Friday, November 6, 2020

Analisis Histopatologi Limfoid Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Yang Diinfeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV)



(Dokumentasi Pribadi, Saat Menggunakan Mesin Histopatologi di BBPBAP Jepara)


HISTOPATOLOGY ANALYSIS LIMFOID OF VANAME SHRIMP (Litopenaeus vannamei) INFECTED by White Spot Syndrome Virus (WSSV)

 

Gery Purnomo Aji Sutrisno1), Maftuch2), dan Heny Suprastyani2)

 

1) Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya

2) Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya

 

ABSTRAK

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) saat ini telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Virus  White Spot Syndrome Virus  (WSSV) merupakan salah satu penyakit yang sering menginfeksi dalam budidaya udang. Keberadaan virus tersebut dapat dideteksi secara dini melalui uji PCR. Selain itu dapat dilakukan uji histopatologi untuk mengetahui gambaran kerusakan organ akibat infeksi virus tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi limfoid udang vaname (Litopenaeus vannamei) serta  mengetahui gejala klinis yang nampak pada udang vaname pasca infeksi virus WSSV. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan  Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan dalam penelitian ini sebanyak 3 perlakuan injeksi virus  dan 1 kontrol sebagai pembanding dengan pengulangan 3 kali. Perlakuan A (konsentrasi 10^2), Perlakuan B (konsentrasi 10^3 ), Perlakuan C (konsentrasi 10^4 )  serta  kontrol (tanpa injeksi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan pada organ limfoid adalah hipertropi dan hiperplasia. Hasil penelitian juga didapatkan bahwa nilai skoring 4 di semua perlakuan yang menunjukkan kerusakan berat.

 

Kata Kunci : White Spot Syndrome Virus, Udang Vaname, Limfoid

 

ABSTRACT

Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) is now widely cultivated in indonesia. White Spot Syndrome Virus (WSSV) was one of the diseases that often infect in  shrimp culture.  The existence of the virus could be detected early through PCR tests. In addition, histopathology tests could be carried out to determine the description of organ damage due to infection. The purposed of this study was to know the histopathology description of the gill vaname  shrimp (Litopenaeus vannamei) and clinical symptoms that appeared in vaname shrimp after infected by WSSV. The research method that used was an experimental method with a completely randomized design (CRD). The treatments in this study were 3 viral injection treatments and 1 control as a comparison with 3 replications. Treatment A (concentration 102), Treatment B (concentration 103), Treatment C (concentration 104) and control (without injection). The results showed that damage to lymphoid organs was hypertrophy and hyperplasia. The results also found that score of 4 in all treatments showed severe damage.

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) saat ini telah banyak dibudidayakan di Indonesia. Para pembudidaya sudah banyak beralih ke udang vaname karena merupakan komoditas ekspor serta memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi. Produksi udang vaname juga menunjukkan peningkatan. Pada periode tahun 2009 – 2013, menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2013) produksi udang vaname mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2009, jumlah produksi mencapai 170.969 ton. Pada tahun 2010, mengalami peningkatan menjadi sebesar 205.578 ton. Pada tahun 2011 dan 2012 masing-masing mengalami peningkatan menjadi sebesar 246.420 dan 251.763 ton. Pada tahun 2013 mengalami peningkatan produksi yang cukup besar yakni menjadi sebesar 386.314 ton.

 

Udang vaname (L. vannamei) adalah salah satu spesies udang yang bernilai ekonomis dan merupakan salah satu komoditas unggulan nasional. Udang vaname memiliki beberapa kelebihan udang vaname yaitu bersifat euryhaline, udang ini mampu hidup pada perairan dengan salinitas sekitar 0,5-45 0⁄00 , dan waktu pemeliharaan lebih pendek yakni sekitar 90-100 hari per siklus (Hudi dan Shahab 2005). Udang vaname juga memiliki nafsu makan yang tinggi dan dapat memanfaatkan kadar protein rendah dengan kadar 20%-35% (Briggs, et al., 2004), sehingga pada sistem budidaya dengan pola semi intensif biaya pakan dapat diminimalisir (Burhanuddin, 2009). Karena keunggulan-keunggulannya tersebut, udang vaname ini memiliki prospek yang baik untuk dibudidayakan.

