Saturday, March 7, 2020

Ikan Dokun, Wader, Atau Seluang; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Dokun/Wader/Seluang (Puntius lasteriga) termasuk salah satu jenis ikan hias air tawar yang dapat dipelihara dalam akuarium. Ikan ini kadang - kadang disebut juga Kapiau. Daerah penyebarannya bisa dijumpai di perairan sungai di kawasan Muangthai dan semenanjung Malaya (Malaysia). Sedangkan di Indonesia terdapat di perairan sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

KLASIFIKASI IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Menurut Valenciennes (1842) klasifikasi ikan dokun sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Actinopterygii
Ordo
: Cypriniformes
Familiy
: Cyprinidae
Genus
: Puntius
Species
: Puntius lasteriga

HABITAT IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Di alam, ikan ini menghuni sungai-sungai kecil, terutama yang jernih dan berbatu-batu di dasarnya, dan sering pula didapati di bawah jeram. Ikan dokun memangsa serangga air, cacing, krustasea(udang dan ketam), serta bagian-bagian tumbuhan. Dokun diketahui menyebar luas di Jawa, Sumatra dan pulau-pulau di sekitarnya (Singkep, Bangka, Belitung), Semenanjung Malaya, dan Thailand. Juga terdapat di Kalimantan.

FISIOLOGI IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999).

Stickney (1979) menyatakan salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya. Ikan harus mengatur tekanan osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu.

MORFOLOGI IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Ikan yang bertubuh kecil sampai sedang, panjang tubuh keseluruhan dapat mencapai sekitar 20 cm. Jenis ini ditandai dengan terdapatnya dua pita (gelap) vertikal di pertengahan tubuh bagian depan, dan sebuah garis memanjang /horizontal di bagian belakang. Di atas pangkal sirip dubur terdapat bercak kecil berwarna hitam, yang kadang-kadang samar warnanya. Begitu pula warna hitam di ujung sirip dubur. Pola warna ini bervariasi menurut wilayah sebarannya dan umur ikan. Jari-jari lemah pada sirip punggung (dorsal) 8 buah, pada sirip dubur (anal) 5 buah, pada sirip perut (ventral) 8 buah, dan pada sirip dada (pectoral) 14-16 buah. Sisik-sisik di muka sirip punggung (predorsal scales) 7-8 buah, sisik-sisik pada gurat sisi (linea lateralis) 22-24 buah, sisik-sisik yang melingkari batang ekor (peduncle/ circumpeduncular scales) 12buah.

CIRI-CIRI IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Ikan dokun merupakan salah satu ikan akuarium yang diperdagangkan secara komersial antar negara. Secara tradisional di Indonesia, ikan ini dikenal sebagai ikan konsumsi (sebagai wader atauseluang) yang penting secara lokal; terutama karena rasanya yang istimewa. Dokun yang berukuran kecil bersifat toleran dan dapat dipelihara dalam akuarium bersama dengan jenis-jenis ikan yang lain. Setelah besar, lebih dari 6 cm, ikan ini menjadi agresif, sehingga tak dapat dipelihara bersama ikan-ikan yang lebih kecil. Akuarium tempat memelihara dokun sebaiknya diberi dasar berupa pasir halus, dan ditanami dengan beberapa tanaman air. Dokun dapat memijah di akuarium. Untuk itu, pasangan yang siap memijah ditempatkan di dalam akuarium khusus yang dilengkapi dengan tanaman air sebagai tempatnya memijah. Proses memijah dapat berlangsung antara 1–2 jam; dan telur-telur akan mulai menetas satu dua harikemudian.

REPRODUKSI IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Mengembangbiakan dokun sebenarnya tidak terlalu sulit karena ia lebih cepat dan mudah beradaptasi dengan daerah baru di luar habitatnya serta mudah diternakan dalam akuarium, sepanjang memenuhi syarat untuknya, inilah sisi keuntungannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangbiakan dokun, antara lain Harus disiapkan akuarium khusus untuk pemijahan, tidak boleh dicampur dengan jenis ikan hias lainnya. Ukuran akuarium disesuaikan dengan kebutuhan. Akuarium ini perlu dilengkapi rerumputan air dengan tujuan agar telur - telur yang dihasilkan nantinya dapat dilekatkan pada rerumputan tersebut.

