Monday, April 27, 2020

Ikan Sapu-Sapu; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Sapu-Sapu berasal dari Amerika Selatan. Menurut Hasanah (2019), Ikan Sapu-Sapu yang ada di Indonesia merupakan hasil introduksi dari Brazil (Rueda-Jasso dan Mendoza, 2013). Ikan ini juga dikenal dengan sebutan janitor fish atau ikan pembersih karena memakan alga yang berada di dasar perairan. Penyebarannya dimulai dari Amerika Latin kemudian ke berbagai negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, Filipina melalui kolektor ikan hias yang minat dengan ikan ini (Jumawan, et al 2016). Ikan sapu-sapu pada masa awal diperkenalkan banyak menjadi peliharaan di akuarium, namun ikan ini dapat tumbuh dengan cepat dan memakan apa saja. Hali ini yang menjadikan ikan tersebut kemudian dibuang ke sungai oleh kolektor atau pemilik akuarium dan menjadi invasif di alam (Wu, et al, 2011). Di sungai, ikan sapu-sapu mendiami habitat yang perairan dangkal memiliki arus lambat, dasar perairan yang landai atau berbatu (Hosain, et al, 2018)

Menurut Qoyyimah, et al. (2016), Ikan sapu-sapu merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk dalam invasive species. Invasive species dapat menjadi predator maupun kompetitor terhadap spesies asli (Hill & Lodge 1999), selain itu ikan ini dapat menyebabkan hibridisasi tidak terduga (Mallet 2007). Keberadaan ikan sapu-sapu dapat diketahui dari lubang lubang yang terlihat dalam bentuk kumpulan di sepanjang lereng pinggir sungai. Lubang tersebut berfungsi sebagai tempat peletakkan telur ikan (Nico et al. 2012).

Menurut Qoyyimah, et al. (2016), Genus ikan sapu-sapu yang ada di Indonesia adalah Pterygoplichthys (Page dan Robins, 2006). Genus tersebut memiliki 22 spesies (Fishbase, 2015). Page dan Robins (2006) mengatakan bahwa di Indonesia hanya terdapat 2 spesies ikan sapu-sapu, yaitu P.pardalis dan P.disjunctivus. Muthmainnah (2008), menyatakan bahwa kelimpahan ikan sapu-sapu di bagian hili sungai Ciliwung (area Jakarta Selatan) sangat tinggi yaitu 58 individu per meter persegi.

KLASIFIKASI IKAN SAPU-SAPU
Menurut Kotellat et al. (1993) dalam Istanti (2005), klasifikasi ikan sapu-sapu adalah sebagai berikut:
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Kelas
: Pisces
Ordo
: Siluridea
Famili
: Loricarinae
Genus
: Hypostosmus

: Hyposarcus
Spesies
: Hypostosmus sp

: Hyposarcus pardalis

HABITAT IKAN SAPU-SAPU
Habitat asli ikan sapu-sapu adalah sungai dengan aliran air yang deras dan jernih, tetapi dapat juga hidup di perairan tergenang seperti rawa dan danau. Ikan sapu-sapu dapat hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah, sehingga hanya sedikit spesies lain yang dapat hidup di perairan tersebut (sampai hanya ikan sapu-sapu yang dapat bertahan hidup) (Istanti, 2005).

Ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan tepatnya dari Argentina Utara, Uruguay, Paraguay, dan Brazil bagian Selatan yaitu di sungai Rio de Plate, Rio Paraguay, Rio Panama dan Rio Uruguay (Kottelat et al. 1993 dalam Istanti 2005). Selain terdapat di kawasan Jakarta dan sekitarnya, ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis) sudah menyebar hingga di kawasan Depok bahkan daerah Bogor dengan jumlah yang sangat besar (Prihardhyanto 1995 dalam Istanti 2005).

Menurut Qoyyimah, et al. (2016), Ikan sapu-sapu dapat ditemukan pada berbagai lokasi, salah satunya adalah sungai Ciliwung. Sungai tersebut merupakan aliran yang berasal dari Gunung Pangrango yang melewati Bogor, Depok, dan berakhir pada teluk Jakarta (Hendrawan, 2008). Sungai Ciliwung termasuk sungai di Indonesia yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai di dunia yang memiliki tingkat polusi sangat tinggi. Penyebab polusi terbesar di sungai tersebut adalah limbah domestik (International River Foundation, 2011).