 

Udang vaname juga memiliki kelemahan, salah satunya juga sering terserang berbagai penyakit. Menurut Arafani, et al. (2016), pada budidaya udang vaname kemunculan penyakit merupakan kerugian besar, berbagai penyakit akibat infeksi bakteri dan virus menyebabkan budidaya terganggu. Virus bercak putih atau white spot syndrome virus (WSSV) merupakan salah satu penyakit yang paling mengancam industri tambak udang dan di seluruh dunia. Penyakit WSSV pada udang menyebabkan gagal panen, menurunkan minat petambak untuk melakukan budidaya udang, serta mematikan tambak-tambak produktif.

 

WSSV memiliki kemampuan menimbulkan penyakit (virulensi) yang sangat tinggi. Virus ini bisa mengakibatkan total kematian 100% pada 3 sampai 10 hari penyerangan (Wang, et al., 2007). Penyakit bintik putih telah diketahui disebabkan oleh virus WSSV melalui teknik deteksi menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang telah dikembangkan untuk diagnosa cepat agar dapat mencegah penyebaran virus pada sistem budidaya.

 

Analisis histopatologi juga perlu dilakukan guna melihat tingkat kerusakan sel akibat infeksi WSSV. Menurut Pratiwi dan Manan (2015), Kepentingan pemeriksaan histopatologi dalam diagnosa penyakit infeksi selain diketahui kemungkinan penyebab infeksinya, juga dapat dilihat dari peradangan dan infiltrasi sel radang yang ada. Maka dari itu perlu melakukan analisis histopatologi pada udang yang terinfeksi WSSV guna mengetahui kerusakan sel yang disebabkan oleh virus.

 

Kegunaan

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi tentang kerusakan sel organ limfoid pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diinfeksi virus WSSV dengan dosis 10^2, 10^3 dan 10^4 serta mengetahui gejala klinis yang diakibatkan oleh infeksi virus.

 

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Manajemen Kesehatan Hewan Akuatik Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 08 Januari – 28 Februari 2019.

 

METODE PENELITIAN

 

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian yaitu cover glass, object glass, autoclave, cassette, waterbath, mikroskop binokuler, tissue prosesor, sentrifuge, spuilt 1 ml, tube, inkubator, mikropipet, blue tip, Laminary air flow (LAF).

 

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu udang vaname (Litopenaeus vannamei), nuclease free water, alkohol( 70%, 80%, 90% dan 100%), PBS, inokulum virus WSSV, aquades, larutan davidson, parafin, xylol, eosin, hematoxyline, entelan, kaporit, Na-thiosulfat.

 

Metode dan Rancangan Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan yaitu menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 1 kontrol  dan pengulangan sebanyak 3 kali.

 

Perlakuan yang digunakan terdiri dari perlakuan A yang diinjeksi virus dengan konsentrasi 10^2 , perlakuan B dengan konsentrasi 10^3, perlakuan C dengan konsentrasi 10^4 dan kontrol tanpa injeksi virus.

 

Prosedur Penelitian

Persiapan Media Pemeliharaan

Air laut yang akan digunakan disterilisasi terlebih dahulu  menggunakan kaporit dengan dosis 20 ppm dalam waktu 24 jam. Setelah itu, ditambahkan Na-Thiosulfat untuk menghilangkan sisa-sisa kaporit setengah dari dosis kaporit yang digunakan yaitu kurang lebih 10 ppm.  Kemudian dilakukan aerasi selama 14 jam secara terus menerus. Air laut yang telah steril dapat digunakan sebagai media hidup udang.

 

Pesiapan Wadah Penelitian

Wadah penelitian yang digunakan berupa bak kontainer dengan kapasitas 150 L sebanyak 12 buah.  Bak yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dengan air dan sabun, lalu dikeringkan kurang lebih selama 24 jam. Setelah itu, air laut yang disterilisasi diisikan ke dalam bak kontainer. Kemudian dilakukan pemasangan aerator set untuk membantu suplai ketersedian oksigen selama pemeliharaan udang.

