Saturday, January 11, 2020

Lobster, Lobster Air Laut, Lobster Hijau, Atau Lobster Bambu; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Lobster merupakan hewan avertebrata anggota Filum Arthropoda yang hidup di dalam air (Robles, 2007). Perikanan laut mengenal ada 2 jenis udang yaitu, udang penaied dan udang lobster. Dua jenis udang ini merupakan sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Lobster yang dikenal dengan nama lain spiny lobster merupakan salah satu marga dari family Palinuridae memiliki 49 spesies. Di perairan Indo-Pasific Barat terdapat 11 spesies, dan 6 diantaranya terdapat di perairan Indonesia. Enam spesies lobster yang ada di Indonesia adalah: Panulirus homarus, Panulirus panicillatus, Panulirus cygnus, Panulirus polyphagus, Panulirus versicolor dan Panulirus ornatus (Moosa & Aswandy, 1984).

Lobster (Palinuridae) merupakan salah satu jenis biota laut yang memiliki nilai ekonomis penting (Williams 2007). Data statistik perikanan Indonesia pada tahun 2012 menunjukkan bahwa lobster menempati urutan keempat komoditi ekspor tertinggi setelah udang Penaeus (WWF 2015). Salah satu negara tujuan ekspor benih lobster Indonesia adalah Vietnam, dimana volume ekspor benih lobster ke Vietnam pada tahun 2012 tercatat sebanyak 45 kg atau senilai 680 US$ (Hilal dan Fachri 2016). Jika ditinjau dari jumlah tangkapan lobster di dunia, maka lobster yang ditangkap didominasi oleh lobster dari famili Nephropidae (61%), famili Paniluridae (31%) dan Scyllaridae (1%) (FAO 2011).

KLASIFIKASI LOBSTER
Lobster (Panulirus versicolor) merupakan salah satu genus yang termasuk ke dalam kelompok udang tawar (Crustacea), yang secara alami memiliki ukuran tubuh besar dan seluruh siklus hidupnya di lingkungan air tawar. Lobster memiliki beberapa nama internasional, yaitu crawfish dan crawdad. Berdasarkan penyebarannya di dunia, terdapat 3 famili lobster yaitu famili Astacidae, Cambaridae, Parastacidae (Handoko, 2013). Tubuh lobster dilapisi oleh kutikula yang mengandung zat kapur.
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Anthropoda
Class
: Malacostraca
Ordo
: Decapoda
Family
: Panulirudae
Genus
: Panulirus
Spesies
: Panulirus versicolor

MORFOLOGI LOBSTER


Tubuh lobster dibagi menjadi dua bagian, yaitu kepala dada (chepalothoraks) dan badan (abdomen) (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Chepalothoraks diselubungi oleh karapas yang memanjang dari somit terakhir sampai mata, kadang-kadang membentuk rostrum yang menonjol di atas mata. Pada bagian lateral, karapas menutupi ruang branchial sehingga melindungi insang.

Chepalothoraks terdiri atas 14 somit yang mengalami fusi, masing-masing dengan sepasang kaki gerak, 6 somit pertama terdiri dari chepalon, dan 8 terakhir pada thoraks (Gambar 2). Kaki gerak pada thoraks mencakup mata, antena dan antenula, mulut, serta 5 pasang kaki jalan ( Lukito dan Prayugo, 2007).

Mata lobster cukup besar, berupa mata majemuk yang terdiri dari ribuan mata yang didukung oleh tangkai mata (stalk). Pergerakan mata bisa dilakukan dengan cara memanjang dan memendek. Namun pada beberapa jenis lobster yang matanya tidak bisa digerakkan sama sekali atau bahkan sama sekali tidak ada. Lobster memiliki 2 pasang antena (sungut), satu pasang berukuran pendek (antennula) dan satu pasang lainnya berukuran lebih panjang yang berada dibagian luar. Antena pendek berfungsi sebagai sensor kimia dan mekanis, yaitu alat perasa air atau makanan. Antena panjang berfungsi sebagai alat peraba, perasa dan pencium. Selain itu antena juga digunakan sebagai alat proteksi (Aulina. L, 2013).

