Sunday, February 16, 2020

Ikan Layur; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan layur adalah ikan perairan laut yang mudah dikenal dari bentuknya yang panjang dan ramping. Ikan ini tersebar di perairan tropika maupun sedang. Jenis yang ditemukan diSamudera Pasifik dan Samudera Atlantik diketahui merupakan populasi yang berbeda.


Secara taksonomi ikan layur termasuk ke dalam famili Trichiuridae. Dalam famili Trichiuridae terdapat sekitar 10 genera, yaitu Diplospinus, Aphanopus, Benthodesmus, Lepidopus, Epoxymetopon, Assurger, Tentoreiceps, Eupluerogrammus, Trichiurus dan Lepturacanthus. Ikan layur yang tertangkap di perairan Indonesia paling tidak tercatat tiga genera, yaitu Eupluerogrammus, Trichiurus dan Lepturacanthus. Dalam beberapa literatur, ketiga genera tersebut dimasukkan ke dalam satu genus yaitu Trichiurus, dengan spesiesnya adalah T. muticus, T. savala dan T. lepturus atau T. Haumela (FAO, 1974 dalam Annas, 2008 )


KLASIFIKASI IKAN LAYUR
Filum
: Chordata
Superkelas
: Gnathostomata
Kelas
: Osteichthyes
Sub Kelas
: Actinopterygii
Infrakelas
: Teleoste
Divisi
: Euteleostei
Superordo
: Acanthopterygii
Ordo
: Perciformes
Sub Ordo
: Scombroidei
Superfamili
: Trichiuroidea
Famili
: Trichiuridae Gempylidae
Genus
: Trichiurus Lepturacanthus Gempylus
Spesies
: Trichiurus lepturus 
Lepturacanthus savala
Gempylus serpens
Nama Indonesia
: Layur
Nama lokal
: Layur (PPN Pemangkat)
Layur (PPP Teluk Batang)
Baledang (PPN Sibolga)
Layur (PPN Brondong)
Layur (PPP Pengambengan)
Baledang (PPS Bungus)
layur (PPN Kejawanan)
Layur (PPN Ambon)
layur (PPSBelawan)
Layur (PPP Karangantu)
Layur (PPS Nizam)

MORFOLOGI IKAN LAYUR
Deskripsi singkatmenurut Nakamura, 1993 dalam fishbase.com jari-jari sirip punggung III, (Dorsal soft rays) total : 130 - 135; jari-jari sirip dubur (Anal soft rays) : 100 - 105. Tubuh sangat memanjang, kompres dan lancip ke satu titik dan pipih seperti pita. Sirip punggung memanjang, mulai dari belakang kepala sampai mendekati ujung ekor dan tidak bergerigi. Sirip ekor (caudal fins) tidak ada. Secara spesifik ikan berwarna seperti baja biru atau perak ketika segar, dan warna akan berubah menjadi abu-abu keperakan setelah ikan mati.


Panjang badan maksimum dapat mencapai 2,5 m dan pada umumnya antara 60-110 cm, dengan berat maksimum tercatat 5kg dan usia dapat mencapai 15 tahun. Kegemarannya pada siang hari berkeliaran di perairan dangkal dekat pantai yang kaya plankton krustasea. Pada waktu malam ikan ini mendekat ke dasar perairan. Layur mudah dijumpai di tempat penjualan ikan di Indonesia dan dapat juga dijadikan sebagai ikan umpan.


HABITAT IKAN LAYUR
Habitat ikan layur adalah pada perairan pantai yang dalam dengan dasar berlumpur. Walau digolongkan pada jenis ikan demersal, jenis ikan ini biasanya muncul ke permukaan pada waktu senja untuk mencari makan (Badrudin dan Wudianto. 2004). Ikan layur famili Trichiuridae dalam hal ini ikan layur jenis T. lepturus dan L. savala termasuk ikan benthopelagis yaitu ikan yang secara bermusim menghuni dasar sampai ke permukaan. Ikan layur terdapat di perairan pantai pada daerah dengan dasar pasir, membentuk gerombolan yang besar (Whitehead, et al., 1986). Ikan-ikan muda ditemukan di perairan yang sangat dangkal kurang dari 10 m (www. research.kahaku.go.jp).