 

Sterilisasi Alat dan Bahan

Sterilisasi pada alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses PCR dilakukan menggunakan autoklaf dengan cara sebagai berikut: peralatan yang akan disterilisasi sebelumnya dicuci bersih dengan air mengalir, kemudian dimasukkan kedalam autoklaf yang telah disiapkan sebelumnya. Sterilisasi menggunakan autoklaf dilakukan selama kurang lebih 15 menit, dengan tekanan 1 atm dan suhu 121oC. Setelah 15 menit, dapat ditekan tombol power off pada autoklaf dan dibuka klep secara perlahan setelah alarm berbunyi. Kemudian diambil alat dan bahan yang ada di dalam autoklaf.

 

Penyediaan Virus WSSV

Virus WSSV di dapatkan dari inokulum virus yang tersedia di Laboratorium Biologi Molekuler Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, yaitu dari sampel udang vaname yang positif terinfeksi WSSV. Prosedur pembuatan inokulum virus dibuat mengikuti metode Wahjuningrum, et al. (2006), Virus diambil dari organ insang udang vaname terinfeksi WSSV. Sebanyak 1 gram organ udang yang terinfeksi WSSV digerus sampai halus dan dilarutkan dalam 9 ml air laut steril, kemudian di sentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit dan 8000 rpm selama 20 menit. Supenatan yang dihasilkan disaring dengan kertas miliphore 0,45 µm menggunakan filter holder dan syringe. Setelah itu dilakukan RT-PCR untuk mengetahui dosis virus yang akan digunakan, lalu dilakukan pengenceran bertingkat. Sehingga didapat suspensi virus yang diinginkan.

 

Persiapan Udang Uji

Udang vaname yang digunakan dipilih udang vaname dengan kondisi sehat dan memiliki ukuran size 50 dengan berat rata-rata 20 g/ekor. Udang yang digunakan sebanyak 120 ekor. Setiap bak kontainer dimasukkan udang 10 ekor lalu diaerasi untuk membantu suplai oksigen selama pemeliharaan. Waktu pemeliharaan udang dilakukan selama kurang lebih 4 hari sebagai perlakuan aklimatisasi sebelum dilakukan injeksi virus. Selama pemeliharaan ini, udang diberi pakan pelet secara ad libitum dengan frekuensi pemberian sebanyak 4 kali sehari. Penyiponan akuarium juga dilakukan secara rutin agar kondisi kualitas air tetap stabil.

 

Pelaksanaan Penelitian

Penularan Virus WSSV

Penularan virus WSSV pada udang vaname dilakukan melalui injeksi. Virus disuntikkan di bagian  intramuscular segmen abdominal ketiga sebanyak 0,1 ml/ekor (Nurbariah dan Khairurrazi, 2015). Jumlah udang yang diinjeksi sebanyak 90 ekor. Pengamatan  udang pasca injeksi virus dilakukan pada jam ke 0, 6, 12, 24, 48, 60, dan 72 jam.

 

Deteksi Virus dengan Metode PCR

Setelah diinjeksikan virus WSSV kemudian dilakukan pengujian pada udang menggunakan PCR untuk mengetahui apakah udang terinfeksi WSSV atau tidak. Deteksi yang digunakan adalah dengan metode Polymeration Chain Reaction (PCR). Metode ini telah banyak digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus. Organ target yang biasa digunakan dalam ekstraksi DNA udang adalah insang atau kaki renang (pleopoda). Ekstraksi DNA dapat dilakukan dengan berbagai metode, tergantung dari acuan yang digunakan. Pada Laboratorium Pengujian Mutu Perikanan Budidaya BBPBAP Jepara mengacu pada The Office International des Epizooties, OIE (2009) tentang Manual of Diagnostics Test for Aquatic Animal chapter 2.2.2, sehingga metode ekstraksi DNA menggunakan metode lisis buffer. Primer yang digunakan yaitu menggunakan primer 146F (5’-GTA-ACTGCC-CC-TCC-ATC-TCC-A-3’) dan 146R (5’-TAC-GGC-ACG-TGC-TGC-ACC-TTG-T-3’) dan memiliki target 941 bp.

