Tuesday, April 28, 2020

Ikan Corydoras Atau Ikan Tikus; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll


Corydoras sp. Termasuk dalam familia collichthyidae, kelas siluridae dan sangat dikenal olah para hobiis ikan hias air tawar. Genus Corydoras yang berasal dari amerika selatan ini mempunyai banyak spesies tetapi yang banyak beredar dan sudah dibudidayakan ada 10 spesies yaitu Corydoras aeneus, Corydoras adolfoi, Corydoras barbatus, Corydoras paleatus, Corydoras panda, Corydoras pygmaeus, Corydoras rabauti, Corydoras septentrionalis, Corydoras sterbai, dan Corydoras sychri. Selain ukurannya yang umumnya kecil (maksimum 7,5 cm) dibandingkan dengan jenis catfish lain, jenis ini mempunyai dua baris sisik keras. Bentuk badannya kompak agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah. Hidup merayap di dasar pada suhu 24°c--28°c (tergantung spesiesnya); ph 7,0--7,5; dan hardness sekitar 10° dh. Disebut “tukang bersihbersih” karena senang membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya. Tingkah laku reproduksinya amat unik. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya kearah genital induk jantan yang dikenal dengan “posisi t” dan akan mengisap spermanya. Sperma ini akan dilepas melewati usus bersama dengan lepasnya telur kedalam “kantong” yang dibentuk oleh kedua sirip perutnya. Pembuahan efektif terjadi di sini. Kemudian telur akan dilekatkan ke substrat atau objek (daun, batu datar, dan sebagainya) yang sebelumnya telah dibersihkan oleh induk jantannya. Telur yang ditinggalkan akan menetas di substrat bila kondisi airnya sesuai dan cukup baik (Satyani, 2008).

Genus ini mempunyai banyak spesies. Menurut Sterba (1983), tercatat ada 95 spesies tetapi Matsuzaka (1993) dalam Kohda et al. (1995) telah menemukan ada 120 spesies. Namun demikian, yang banyak beredar di pasar dan sudah dibudidayakan di Indonesia khususnya daerah Jabodetabek adalah sekitar 10 spesies dan hanya 4 (empat) spesies yang banyak dibudidayakan di Jabodetabek, yaitu: Corydoras aeneus, Corydoras adolfoi, corydoras barbatus, corydoras paleatus, corydoras panda, Corydoras pygmaeus, Corydoras rabauti, Corydoras septentrionalis, Corydoras sterbai, dan Corydoras sychri. dari 10 spesies terdapat lagi varietas albino yaitu pada Corydoras aeneus, Corydoras paleatus, dan Corydoras sterbai. Jenis-Jenis Ikan Corydoras Menurut Satyani (2008):

Corydoras aeneus disebut juga sebagai bronze corydoras. warnanya adalah coklat hijau kemerahan seperti perunggu. ukuran maksimalnya 6,0 cm. mempunyai varietas albino dengan badan putih dan mata merah.

Corydoras adolfoi dengan nama umum adolfo’s cory. ukuran maksimalnya 6,0 cm. warnanya putih kebiruan dengan pita hitam vertikal pada daerah mata. pita ini terdapat membujur di punggung mulai dari ujung sirip punggung sampai ke pangkal ekor. ada warna kuning sampai merah terang di antara kedua pita tersebut.

Corydoras barbatus dengan nama umum giant corydoras atau barbatus catfish. merupakan corydoras yang berukuran paling besar yaitu mencapai 8 cm. disebut juga “king of corys”. warnanya coklat dengan bercak hijau kehitaman di seluruh tubuh sampai ke sirip-siripnya.

Corydoras paleatus disebut sebagai peppered corydoras. spesies dengan habitat bersuhu optimum yang lebih rendah dari yang lain (18°c--20°c), terutama saat pemijahan (geis, 2000). warnanya coklat gelap, lebih gelap dari corydoras aeneus. di sekitar kepala warna agak kebiruan. ukuran maksimalnya 7,5 cm. varietas albino berwarna putih dengan mata merah terang.

