Wednesday, June 17, 2020

Spirulina Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Spirulina adalah mikroalga yang mengandung protein tinggi sekitar 55-70% dan sumber mikronutrien Spirulina adalah jenis cyanobacteria atau bakteri yang mengandung klorofil dan dapat bertindak sebagai organisme yang bisa melakukan fotosintesis untuk membuat makanan sendiri. Bentuknya spiral, mengandung fikosianin tinggi sehingga warna cenderung hijau biru. (Kebede dan Ahlgren, 1996 dalam Cristwardana, 2013).

KLASIFIKASI SPIRULINA SP
Dalam sistematika (taksonomi) menurut vonshak (1997) dalam Sari (2013), klasifikasi Spirulina adalah sebagai berikut:
Kingdom : Protista
Divisi : Cyanophyta
Kelas : Cyanophyceae
Ordo : Nostocales
Sub Ordo : Nostcaceae
Famili : Oscillatoriaceae
Genus : Spirulina
Spesies : Spirulina sp.

MORFOLOGI SPIRULINA SP
Bentuk tubuh Spirulina sp. yang menyerupai benang merupakan rangkaian sel yang berbentuk silindris dengan dinding sel yang tipis, berdiameter 1-12 μm. Filamen Spirulina sp. hidup berdiri sendiri dan dapat bergerak bebas (Tomaselli, 1997). Spirulina sp. berwarna hijau tua di dalam koloni besar yang berasal dari klorofil dalam jumlah tinggi. Spirulina sp. memiliki struktur trichoma spiral dengan filamen–filamen bersifat mortal dan tidak memiliki heterosit. Sel Spirulina sp. berukuran relatif besar yaitu 110 μm, sehingga dalam proses pemanenan dengan menggunakan kertas saring lebih mudah (Borowitzka M.A., 1988).

HABITAT SPIRULINA SP
Spirulina dapat tumbuh dengan baik di danau, air tawar, air laut, dan media tanah. Spirulina juga memiliki kemampuan untuk tumbuh di media yang mempunyai alkalinitas tinggi (pH 8,5-11), dimana mikroorganisme lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik dalam kondisi ini. Suhu terendah untuk spirulina platensis untuk hidup adalah 15C, dan pertumbuhan yang optimal adalah 35-40C (Kebede dan Ahlgren, 1996 dalam Cristwardana, 2013).

JENIS-JENIS SPIRULINA SP
Spirulina atau juga disebut sebagai Arthospira, memiliki berbagai banyak jenis. Terdapat lebih dari 58 spesies Spirulina telah tercatat, tetapi hanya beberapa jenis yang telah digunakan untuk sumber makanan. Dua jenis Spirullina yang terkenal di pasaran adalah Spirulina plantensis dan Spirulina maxima. Dua jenis Spirulina ini berbeda dalam bentuk serta ukurannya. Spirulina maxima memiliki ukuran yang lebih besar, meskipun bentuknya tidak terlalu spiral sebagai Spirulina platensis.

REPRODUKSI SPIRULINA SP
Siklus hidup Spirulina sp. yaitu proses reproduksinya disempurnakan dengan fragmentasi dari trikoma yang telah dewasa. Reproduksi Spirulina sp. terjadi secara aseksual (pembelahan sel) yatiu dengan memutus filamen menjadi satuan-satuan sel yang membentuk filamen baru. Ada tiga tahap dasar pada reproduksi Spirulina sp. yaitu proses fragmentasi trikoma, pembesaran dan pematangan sel hormogonia, serta perpanjangan trikoma (Gambar 3). Selanjutnya trikoma dewasa dapat dibagi menjadi filamen atau hormogonia, dan sel-sel di hormogonia akan meningkat melalui pembelahan biner, tumbuh memanjang dan membentuk spiral (Hongmei Gong et al., 2008 dalam Sari, 2013).

Siklus reproduksi mikroalga tersebut berlangsung melalui pembentukan hormogonium yang dimulai ketika salah satu atau beberapa sel yang terdapat di tengah-tengah trikoma yang mengalami kematian dan membentuk badan yang disebut cakram pemisah berbentuk bikonkaf. Sel-sel mati yang disebut nekrida tersebut akan putus dengan segera, kemudian trikoma terfragmentasi menjadi koloni sel yang terdiri atas 2-4 sel yang disebut hormogonia dan memisahkan diri dari filamen induk untuk menjadi trichoma baru. Hormogonia memperbanyak sel dengan pembelahan pada sel terminal. Tahap akhir proses pendewasaan sel ditandai terbentuknya granula pada sitoplasma dan perubahan warna sel menjadi hijau kebiruan (Cifferi, 1983 dalam Sari, 2013).

