Saturday, November 7, 2020

Iridovirus; Klasifikasi, Morfologi, Habitat, Distribusi, Mekanisme Infeksi



Gambar Morfologi Iridoviridae (Hyatt, et al.,2000)

 

Klasifikasi Iridovirus

Iridovirus merupakan DNA virus yang diklasifikasikan ke dalam famili iridoviridae, dan dengan mikroskop elektron virus ini terlihat berbentuk hexagonal atau icosahedral dengan diameter yang bervariasi yaitu berkisar 120-240 nm, serta berkembang pada sitoplasma sel-sel yang terinfeksi (Jhony dan Roza, 2009). Famili ini memiliki lima genera yaitu Chloriridovirus, Iridovirus, Lymphocystivirus, Megalocytivirus, dan Ranavirus (Murtiono et al., 2016).

 

Morfologi Iridovirus

Iridovirus memiliki diameter virion 25 sampai 190 nm dan merupakan virus DNA sitoplasmik (Berthiaume et al., 1984). Virion terbungkus oleh envelope di dalam plasma dan terdapat muatan elektron di dalamnya (Chen et al., 2003). Virion iridovirus tersusun atas membran lemak yang mengandung protein di dalamnya. Nukleus yang menginfeksi sel inang akan melakukan transkripsi dan replikasi DNA virus di dalam sitoplasma dan akan segera membentuk inclusion bodies (Eaton et al., 1991). 

 

Habitat dan Distribusi Iridovirus

Kasus akibat infeksi iridovirus telah banyak dilaporkan terjadi di beberapa kawasan budidaya. Infeksi iridovirus diketahui sebagai suatu penyakit yang mematikan pada budidaya jaring apung ikan laut seperti kakap merah di Jepang dan ikan kerapu di Asia Tenggara (Koesharyani et al., 2001) Penyakit akibat infeksi iridovirus dikenal dengan nama ”Sleepy Grouper Disease” yang umumnya menginfeksi stadia fingerling sampai ukuran siap jual (Murtiono, et al., 2016). Iridovirus akan mudah mereplikasi diri pada suhu 20-25 oC (Lua et al., 2005).

 

Distribusi iridovirus antara lain pada budidaya ikan kerapu lumpur di Sumatra Utara. Selain itu juga dilaporkan menimbulkan kematian massal pada red sea bream, Pagrus major di Jepang, kerapu malabar, Epinephelus malabaricus di Thailand, kerapu, Epinephelus sp di Taiwan (Mahardika et al., 2004), brown-spotted grouper, E. tauvina di Singapura (Chua et al, 1994). Bahkan terakhir dilaporkan terjadi di Sumatera Barat, dimana jenis ikan yang terserang adalah kerapu bebek, C. altivelis dan mengakibatkan kerugian hingga Rp. 2,8 Miliar (Sunarto, 2013).

 

Mekanisme Infeksi Iridovirus

Organ target infeksi iridovirus adalah organ pembentuk darah yaitu hemolimpa sehingga dengan cepat akan menginfeksi ogan lain melalui peredaran darah. Masuknya iridovirus ke dalam inang dapat melalui fagositosis dan endositosis, yang akan bergabung dengan lisosom. Kemudian virus akan melakukan uncoated dan replikasi (Watson dan James, 1998). Iridovirus yang memiliki envelope pertama kali menginfeksi inang melalui membran sel, yang akan berguna untuk meningkatkan tingkat infeksi spesifik virion tetapi envelope tidak akan muncul ketika virus menginfeksi membran plasma (Valero et al., 2015). Infeksi iridovirus juga dapat terjadi secara vertikal dan virus ditemukan di jaringan ovarium, sperma, telur yang terbuahi dan larva. Virus  terbawa oleh induk dan menetap pada gonad dan beberapa organ seperti hati, ginjal, perut dan usus. Replikasi virus akan terjadi ketika kondisi lingkungan sedang tidak stabil. Infeksi iridovirus juga dapat terjadi secara horizontal yaitu virus masuk ke inang melalui badan air (Breuil et al., 2002). Menurut Lucianus (2010), replikasi virus terdiri dari 6 tahap yaitu:

 

1. Penempelan (adsorbsi).

Pada tahap ini receptor-binding protein virus berikatan secara spesifik dengan reseptor pada permukaan sel inang. Setelah virus berhasil menempel pada permukaan sel inang dilanjutkan tahap penetrasi.