Corydoras panda atau panda’s cory. warna jenis ini putih agak kemerahan (pink) dengan pita atau garis lebar melintang di daerah kepala dan ekor. sirip punggung juga hitam. ukurannya mencapai 5,0 cm; yang kecil warnanya lebih terang dan bagus dari yang besar, sehingga yang laku di pasaran umumnya yang ukuran kecil di bawah 5,0 cm.

Corydoras pygmaeus atau pygmy cory. ukuran maksimalnya hanya 3,0 cm. warnanya kuning mengkilat agak coklat hijau seperti perunggu terang. ciri khasnya adanya pita hitam di tengah badan membujur mulai dari ujung mulut sampai ke pangkal ekor.

Corydoras rabauti dengan nama umum myer’s catfish. ukuran maksimal 6,0 cm. warnanya hijau kehitaman dengan punggung yang agak lebih gelap. matanya relatif besar dibanding corydoras lainnya.

Corydoras septentrionalis atau biasa disebut southern green cory. ukuran maksimal 6,0 cm. warnanya hijau agak gelap dengan bercak lebar hijau kehitaman di tiga tempat yaitu ujung daerah kepala, tengah, dan badan belakang dekat ekor. bentuk badannya lebih panjang atau langsing dibanding jenis yang lain.

Corydoras sterbai disebut juga Sterba’s Cory. Warnanya coklat dengan lurik (titik-titik halus berjajar) coklat tua. Sirip dada dan perut berwarna jingga terang. Ukuran dapat sampai 7,5 cm. Varietas albino luriknya tidak jelas.

Corydoras sychri yang disebut juga Dotted Cory. Ukuran maksimal adalah 5,0 cm. Warnanya putih dengan bintikbintik coklat hitam di seluruh tubuhnya. Ada pita lebar vertikal memotong daerah mata dari atas ke bawah.

KLASIFIKASI IKAN CORYDORAS
Klasifikasi ikan Corydoras panda menurut Hoedemen (1975) dalam Mudjiutami (2000) adalah sebagai berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Subordo : Siluroidei
Famili : Callichthydae
Genus : Corydoras
Spesies : Corydoras panda

HABITAT IKAN CORYDORAS
Habitat ikan ini di sungai sungai dan rawa-rawa, Genus Corydoras berasal dari perairan Amerika Selatan yaitu daerah Brazil, Trinidad sampai Argentina (Alderton, 1997; Axelrod et al., 1995; Sakurai et al., 1990). Ikan ini termasuk dalam familia Collichthyidae, Kelas Siluridae.

Ikan corydoras berasal dari kawasan Amerika Selatan, yaitu Brazil, Uruguay, Argentina, Venezuela, Colombia, dan Afrika, yakni Trinidad. Kisaran suhu air yang cocok untuk corydoras bergantung kepada ketinggian tempat ditemukan ikan ini, yaitu sekitar 10 – 12C di daerah subtropis dan hingga 32C di daerah tropis. Suhu pemeliharaan yang optimal untuk ikan corydoras adalah 22 – 27C dengan nilai pH air yang baik antara 6 – 8 dan kesadahan 90 – 180 mg/liter CaCO 3 (Mudjiutami, 2000). 

Corydoras merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang banyak diminati pencinta ikan hias dan mempunyai peluang ekspor. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan, tetapi sejak lama telah berhasil dibudidayakan di Indonesia (Radman, 2008).

FISIOLOGI IKAN CORYDORAS
Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut khas kelompok "Catfish". Sungut ini berjumlah dua pasang di atas dan di bawah mulut, yang berfungsi sebagai sensor atau peraba dalam mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000). Namun tidak seperti kebanyakan catfish yang tidak bersisik, tubuh Corlrloras diliputi oleh dua baris sisik besar yang clisebut plate (Sterba, 1983).