TINGKAH LAKU SPIRULINA SP
Filamen spirulina merupakan koloni sel yang dapat bergerak. Spirulina platensis merupakan salah satu golongan fitoplankton yang dalam pertumbuhannya dapat ditandai dengan bertambah banyaknya jumlah sel yang secara langsung akan berpengaruh terhadap kepadatan fitopalnkton Isnasetyo dan Kurnastuty (1995) dalam Sari (2013), menjelaskan bahwa pertumbuhan fitopalnkton terdiri atas empat fase, yaitu Fase Adaptasi, Fase Ekponensial, Fase Stasioner, Fase Kematian.

PERAN SPIRULINA SP DI PERAIRAN
Spirulina berperan sebagai pakan alami ikan yang ada dalam perairan, selain itu spirulina bisa menjadi peneduh yang melindungi biota air karena dapat merasa aman dari sifat kanibalisme. Semua biota air memakan fitoplankton sebagai produsen primer. Jika fitoplankton berjumlah sedikit atau sama sekali tidak ada, maka konsumen di perairan akan menjadi kanibalisme. Selain itu spirulina juga dapat menambah kadar oksigen dalam perairan. Serta dapat menjaga kestabilan suhu perairan.

KANDUNGAN YANG DIMILIKI SPIRULINA SP

1. Nutrisi
Spirulina memiliki beberapa karakteristik serta kandungan nutrisi yang cocok sebagai makanan fungsional. Protein, asam lemak esensial, vitamin, mineral, dan klorofil serta fikosianin adalah komponen yang terkandung di dalam Spirulina.diyakini juga bahwa Spirulina bisa bertindak sebagai produk makanan penyembuh atau obat.

2. Mineral
Jumlah mineral essensial yang terkandung dalam spirulina hampir sekitar 3-7%. Mineral-mineral initerakumulasi di dalam mikroalga dan berasal dari mineral yang terkandung dalam media pertumbuhan dan juga dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan pH. Sharma dan Azees (1998) dalam Cristwardana (2013) menyatakan bahwa bioakumulasi kobalt dan seng dipengaruhi oleh suhu media yang berbeda. Sementara itu, Spirulina dalam air laut terakumulasi natrium dan klorida dalam jumlah tinggi.

3. Protein
Spirulina mengandung protein tinggi sekitar 55-70%. Protein ini merupakan suatu senyawa kompleks yang kaya akan asam amino essensial, metionin (1,3 -2,75%), sistin (0,5-0,7%), triptofan (1-1,95%) dan lisin (2,6-4,63%). Kadar asam amino yang tinggi baik untuk kesehatan karena salah satu bahan pembuat protein.

4. Asam Amino Essensial
Poly Unsaturated fatty Acid (PUFA) dalam Spirulina sekitar 1,3-15% dari lemak total (6-6,5%). Jenis kandungan lemak tertinggi dari Spirulina adalah Gamma Linoleic Acid (GLA) sekitar 25-60% dari total lemak (Borowitzka, 1994 dalam Cristwardana, 2013). Senyawa-senyawa lain yang terdapat yang terdapat di dalam lemak adalah asam palmik (44,6-54,1%), asam oleat (1-15,5%) dan asam linoleat (10,8-30,7%). Spirulina mengandung kolesterol sekitar 32,5 mg/100g.

5. Netralisasi Mineral Beracun
Spirulina memiliki kemampuan unik yaitu dapat menetralisir mineral beracun. Spirulina dapat digunakan sebagai agen penetral arsenik untuk air atau air limbah, dan bahan beracun serta logam berat lainnya.

6. Betakarotein dan vitamin
Spirulina menganung karoteinoid yang tinggi. Karoteinoid tertinggi yang ditemukan di Spirulina adalah betakarotein yang bisa dikonversi menjadi vitamin A, dan vitamin B. Dengan demikian, 4 mg kandungan gizi pada Spirulina sama dengan kandungan gizi yang terdapat pada 100 g sayuran segar.

KANDUNGAN PROTEIN DAN MINERAL DALAM SPIRULINA SP
Kandungan mineral dalam spirulina berbeda satu sama lain tergantung pada jenis media pertumbuhannya. Secara umum, kultivasi Spirulina bisa menggunakan air tawar, air laut, atau air payau.