Bagian mulut pada lobster mencakup mandibel, maksila, dan maksiliped. Mulut berfungsi untuk menghancurkan makanan dengan cara menggerakkan dari samping kiri ke samping kanan. Pada bagian perut terdapat 5 pasang kaki renang. Dibandingkan kaki jalan dan capit, ukuran kaki renang jauh lebih kecil dan pendek. Pada lobster betina, 4 pasang kaki renangnya bisa digunakan untuk memegangi telur yang melekat pada perutnya. Masing-masing kaki tersebut akan bertautan melingkari kumpulan telurnya. Saat menggendong telur, kaki ini terkadang bergerak seperti gerakan mengipas. Gerakan tersebut dapat memberikan suplai oksigen yang dibutuhkan untuk telur yang digendongnya (Wiyanto dan Hartono,2003; Lukito dan Prayugo, 2007).

Lobster terdiri dari kepala dan thorax yang tertutup oleh karapas dan memiliki abdomen yang terdiri dari enam segmen. Karakteristrik yang paling mudah untuk mengenali lobster adalah adanya capit (chelae) besar yang pinggirnya bergerigi tajam yang dimiliki lobster untuk menyobek dan juga menghancurkan makanan (Spence,1989). Isnansetyo dan Yuspanani (1993) memberikan gambaran morfologi udang karang, yaitu mempunyai bentuk badan memanjang, silindris, kepala besar ditutupi oleh capace berbentuk silindris, keras, tebal dan bergerigi. Mempunyai antenna besar dan panjang menyerupai cambuk, dengan rostum kecil. Pada udang barong betina endopod pada pleopod II tanpa appendix interna/stylamblys.

CIRI-CIRI LOBSTER

(Lukito dan Prayugo, 2007)

Ciri lain yang terdapat pada lobster adalah rostrumnya hampir berbentuk segitiga memipih, lebar, dan terdapat duri di sekeliling rostrum tersebut.
Dilihat dari organ tubuh luar, lobster memiliki beberapa alat pelengkap sebagai berikut :
Sepasang antena sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan
kondisi lingkungan.
Sepasang antenula untuk mencium pakan, 1 mulut dan sepasang
capit (cheliped).
Enam ruas badan (abdomen).
Ekor, 1 ekor tengah (telson) terletak di semua bagian tepi ekor.
serta 2 pasang ekor samping (uropod).
Enam pasang kaki renang (pleopod) yang berperan dalam
melakukan gerakan renang.
Enam pasang kaki untuk berjalan (pereiopod) (Aulia. L, 2013).

Lobster tidak memiliki tulang dalam (internal skeleton), tetapi seluruh tubuhnya terbungkus oleh cangkang (eksternal skeleton) (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Lobster merupakan spesies dimorfisme, yakni terdiri dari jenis kelamin jantan dan betina. Jenis kelamin jantan dan betina dapat dibedakan secara pasti jika telah mencapai 2 bulan dengan panjang total rata- rata 5 s/d 7 cm. Ciri-ciri primer pembeda jenis kelamin calon induk lobster adalah bentuk tertentu yang terletak pada tangkai kaki jalan dan ukuran capit, sedangkan ciri-ciri sekunder yang dapat dilihat secara visual adalah kecerahan warna tubuhnya (Royadi, 2011).

Calon induk jantan memiliki tonjolan di dasar tangkai kaki jalan ke-5 jika dihitung dari kaki jalan di bawah mulut disebut pethasma, sedangkan ciri lobster betina adalah adanya lubang bulat yang terletak pada dasar kaki ke-3 yaitu thelicum (Gambar 3). Berdasarkan capitnya, calon induk jantan memiliki ukuran capit 2-3 kali lebar buku pertama (tangkai capit) dan calon induk betina memiliki ukuran capit yang sama atau 1,5
kali buku pertama (KPH Jember, 2006).