Corydoras bersifat omnivora tetapi senang pakan alami. Pakannya adalah cacing, kutu air, maupun hewan air lain yang kecil. Ikan ini juga menggunakan usus untuk bernafas, mengambil udara melalui mulut dan melewati perut sampai keujung usus (Kohda et al., 1997). Oksigen akan terserap langsung ke peredaran darah melalui usus yang sudah termodifikasi dengan banyak pembuluh darah (Sakurai et al., 1990; Bailey & Sandford, 1999). Kemampuan inilah yang akan memfasilitasi dalam melewatkan sperma secara cepat saat pemijahan (Satyani, 2008).

MORFOLOGI IKAN CORYDORAS
Ciri-ciri morfologi dari genus Corydoras antara lain tubuhnya pendek dan gemuk, punggung lebih melengkung dibanding perut, kedua sisi ikan dilengkapi dengan lempengan seperti tulang yang tersusun dalam dua baris, serta pada rahang atas dan bawah terdapat dua pasang kumis (Mudjiutami, 2000).

Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut khas kelompok "Catfish". Sungut ini berjumlah dua pasang di atas dan di bawah mulut, yang berfungsi sebagai sensor atau peraba dalam mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000).

Namun tidak seperti kebanyakan catfish yang tidak bersisik, tubuh Corydoras diliputi oleh dua baris sisik besar yang disebut plate (Sterba, 1983). Sirip dada dan sirip perut sepasang sementara sirip punggung dan yang lainnya tidak berpasangan. Sirip dada mempunyai tulang lancip dan keras yang digunakan sebagai senjata. Corydoras juga sering mengeluarkan bunyi seperti catfish lain, terutama saat pemijahan atau stress (ditangkap).

Menurut Geis (2000), bunyi terjadi dari gesekan pada sendi sirip dengan gelembung renang sebagai pengeras (sound system). Ikan ini hidup merayap di dasar perairan dengan suhu optimal 24 - 280 C (tergantung spesies), pH antara 7 – 7,5 dan kesadahan 100 dH (Alderton, 1997 ; Axelrod et al., 1995 ; Mills, 1986 ; Sakurai et al., 1990).

Diperkuat menurut Satyani (2008), Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut atau kumis khas kelompok “Catfish”. Sungut berjumlah 2 (dua) pasang di atas dan di bawah mulut berfungsi sebagai sensor atau radar untuk mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000). Tidak seperti kebanyakan catfish yang tidak besisik, Corydoras badannya diliputi oleh dua baris sisik besar yang disebut plate (Sterba, 1983). Sirip dada dan perut sepasang, sementara sirip yang lain tunggal. Sirip dada jari-jari pertamanya terdiri atas tulang yang lancip dan keras digunakan sebagai senjata. Corydoras juga sering mengeluarkan bunyi seperti ikan catfish lain, terutama saat pemijahan atau stres (ditangkap). Menurut Geis (2000), bunyi terjadi dari gesekan pada sendi sirip dengan gelembung renang sebagai pengeras (sound system).

CIRI-CIRI IKAN CORYDORAS
Warna tubuhnya kuning atau coklat muda dengan tanda hitam menyilang di beberapa bagian tubuh, yaitu mata, sirip punggung, dan ekor. Perpaduan warna ditubuhnya tersebut menyebabkan penampilan mirip panda sehingga dinamakan Corydoras panda (Mudjiutami, 2000).

Bentuk badan kompak, bungkuk di punggung, agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah dan dilengkapi dengan sungut khas kelompok "Catfish". Sungut ini berjumlah dua pasang di atas dan di bawah mulut, yang berfungsi sebagai sensor atau peraba dalam mencari makan maupun saat perkawinan (Geis, 2000).

