Sunday, January 12, 2020

Cacing Laut Nereis sp; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Cacing Laut Nereis (Nereis virens) termasuk dalam filum Annelida kelas Polychaeta (Fauchald, 1977). Polychaeta berasal dari bahasa latin yang terdiri atas Poly dan chetae, poly artinya banyak sedangkan chetae merupakan bagian yang menyerupai rambut yang terletak di pinggir kanan dan kiri badan cacing. Ciri khas dari Polychaeta adalah banyaknya chetae yang terlihat seperti kaki-kaki di seluruh badannya.

Anggota filum Annelida yang telah teridentifikasi sekitar 9.000 spesies dan sebagian besar terdiri atas Polychaeta sebanyak 8.000 spesies. Karena banyaknya spesies Polychaeta sehingga untuk membedakannya diperlukan keahlian antara spesies yang satu dengan yang lainnya. Bagian-bagian badan utama cacing laut pembeda famili dan genus adalah prostomium, peristomium, farink, parapodia, dan setae. Morfologi umum cacing laut terdiri atas kepala, badan, dan ekor (Fauchald, 1977)

Cacing laut yang dimanfaatkan di beberapa daerah sentra pembenihan udang ternyata mempunyai jenis yang berbeda-beda. Secara umum masyarakat mengenal cacing laut dengan nama lokal masing-masing daerah. Sebagian masyarakat mengenal cacing laut semua jenis dengan nama cacing Nereis. Walaupun jika ditelusuri lebih lanjut cacing laut dari beberapa daerah tersebut ternyata mempunyai nama ilmiah yang berbeda. Jenis-jenis yang dimanfaatkan sebagai pakan alami induk udang antara lain dari famili Eunicidae dan Nereidae. Famili Eunicidae terdiri atas Marphysa sp.-1, Marphysa sp.-2, dan Marphysa sanguinea Famili Nereidae terdiri atas Nereis sp., Namalycastis sp., Perinereis nuntia (Rasidi, 2012). Jenis-jenis cacing laut yang ditemukan di beberapa pusat pembenihan udang di Kabupaten Serang, Cilacap, Situbondo, dan Barru.

Cacing Nereis sp. lebih banyak dikenal masyarakat lokal dan dijadikan nama umum untuk semua jenis cacing laut yang dimanfaatkan di pembenihan udang, walaupun setelah diidentifikasi nama ilmiah cacing laut tersebut belum tentu Nereis sp. Hal ini wajar karena sangat sulit membedakan jenisnya secara visual, untuk membedakannya harus dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop dan keahlian identifikasi.

Jenis-jenis cacing laut yang dimanfaatkan sebagai pakan induk terdiri atas 2 famili dan 6 jenis. Semua jenis tersebut telah dimanfaatkan sebagai salah satu pakan alami untuk induk udang di pembenihan udang. Cacing laut mempunyai potensi untuk dikembangkan melalui budidaya. Cacing laut masih memerlukan berbagai penelitian untuk menuju budidayanya di Indonesia seperti yang telah dikembangkan di luar negeri. Budidaya cacing laut dapat dijadikan salah satu alternatif peluang penelitian dan usaha yang masih terbuka lebar untuk penyediaan pakan alami di pembenihan udang.

KLASIFIKASI CACING LAUT NEREIS
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Annelida
Class
: Polychaeta
Ordo
: Errantia
Family
: Nereidae
Genus
: Nerus
Spesies
: Nereis virens

MORFOLOGI CACING LAUT NEREIS


Memiliki banyak rambut dengan tubuh bersegmen-segmen, setiap segmen disebut anulus. Kepala dibagian anterrior, dilengkapi mata, antena, arostomium, rahang, faring, peristomium dan palp. Tubuhnya jelas mempunyai capuz dan alat-alat tambahan, terbagi menjadi banyak segmen. Segmen pertama disebut peristonium dan pada tiap bagian lateral terdapat 2 pasang tentakel. Termasuk dalam kelas polychaeta yang berarti berambut banyak. Pada bagian anterior terdapat kepala yang dilengkapi dengan mata, tentakel serta mulut berahang. Tubuh berwarna menarik yaitu merah kecoklatan.

CIRI-CIRI CACING LAUT NEREIS

(Perbesaran 10x)

Dilihat dari gambar diatas secara visual, Nereis sp. memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut. Bagian dorsal prostomium-nya terdiri atas 2 buah antena, 2 buah palp, 4 buah mata berukuran relatif besar, dan 4 pasang tentacular cirri yang terbagi di bagian lateral (kiri dan kanan) kepala cacing.