 

Menurut Handoyo (2001), dalam proses ekstraksi DNA bertujuan untuk mengeluarkan DNA dari nukleus, mitokondria, atau organel dan biasanya dilakukan dengan penambahan lisis buffer untuk mencegah terjadinya kerusakan DNA. Pada saat ekstraksi DNA dilakukan penumbukan sampel agar bahan sampel menjadi halus dan komposisinya menyatu. Pada dasarnya ekstraksi DNA terdiri dari beberapa tahap, yaitu : homogenisasi, separasi, presipitasi, pencucian dan pelarutan DNA. Ekstraksi pada organisme eukariot dilakukan melalui proses penghancuran dinding sel, penghilangan protein dan RNA, dan pengendapan DNA dan pemanenan.

 

Menurut Prayoga dan Wardani (2015), proses PCR berlangsung dalam tiga tahap, yakni tahap denaturasi, tahap penempelan (annealing), dan tahap pemanjangan (extension). Tahap denaturasi dilakukan dengan menaikkan suhu hingga suhu 93 – 950 C dan bertujuan untuk memecah DNA target dari dua untai menjadi untaian DNA tunggal yang saling terpisah. Tahap annealing dilakukan pada suhu 50 – 620 C setelah tahap denaturasi dan bertujuan agar primer menempel pada DNA target. Tahap extension berlangsung pada suhu 720 C setelah tahap annealing dan bertujuan agar enzim polimerase dapat melakukan sintesis sehingga berlangsung proses pemanjangan untaian DNA baru. Setiap tahap PCR tersebut harus dilakukan secara berurutan dan satu perjalanan dari tahap denaturasi hingga tahap extension dinamakan satu siklus (cycle). Satu proses PCR membutuhkan sekitar 30 – 40 siklus. Setelah elektroforesis, dilakukan pewarnaan menggunakan etidium bromida selama 15 menit. Selanjutnya dilakukan pembacaan hasil menggunakan UV transilluminator dan dilakukan pengambilan foto untuk dokumentasi.

 

Analisis Histopatologi

Sampel yang digunakan merupakan udang yang menunjukkan gejala klinis terinfeksi virus WSSV pada bak pemeliharaan dan disuntik terlebih dahulu dengan larutan davidson pada bagian cepalotorax. Udang vaname kemudian dibedah untuk diambil insang dengan alat sectio set. Tahapan pembuatan preparat histopatologi adalah sebagai berikut: tahapan pertama yaitu fiksasi organ menggunakan larutan davidson selama kurang lebih 48 jam. Kemudian dilakukan proses dehidrasi menggunakan larutan alkohol bertingkat yaitu 70%, 80%, 90%, dan 100% secara berurutan dengan waktu masing-masing 2 jam. Tahap clearing dengan mencelupkan sampel jaringan ke dalam larutan xylol 1, xylol 2, dan  xylol 3 selama 2 jam pada masing-masing larutan. Tahap Impregnasi yaitu sampel jaringan dimasukkan ke dalam parafin cair pada suhu 56-600C dalam waktu 2 jam dan diulang kembali dengan suhu dan waktu yang sama. Selanjutnya tahap embedding yaitu pembuatan blok paraffin pada sampel menggunakan cetakan alumunium dan diletakkan pada cool plate (– 5oC) agar membeku. Sectinoning atau pemotongan jaringan menggunakan mikrotom dengan ketebalan 4-5µ. Hasil potongan tersebut diletakkan pada object glass. Tahap Pewarnaan  menggunakan zat warna hematoksilin dan eosin. Tahap terakhir yaitu mounting atau perekatan cover glass menggunakan entelan.

 

Parameter Uji

Parameter uji dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu parameter utama dan parameter penunjang. Parameter utama dalam penelitian ini adalah hasil pengamatan histopatologi insang udang dan telah dihitung skoring kerusakan yang ditemukan. Parameter penunjang yaitu pengamatan terhadap gejala klinis, Survival Rate (SR) dan kualitas air selama pemeliharaan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji PCR

A. Sebelum Perlakuan Infeksi

Deteksi yang digunakan adalah dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil  PCR sebelum infeksi WSSV dapat dilihat pada Gambar Hasil Uji PCR Sampel Udang Sebelum Perlakuan Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV).