Layur berenang dengan tubuh hampir sepenuhnya vertikal dengan kepala berada di sebelah atas. Badrudin dan Wudianto (2004) menyebutkan bahwa habitat ikan layur meliputi perairan laut, estuaria (muara sungai), rawa pantai, mangrove sampai perairan payau. Populasi ikan layur lebih banyak tertangkap di perairan pantai yang dangkal di sekitar muara-muara sungai. Habitat ikan layur meleu (T. lepturus) yaitu hidup pada perairan benthopelagis, berada di permukaan perairan hingga kedalaman 350 meter atau lebih.


Distribusinya tersebar pada perairan tropis dan subtropis (Nakamura dan Parin, 1993). Selain itu, ikan ini juga tersebar pada daerah samudera Pasifik bagian timur yaitu dari California hingga Peru (www.fishbase.org). Sedangkan habitat ikan layur golok (L. savala) berada pada perairan benthopelagis dengan kedalaman yang berkisar antara 250 – 300 meter. Distribusinya tersebar di daerah samudera Hindia, Laut Merah, mulai dari pantai barat India dan Laut Timor (Nakamura dan Parin, 1993). G. serpens adalah jenis ikan snake mackerel. Ikan ini hidup dilapisan mesopelagis dan benthopelagis dengan kedalaman mencapai 200 m dan pada umumnya hidup di dasar. Ikan G. serpens yang berukuran besar pada umumnya soliter. Ikan G. serpens yang dewasa bermigrasi ke permukaan pada malam hari.


Ikan G. serpens tersebar di perairan tropis dan subtropis, namun individu dewasa sering tertangkap di perairan hangat (temperate), terkadang kita dapat menemukan G. serpens di daerah lepas pantai. Ikan ini merupakan perenang cepat. Pola ruaya ikan layur G. serpens yaitu ikan betina tersebut akan memijah pada perairan yang lebih dalam (Nakamura dan Parin, 1993). Ikan layur digolongkan amphidromous yaitu ikan yang melakukan ruaya untuk mencari makan. Migrasi dalam siklusnya tidak dapat diprediksi dan dapat mencapai lebih dari 100 km (www.fishbase.org). Ikan layur melakukan migrasi secara vertikal dalam 1 hari. Ikan layur dewasa bermigrasi ke permukaan perairan (kedalaman 80-140m) pada siang hari dan kembali bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari untuk mencari makan (Wojciechowski, 1972). 


Ikan layur anakan yang berukuran kecil akan membentuk gerombol (schooling) mulai dari dasar sampai ke dekat permukaan pada siang hari dan pada malam hari menyebar serta berkelompok untuk mencari makan sampai ke dekat permukaan (Nurhayati, 2006). Parin (1986) menyatakan bahwa T. lepturus dan L. savala merupakan ikan yang hidup secara bergerombol (schooling). Nakamura dan Parin (1993) mempelajari korelasi antara tipe habitat dari Gempylidae, Trichiuridae dan Scombridae. Ikan-ikan Scombridae hidup di daerah epipelagis, mereka hidup di kolom perairan bagian atas dari samudera lepas. Ikan-ikan Trichiuridae hidup di daerah benthopelagis dan hidup di atas dasar perairan. Ikan-ikan Gempylidae hidup di daerah benthopelagis dan mesopelagis, ikan tersebut hidup di perairan yang lebih dalam pada samudera lepas.