1. Spirulina Air Laut
Spirulina yang dibudidayakan di air laut mengandung mineral lebih tinggi daripada media air tawar atau payau. Air lut mengandung garam yang tinggi sperti NaCl, KCl, MgCl. Spirulina ini juga mengandung garam fikosianin, polisakarida, inositol yang lebih tinggi. Meskipun mengandung garam tinggi, kandungan natrium yang terlalu tinggi dinilai tidak baik untuk kesehatan manusia. Untuk menurunkan mineral ini, dapat digunakan NaHCO3 dan Na2CO3 melalui metode Trigger (Faucher, et al., 1975 dalam Sari, 2013). Spirulina air laut memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih rendah daripada spirulina air tawar. Spirulina air laut memiliki bau amis seperti rumput laut atau cumi-cumi sehingga beberapa konsumen tidak nyaman dengan bau tersebut. Bau amis ini dihasilkan dari kandungan mineral di dalam Spirulina.

2. Spirulina Air Tawar
Spirulina ini biasanya digunakan sebagai bahan makanan manusia dan farmasi. Dalam media air tawar, NaHCO3, fosfat, dan urea ditambahkan untuk mempengaruhi laju pertumbuhan mikroalga. Spirulina air tawar memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi di sekitar 0.16/hari dan menghasilkan 1,23-1,34 g/L biomassa kering. Sementara itu Spirulina air laut memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dan menghasilkan biomassa di sekitar 10.3 g/m2/hari (Costa, et al, 2003; Wu, et al, 1993 dalam Sari, 2013). Karena kandungan natrium dalam Spirulina air tawar lebih rendah dari air laut, maka aman untuk digunakan sebagai makanan manusia dan farmasi. Kandungan protein yang dihasilkan dari Spirulina media air tawar adalah sekitar 60-70%. Spirulina air tawar tidak memiliki bau amis karena memiliki kandungan mineral yang lebih rendah daripada Spirulina air laut.

SPIRULINA SP SEBAGAI MAKANAN FUNGSIONAL
Sebagai bahan pangan yang memiliki tingkat protein dan mikronutrien yang tinggi, Spirulina tidak hanya bisa bertindak sebagai protein sel tunggal saja, tetapi juga bisa digunakan sebagai makanan fungsional. FAO mencatat bahwa Spirulina dapat digunakan sebagai makanan sehat bagi manusia (Becker, 1994). Secara umum, Spirulina diproduksi dalam kapsul, jus, atau tablet. Spirulina juga bisa berfungsi sebagai sumber makanan untuk kekebalan tubuh, dan Super Oxyde Dismutase (SOD). Beberapa rumah sakit di Negara modern menggunakan Spirulina untuk mendapatkan immunoglobin A (LGA) dan immunoglobin B (lgM) yang lebih tinggi. Sementara kandungan fikosianin dalam Spirulina berpotensi untuk menghambat pertumbuhan sel leukemia pada manusia (Liu, et al., 2000 dalam Sari, 2013).

Spirulina kering dapat digunakan sebagai sumber pastacampuran, saus, sup, minuman instan, dan makanan suplemen. Spirulina bisa dicampur dalam mie, roti, biskuit. Hal ini digunakan untuk tujuan menambahkan gizi yang lebih tinggi untuk makanan. Hal ini menunjukkan bahwa Spirulina dapat dikonsumsi 10 g/hari untuk menjaga kesehatan tubuh, tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa (Henrikson, 1989 dalam Sari, 2013).

Di sisi lain, Spirulina mengandung bahan beracun dosis kecil yang disebut microcystin. Konsumsi bahan ini dalam konsentrasi tinggi berbahaya bagi tubuh manusia. Microcystin adalah jenis peptide siklik nonribosomal yang terkandung dalam semua cyanobacteria. Microcystin bisa menyebabkan kerusakan pada hati dan menyebabkan kanker. Spirulina mengandung 1 mg/g, karena itu disarankan bahwa konsumsi Spirulina adalah sekitar 0,5-3 g setiap penyajian.

PROSPEK MASA DEPAN BUDIDAYA SPIRULINA SP
Indonesia sebagai Negara tropis sudah semestinya dapat menjadi pemimpin pada industry mikroalga. Kekayaan sumber daya alam dan konsumsi masyarakat yang tinggi, akan mendorong industry mikroalga untuk berkembangkan dan merancang makanan fungsional yang lebih baik. Spirulina sebagai makanan fungsional merupakan sumber pangan fungsional yang potensial, tidak hanya sebagai protein sel tunggal tetapi juga dapat bertindak sebagai sumber makanan sehat atau suplemen. Dalam perkembangannya, Spirulina digunakan sebagai bahan tambahan untuk pembuatan biskuit, roti, dan minuman.

PENULIS
Raden Qonitah Nurhasanah
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Cristwardana, M; Nur; Hadiyanto.2013.Spirulina platensis: Potensinya sebagai Bahan Pangan Fungsional.Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan.Vol.2 (No.1)
Sari, Herlingga.2013.Pengaruh Pemberian Pupuk Azolla Pinnata.ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga.

No comments:

Post a Comment