Sunday, March 8, 2020

Ikan Nilem; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) merupakan salah satu ikan air tawar. Ikan ini termasuk hewan herbivora, yang diketahui hidup dan menyebar di bagian perairan Asia Tenggara, seperti Siam-Thailand, Tonkin, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Nilem merupakan ikan budidaya yang memang diternakkan untuk konsumsi, terutama di Pulau Jawa. Namun kini, ikan nilem juga diintroduksi ke beberapa danau yang ada di daerah Sulawesi.

Ikan ini memiliki tubuh yang berukuran sedang, dan memiliki panjang total sampai 260 mm. Tinggi badannya yang pada awal sirip dorsal berukuran 3—3,7 cm, dan berbanding lurus dengan panjang standarnya yang tanpa sirip dan ekor.

Panjang kepalanya berukuran 4,1—4,5 cm yang berbanding dengan panjang standar. Moncongnya berbentuk agak membulat tumpul dengan bibir yang agak berlipat dan dapat disembulkan keluar.

Sungut ikan ini berbentuk maksilar-dua tulang yang membentuk rahang, yang kurang lebih ukurannya sepanjang diameter mata, serta ditambah dengan sungut rostralnya lebih pendek.

Ikan nilem biasanya dibudidayakan oleh masyarakat sekitar yang ada di Pulau Jawa, terutama yang bertempat di daerah Jawa Barat. Telur ikan ini sangat digemari karena rasanya yang lezat.

KLASIFIKASI IKAN NILEM
Menurut Saanin (1968), klasifikasi ikan nilem sebagai berikut:
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Subphylum
: Craniata
Class
: Pisces
Subclass
: Actinopterygi
Ordo
: Ostariophysi
Subordo
: Cyprinoidae
Famili
: Cyprinidae
Genus
: Osteochilus
Species
: Osteochilus hasselti

MORFOLOGI IKAN NILEM
Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik (asli) Indonesia yang hidup di sungai dan rawa-rawa. Ciri-ciri ikan nilem hampir serupa dengan ikan mas. Ciri-cirinya yaitu pada sudut-sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut-sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh tiga jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor berjagak dua, bentuknya simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik gurat sisi ada 33-36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak memenjang dan piph, ujung mulut runcingdengan moncong (rostral) terlipat, serta bintim hitam besar pada ekornya merupakan ciri utamaikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok omnivora, makanannya berupa ganggang penempelyang disebut epifition dan perifition (Djuhanda, 1985).

HABITAT IKAN NILEM
Ikan Nilem merupakan ikan sungai yang lincah umumnya ditemukan diperairan mengalir atau agak tergenang serta kaya akan oksigen terlarut. Ikan Nile mini banyak tersebar luas di wilayah Asia seperti Indonesia, Malaysia, serta Thailand dan secara umum dibudidayakan (Effendie, 2002).

Ikan Nile mini umumnya dipelihara di daerah tropis dengan ketinggian 150 sampai 1000 meter dari permukaan laut. Tetapi ketinggian optimum ialah 800 meter, sedang suhu optimum pertumbuhannya adalah 18C sampai 28C (Saanin, 1984).

REPRODUKSI IKAN NILEM
Ikan melakukan fertilisasi secara eksternal. Telur dan sperma dilepaskan ke dalam air di sekitarnya dan fertilisasi terjadi di luar tubuh. Fertilisasi ini merupakan fertilisasi yang primitive (Villee et al, 1988).

Ikan jantan terdapat sepasang testis yang panjang. Mereka terletak ventral dari ren. Ujung caudal mulai dari vas deferens yang bermuara ke dalam sinus urogenital. Ikan betina terdapat sepasang ovaria yang panjang. Ovaria ini mempunyai rongga yang ke caudal melanjutkan diri ke oviduk, yang bermuara ke dalamsinus urogenitalis (Radiopoetro, 1977).