Menurut Qoyyimah, et al. (2016), Berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh (Wowor, 2010), pada tahun 1910 ditemukan 187 jenis ikan yang hidup pada DAS Ciliwung. Tahun 2009 hanya terdapat 20 jenis ikan dengan 5 jenis lainnya adalah jenis asing. Penurunan keanekaragaman jenis ikan di sungai Ciliwung tercatat mencapai 92,5% pada tahun 2010. Penurunan populasi ikan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pembangunan vila pada bagian hulu, pembangunan rumah dan kantor pada bagian tengah, sedangkan bagian hilir sudah tidak memiliki ruang terbuka hijau (Wibawa et al. 2010). Penurunan populasi ikan juga dapat disebabkan oleh keberadaan ikan sapu-sapu, karena tidak terdapat predator yang memakan ikan tersebut. Hal tersebut menyebabkan ikan sapu-sapu dapat mendominasi suatu wilayah perairan (Hadiaty, 2011).

FISIOLOGI IKAN SAPU-SAPU
Berdasarkan ususnya yang panjang dan tersusun melingkar seperti spiral, ikan sapu-sapu dapat dikelompokkan ke dalam jenis ikan herbivora. Sedangkan berdasarkan relung makannya yang luas maka ikan sapu-sapu dikelompokkan ke dalam jenis eurifagik (ikan pemakan bermacam-macam makanan ) (Prihardhyanto 1995 dalam Istanti 2005).

MORFOLOGI IKAN SAPU-SAPU
Ikan sapu-sapu memiliki tubuh yang ditutupi dengan sisik keras kecuali bagian perutnya, bentuk tubuh pipih, kepala lebar, mulut terletak dibagian kepala dan berbentuk cakram, memiliki adifose fin yang berduri. Semua sirip kecuali ekor selalu diawali dengan jari-jari keras. Sirip punggung lebar dengan tujuh jarijari lemah (Hypostosmus sp) atau 10-13 jari-jari lemah (Hyposarcus pardalis), warna tubuh cokelat atau abu-abu dengan bintik-bintik hitam diseluruh tubuhnya (Kottelat et al ., 1993 dalam Istanti 2005).

Diperkuat Menurut Elfidasari, et al. (2016), Ikan sapu-sapu secara morfologi memiliki tubuh yang ditutupi dengan sisik keras yang fleksibel. Bentuk kepala ikan Ordo Siluriformes adalah “picak” atau depressed (Bhagawati et al. 2013). Bagian abdomen memiliki pola titik-titik putih besar dengan beberapa pola menyatu yang dilengkapi dengan mulut penghisap pada bagian bawah (Hoover et al. 2004). Terdapat sirip dorsal sebanyak 9-14 buah pada ikan sapu-sapu jenis Pterygoplichthys disjunctivus. Sirip dada dilengkapi dengan duri kecil yang berbentuk seperti gigi. Umumnya ikan sapu-sapu Pterygoplichthys mampu mencapai ukuran 40 cm atau lebih. Ikan tersebut dapat mencapai panjang 35 cm dalam waktu 2 tahun (Page 1994; Nico & Martin 2001). Spesies P. disjunctivus seringkali disamakan dengan P.pardalis. Kedua spesies tersebut diketahui memiliki perbedaan pada bagian abdomen. P.disjunctivus memiliki pola yang berlekuk-lekuk sedangkan P.pardalis dengan pola titik-titik hitam yang terpisah (Page 1994).

CIRI-CIRI IKAN SAPU-SAPU
Ikan sapu-sapu memiliki warna coklat hitam ke hitaman  pekat dan diselingi oleh strip lurus vertikal warna putih dan kekuningan yang tipis yang dimulai dari bagian tubuh paling atas ke bagian tubuh paling bawah. Ikan sapu-sapu ini dapat tumbuh hingga berukuran 15 cm dan akan memiliki semacam tanduk-tanduk halus di atas wajahnya bagi yang berkelamin  jantan, dan hanya ada sedikit tanduk bagi yang berkelamin betina (Ariana, 2013).

REPRODUKSI IKAN SAPU-SAPU
Untuk reproduksinya, ikan sapu sapu mencapai usia matang kelamin minimal 3 tahun dengan ukuran minimal 8 cm. Mereka berkembangbiak dengan sistem koloni. Biasanya satu koloni dihuni oleh beberapa jantan dominan dengan  jumlah betina 2 -4 kali lipat jumlah jantan. Koloni paling kecil berjumlah 3 ekor dengan jantan 1 ekor dan betina 2 ekor. Sekali bertelur, betina dapat mengeluarkan 7 sampai 15 butir telur saja. Jantan akan mengerami telurnya sampai menetas dan terus menjaga anak-anaknya sampai mereka dapat berenang dan mencari makan sendiri. Sedangkan dari telur sampai mencapai ukuran 5 cm diperlukan waktu minimal 6 bulan. Laju reproduksi ikan sapu sapu relatif lambat, karena memang jenis ikan ini sangat lambat dalam mencapai kondisi matang kelamin. Selain itu,  pertumbuhannya pun terbilang lama (Ariana, 2013).