Induk jantan/betina yang digunakan adalah yang sudah matang telur atau siap memijah. Dokun yang berukuran sekitar 7 cm sudah siap dijadikan induk. kemudian sepasang induk tersebut dimasukkan ke dalam akuarium yang telah dipersiapkan tadi.  Selang beberapa saat, pasangan ini memperlihatkan bahwa pemijahan akan segera berlangsung. tanda - tandanya dimulai dari ikan jantan yang selalu mengejar si betina. Pengejaran ini tidak bertujuan untuk menyerang, melainkan untuk bulan madu (honey moon). Dengan penuh semangat dan gairah si jantan mendesak sang betina ke arah tanaman air yang dianggapnya cukup aman untuk melakukan pemanasan (fore play) dan ini dikerjakan/dilakukan terus - menerus. Permainan cinta berakhir ditandai keluarnya telur dari kandungan sang betina. Sekali keluar mencapai 4 - 5 butir telur. Perlu diketahui bahwa proses pemijahan ini tidak hanya berlangsung satu atau dua kali saja, akan tetapi bisa berkali - kali dalam waktu yang cukup panjang, yaitu antara 1 - 2 hari. Setelah sekitar 1 - 2 hari anda akan menyaksikan telur - telur dokun sudah mulai menetas. Bentuknya seperti jentik - jentik halus yang melayang - layang dalam air disekitar tempat penempatan telur (rerumputan). Makanannya masih berasal dari kantong telur (yolk sac) yang masih tersedia. Selama itu pula benih - benih ikan belum mampu melakukan gerakan dengan tenaganya sendiri sehingga pergerakannya hanya mengikuti gerakan air dalam akuarium.

Mengingat sifat dokun yang sewaktu - waktu dapat muncul sifat agresif dan buasnya, maka sebaiknya induk dokun (jantan dan betina) segera dipindahkan ke tempat lain setelah telur - telurnya menetas. Sebab, pada awal kelahiran anaknya sangat riskan/rentan sekali bila tetap berkumpul dengan kedua induknya. Bisa jadi induk tersebut memangsa dan menyantap anaknya sendiri.

Setelah berumur 3 hari, anak - anak ikan sudah mulai bisa berenang dengan dayanya sendiri. Mulai saat itu pula anak ikan sudah boleh diberikan makanan tambahan berupa infusoria atau artemia.

MANFAAT IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG

1. Menurunkan risiko penyakit jantung
Mengonsumsi ikan air tawar baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Sejumlah penelitian menunjukkan, ikan jenis ini dapat mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. Kandungan lemak yang rendah, tinggi protein, dan asam lemak omega-3 pada ikan baik untuk kesehatan jantung.

2. Kesehatan otak
Ikan ini juga menjaga kesehatan otak. Fungsi otak manusia menurun seiring bertambahnya usia. Konsumsi ikan dapat menghambat penurunan fungsi otak, terutama bagian emosi dan memori.

3. Mengatasi depresi
Rutin makan ikan jenis ini juga dapat mengurangi stres dan depresi. Kandungan omega-3 di dalam ikan dapat berperan sebagai antidepresan.

4. Meningkatkan kualitas tidur
Ikan merupakan salah satu makanan yang dapat memicu pembentukan vitamin D. Vitamin ini dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan juga fungsi tubuh terkait vitamin D.

5. Mengurangi risiko penyakit autoimun
Nutrisi dalam ikan air tawar dapat membantu untuk mengurangi risiko terkena penyakit autoimun seperti diabetes tipe 1, artritis reumatoid, dan sklerosis multipel.