Organ reproduksi pada ikan nilem ini terdiri dari gonad dengan saluran kelenjar asesorisnya. Ada dua macam gonad, yaitu gonad yang menghasilkan sel kelamin betina (ovum) yang disebut ovarium dan gonad yang menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoa) yang disebut dengan testis. Menurut Sumantadinata (1981), reproduksi pada ikan dikontrol oleh kelenjar pituitary yaitu kelenjarhipotalamus, hipofisis-gonad, hal tersebut di pengaruhi oleh adanya pengaruh dari lingkungan yaitu temperature, cahaya, cuaca yang diterima oleh reseptor dan kemudian diteruskan ke system saraf kemudian hipotalamus melepaskan hormon gonad yang merangsang kelenjar hipofisa serta mengontrol perkembangan dan kematangan gonad dalam pemijahan. Ovarium terdapat dalam hewan betina yang ditambatkan oleh mesentrium khusus pada dinding tubuh (mesovarium). Ovarium selain sebagai gonad, juga sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon estrogen dan progesterone. Testis terdapat pada hewan jantan. Letak testis pada vertebrata rendah tersimpan dalam rongga perut dengan ditambatkan ke dinding tubuh oleh mesentrium khusus (mesorchium). Testis pada vertebrata tingkat tingga terletak di luar rongga perut, tersimpan dalam bangunan khusus yang disebut skrotum. Testis selain sebagai gonad juga sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormone testosterone. Menurut Storer (1957), pada system reproduksi ikan nilem ovarium tersusun dari jaringan ikat fibrosa sebagai membrane basalis yang di sebelah dalamnya terdapat banyak sarang-sarang telur yang berisi jaringan sel gamet primordial (oogoria atau oosit) dan dibagikan tengahnya berisi jaringan ikat stroma. Umumnya setiap individu mempunyai sepasang ovarium yang secara simetris berada pada sisi kanan dan kiri tubuh. Oogonia atau oosit terkandung di dalam sarang telur dan masing-masing terbungkus oleh selapis sel granulose disebut sel folikel. Testis sebagai organ kelamin jantan berupa organ jumlahnya sepasang dan dilengkapi dengan saluran spermatozoa dan organ asesoria. Saluran testis pada vertebrata tinggi dan rendah berhubungan langsung dengan testisnya. Sel-sel yang berkembang menjadi gamet berada di bagian medulla sehingga gamet-gamet yang diproduksi akan terkumpul di dalam lumen tubulus dan kemudian disalurkan ke saluran-saluran dari tubulus atau testis yang kemudian bergabung menjadi epididimis. Ikan nilem jantan dan ikan nilem betinadapat dibedakan setelah ikan ikan masak kelamin. Permukaan luar operculum (tutup insang) ikan jantan apabila diraba terasa kasar sedangkan ikan betina terasa halus. Ikan jantan apabila diurut perutnya dari operculum ke papilla gerital maka akan keluar cairan seperti santan (milk) sedangkan ikan betina tidak. Perut ikan jantan langsing sedangkan ikan betina membuncit dan lunak. Ikan betina biasanya lebih jinak dari pada ikan jantan.

CIRI-CIRI IKAN NILEM
Menurut Djuhanda (1982), lengkung insang pada ikan nilem berupa tulang rawan yang sedikit membulat dan merupakan tempat melekatnya filament-filamen insang. Arteri branchialis dan arteri epibranchialis terdapat pada lengkung insang dibagian basal pada kedua filamen insang pada bagian basalnya. Tapis insang berupa sepasang deretan batang-batang rawan yang pendek dan sedikit bergerigi, melekat pada bagian depan dari lengkung insang. Ikan nilem memiliki gelembung renang untuk menjaga keseimbangan di dalam air. 

PERAN IKAN NILEM DI PERAIRAN

Menghilangkan Sel Kulit Mati
Ketika anda memasukkan kaki pada media terapi, ikan nilem akan menggigiti permukaan kulit anda. Tidak sembarang menggigit tetapi ikan nilem memiliki sungut yang mampu mendeteksi sel kulit anda, ia akan menggigit sel- sel kulit mati di kaki anda.