 

2. Penetrasi

Ada tiga jenis mekanisme penetrasi yaitu fusi, endositosis, dan translokasi. Pada tahap penetrasi virus memasukkan materi genetik kedalam sitoplasma sel inang dengan menggunakan kakinya.

 

3. Uncoating

Tahap uncoating terjadi di permukaan sel dalam virus. Secara umum tahap ini merupakan proses enzimatis yang menggunakan enzim lisosomal atau melibatkan pembentukan enzim baru. Pada tahap pelepasan coat atau uncoating ini yang berperan adalah RNA 2. Pada tahap uncoating asam nukleat virus terpisah dari coat proteinnya dan dilanjutkan ke tahap biosintesa.

 

4. Biosintesa

Pada tahap biosintesa terdiri dari produksi protein-protein struktural virus dan enzim-enzim serta replikasi genom virus. Biosintesa dimulai dengan pembuatan mRNA. Masenger RNA ini akan di translasi untuk membuat protein-protein struktural dan enzim-enzim yang diperlukan oleh virus. Replikasi virus DNA terjadi di sitoplasma.

 

5. Maturasi (assembly)

Maturasi diawali dengan perakitan protein kapsid yang diikuti dengan packaging genom virus. Tahap ini terjadi penyusunan asam nukleat dan protein virus menjadi partikel virus utuh.

 

6. Pelepasan (release)

Virus yang ber envelope lepas melalui budding atau membran plasma sel inang membentuk envelope virus. Sedangkan virus yang non envelope lepas melalui rupture membran plasma sel inang yang menyebabkan sel inang mati.

 

Mekanisme infeksi iridovirus adalah melalui proses endocytosis (reseptor-mediated endocytosis). DNA virus masuk ke dalam inti sel dan kemudian berkembang biak (perkembangan virus tahap pertama). DNA virus selanjutnya keluar dari inti sel ke dalam sitoplasma melalui membrane inti yang rusak atau pecah (rupture) dan berekembang biak di dalam VAS (Viral Assembly Site) (masuk perkembangan virus tahap kedua). Di dalam sitoplasma sel tersebut DNA virus akan membentuk partikel virus (Chao et al., 2005). Mekanisme infeksi iridovirus disajikan pada Gambar Mekanisme Infeksi Iridovirus.

 


Gambar Mekanisme Infeksi Iridovirus (Chincar, 2002)

 

Ikan kerapu cantang yang terinfeksi iridovirus menunjukkan gejala klinis berupa nafsu makan berkurang bahkan hilang diikuti dengan ikan tampak lemah dan berdiam di dasar bak dengan warna tubuh agak gelap. Selanjutnya ikan akan berbaring atau tidur dengan satu sisi tubuh. Bagian sisi bawah tubuh pucat dan warnanya hilang. Beberapa saat ikan-ikan tersebut akan mengalami kematian (Mahardika dan Mastuti, 2013)

 

Penulis

Iddo Intheo Charistio

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014


Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

DAFTAR PUSTAKA

Mahardika, K., Zafran., D. Roza., F. Johnny dan A. Prijono. (2002). Studi pendahuluan penggunaan vaksin iridovirus (inaktif vaksin) pada juvenile kerapu lumpur, Epinephelus coioides. Laporan Hasil Penelitian DIP 2002 Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Gondol.

Mahardika, K dan I. Mastuti. 2013. Studi histopatologi: pembentukan sel sel membesar pada ikan kerapu setelah terinfeksi Megalocityvirus. Konferensi Akuakultur Indonesia. 1(1): 132-138.

No comments:

Post a Comment