 


Gambar Hasil Uji PCR Sampel Udang Sebelum Perlakuan Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV). M : Marker (100 bp DNA ladder), K(-): Kontrol  negatif, K(+): Kontrol  posiitif terinfeksi  WSSV , step 2 (941  bp), S : Sampel udang yang dianalisis

 

Hasil uji PCR diatas dapat disimpulkan bahwa udang vaname sebelum dilakukan infeksi inokulum virus WSSV negatif. Hasil negatif karena tidak adanya kemunculan bend atau pita DNA pada sampel udang diuji yang sejajar dengan bend kontrol positif (941 bp). Diartikan bahwa udang vaname yang digunakan dalam penelitian ini tidak terindikasi adanya infeksi virus. Diperkuat menurut Supriatna, et al. (2014), menunjukkan hasil negatif apabila tidak terdapat pita DNA WSSV.

 

B. Pasca Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV)

 



Gambar Hasil Uji PCR Pasca Infeksi WSSV. (a) perlakuan tanpa infeksi virus (kontrol) dan (b)  perlakuan infeksi virus. Keterangan : M : Marker (100 bp DNA ladder), K(-) : Kontrol  negatif, K(+): Kontrol  posiitif terinfeksi  WSSV , step 1 (1.447  bp) dan step 2 (941  bp), S : Sampel udang yang dianalisis, (a) Perlakuan tanpa infeksi virus (kontrol) dan (b) Perlakuan infeksi virus

 

Hasil  PCR pasca infeksi WSSV dapat dilihat pada Hasil Uji PCR Pasca Infeksi. Hasil uji PCR sesuai dengan Gambar 10a perlakuan tanpa infeksi (kontrol) menunjukkan bahwa hasil negatif karena tidak ada kemunculan bend atau pita DNA pada sampel udang yang diuji. Hasil pada kelompok perlakuan yang diinjeksi virus pada Gambar 10b positif terinfeksi WSSV karena adanya munculnya bend DNA pada sampel yang sejajar dengan bend kontrol positif pada ukuran fragmen 941 bp. Diperkuat menurut Pranawaty, et al. (2012), hasil deteksi terhadap serangan virus white spot menggunakan uji PCR konvensional nampak pita DNA WSSV. 

 

Analisis Histopatologi

Pengamatan histopatologi Limfoid udang pada setiap perlakuan dibawah mikroskop binokuler diperoleh hasil yang disajikan pada Gambar Histopatologi Udang Vaname.

 






Gambar Histopatologi Limfoid Udang Vaname. (K) Kontrol, (A) 102, (B) 103, (C) 104. Panah putih menunjukan Inti sel normal, panah hitam inti sel mengalami hipertropi.


Pengamatan histopatologi limfoid udang pada Gambar 3 menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x, diperoleh hasil bahwa organ limfoid udang vaname ditemukan adanya kerusakan yang ditandai dengan membesarnya sel akibat hipertropi. Hasil pengamatan juga terlihat bahwa semakin tinggi dosis menunjukkan adanya penambahan sel yang biasa disebut dengan Hyperplasia. Hiperplasia adalah peningkatan jumlah sel dalam suatu jaringan sehingga ukuran jaringan atau organ tersebut menjadi lebih besar (Mahasri, et al., 2008).


Analisis Histopatologi Tiap Jam Pengamatan

Kerusakan tiap jam pengamatan 6 jam pasca infeksi, 12 jam pasca infeksi, 24 jam pasca infeksi, 36 jam pasca infeksi, 48 jam pasca infeksi. Panah hitam menunjukan hipertropi.