REPRODUKSI IKAN LAYUR
Ikan layur memiliki tipe repoduksi seksual dengan fertilisasi eksternal, dimana fertilisasi eksternal yaitu menggabungkan dua gamet (sperma dan telur) di luar tubuh masing-masing induk secara terkoordinasi (www.fishbase.org). Proses reproduksi ikan pada umumnya dapat dibagi menjadi tiga periode yaitu periode pre-spawning, periode spawning, dan periode post-spawning. Periode pre-spawning merupakan periode dimana proses penyiapan gonad untuk menghasilkan telur dan sperma, peningkatan kematangan gonad dan penyiapan telur dan sperma yang akan dikeluarkan berlangsung. Periode ini merupakan bagian paling panjang dalam proses reproduksi, sedangkan periode spawning merupakan bagian paling pendek. Pada periode spawning berlangsung pengeluaran telur dan sperma serta pembuahan telur oleh sperma. Periode ketiga yaitu periode post-spawning merupakan periode berlangsungnya perkembangan telur yang telah dibuahi, penetasan telur dan pembesaran dari telur menjadi embrio, larva sampai menjadi anak ikan (Solihatin, 2007).

Berdasarkan penelitian Wojciechowski (1972) bahwa ikan layur (Trichiuroidea) di Teluk Mauritania mempunyai periode reproduksi secara partial spawning pada lapisan permukaan dimana suhu dan salinitas berperan penting. Penelitian Tsukahara (1962) dan berdasarkan penelitian Wojciechowski (1972) menunjukkan bahwa ikan layur adalah salah satu spesies ikan yang memiliki siklus hidup relatif pendek. Ikan layur yang ditemukan dalam penelitian Wojciechowski (1972) di Teluk Mauritania mampu hidup hingga umur 8 tahun, sedangkan penelitian Tsukahara (1962) di Laut Kuning menunjukkan bahwa ikan layur hidup hingga umur 7 tahun. Berdasarkan penelitian Martins dan Haimovici (2000) bahwa ikan layur T. lepturus di perairan Subtropis Brazil Bagian Selatan melakukan siklus reproduksi pada kedalaman 10 – 100 m dan terbagi menjadi tiga fase musiman yaitu perkembangan gonad dari bulan Juli sampai Oktober, pemijahan pada bulan November sampai Februari, dan pemulihan dari Maret sampai Juni. Pada daerah bermusim empat, faktor suhu dan makanan sangat mempengaruhi siklus reproduksi sedangkan pada daerah tropis faktor suhu tidak terlalu berpengaruh (Effendie, 1997).

CIRI-CIRI IKAN LAYUR
Ciri utama dari kelompok ikan layur antara lain adalah: Badanya sangat memanjang dan pipih seperti pita. Oleh karena itu dalam beberapa literatur internasional ikan layur disebut sebagai ‘ribbon fish’. Gigi rahangnya sangat kuat dan bagian depan gigi rahang tersebut membentuk taring. Sirip punggung memanjang, mulai dari belakang kepala sampai mendekati ujung ekor.

Pada bagian depan sirip punggung terdapat jari-jari sirip keras. Kadang-kadang antara kedua sirip punggung yang keras dan sirip lemah terdapat notch yang sangat jelas. Warna badannya pada umumnya adalah keperakan, bagian punggungnya agak sedikit gelap. Panjang badan maksimum dapat mencapai 2,5 m dan pada umumnya antara 60-110 cm.

MANFAAT IKAN LAYUR
Ikan Layur adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.  Ikan Layur mengandung energi sebesar 82 kilokalori, protein 18 gram, karbohidrat 0,4 gram, lemak 1 gram, kalsium 48 miligram, fosfor 229 miligram, dan zat besi 2,2 miligram.  Selain itu di dalam Ikan Layur juga terkandung vitamin A sebanyak 15 IU, vitamin B1 0,04 miligram dan vitamin C 0 miligram.  Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Ikan Layur, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 49 %. Berikut kandungan gizi pada ikan layur:
Nama Bahan Makanan : Ikan Layur
Nama Lain / Alternatif : - 
Banyaknya Ikan Layur yang diteliti (Food Weight) = 100 gr 
Bagian Ikan Layur yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 49 %
Jumlah Kandungan Energi Ikan Layur = 82 kkal
Jumlah Kandungan Protein Ikan Layur = 18 gr
Jumlah Kandungan Lemak Ikan Layur = 1 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Ikan Layur = 0,4 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Ikan Layur = 48 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Ikan Layur = 229 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Ikan Layur = 2,2 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Ikan Layur = 15 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Ikan Layur = 0,04 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Ikan Layur = 0 mg
Khasiat / Manfaat Ikan Layur : - (Belum Tersedia) 
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : I 
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta sumber lainnya.