Manfaat makan ikan air tawar ini bisa didapatkan dengan rutin mengonsumsinya. Orang dewasa disarankan makan dua porsi ikan setiap minggunya.

PERAN IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG DI PERAIRAN
Dokun/Wader/Seluang (Barbus leteristriga) termasuk salah satu jenis ikan hias air tawar yang dapat dipelihara dalam akuarium. Ikan ini kadang - kadang disebut juga Kapiau. Daerah penyebarannya bisa dijumpai di perairan sungai di kawasan Muangthai dan semenanjung Malaya (Malaysia). Sedangkan di Indonesia terdapat di perairan sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

TINGKAH LAKU IKAN DOKUN, WADER, ATAU SELUANG
Ikan ini dikenal sebagai ikan yang aktif. Ia hampir tidak pernah kelihatan berhenti berenang, tetapi selalu mondar - mandir, kesana - kemari. Daerah renangnya (swimming zone) lebih senang dibagian dasar akuarium. Makanan yang paling digemari adalah jenis yang bergerak, misalnya jentik - jentik nyamuk, kutu air, atau hewan air lainnya. Aktivitas renangnya kelihatan lebih menonjol saat lapar (kekurangan makanan). Dalam kondisi demikian kadang - kadang memperlihatkan sifat yang agresif dan buas, misalnya dengan seenaknya menyerang dan mengejar ikan jenis lainnya, terutama yang berukuran sama atau lebih kecil. Padahal ikan ini sebenarnya dikenal sebagai ikan yang alim (tidak banyak tingkah) dan lebih senang damai dan rukun dengan jenis ikan hias lainnya. Karena keadaan yang mendesak (seperti kekurangan makanan), maka dokun memiliki sifat agresif. Itu pun mulai timbul setelah ia beranjak dewasa, yaitu berukuran sekitar 6 cm.

Oleh sebab itu, selama memelihara dokun harus selalu diperhatikan jangan sampai kelaparan. Kalau Anda mau mengisi akuarium  lebih dari satu jenis ikan termasuk Dokun di dalamnya, maka sebaiknya ikan jenis lain tersebut paling tidak berukuran sama atau lebih besar dari ikan Dokun. Kalau tidak demikian, dikhawatirkan akan menjadi bulan - bulanan atau mangsa keagresifannya yang kadangkala muncul.

Karena kebiasannya yang senang mengorek - ngorek, dianjurkan dasar akuariumnya terbuat dari pasir yang halus sehingga memudahkan bagi dokun untuk mengorek (mengungkit - ungkit) dan mencari makanannya. Disamping itu juga untuk menghindari atau mencegah terjadinya luka - luka pada mulutnya.

PENULIS
Dzikrul Hakim Amrulloh
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Cuvier, G. And A. Valenciennes. 1846. Histoire Naturelle Des Poissons T. Xviii: 27. Paris : Chez F.G. Levrault.
Cuvier. 1829. Helostoma temminkii. http://www.fishbase.org/ summary/ Helostoma temminkii. html diakses tanggal 1 Janauari 2016 pukul 07.30 WIB.
Effendi,I.2002. Probiotics of Marine Organisme Disease Protection. Pekanbaru: FPIK. Universitas Riau. 72 hlm.
http://nirwanaaquarium.blogspot.com/2011/05/dokun-barbus-leteristriga
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191122155900-255-450656/5-manfaat-makan-ikan-air-tawar-untuk-kesehatan
Van Hasselt, J.C. 1823. Uittreksel Uit Een Brief Van Den Heer J.C. Van Hasselt, aan den Heer C.J. Temminck, geschreven uit Tjecande, Residentie Bantam, den 29 sten December 1822. Algemeene Kunst- en Letter-Bode voor het jaar 1923, II deel, No 35, Vrijdag den 16 den Mei: 130-133
Wibisono, S.A. 2014. “Studi Tentang Bio-Ekologi Ikan Uceng (Nemachellus sp.) di Desa Babatan Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar”. Skripsi. Malang : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya.

No comments:

Post a Comment