REPRODUKSI CACING LAUT NEREIS
Sistem reproduksi pada nereis bersifat diesius, artinya testes atau ovarium pada dinding selom yang tersusun secara segmental (beberapa atau banyak segmen). Gamet tua akan keluar dengan paksa melalui dinding tubuh. Luka pada dinding akibat keluarnya gamet, namun luka terssebut akan segera menutup kembali. Fertilasi terjadi di dalam air dan zigot tumbuh menjadi trokofor (brorowidjoyo,1984). Spesies Nereis virens bersifat  diesius, artinya dimana  alat kelamin jantan dan betina terpisah. Gonad hanya berkembang pada musim perkawinan. Gonad terdapat pada semua segmen, kecuali pada bagian ujung anterior badan. Ovarium dan spermatozoa terdapat di bagian tepi selom.

Setelah sel jantan dan betina melakukan reproduksi, maka sel tersebut akan menjadi larva. Larva tersebut akan terbang bebas di lautan atau menempel pada bebatuan karang pinggir pantai. Makanan larva tersebut berupa plankton ataupun sisa-sisa makanan hewan lain. Saat memasuki fase dewasa, larva tersebut akan mulai tumbuh segmen dimulai dari bagian belakang terlebih dahulu. Kemudian akan mempunyai bulu dan kaki dan disusul dengan bagian utama kepala. Pada fase dewasa, cacing ini bernapas dengan menggunakan kulitnya yang khusus.

HABITAT CACING LAUT NEREIS
Habitat cacing nereis virens di laut dan di dalam liang pasir dan hanya menyembulkan kepala diatas permukaan pasir atau berenang-renang di dalam laut.
  
FISIOLOGI CACING LAUT NEREIS
Pada spesies ini memiliki antena yang berguna sebagai pendeteksi adanya makanan ataupun bahaya. Memiliki indra untuk melihat pada bagian mata. Parapodia adalah kaki seperti dayung (sirip) digunakan untuk berenang, bergerak di daratan sekaligus bertindak sebagai alat pernafasan. Setae adalah bulu-bulu yang melekat pada parapodia, yang membantu polychaeta melekat pada substrat dan juga membantu mereka bergerak. Memiliki sepasang rahang dan faring yang bergerak dengan cepat memungkinkan mereka untuk menangkap mangsanya.

PERAN CACING LAUT NEREIS DI PERAIRAN
Karena hidupnya berada di dua habitat, maka pengaruh peran spesies ini di perairan berpengaruh. Saat ia mencari makan di laut, maka peranya di laut sebagai predator binatang kecil yang hidup. Disaat ia sedang mencari makan, spesies ini pun berhati-hati di sekelilingnya dari predator yang akan memangsa dirinya.

TINGKAH LAKU CACING LAUT NEREIS
Spesies ini sering ditemukan di pasir atau menggali bebatuan di daerah pasang surut, dan aktif di waktu malam untuk mencari makan. Cacing ini bersifat karnivora atau memakan hewan kecil atau hewan yang terluka atau mati. Memiliki alat tambahan parapedia, yang berguna untuk menggali ke dalam pasir. Hewan ini sering berkelahi sesama jenisnya bila 1 dengan yang berhadapan. Saat di dalam air hewan ini terapung bebas dan bisa menyentuh ke dasar laut yang rendah.

MANFAAT CACING LAUT NEREIS
Cacing laut sebenarnya mempunyai potensi untuk dibudidayakan di Indonesia. Potensi tersebut dapat dilihat dari banyaknya pembenihan udang yang memanfaatkannya sebagai pakan induk di beberapa sentra pembenihan udang di Indonesia antara lain di wilayah Kabupaten Serang, Cilacap, Situbondo, dan Barru (Rasidi, 2012). Cacing laut tersebut ternyata masih harus didatangkan dari luar daerah masing-masing misalnya pembenihan udang di Situbondo memperoleh cacing laut dari penangkap lokal dari Situbondo, Banyuwangi, dan Tuban. Pembenihan udang di Cilacap harus dikirim juga dari Tuban. Pembenihan udang di Gondol juga mendapatkan cacing laut dari Banyuwangi. Hal ini disebabkan belum adanya penangkap cacing di masing-masing wilayah. Keadaan ini sebenarnya menjadi peluang pemasaran produk cacing laut hasil budidaya ke depan. Jika di luar negeri saja cacing laut dapat dikembangkan kemungkinan besar di Indonesia juga dapat dibudidayakan.

Pembenihan udang akan siap menerima produksi hasil budidaya cacing laut ini jika dapat dikembangkan di Indonesia. Jika dilihat dari permintaan pasar, pembenihan udang yang tersebar di wilayah di Jawa maupun luar Jawa selama ini banyak yang memanfaatkannya sebagai salah satu pakan alami untuk induk udang.

Selain untuk pakan induk udang, cacing laut juga dapat dimanfaatkan sebagai umpan memancing. Berdasarkan hasil survai di Serang, Banten pedagang cacing laut dapat menjual cacing laut berkisar 10-20 botol pada hari-hari biasa jika pada akhir pekan akan lebih banyak lagi. Harga cacinglaut untuk umpan memancing sebesar Rp 5.000,-/botol. Jika dalam satu hari dapat menjual cacing laut sebanyak 10 botol dapat terkumpul Rp 50.000,-/hari. Hal ini dapat dijadikan peluang pekerjaan cukup bagus.