REPRODUKSI IKAN CORYDORAS
Menurut Lesmana dan Dermawan (2004), biasanya Corydoras panda akan bertelur atau memijah pada pagi hari sekitar pukul 06.30 – 07.30 waktu setempat. Pemijahan Corydoras panda dapat berlangsung secara massal dengan perbandingan jantan betina 1 : 2 – 4. Setelah didapatkan induk yang siap pijah, induk diukur panjang tubuhnya dan ditimbang berat tubuhnya terlebih dahulu. Setelah semua siap, kemudian induk dimasukkan dalam akuarium pemijahan. Setelah induk dimasukkan dalam akuarium pemijahan, kemudian pengamatan dilakukan 2 minggu yang digunakan induk untuk proses adaptasi pada akuarium yang baru. Ikan Corydoras panda ini suka pada tempat yang gelap. Terlebih lagi pada saat mereka kawin, mereka lebih suka pada tempat yang tenang dan tidak berisik, maka dari itu dibuat akurium yang gelap dengan mendesain akuarium yang telah ditutupi dengan plastik hitam.

Tingkah laku dalam reproduksinya amat unik. Sebelum memijah induk jantan dan betina yang sudah matang gonad akan berenang berendengan mencari tempat untuk meletakkan telur (sarang). Waktu bertelur biasanya jam 5.00 - 7.00 pagi (setelah subuh sampai matahari terbit). Walaupun mereka ikan dasar, tetapi untuk tempat telur biasanya dipilih tempat di kolom air, pada dinding akuarium, potongan paralon, batang dan permukaan dan atau obyek lain. Peternak umumnya memberikan potongan paralon sebagai sarang. Tempat tersebut akan dibersihkan permukaannya dengan mulut. Jantan umumnya lebih aktif daripada betina (Axelrod dan Vordenwinkler, 1983).

Sesudah itu induk akan lebih aktif berenang, sesekali mereka bersinggungan. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya di lubang genital jantannya dan dikenal dengan "posisi T" dan sperma akan diisapnya (Kohda et al., 1995).

Ovulasi akan teljadi setelah itu dan induk akan diam di dasar selama 1 – 1,5 menit, telur yang keluar sebanyak 2 - 5 butir ( Sterba, 1983 ; Geis, 2000). Telur ini akan ditempatkan di "kantong" yang dibentuk oleh pasangan sirip perut yang dibengkokkan (seperti tangan tengadah). Setelah itu baru induk betina membawanya ke tempat yang sudah dibersihkan dan rneletakkan telur disitu. Sementara induk jantan akan selalu menunggu di belakang betina untuk proses ulang. Proses ini diulangi beberapa kali sampai telur semua terevolusi. Biasanya satu induk mengeluarkan 50 – 200 butir telur tergantung dari spesiesnya (Sterba, 1983; Sakurai et al., 1990).

Tingkah laku reproduksinya juga sangat unik. Biasanya dipijahkan secara massal dalam bak atau akuarium dengan perbandingan jantan dan betina 1:3 atau 1:4. Waktu memijah adalah saat musim penghujan. Sebelum memijah induk jantan dan betina yang sudah matang gonad akan berenang berendengan mencari tempat untuk meletakkan telur (sarang). Waktu bertelur biasanya pukul 05.00--07.00 pagi (setelah subuh sampai matahari terbit). Walaupun termasuk ikan dasar tetapi untuk tempat telur biasanya dipilih di kolom air, pada dinding akuarium, potongan paralon yang digantung, batang, dan permukaan daun atau objek lain. Peternak umumnya memberikan potongan paralon sebagai sarang. Tempat tersebut akan dibersihkan permukaannya dengan mulut, jantan akan lebih aktif dari yang betina (Axelrod & Vordenwinkler, 1983) dalam (Satyani, 2008).

Sesudah selesai membersihkan tempat telur, induk akan aktif berenang kesana kemari dan sesekali mereka bersinggungan. Kadang mengeluarkan suara. Sebelum ovulasi terjadi induk betina akan menempatkan mulutnya di lubang genital jantannya dan dikenal dengan “Posisi T” dan sperma akan diisapnya (Kohda et al., 1995; Bailey & Sandford, 1999) dalam (Satyani, 2008).