REPRODUKSI LOBSTER
Dalam sistem reproduksi, lobster jantan meletakan massa dan spermatoforik di bagian sinertum dari udang betina. Massa Spermatoforik yang baru dikeluarkan bersifat lunak, kemudian mengeras dan warnanya berubah menjadi kehitaman. Udang betina membawa dan menyimpan telurnya di bagian bawah perutnya. Masa inkubasi telur udang terjadi berkisar antara 3 atau 4 minggu. Perkembangan telur terlihat dengan adanya perubahan warna semula dari merah menjadi merah tua gelap. Induk betina yang telurnya matang cendrung bergerak ke peraiaran yang lebih dangkal (Romimohtarto, 2001). Subani, 1984 dalam utami 1999, lobster dapat digolongkan sebagai binatang yang mengasuh dan memelihara keturunannya walaupun sifatnya hanya sementara. Lobster betina yang sedang bertelur melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan butir-butir telurnya di bagian bawah badan (abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas menjadi larva udang. Menjelang akhir periode pengeluaran telur dan setelah dibuahi, lobster akan bergerak menjauhi pantai dan menuju ke perairan karang yang lebih dalam untuk penetasan Nontji (1993) menyatakan bahwa, jumlah telur yang dihasilkan setiap ekor betina lobster dapat mencapai lebih dari 400.000 butir. Telur-trlur tersebut akan menetas dan berubah menjadi larva pelagis. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, udang karang (lobster) mempunyai daur hidup yang kompleks. Telur yang telah dibuahi menetas menjadi larva dengan beberapa tingkatan (stadium). Larva lobster memiliki bentuk yang sangat berbeda dari yang dewasa. Larva pada stadium filosoma misalnya, mempunyai bentuk yang pipih seperti daun sehingga mudah terbawa arus. Semenjak telur menetas menjadi larva hingga mencapai tingkat dewasa dan akhirnya mati, maka selama pertumbuhannya, lobster selalu mengalami pergantian kilit (moulting). Pergantian kulit tersebut lebih sering terjadi pada stadia larva.

HABITAT LOBSTER
Habitat udang karang (lobster) pada umumnya adalah di perairan pantai yang banyak terdapat bebatuan /terumbu karang. Terumbu karang ini disamping sebagai barrier (pelindung) dari ombak, juga sebagai tempat bersembunyi dari predator, serta sebagai daerah pencari makan (Verianta, 2016). Secara umum habitat spiny lobster memiliki karakteristik yang sama, baik jenis lobster yang berada di pantai Utara Jawa dan sebarannya di dunia. Habitat lobster adalah daerah-daerah yang banyak terdapat karang-karang, terumbu karang, batuan granit, atau batuan vulkanis (Subani, 1983).

Habitat asli lobster adalah danau, rawa, atau sungai air tawar. Di samping itu, habitat alam yang selalu ditempati lobster juga harus dilengkapi tumbuhan air atau tumbuhan darat yang memiliki akar atau batang terendam air dan daunnya berada di atas permukaan air. Beberapa spesies lobster hidup dengan suhu air minimum 8◦C. Namun banyak spesies lobster dapat hidup di lingkungan dengan suhu air 26-30◦C (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Lobster umumnya aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal) dan juga termasuk jenis pemakan segala (omnivora) (Wiyanto dan Hartono, 2003).

Dalam pertumbuhannya, lobster juga melakukan proses pergantian kulit (molting), yang merupakan proses alami yang terjadi. Hewan tersebut mempunyai kerangka luar (eksoskeleton), sehingga perlu mengganti kerangkanya bila badannya tumbuh membesar, karena kerangka bagian luar yang bersifat kaku tidak ikut tumbuh. Frekuensi molting pada lobster selalu beriringan dengan pertambahan umur dan tingkat laju pertumbuhan. Semakin baik pertumbuhan maka akan semakin sering melakukan molting (Lukito dan Prayugo, 2007).