Tabel Analisis Sidik Ragam

 

 

Keterangan ns : Tidak Berbeda Nyata

 

Berdasarkan Tabel diatas, menunjukkan bahwa seluruh perlakuan tidak berbeda nyata dimana F hitung tidak berbeda nyata karena pada seluruh perlakuan menunjukkan kerusakan berat. Pernyataan ini didukung menurut Widodo (2002), konsentrasi penyerangan dari WSSV adalah organ limfoid yang berfungsi sebagai penghasil getah bening dalam proses imunitas tubuh udang, hal inilah yang menyebabkan penurunan daya tubuh udang sangat cepat jika terkena penyakit ini. Diperkuat menurut Hamsah, et al. (2006), Jaringan limfoid merupakan organ target WSSV dan tempat perkembangan infeksi pada tubuh udang.

 

Gejala Klinis Pasca Infeksi Virus

 


Gambar Gejala Klinis Pasca Infeksi Virus WSSV. Gambar (a) udang normal, (b) berenang tidak terarah, (c) warna tubuh kusam kemerahan, (d) kaki renang dan tubuh merah

 

Hasil pengamatan gejala klinis Gambar (a) menunjukkan udang terlihat normal dengan warna putih cerah pada bagian badan Ciri-ciri udang normal pergerakan aktif, respon terhadap rangsangan cepat, warna tubuh putih, dan bagian tubuh lengkap menurut Arafani, et al. (2016), tubuh udang berwarna putih bening atau cerah dan bagian tubuh udang lengkap.

 

Hasil pengamatan pada Gambar (b), (c), (d), dan (e) merupakan hasil pengamatan gejala klinis pada udang vaname yang terinfeksi WSSV pada konsentrasi yang berbeda yaitu  10^2 ,10^3 dan 10^4. Gejala klinis yang tampak pada udang uji selama pengamatan berlangsung, secara umum terlihat adanya perubahan warna tubuh menjadi kemerahan, pada bagian kaki renang dan kaki jalan juga berwarna merah, pergerakan pasif, cenderung diam di dasar namun tidak terdapat bercak-bercak putih pada bagian karapasnya. Tanda-tanda udang terinfeksi menurut Soetrisno (2004), udang berenang di ujung bak pemeliharaan, warna tubuh kemerahan pada bagian kaki jalan maupun kaki renang, dan berenang tidak terarah.

 

Udang yang telah terinfeksi WSSV akan mengalami perubahan warna pada kulit. Perubahan warna menurut Bower (1996), dikarenakan terjadi pembesaran kromatofor kutikula. Kromatofor merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh udang, perubahan warna tanda adanya penurunan imunitas untuk melawan adanya unsur asing dalam tubuh.

 

Tingkat Kelangsungan Hidup (SR)

Survival rate merupakan persentase kelulushidupan suatu organisme dari awal pemeliharaan sampai akhir masa pemeliharaan. Nilai persentase jumlah udang yang hidup selama periode pemeliharaan grafik survival rate ditampilkan pada Gambar dibawah.

 


Gambar Grafik Survival Rate Tiap Jam Pengamatan


Hasil yang ditunjukan pada Gambar diatas, perlakuan kontrol sampai akhir penelitian tidak mengalami kematian sampai akhir pemeliharaan, pada perlakuan A nilai survival rate 37%, pada perlakuan B nilai survival rate 3%, sedangkan pada perlakuan C mengalami kematian total.

Grafik hubungan antara konsentrasi virus dengan nilai SR udang disajikan pada Gambar sebagai berikut :

 


Gambar Pengaruh Konsentrasi Virus WSSV Terhadap Nilai SR      

 

Hasil yang ditunjukkan pada Gambar diatas, diperoleh grafik regresi linier dengan persamaan y=50,079-0,0054x dengan R2= 0,99. Diperoleh kesimpulan perlakuan infeksi virus WSSV dengan konsentrasi yang berbeda mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup udang vaname. Semakin tinggi konsentrasi virus yang diinfeksikan mengakibatkan kelangsungan hidup udang vaname menjadi turun. Diperkuat menurut Moore dan Poss (1999), disebabkan karena perkembangan dan penumpukan virion yang berkembang dalam nukleus sehingga menyebabkan organ rusak sehingga menyebabkan kematian pada udang.