Harga cacing laut di beberapa daerah sentra pembenihan udang di Serang, Cilacap, Situbondo, dan Baru berkisar Rp 22.000,- – Rp 50.000,- dengan rata-rata Rp 32.315,-/ kg (Rasidi, 2012). Harga cacing laut dari penangkapan di alam masih jauh lebih murah, jika dibandingkan dengan harga cacing laut hasil budidaya harganya mencapai US$ 40 (Anonim, 2007). Tingginya harga cacing laut produksi budidaya tersebut disebabkan sudah ada jaminan bebas penyakit.

Pemenuhan kebutuhan pakan alami untuk pakan benih ikan dan udang di Indonesia seperti halnya Artemia yang masih harus diimpor dari luar negeri, impor cacing laut juga sudah mulai merambah negeri ini, walaupun jumlahnya masih relatif kecil. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya pada tahun 2012 impor cacing laut beku (frozen Polychaeta) sebesar 2.550 ton dengan nilai US$ 17.973,80 (Anonim, 2012). Hal ini menunjukkan cacing laut telah menjadi salah satu komoditas penting di dalam dunia akuakultur sehingga harus impor dari luar negeri. Impor cacing laut dilakukan karena di Indonesia budidaya cacing laut belum berkembang.

Kendala budidaya cacing laut di Indonesia belum berkembang antara lain cacing laut belum dianggap sebagai komoditas penting sehingga perhatian akan komoditas ini juga belum ada. Akibatnya data produksi cacing laut hasil penangkapan di beberapa sentra pembenihan udang juga tidak terekam dengan baik, walaupun data-data hasil penangkapan tersebut sangat penting untuk menentukan status produksi cacing laut ke depan.

Berbeda dengan budidaya cacing tanah yang telah berkembang, budidaya cacing laut di Indonesia masih pada taraf penelitian. Penelitian budidaya cacing laut sebenarnya juga telah dirintis di Indonesia sejak tahun 2000-an. Pembenihan cacing laut jenis cacing lur (Dendronereis pinnaticirris) telah berhasil dilakukan (Yuwono et al., 2002; Yuwono, 2003). Penelitian dari berbagai aspek budidaya untuk jenis-jenis cacing laut yang lain, yang dimanfaatkan di pembenihan udang di masing-masing daerah masih sangat diperlukan sehingga budidaya cacing laut dapat berkembang di Indonesia sebagai salah satu upaya penyediaan pakan alami untuk induk udang.

Secara umum beberapa jenis cacing laut telah berhasil dikembangkan skala industri di beberapa negara, misalnya Nereis sp. telah berhasil dibudidayakan oleh perusahaan Sea Bait Ltd. (Inggris) yang telah mengembangkannya sejak Tahun 1985. Di Inggris telah berhasil mengembangkan budidaya Nereis virens skala massal. Budidaya dilakukan di ruangan (indoor) dan outdoor untuk pembesaran secara intensif dengan menggunakan sistem teknologi resirkulasi dan pengemasan telah dilakukan untuk dikirim ke konsumen di berbagai negara. Jika di luar negeri cacing laut dapat dikembangkan kemungkinan besar di Indonesia juga dapat dibudidayakan.

PENULIS
Rhega Farianda
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Biodiversity.2015.KelabangLaut(Online).http://www.biodiversitywarriors.org/isicatalog.phpidk=1031&judul=Kelabang%20Laut. Diakses pada 1 November 2015
Brotowidjoyo, M. Djambitu. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Eol.2015. http://eol.org/data_objects/19213167. Diakses pada 1 November 2015
Google Image. 2015. http://www.googleImage.com. Diakses pada 1 November 2015
Materi biologi. 2015. http://www.materibiologi.com/ciri-ciri-kelas-polychaeta/. Diakses pada 1 November 2015
Pamungkas, J. 2009. Pengamatan Jenis Cacing Laor (Annelida, Polychaeta) di Perairan Desa Latuhalat Pulau Ambon, dan Aspek Reproduksinya. Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan. 5(2): 1-10.
Rasidi. 2013. Mengenal Jenis-Jenis Cacing Laut dan Peluang Budidayanya Untuk Penyediaan Pakan Alami di Pembenihan Udang. Media Akuakultur. 8(1): 57-62.
Warino, Joko. 2015. Jenis-jenis dan Klasifikas Filum Annelida (Online).https://jokowarino.id/jenisjenisdanklasifikasifilumannelida/.Diakses pada 1November 2015
Wikipedeia.2015. https://id.wikipedia.org/wiki/Alitta_virens. Diakses pada1 November 2015
Wikipedia.2015. https://id.wikipedia.org/wiki/Annelida. Diakses pada1 November 2015

No comments:

Post a Comment