PERAN IKAN SAPU-SAPU DI PERAIRAN
Banyaknya jumlah ikan sapu-sapu dapat digunakan sebagai indikator perairan tercemar oleh limbah.Besarnya pencemaran pada suatu lingkungan habitat dapat diketahui dengan menggunakan biota akuatik sebagai bioindikator (Salbiah et al., 2009 dalam Saputro 2012). Ikan merupakanbiota air yang dapat dijadikan sebagai salah satu bioindikator tingkat pencemaran dalam perairan (Supriyanto, dkk., 2007 dalam Saputro 2012). Pada penelitian ini sampel yang dipilih adalah ikan sapu-sapu, karena jenis ikan ini memiliki populasi yang tinggi di sungai Pabelan. Ikan Sapu-sapu merupakan salah satu jenis ikan yang mampu hidup di perairan kotor dan berlumpur (Ratmini, 2009 dalam Saputro 2012).

TINGKAH LAKU IKAN SAPU-SAPU
Jika diamati cara makan ikan sapu-sapu, gerakannya yang lambat dan cenderung menetap di dasar perairan, dengan kemampuan hidup yang kuat, ikan ini cenderung memiliki kandungan logam berat yang hampir sama dengan lingkungan tempat hidupnya (Ariana, 2013).

MANFAAT IKAN SAPU-SAPU
Hasil uji proksimat pada ikan sapu-sapu yang dilakukan oleh Hutasoit, Yusni, dan Lesmana, (2015). Menunjukkan nilai protein sebesar 26,23%, lemak sebesar 15%, karbohidrat sebesar 5,42%, air sebesar 13% dan abu sebesar 6%. Ikan sapu-sapu di Indonesia umumnya hanya dimanfaatkan sebagai ikan hias yang dapat membersihkan akuarium (U.S. Fish and Wildlife Service, 2012). Ikan sapu-sapu yang hidup di sungai Ciliwung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber mata pencaharian dengan cara ditangkap dan dijual ke pengepul. Selanjutnya ikan dijadikan bahan pembuatan somay, kerupuk dan olahan makanan lainnya. Potensi ikan sapu-sapu untuk dijadikan sumber gizi atau suplemen alternatif belum banyak diteliti (Hasanah, 2019).

PENULIS
Refika Rahayu
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Ariana. 2013. Kultur  Ikan  Hias  Ikan Sapu Sapu (Hypostomus Plecostomus). Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan Universitas Hasanuddin Jurusan Perikanan: Makasar 
Dr. K Rama Rao and Venugopal Sunchu. 2017. Gambar Ikan Sapu-Sapu International Journal of Fisheries and Aquatic Studies 2017; 5(2): 249-254
Elfidasari, D., F. D. Qoyyimah., M. R. Fahmi., Dan R. L. Puspitasari. 2016. Variasi Ikan Sapu-Sapu (Loricariidae) Berdasarkan Karakter Morfologi Di Perairan Ciliwung. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains Dan Teknologi, Vol. 3, No.4. 221-225.
Hasanah, M. 2019. Potensi Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Berbagai Ukuran Dari Sungai Ciliwung Sebagai Sumber Asam Lemak Esensial. SKRIPSI. Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 42 Halaman.
Istanti, I. 2005. Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Karakteristik Kerupuk Ikan Sapu-Sapu (Hyposarcus Pardalis). Skripsi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan: Ipb
Qoyyimah, F. D., D. Elfidasari., Dan M. R. Fahmi. 2016. Identifikasi Ikan Sapu-Sapu (Loricariidae) Berdasarkan Karakter Pola Abdomendi Perairan Ciliwung. Jurnal Biologi Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar Indonesia. 20 (1): 40-43.
Saputro, A, Et Al. 2012. Identifikasi Kualitatif Kandungan Logam Berat (Pb, Cd, Cu, Dan Zn) Pada Ikan Sapu-Sapu (Hypostomus Plecostomus) Di Sungai Pabelan Kartasura Tahun 2012. Pendidikan Biologi Fkip: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

No comments:

Post a Comment