 

Parameter Kualitas Air

Kualitas air merupakan salah satu faktor yang penting dalam kegiatan penelitian karena digunakan untuk mengukur media hidup udang yang diteliti. Kualitas air yang diukur antara lain suhu, pH, DO dan salinitas. Pengukuran kualitas air dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi siang dan sore hari.

 

Suhu

Suhu merupakan derajat panas dingin suatu perairan. Hasil pengukuran suhu selama pemeliharaan berkisar antara 26.3-29.4°C. Nilai tersebut masih termasuk dalam kisaran normal, sesuai dengan pernyataan Pasongli, et al., (2015), bahwa toleransi hidup udang vaname berkisar pada suhu 16-360C.

 

Salinitas

Salinitas merupakan tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air. Selama masa penelitian nilai salinitas yang digunakan 30 ppt. Kisaran salinitas tersebut dikatakan normal, sesua dengan pernyataan Adisukresno (1990) bahwa udang vaname biasa hidup pada rentang salinitas 24-32 ppt.

 

Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan. Hasil pengukuran derajat keasaman (pH) selama pemeliharaan berkisar antara 7,73-8,06. Nilai tersebut masih termasuk dalam kisaran normal, sesuai dengan pernyataan Sumeru dan Anna (1992), bahwa pH air yang baik untuk pemeliharaan dan pembesaran udang adalah 7,0-8,5.

 

Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut (DO) sangat diperlukan untuk respirasi dan proses metabolisme udang. Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) selama pemeliharaan berkisar antara 5,27-6,15 ppm. Kisaran suhu tersebut dikatakan normal, hal ini sesuai dengan pendapat Amri dan Kanna (2008), hal ini masih dikatakan layak bahwa oksigen yang baik untuk pertumbuhan udang adalah 4-7 ppm.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai analisis histopatologi limfoid udang vaname yang diinfeksi WSSV didapatkan kesimpulan. Kerusakan  pada organ limfoid udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diinfeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) adalah hipertropi inti sel dari udang yang terinfeksi mengalami pembesaran yang disebabkan oleh penumpukan virion virus di inti sel. Gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi WSSV tubuh udang berubah kemerahan, dan berenang tidak terarah. Dosis 10^2 sudah menyebabkan kerusakan berat pada 48 jam pasca injeksi.

 

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai analisis histopatologi limfoid udang vaname yang diinfeksi WSSV didapatkan saran, melakukan penelitian lanjutan hematologi pada udang vaname yang diinfeksi virus WSSV dengan dosis infeksi 10^2, 10^3 dan 10^4. Melakukan penelitian histopatologi udang vaname dengan dosis infeksi selain 10^2, 10^3 dan 10^4. Melakukan penelitian berbeda dengan mengganti spesies udang selain udang vaname yang diinfeksi virus WSSV dengan dosis infeksi 10^2, 10^3 dan 10^4.

 

Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Ir. Maftuch, M.Si serta Ir. Heny Suprastyani, MS atas saran dan bimbingannya selama proses penelitian ini hingga selesai dan semua pihak  yang terlibat dalam penelitian ini.

 

Penulis

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

DAFTAR PUSTAKA

Adisukresno, S., S. Ilyas, Sujipto., N. Perbowo., A. Poernomo., A. Rukyani., A. Hanafi., M. L. Nurdjana., E. Kusnendar., C. Kokarkin., T. Permadi., R. Wibisono., B. Wahyudi dan T. Hariyanto. 1990. Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Budidaya Udang di Pertambakan dalam Usaha Pengendalian Penyakit. Departemen Pertanian, Jakarta.

Amri, K. dan I. Kanna. 2008. Budi Daya Udang Vaname Secara Intensif, Semi Intensif, dan Tradisional. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 168 hlm.

Arafani, L. Ghazali., M. Ali dan Muhamad. 2016. Pelacakan virus bercak putih pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) di Lombok dengan real-time polymerase chain reaction. Jurnal Veteriner. 17(1): 88-95.

Bower SM. 1996. Synopsis of infection Disease and Parasites of commercially  Exploited Shell fish : White Spot Syndrome of Panaeid Shrimp. http://www-sci.pac.dfo-mpo.Gc.ca.html/. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2018.