TINGKAH LAKU IKAN LAYUR
Tingkah Laku Ikan Layur Ikan layur umumnya hidup di perairan yang dalam dengan dasar lumpur, meski pun tergolong ikan demersal, umumnya ikan layur muncul ke permukaan pada waktu senja (Direktorat Jenderal Perikanan 1998). Ikan layur berada pada kedalaman kurang lebih 100 m, namun dapat dijumpai pada perairan yang lebih 7 dangkal hingga memasuki daerah estuaria bahkan di perairan yang sangat dangkal sekalipun. Badrudin dan Wudianto (2004) menyebutkan bahwa habitat layur meliputi perairan laut, estuari (muara sungai), rawa pantai, mangrove sampai perairan payau. Populasi ikan layur lebih banyak tertangkap di perairan pantai yang dangkal di sekitar muara-muara sungai. Layur umumnya berenang dengan posisi vertikal dengan kepala berada di sebelah atas. Layur termasuk ikan buas, hal ini terlihat dari susunan gigi yang tajam dan makanannya seperti udang-udangan, cumi-cumi dan ikan kecil, sehingga layur tergolong ikan karnivora (Direktorat Jenderal Perikanan 1998).

Ikan layur adalah ikan predator yang makanannya adalah hewan-hewan berukuran kecil seperti euphasid (udang-udang berukuran kecil seperti ikan teri, sardine, myctophids, bregmacerotids, carangoids, sphyraenids dan larva ikan layur). Perilaku makan ikan layur dewasa dan layur muda (anak) berhubungan erat dengan kebiasaan migrasi vertikal yang memiliki sifat berlawanan. Pada siang hari, ikan layur dewasa biasanya bermigrasi vertikal ke dekat permukaan untuk mencari makan dan kembali bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari.


Ikan layur muda (anak) yang berukuran kecil akan membentuk gerombolan (schooling) mulai dari dasar sampai ke dekat permukaan pada siang hari dan pada malam hari menyebar dan mengelompok untuk mencari makan sampai ke dekat permukaan. Belum banyak diketahui masa pemijahannya, hanya saja untuk ikan layur yang ada di selatan Jepang (T. lepturus) diketahui bahwa jenis ikan ini memijah dan telurnya menetas pada musim semi, yaitu pada saat suhu berangsur mengarah hangat (Badrudin dan Wudianto 2004).


PENULIS
Adesya Shinta Marthadinata
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


DAFTAR PUSTAKA
Badrudin dan Wudianto. 2004. Biologi, Habitat dan Sebaran Ikan Layur serta Beberapa Aspek Perikanan. Balai Riset Perikanan Laut : Jakarta

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.

Nakamura, I. dan N. V. Parin. 1993. Snake Mackerels and Cutlassfishes of The World. FAO Species Catalogue No. 125 Vol. 15. FAO. Rome.

Nurhayati, Y. 2006. Pengaruh kedalaman terhadap komposisi hasil tangkapan pancing     ulur (hand line) pada perikanan layur di perairan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat [Skripsi] Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB Bogor.

Solihatin, A. 2007. Biologi Reproduksi Dan Studi Kebiasaan Makanan Ikan Sebarau (Hampala macrolepidota) Di Sungai Musi. Skripsi. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

No comments:

Post a Comment