Ovulasi akan terjadi setelah itu dan induk betina akan diam di dasar selama 1,0--1,5 menit, telur yang keluar sebanyak 2--5 butir (Sterba, 1983; Geis, 2000). Telur ini akan ditempatkan di “kantong” yang dibentuk oleh pasangan sirip perut yang dibengkokkan (seperti tangan ditangkupkan). Setelah itu baru induk betina membawanya ke tempat objek yang sudah dibersihkan dan dilekatkan di situ. Sementara induk jantan akan selalu menunggu di belakang betina untuk proses ulang. Proses ini akan berulang sampai semua telur terovulasi yaitu sebanyak 50--200 butir sekali pemijahan tergantung dari spesiesnya (Sterba, 1983; Sakurai et al., 1990; Bailey & Sandford, 1999). Telur-telur akan ditinggalkan dan tidak dirawat oleh induknya (Satyani, 2008).

Ada banyak teori mengenai bagaimana cara pembuahan pada Corydoras ini. Ada pendapat sperma disemprot dari mulut ke bawah badan betina, pada saat ia diam di dasar wadah, kemudian membuahi telur di “kantong”. Pendapat lain adalah sperma disemprotkan ke tempat telur yang disediakan, lalu dibuahi di tempat itu. Ada lagi pendapat bahwa sperma mengalir sepanjang badan betina sampai ke “kantong” (Axelrod & Vordenwinkler, 1983; Sterba, 1983; Sakurai et al., 1990; Matsuzaka, 1993 dalam Kohda et al., 1995). Tetapi dari penelitian Kohda et al. (1995) yang mengikuti jalan sperma dengan cairan berwarna seperti Metil Biru didapatkan hasil bahwa sperma ini ditelan oleh induk betina melewati usus dan dikeluarkan bersamaan saat ovulasi kedalam “kantong”. Pembuahan efektif terjadi di “kantong” itu pada saat induk berdiam di dasar wadah (Satyani, 2008).

Tingkah laku reproduksi lebih dari 20 spesies Corydoras telah dilaporkan berlangsung seperti di atas dan diduga hampir semua spesies seperti itu (Kohda et al., 1995). Menurut Kohda et al. (1995), ada 3 (tiga) kondisi karakteristik yang dapat memfasilitasi proses pemijahan seperti di atas dapat berlangsung yaitu: (1) usus Corydoras yang amat pendek, (2) letak sirip perut yang amat dekat dengan lubang anus, dan (3) seringnya ikan mengambil udara lewat mulut untuk bernafas melalui usus. Kondisi nomor 3 (tiga) ini memberikan kebiasaan yang baik dalam melewatkan sperma melalui usus (Satyani, 2008).

Telur Corydoras merupakan telur yang melekat (adhessive eggs). Perlekatannya amat erat dan susah untuk diambil atau dipindahkan dari objeknya. Para peternak umumnya memindahkan telur yang akan ditetaskan bersama dengan sarangnya atau induknya yang dipindahkan saat inkubasi. Telur akan menetas 2--3 hari tergantung dari suhu dan akan mulai berenang sesudah 5--6 hari. Sayang bahwa informasi mengenai reproduksi ikan ini di alam atau habitatnya hampir tidak ada. Tetapi dengan adanya proses sperma yang aktif dalam “kantong” kecil diduga merupakan adaptasi terhadap lingkungan dalam memberikan efektivitas pembuahan. Demikian pula telur yang melekat sangat erat pada objek yang tidak mudah hanyut dalam air berarus yang merupakan habitat ikan Corydoras di alam (Burgess, 1992; Matsuzaka, 1993 dalam Kohda et al., 1995) dalam (Satyani, 2008).