Briggs, M., Smith, S.F., Subasinghe, R., & Phillips, M. 2004. Introduction and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostis in Asia and the Pacific. RAP Publication 2004/10. Bangkok. 92p.

Burhanuddin. 2009. Riset Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Umur Tokolan Berbeda. Seminar Nasional Hasil Riset Kelautan dan Perikanan.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2013. Volume Produksi Udang 2009-2013. Departemen Kelautan dan Perikanan.

Hamsah., D. Dana dan M. B. M. Malole. 2006. Peran pakan alami dalam penularaan white spot syndrome virus pada benur udang windu (Penaeus monodon Fabr.) sebuah kajian awal. Majalah Ilmiah Agriplus. 16: 1-9.

Handoyo, D. dan A. Rudiretna. 2001. Prinsip umum dan pelaksanaan polymerase chain reaction (PCR). Jurnal Unitas. 9(1): 17-29.

Hudi, L dan A. Shahab. 2005. Optimasi produktivitas budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan menggunakan metode respon surface dan non linear programming. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi II. 28.1-28.9.

Mahasri, G., L. Raya., A. S. Mubarak, dan B. Irawan. 2008. Gambaran Patologi Insang dan Kulit Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) yang Terserang Ciliata Patogen dari Famili Vorticellidae (Zoothamnium sp.). Jurnal Perikanan. 3(1): 1-9.

Moore, A. M and S. G. Poos. 1999. White Spot Syndrom Virus. htttp://www.Lionfish.Ims.Usm/edu/musweb//nis/White-spot-Baculovirus-compleks.Htm. Diakses pada 22 April 2019.

Nurbariah dan Khairurrazi. 2015. Virulensi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Udang Pisang (Penaeus sp). Prosiding Seminar Nasional Biotik. 1-4.

OIE (Organization International des Epizooties). 2009. Bovine Brucellosis. Terrestial Manual Chapter 2.4.3 http://www.oie.int/fileadmin/Home. Diakses pada 22 April 2019.

Pasongli, H., G. D. Dirawan dan Suprapta. 2015. Zonasi Kesesuaian Tambak untuk Pengembangan Budidaya Udang Vaname (Penaeus vannamei) pada Aspek Kualitas Air di Desa Todowong Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat. Jurnal Bioedukasi. 3(2): 1-12.

Pranawaty, R. N., I. D. Buwono dan E. Liviawaty. 2012. Aplikasi Pollymerase Chain Rection (PCR) Konvensional dan Real Time PCR untuk Deteksi White Spot Syndrome Virus pada Kepiting. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Unpad. Bandung. 14 hlm.

Pratiwi, H. C dan A. Manan. 2015. Teknik dasar histologi pada ikan gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 7(2): 1-6.

Prayoga, W dan A. K. Wardani. 2015. Polymerase Chain Reaction untuk deteksi Salmonella sp. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(2): 483-488.

Soetrisno, C. K. 2004. Mensiasati Penyakit WSSV di Tambak Udang. Jurnal Aquaculture Indonesia. 5(1):19-31.

Sumeru, S. U., dan S. Anna. 1992. Pakan Udang Windu (Panaeus monodon). Yogyakarta: Kanisius. 96 hlm

Wahjuningrum, D., S. H. Sholeh dan S. Nuryati. 2006. Pencegahan Infeksi Virus White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Udang Windu Panaeus monodon dengan Cairan Ekstrak Pohon Mangrove (CEPM) Avicennia sp. Dan Sonneratia sp. Jurnal Akuakultur Indonesia. 5(1): 65-75.

Wang HC, Hao-Ching Wang, Guang-Hsiung Kou, Chu-Fang Lo, dan Wei-Pang Huang. 2007. Identification of Icp11, The Most Highly Expressed Gene of Shrimp White Spot Syndrome Virus (WSSV). Diseases of Aquatic Organisms 74: 179–89.

Widodo, D. S. 2002. Uji Patogenitas Virus Bintik Putih (White Spot) Pada Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius) dengan lama waktu perendaman 30, 60 dan 90 menit konsentrasi 100 µg/ml. SKRIPSI. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 87 hlm.

No comments:

Post a Comment