Sunday, July 12, 2020

Artemia Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll




Artemia salina Leach (Abatzopoulos dkk., 1996 dalam Ruwida, 2010)

Artemia sp. merupakan  pakan yang sangat baik untuk larva udang maupun organisme akuatik lainnya (Kontara, 1990 dalam Depita, 2004).

Klasifikasi Artemia Sp
Klasifikasi Artemia Sp menurut Mudjiman (1984) dalam Depita (2004) adalah sebagai berikut :
Phylum : Arthropoda
Class : Crustacea
Sub class :  Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Family : Artemiidae
Genus : Artemia
Species : Artemia sp.

Morfologi Artemia Sp
Menurut Purwakusuma (2001) dalam Depita (2004), Siklus hidup dimulai dari saat menetasnya kista. Setelah 15-20 jam pada suhu 25°C kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada Fase ini, embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi nupili yang sudah bias berenang bebas di perairan. Pada awalnya naupili akan berwarna orange kecoklatan  akibat masih mengandung kuning telur. Artemia sp. yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk secara sempurna. Setelah 12 jam mereka akan mengganti kulit  dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa alga, bakteri, dan berupa detritus organik lainnya. Naupili akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum mencapai fase dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa mampu tahan terhadap suhu antara -18 hingga 40°C. Sedangkan suhu yang optimal untuk penetasan kista Artemia sp. dan pertumbuhan adalah sekitar 25-30°C. Meskipun demikian, hal ini masih ditentukan oleh strain masing-masing Artemia sp. menghendaki kadar salinitas antara 30-35 ppt (Depita, 2004).

Sejak stadia naupilus 10, terjadi perubahan morfologis dan fungsi yang sangat penting. Antena kedua berfungsi sebagai alat kelamin. Pada Artemia sp. jantan kedua antenna ini berubah menjadi alat penjepit yang kukuh yang berfungsi sebagai penjepit Artemia sp. betina. Pada antenna yang terdapat pada Artemia sp.  betina saat kopulasi berfungsi sebagai alat sensor atau peraba (Depita, 2004).

Prakopulasi pada Artemia sp. dewasa dimulai dengan pendekapan betina oleh jantan dengan alat penjepitnya. Pasangan ini akan berenang berkeliling dalam posisi berbaringan dengan jantan dibelakang betina. Pada saat ini kopulasi dilakukan dengan dimasukkannya sperma kedalam uterus kemudian  telur yang telah dibuahi berkembang dalam uterus. Setiap individu betina memiliki ovari yang terletak pada kedua sisi saluran pencernaan di balik torakopoda (Purwakusuma, 2001 dalam Depita, 2004).

Menurut Depita (2004), Parameter lain yang penting adalah pH, cahaya dan oksigen. pH dengan selang 8-9. Cahaya minimal diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan mereka. Kadar oksigen harus diperhatikan dengan baik untuk kelangsungan hidup Artemia. Dengan suplai oksigen yang baik Artemia sp. akan berwarna merah jambu atau kuning. Warna ini bias berubah menjadi kehijauan apabila meraka sering mengonsumsi mikro algae. Apabila kadar oksigen dalam perairan rendah, kadar bahan organic tinggi atau apabila salinitas meningkat, Artemia sp. akan memakan detritus organik, bakteria, dan sel-sel khamir (yeast). Pada kondisi demikian meraka akan memroduksi hemoglobin sehingga meraka terlihat berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut maka mereka akan memproduksi kista.




Siklus Hidup Artemia sp. (Tamaru dkk., 2004 dalam Ruwaida, 2010)

Menurut Purwakusuma (2001) dalam Depita (2004), kista Artemia sp. dapat ditetaskan secara optimal, apabila memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Beberapa syarat agar kista Artemia sp. tumbuh optimal adalah: Salinitas antara 20-30 ppt ditambahkan magnesium sulfate (20% konsentrasi), suhu air berkisar antara 26-28°C, disarankan untuk memberikan sinar selama penetasan utnuk merangsang proses, aerasi yang cukup untuk menjaga oksigen terlarut sekitar 3 ppm, pH 8,0 atau lebih, apabila pH menurun dibawah 7,0 dapat ditambahkan soda kue untuk menaikna pH, kepadatan sekitar 2 gram per liter, sebelumnya dapat dilakukan proses dekapsulisasi. Kadar oksigen tarlarut yang dibutuhkan Artemia sp. agar berkembang dengan baik adalah 3 ppm, pada dasarnya Artemia sp. merupakan hewan yang dapat menyesuiakan diri dalam dengan perubahan yang terjadi terhadap kandungan oksigen terlarut. Perubahan yang terjadi pada kandungan oksigen terlarut (dissolved Oxygen) di perairan umumnya dikarenakan perairan tersebut kaya akan fitoplankton (Mudjiman, 1984 dalam Depita, 2004).