Fungsi dari molting adalah untuk percepatan pertumbuhan, percepatan pematangan gonad, dan regenerasi bagian tubuh yang cacat seperti capit yang patah. Molting pertama terjadi seminggu setelah burayak melepaskan diri dari induknya, atau sekitar berumur 2-3 minggu. Lobster memiliki waktu molting yang bervariasi, sesuai dengan umur lobster. Lobster yang masih muda biasanya hanya butuh waktu beberapa detik untuk molting, sementara lobster yang lebih dewasa memerlukan waktu sekitar 3-4 menit untuk molting (Wiyanto dan Hartono, 2003).

Proses molting merupakan proses yang rumit karena melibatkan berbagai proses yang bersifat hormonal, ada dua jenis hormon yang bertanggung jawab terhadap proses molting yaitu hormon ecdysis dan MIH (moult inhibiting hormone). Ecdysis berperan dalam memicu proses molting, sedangkan MIH berfungsi sebaliknya, yaitu menghambat proses molting. Proses molting melalui 4 tahapan yaitu preecdysis, ecdysis, metaecdysis, dan intramolting (Lukito dan Prayugo, 2007).

FISIOLOGI LOBSTER
Spesies ini mempunyai 2 pasang antenna yang berfungsi sebagai sensor peraba ataupun sebagai sensor pendeteksi makanan. Mempunyai mata pada bagian kepala yang merupakan panca indra melihat pada hewan ini. Terdapat mulut yang berfungsi sebagai alat penghancur makanan ataupun masuknya makanan. Memiliki 1 pasang mandibula, berfungsi untuk menggigit mangsanya. Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran darah terbuka. Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) yang berguna untuk memotong atau memegang makanan. Juga 4 pasang kaki jalan yang berguna untuk melakukan pergerakan saat dalam kondisi tidak berenang. Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat ekor yang berguna memungkinkan lobster ini berenang di perairan. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan telurnya. Sistem saraf krustasea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak) terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista (indra keseimbangan).

PERAN LOBSTER DI PERAIRAN
Panulirus versicolor atau yang dikenal dengan lobster mempunyai peran penting didalam perairan, khusunya di laut. Penghuni dasar laut ini, sering ditemukan di celah atau lubang karang-karang atau bebatuan sebagai tempat tinggalnya. Hewan ini berperan sebagai pemangsa dan mangsa di dalam peraiaran. Dengan memakan hewan lain yang berada di dasar, menjadikannya sebagai kelas pemangsa. Tak hanya memangsa ukuran yang lebih kecil dari tubuhnya, lobster pun bisa memangsa ikan yang sedang terluka dengan ukuran yang lebih besar dari tubuhnya. Namun lobster pun mempunyai predator yang mengincarnya, seperti hiu martil, gurita dan hewan karnivor lainnya yang hidup di dasar peraiaran.

PERTUMBUHAN LOBSTER
Secara umum dikenal adanya tiga tahapan stadia larva, yaitu “naupliosoma”, ”filosoma”, dan “puerulus”. Perubahan dari stadia satu ke stadia berikutnya selalu terjadi pergantian kulit yang diikuti perubahan-perubahan bentuk (metamorphose) yang terlihat dengan adanya modifikasi-modifikasi terutama pada alat geraknya. Pada stadia filosoma yaitu bagian pergantian kulit yang terakhir, terjadi stadia baru yang bentuknya sudah mirip lobster dewasa walaupun kulitnya belum mengeras atau belum mengandung zat kapur. Pertumbuhan berikutnya setelah mengalami pergantian kulit lagi, terbentuklah lobster muda yang kulitnya sudah mengeras karena diperkuat dengan zat kapur. Bentuk dan sifatnya sudah mirip lobster dewasa (induknya) atau disebut sebagai juvenile. Lama hidup sebagai stadia larva untuk lobster berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Lobster yang hidup di perairan tropis, prosesnya lebvih cepat dibanding dengan yang hidup di daerah sub-tropis. Waktu yang diperlukan untuk mencapai stadia dewasa untuk lobster torpis antara 3 sampai 7 bulan (Subani, 1984 dalam utami, 1999).

