami penurunan dan cenderung kembali ke kondisi normal. Sedangkan untuk pertumbuhan rumput laut sendiri mengalami pertumbuhan yang pesat.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Gracilaria sp. memiliki pengaruh pada budidaya ikan, baik pada lingkungan budidaya maupun pada komoditas yang dibudidayakan. Pada lingkungan budidaya, Gracilaria sp. dapat berperan sebagai fitoremedian, bioremediasi, penyeimbang bahan anorganik yang terlarut dalam perairan. Sedangkan pada komoditas yang dibudidayakan, Gracilaria sp. memiliki pengaruh sebagai penyedia tempat berlindung dari sinar matahari, penyedia pakan alami, dan memberi nutrisi tambahan pada ikan.

SARAN
Sebaiknya dilakukan penelitan lebih mendalam terhadap pengaruh Gracilaria sp. pada air perairan budidaya dan juga pengaruhnya terhadap komoditas yang sedang dibudidayakan baik secara kandungan gizi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan.

PENULIS
Kiki Nur Azam K.
Ema Ladiana Farida    
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery  Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Brooker, R. 2008. Biology. New York : McGraw-Hill. 1392 hal.
Huo, Y., H. Wu, Z. Chai, S. Xu, F. Han, L. Dong, dan P. He. 2012. Bioremediation effieciency of Gracilaria verrucosa for an integrated multi-trophic aquaculture system with Pseudosciaena crocea in Xiangshan Harbor, China. Aquaculture. 326-329 : 99-105.
Komarawidjaja, W. 2005. Rumput Laut Gracilaria sp. sebagai Fitoremedian Bahan Organik Perairan Tambak Budidaya. Jurnal Teknik Lingkungan 6(2) : 410-415.
Prahastha, I. 2010. Produksi Etanol dari Rumput Laut ¬Sargassum sp. dan Limbah Agar Gracilaria sp. [Skripsi]. Departemen Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
Priono, B., S. Andriyanto, dan I. Insan. 2012. Polikultur Rumput Laut (Gracilaria verrucosa) dengan Bandeng di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Media Akuakultur. 7(1) : 26-31.
Reksono, B., H. Hamdani, dan Yuniarti M.S. 2012. Pengaruh Padat Penebaran Gracilaria sp. Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos chanos) pada budidaya sistem polikultur. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3(3) : 41-49.
Wu, H., Y. Huo, F. Han, Y. Liu, dan P. He. 2015. Bioremediation using Gracilaria chouae co-cultured with Sparus microcephalus to manage the nitrogen and phosphorus balance in an IMTA system in Xiangshan Bay, China. Marine Pollution. 91 (2015). 272-279.

No comments:

Post a Comment