Tingkah laku dari ikan Corydoras terutama dalam reproduksinya adalah amat unik. Proses yang unik yaitu menelan sperma untuk pembuahan yang efektif dalam “kantong” di mana telur yang akan ditempatkan diduga merupakan evolusi dari adaptasi ikan kecil dalam lingkungan perairan yang berarus untuk mempertahankan generasinya (Satyani, 2008).

PERAN IKAN CORYDORAS DI PERAIRAN
Genus ini mempunyai banyak spesies. Menurut Sterba (1983), tercatat ada 95 spesies tetapi Matsuzaka (1993 dalam Kohda et al., 1995) telah rnenemukan ada 120 spesies. Namun demikian yang banyak dibudidayakan oleh petani saat ini hanya empat spesies yaitu Corydoras aeneus, Corydoras paleatus, Corydoras panda dan Corydoras sterbai. dari spesies tersebut varietas albino terdapat pada Corydoras aeneus dan Corydoras sterbai. Ikan ini berperan sebagai penyeimbang rantai makanan di lingkungan tempat tinggalnya, yaitu menjadi sumber energi bagi predator.

TINGKAH LAKU IKAN CORYDORAS
Corydoras merupakan ikan dasar dan senang merayap. Pakan yang tenggelam atau di dasar merupakan yang paling baik untuknya seperti cacing sutera (Tubnifex sp.), cacing darch (Chironomus sp.), atau pakan buatan tenggelam. Pada waktu kecil ikan senang berkelompok terutama dekat atau pada substrat. Sesudah dewasa bersifat soliter, walaupun di alam Corydoras yang sejenis atau sewarna akan berenang dalam rombongan (Sakurai et al., 1990).

Tingkah laku dalam reproduksinya amat unik. Sebelum memijah induk jantan dan betina yang sudah matang gonad akan berenang berendengan mencari tempat untuk meletakkan telur (sarang). Waktu bertelur biasanya jam 5.00 - 7.00 pagi (setelah subuh sampai matahari terbit). Walaupun mereka ikan dasar, tetapi untuk tempat telur biasanya dipilih tempat di kolom air, pada dinding akuarium, potongan paralon, batang dan permukaan dan atau obyek lain. Peternak umumnya memberikan potongan paralon sebagai sarang. Tempat tersebut akan dibersihkan permukaannya dengan mulut. Jantan umumnya lebih aktif daripada betina (Axelrod dan Vordenwinkler, 1983).

Sesudah itu induk akan lebih aktif berenang, sesekali mereka bersinggungan. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya di lubang genital jantannya dan dikenal dengan "posisi T" dan sperma akan diisapnya (Kohda et al., 1995).

Tingkah laku ikan ini amat unik selain senang merayap dan membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya, kelakuan saat pemijahannya amat menarik untuk diamati (Axelrod & Vordenwinkler, 1983; Sakurai et al., 1990; Kohda et al., 1995). Pemijahan yang terjadi melalui proses perkawinan yang amat unik yaitu dengan adanya pengisapan sperma oleh induk betina yang dikenal dengan “posisi T” (Kohda et al., 1995). Pembuahan dalam “kantong” yang dibentuk dari pasangan sirip perut untuk kemudian telur yang sudah dibuahi diletakkan di sarang (substrat) atau objek (Satyani, 2008).

Corydoras merupakan ikan dasar dan senang merayap. Pakan yang tenggelam atau di dasar merupakan yang paling baik untuknya seperti cacing sutera (Tubifex sp.), cacing darah (Chironomus sp.), atau pelet. Pada waktu kecil ikan ini senang berkelompok terutama dekat atau pada substrat, tetapi sesudah dewasa agak solitair. Walaupun demikian di alamnya menurut Sakurai et al. (1990) Corydoras yang sejenis atau sewarna akan berenang dalam rombongan (Satyani, 2008).