TINGKAH LAKU LOBSTER
Udang barong dikenal sebagai udang karang, karena hampir sepanjang hidupnya memilih tempat-tempat di karang, baik karang yang masih hidup maupun yang telah mati di sekitar pantai dan teluk (Subani 1981) diacu dalam Adnyanawati (1994). Kebiasaan hidupnya merangkak di atas dasar pasir berkarang, diantara karang-karang, gua-gua karang, diantara rumput-rumput laut dan bunga karang. berdasarkan kebiasaan merangkaknya, udang karang dapat dikatakan tidak pandai berenang walaupun memiliki kaki renang (Subani 1978). Pada saat matahari tenggelam udang barong meninggalkan liang untuk mencari makan di malam hari pada daerah terdekat dengan habitatnya, seperti pada batu karang datar dan hamparan rumput Iaut. Hal ini dikarenakan Udang barong adalah hewan nocturnal. Dalam upaya mencari makan, udang barong memangsa hewan yang bergerak lambat serta mudah ditangkap atau makhluk hidup yang melekat didasar perairan (Phillips dan Cobb 1980 diacu dalam Adnyanawati 1994). Makanan tamanya adalah porifera, echinodermata, moluska, crustacea dan ikan kecil serta larva ikan. Menurut Herrkind (1980) dan Lipcius (1985) tepat sebelum mencapai tahap dewasa udang barong akan melakukan pergerakan dari habitat perawatan menuju tempat yang lebih dalam, yaitu habitat karang, temp at dimana reproduksi akan terjadi. Hasil penelitian, menyatakan bahwa udang barong memiliki kemampuan untuk menentukan lokasi keberadaannya seeara geografi dari informasi yang dihantarkan oleh daya magnetik bumi. Kemampuan seperti ini dikenal "magnetic map sense", seperti pada burung merpati (Lohmann et al.1995).Peluang udang barong memasuki bubu dipengaruhi oleh adanya predator, kompetitor, mangsa udang barong yang terikat dan berada di sekeliling bubu (Hestirianoto 1985).

MANFAAT LOBSTER
Lobster (Panulirus sp.) merupakan komponen penting bagi perikanan udang di Indonesia, dimana menurut catatat Statistik Perikanan Indonesia tahun 2005, lobster menempati urutan ke empat untuk komoditas ekspor dari bangsa Krustacea setelah marga Penaeus, Metapeaneus dan Macrobrachium (Ditjenkan, 2007). Meningkatnya pasar domestik maupun ekspor menyebabkan penangkapan komoditas lobster semakin intensif. Intensifikasi penangkapan yang tidak didasarkan pertimbangan kelestarian sumberdaya seperti penangkapan menggunakan bahan peledak, potas dan lain-lain akan berakibat pada kerusakan hábitat dan ekosistem. Pemanfaatan yang seperti itu akan berakibat pada menurunnya stok lobster, kepunahan spesies, ketidak seimbangan ratio antara jantan dan betina, serta aspek biologi lainnya (Junaidi et al., 2010). Musim penangkapan udang karang berlangsung sepanjang tahun dengan puncaknya pada bulan September hingga Februari (Wahyuni et al., 1994). Hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa puncak musim penangkapan terjadi pada buan November hingga Maret (Subani & Prahoro,1990).