Membersihkan Kulit
Dengan kemampuannya mampu memilih sel kulit mati, maka kulit anda akan lebih bersih dari sel- sel kulit mati. Selain itu ikan nilem juga akan memakan kotoran yang ada pada kulit anda sehingga kulit jadi lebih bersih.

Menghaluskan Kulit
Terapi ikan nilem juga mampu menghaluskan kulit terutama jika kulit anda memiliki banyak sekali daki ataupun sangat kering. Selain memakan sel kulit mati ataupun daki dan kotoran berbeda dengan manfaat labu siam, tetapi juga menstimulasi kulit anda agar lebih lembab serta menjaga kelembapannya.

Melancarkan Peredaran Darah
Jika anda rutin melakukan terapi ikan nilem, anda akan mendapatkan manfaat ini yaitu peredaran darah jadi lebih lancar sehingga anda tidak akan merasa kram ataupun kesemutan.

Meningkatkan kepekaan Saraf
Dengan terapi ikan nilem, ada salah satu manfaat terpenting yang anda rasakan yaitu saraf- saraf di tubuh anda akan lebih peka daris sebelumnya. Hal ini karena gigitan ikan nilem mampu menekan titik- titik saraf tertentu yang mampu menstimulasinya.

Menghilangkan Kulit pecah- Pecah
Selain mampu melembabkan kulit, bagi anda yang ingin menghilangkan kulit pecah- pecah terutama di bagian tumit, anda bisa terapi ikan nilem secara teratur.

Mencegak Kerusakan Sel
Tidak hanya mampu membersihkan ataupun menghaluskan kulit saja, ikan nilem juga akan memperbaiki kerusakan sel yang ada pada bagian kulit anda.

Menghilangkan Stress
Bagi anda yang sedang stress dan ingin mengatasinya berbeda dengan manfaat tea lawah, anda bisa terapi ikan nilem. Hal ini karena ikan nilem akan menekan titik- titik syaraf dan menenangkannya sehingga stress anda akan hilang dan pikiran menjadi lebih tenang.

Menghilangkan Lelah
Selain dapat menghilangkan stress, dengan terapi ikan nilem juga mampu menghilangkan lelah. Terutama bagi anda pekerja kantoran, ini akan sangat berguna bagi anda.

Itulah berbagai manfaat dari terapi ikan nilem yang dapat kami sampaikan semoga informasi di atas dapat bermanfaat serta menambah wawasan anda.

PENULIS
Dzulfikar Yudistira
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Daelami,D. A. S. 2001. ’Usaha Pembenihan Ikan Hias Air Tawar’. Penebar swadaya (Anggota IKAPI). Jakarta. 166 hal.
Fahmi. 2001. Tingkah Laku Reproduksi pada Ikan. Jurnal Oseana, Volume XXVI, Nomor 1: 17 – 24. LIPI, Jakarta.
Febriyantoro, D. 2014. Pengamatan Sirip-Sirip Ikan dan Mekanisme Ikan Mengambil Makanan dan Laju Menghancurkan Makanan di Dalam Lambung. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin, Makasar.
https://manfaat.co.id/manfaat-terapi-ikan-nilem
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/mengenal-lebih-dekat-dengan-ikan-nilem-21
Lingga, P. 2003. Ikan Hias Air Tawar’. Penebar swadaya. Jakarta.
Nelson, J.S. 2001. ’Fisher Of The World’. New York 524 p: John WileyAnd Sons.
Nugroho ,S.  2008. Analisis Finansial Usaha Ikan Hias Air Tawar Heru Fish Farm di Desa Kota Batu Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ridwan et al. 2009. ’Penuntun Praktikum Biologi Perikanan’. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru.
Susanto. 2003. ’Ikan Hias Air Tawar’. Penebar swadaya. Jakarta. 237 hal.

No comments:

Post a Comment