Habitat Artemia Sp

Artemia sp. memiliki  sistem osmoregulasi yang efisien sehingga mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang luas, yaitu 1-200 ppt. Artemia sp. juga mampu mensintesis hemoglobin secara efisien utnuk mengatasi kandungan oksigen yang rendah pada keadaan salinitas tinggi. Sedangkan suhu optimum bagi Artemia sp. adalah 25-30°C (Mudjiman, 1990 dalam Depita, 2004). Artemia tinggal di perairan laut.


Reproduksi Artemia Sp
Menurut Depita (2004), Artemia sp. toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai dari tawar hingga jenuh garam. Cara reproduksinya ovipar dan ovovivipar. Menurut Mudjiman (1984) dalam Depita (2004), perkembangbiakan artemia secara ovipar biasanya terjaid apabila lingkungan dalm keadaan yang sangat buruk, sedangkan ovovivipar terjadi apabila keadaan lingkungan cukup baik. Pada umumnya, pakan alami dari Artemia sp. merupakan detritus (bangkai) yang terdiri dari bahan organik, ganggang, bakteri, dan cendawan (Mudjiman,1984 dalam Depita, 2004).

Manfaat Artemia Sp
Salah satu peranan Artemia sp. dalam bisnis perikanan adalah dengan dibudidayakannya Artemia salina. Menurut Marihati dkk. (2013), budidaya Artemia salina baik yang menggunakan bibit local maupun impor dapat diterapkan dalam sistem peladangan garam sebagai diversifikasi produk dan biokatalisator percepatan penguapan diladang garam, namun budidaya Artemia salina lokal lebih banyak untuk diterapkan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Budidaya Artemia salina lokal sebanyak 200 individu/L air garam 11°Be di lahan peminihan akan meningkatkan kecepatan penguapan karena meningkatnya nilai transparansi air laut yang semula 50% menjadi 85%.
2. Untuk pencapaian nilai transparansi di lahan peminihan dari 50% menjadi 90% diperlukan  90.000 individu Artemia salina impor/L air garam 11°Be
3. Budidaya Artemia salina lokal sebanyak 200 individu/L air garam 11°Be di lahan peminihan dapat menghasilkan  biomassa sebagai diversifikasi produk ladang garam sebanyak 48,46 gram biomassa dan detritus yang dapat digunakan sebagai nutrisi mikroorganisme halofilik untuk pemurnian NaCl di meja kristalisasi sebanyak 44,86 gram.
4. Budidaya Artemia salina impor dilahan peminihan sebanyak 90.000 individu/L air   garam 11° Be  menghasilkan biomassa 40,16 gram dan detritus 31,04 gram.
5. Diperolehnya diversifikasi produk berupa biomassa Artemia salina sebanyak 6 ton/ Ha/musim dengan harga sekitar Rp. 20.000/Kg.

Penulis
Augustriandy Rizkymaris
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015
Daftar Pustaka
Depita, Fera. 2004. Peran Artemia sp. dalam Penularan White Spot Syndrome Virus (WSYV) Pada Udang Windu (Panaeus monodon Fabr.) dengan Berbagai Perlakuan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Marihati, Muryati, dan Nilawati. 2013. Budidaya Artemia salina Sebagai Diversifikasi Produk dan Biokatalisator Percepatan Penguapan di Ladang Garam. Jurnal Agromedia,Vol.31,No.1.
Ruwaida, Dinah Giyanti. 2010. Uji Toksisitas Senyawa Hasil Isolasi Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa (L.) Lamk.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (Bst). Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sebelas Maret

No comments:

Post a Comment