Di Indonesia, pulau Lombok merupakan satu-satunya pulau dengan ketersediaan benih lobster (puerulus) yang cukup melimpah (Priyambodo dan Sarifin 2009). Harga benih lobster (puerulus) yang sangat tinggi (Rp. 12.000 s.d. Rp. 17.000/ekor) mendorong nelayan di sekitar perairan teluk Grupuk-Lombok untuk menangkap benih lobster dari alam (Erlania et al. 2014). Lebih dari 90% benih lobster (puerulus) yang ditangkap oleh nelayan di pulau Lombok adalah jenis lobster pasir P. homarus, 10% jenis lobster mutiara P. ornatus, serta sebagian kecil jenis lobster bambu P. versicolor dan lobster batik P. longipes (Jones 2010). Puerulus yang ditangkap kemudian melalui proses pembesaran dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA) selama 8-10 bulan masa pemeliharaan sampai siap untuk dipanen dengan kisaran berat lobster adalah 115-140 gram (Petersen et al. 2013).

Jadi manfaat lobster bagi indonesia sebagai nilai ekspor sehingga menambah devisa negara indonesia. Untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terhadap lobster terutama di wilayah Asia, Eropa dan Amerika, maka kegiatan budidaya lobster sudah banyak dilakukan di beberapa negara termasuk di Indonesia (Phillips dan Matsuda 2011). Sebagian besar kegiatan budidaya lobster adalah kegiatan pembesaran dengan menangkap benih (puerulus) dari alam. Hal ini dikarenakan sampai saat ini belum tersedianya benih lobster dari hasil kegiatan budidaya (Williams 2007).

SPESIES LOBSTER YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN LAUT JAWA BAGIAN TIMUR INDONESIA
Adapun ciri spesies lobster berdasarkan (Carpenter & Neim, 1998) yang tertangkap selama penelitian antara lain:

LOBSTER MUTIARA
Memiliki warna dasar tubuh kehijauan dengan pola garis tipis berwarna hitam dan kuning disetiap ruas tubuhnya, memiliki pola garis vertikal berwarna hitam dan kekuningan pada setiap kakinya, dan memiliki ekor berwarna orange.

LOBSTER PAKISTAN
Memiliki warna dasar tubuh hijau muda dengan pola garis berwarna kekuningan pada setiap ruas antar segmennya, dan pada setiap kakinya memiliki bercak kuning.

LOBSTER BAMBU
Memiliki warna dasar tubuh hujau terang dengan pola garis tipis yang diapit warna hitam pada setiap segmennya, memiliki anterna berwarna merah, dan pada setiap kakinya memiliki pola garis horizontal berwarna hitam dan kekuningan

LOBSTER PASIR
Memiliki warna dasar hijau kecoklatan, pada setiap kakinya memiliki bercak putih, dan pada lempeng antenula terdapat 2 buah duri besar yang diikuti oleh duri-duri kecil dibelakangnya.

PENULIS
Rhega Farianda
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan Tahun 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan Tahun 2015

DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo, M. Djambitu. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Google Image. 2015. http://www.googleImage.com. Diakses pada 1 November 2015
Nontji, Anugrah. 2007. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Ridwanudin, A.,  V. Fahmi dan I. S. Pratama. 2018. Pertumbuhan Lobster Pasir Panulirus homarus dengan Pemberian Pakan Moist. Jurnal Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. 3(2): 95-103.
Romimohtarto, Kasijan. 2009. Biologi Laut. Jakarta: Djambatan
Setyanto, A., N. A. Rachman dan E. S. Yulianto. 2018. Distribusi dan Komposisi Spesies Lobster yang Tertangkap di Perairan Laut Jawa bagian Jawa Timur, Indonesia. Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada. 20(2): 49-55.
Smayani.2015.https://smayani.wordpress.com/2009/05/13/crustacea/.Diakses pada 1 November 2015
Wikipedia. 2015. https://id.wikipedia.org/wiki/Krustasea. Diakses pada 1 November 2015
Wikipedia.2015.https://id.wikipedia.org/wiki/Panulirus_versicolor.Diakses pada 1 November 2015

No comments:

Post a Comment