Ikan Corydoras amat sosial dan damai, tidak agresif baik sesama teman maupun dengan ikan jenis lainnya. Mempunyai kebiasaan menyapu atau membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya, sehingga disebut “tukang bersih-bersih”. Kotoran hasil sapuannya sering teronggok di dasar akuarium (Satyani, 2008).

MANFAAT IKAN CORYDORAS
Ikan hias air tawar akhir-akhir ini sudah amat populer sebagai mata dagangan baik lokal maupun ekspor. Semakin banyaknya penggemar atau hobiis yang memelihara ikan hias komoditas ini semakin berharga secara ekonomis (Satyani, 2008).

Di antara ratusan jenis ikan hias air tawar, Corydoras termasuk yang cukup terkenal dan amat bagus untuk komunitas akuarium. Banyak peternak atau pembudidaya yang membiakkan dan memeliharanya, dan pasarnya pun cukup bagus (Satyani, 2008).

Menurut Satyani (2008), Ikan corydoras berasal dari perairan Amerika Selatan dan telah diperdagangkan ke seluruh dunia dengan banyak spesies. Sterba (1983) mencatat ada 95 spesies sementara yang terakhir Matsuzaka (1993) dalam Kohda et al. (1995) telah menyatakan genus ini mempunyai 120 spesies. Namun demikian yang masuk pasar saat ini terutama yang sudah dibudidayakan di Indonesia khususnya daerah Jabodetabek adalah 10 spesies yaitu Corydoras aeneus, Corydoras adolfoi, Corydoras barbatus, Corydoras paleatus, Corydoras panda, Corydoras pygmaeus, Corydoras rabauti, Corydoras septentrionalis, Corydoras sterbai, dan Corydoras sychri. Ukuran ikan jenis ini cukup kecil maksimal 7,5 cm; sehingga amat cocok untuk akuarium. Dibandingkan dengan ikan catfish lain yang kebanyakan tidak bersisik, Corydoras mempunyai dua baris sisik besar. Sirip dadanya dilengkapi pula dengan tulang keras sebagai senjata (Sterba, 1983; Alderton, 1997).

PENULIS
Reni Ekowati P
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alderton D. 1997. The Hamlin book of tropical freshwater fish. Reed Intewrnational Book Ltd. Singapore and Toronto. 100 – 103. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Axelrod H.R. and W. Vordenwinkler. 1983. Encyclopaeclia of tropical .fishes. TFH Publications,InCorydoras New York-USA. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Axelrod H.R., W.E. Burgess, N. Pronek and J.G. Walls. Dr. Axelrod's atlas of freshwater aquarium fishes. 1995.Eight edition. TFH. Publications, InCorydoras NewYolk-IlSA. Jurnal  Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Dermawan, I. dan Lesmana, D, S. 2004. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer. Jakarta:  Penebar Swadaya.
Geis R. 2000. Caffish keeping & breeding them in captivity. TFH. Publications, InCorydoras NewYork – USA. 31 – 33. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Kohda M., M. Tanimura., M. K. Nakamura & S Yamagishi. 1995. Sperm drinking by female catfishes: a novel mode of Sterba G. 1983. Tlre acluaris't encyclopaedia. insemination. Environmental Biology of fishes 42: l-6. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Mills D. 1986. You and your aquarium. Alfred A.  Knopf,InCorydoras Toronto, Canada. 75p. Jurnal Iktiologi Indonesia. Volume 5 No. 1: 15 – 18.
Mudjiutami, E. 2000. Ikan Hias Air Tawar: Corydoras. Jakarta: Penebar Swadaya.
          pukul 19.07 WIB.
Radman. 2008. Pembenihan Ikan Corydoras. http://www.radmanblog.com. Diakses pada tanggal 1 Desember 2015 pukul 15.08 WIB.
Satyani, D. 2008. Catfish Kecil Unik, Corydoras sp. Untuk Akuarium, Tingkah Laku Biologi dan Reproduksinya. Media Akuakultur Volume 3 Nomor 2 Tahun, Halaman 93-97.

No comments:

Post a Comment