Sunday, June 14, 2020

Scenedesmus Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Scenedesmus Menurut Wikipedia adalah salah satu spesies ganggang hijau yang berbentuk koloni. Ganggang ini menghasilkan antibiotik yang disebut scenedesmis.

Scenedesmus dapat dibagi menjadi 10 divisi dan 8 divisi algae merupakan bentuk unicellulair. Dari 8 divisi algae, 6 divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. Setiap divisi mempunyai karakteristik yang ikut memberikan andil pada kelompoknya, tetapi spesies-spesiesnya cukup memberikan perbedaan-perbedaan dari lainnya. Ada 4 karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikro algae yaitu ; tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe komponen fotosintesa, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni / filamen adalah merupakan informasi penting didalam membedakan masing-masing group. Scenedesmus termasuk dalam kelas Chlorophyceae dan family Scenedesmaceae (Ristianti,2012).

KLASIFIKASI SCENEDESMUS
Menurut Bold dan Wyne (1985), Scenedesmus sp. diklasifikasikan sebagai Scenedesmus termasuk berikut:
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Cholococcales
Famili : Scenedesmaceae
Species : Scenedesmus sp

MORFOLOGI SCENEDESMUS
Scenedesmus merupakan kelompok mikroalga dan yang paling beragam karena ada yang bersel tunggal, koloni dan bersel banyak. warna hijau dari klorofil a dan b yang sama dalam proporsi sebagai 'tinggi' tanaman serta c klorofil tetapi dilaporkan terdapat di beberapa prasinophyceae; √ U-karoten, dan berbagai karakteristik xanthophylls. Hasil asimilasi berupa amilum yang tersusun dalam kloroplas, kloroplasnya beraneka bentuk dan ukurannya, ada yang seperti mangkok, seperti busa, seperti jala, dan seperti bintang, penyusunnya sama seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu amilase dan amilopektin.

HABITAT SCENEDESMUS
Scenedesmus sp. yang hidup di air tawar memiliki sifat kosmopolit, terutama yang hidup di tempat yang terkena cahaya matahari langsung seperti kolam, danau dan genangan air hujan, sungai atau selokan (Ristianti, 2012).

Scenedesmus juga merupakan mikroalga yang bersifat kosmopolit. Sebagian besar Scenedesmus dapat hidup di lingkungan akuatik seperti perairan tawar dan payau. Scenedesmus juga ditemukan di tanah atau tempat yang lembab. Sel Scenedesmus berbentuk silindris dan umumnya membentuk koloni. Koloni Scenedesmus terdiri dari 2, 4, 8, atau 16 sel tersusun secara lateral. Ukuran sel bervariasi, panjang sekitar 8--20 µm dan lebar sekitar 3--9 µm. Struktur sel Scenedesmus sederhana. Sel Scenedesmus diselubungi oleh dinding yang tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan dalam yang merupakan lapisan selulosa, lapisan tengah merupakan lapisan tipis yang strukturnya seperti membran, dan lapisan luar, yang menyelubungi sel dalam koloni. Lapisan luar berupa lapisan seperti jaring yang tersusun atas pektin dan dilengkapi oleh bristles.

REPRODUKSI SCENEDESMUS
Scenedesmus dapat melakukan reproduksi aseksual maupun seksual. Reproduksi aseksual terjadi melalui pembentukan autokoloni (membelah diri). Pembelahan sel terjadi dua kali. Pembelahan pertama berlangsung secara melintang sedangkan pembelahan kedua terjadi secara membujur. Pembelahan akan dilakukan sampai terbentuk empat sel anakan. Pelepasan autokoloni dilakukan dengan cara memecah dinding sel induk, tiap koloni yang dihasilkan mempunyai kemampuan untuk memproduksi autokoloni. Sedangkan reproduksi secara seksual terjadi melalui isogami. Beberapa spesies Scenedesmus dapat melakukan reproduksi seksual dengan pembentukan zoospora biflagel dan isogami. Karbohidrat, protein, dan lemak bila diuraikan menjadi monomer-monomer penyusunnya, pada akhirnya akan menjadi asetil KoA. Selanjutnya, asetil KoA masuk ke dalam siklus Krebs, dilanjutkan dengan rantai transpor elektron yang akan menghasilkan ATP. Energi yang terkandung dalam ATP tersebut digunakan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel Scenedesmus. Koloni Scenedesmus akan menghasilkan sel gamet biflagel. Sel gamet tersebur akan melebur dan membentuk zigot, kemudian zigot akan membesar dan membelah menjadi 40 sel atau lebih. Sel gamer yang tidak dapat melebur dengan sel gamet lainnya akan mati dan mengalami lisis (Prihantini, 2007).

Menurut Hasan (2014), Scenedesmus memiliki pertumbuhan secara umum sama dengan alga yang lain. Pertumbuhan Scenedesmus dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Hingga saat ini kepadatan sel digunakan secara luas untuk mengetahui pertumbuhan mikroalga dalam kultur. Ada empat fase dalam pertumbuhan yaitu:

1. Fase istirahat
Sesaat setelah penambahan inokulum ke dalam media kultur, populasi tidak menagalami perubahan. Ukuran sel pada umumnya meningkat. Secara fisiologis mikroalga sangat aktif dan terjadi proses sintesis protein baru. Organisme mengalami metabolism, tetapi belum terjadi pembelahan sel sehingga kepadatan sel belum meningkat.

2. Fase logaritmik
Fase ini diawali oleh pembelahan sel dengan laju pertumbuhan tetap. Pada kondisi kultur yang optimum, laju perutmbuhan pada fase ini mencapai maksimal.

3. Fase stationer
Pada fase ini, pertumbuhan mulai mengalami penurunan dibandibgkan dengan fase logaritmik. Pada fase ini laju reproduksi sama dengan laju kematian, dengan demikian penambahan dan pengurangan jumlah sel relative sama atau seimbang sehinga kepadatan sel tetap.

4. Fase kematian
Pada fase ini laju kematian lebih cepat daripada laju reproduksi. Jumlah sel menurun secara logaritmik. Penurunan kepadatan sel ditandai dnegan perubahan kondisi optimum yang dipengaruhi oleh temperature, cahaya, pH air, jumlah hara yang ada, dan beberapa kondisi lingkungan yang lain.

FISIOLOGI SCENEDESMUS
Mikroalga merupakan makhluk bersel tunggal yang hidup di lingkungan yang mengandung air, tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis serta dapat memanfaatkan nutrien anorganik sederhana seperti CO2 serta komponen N, P, K dan komponen lainnya. Namun dalam kondisi tanpa cahaya, mikroalga menggunakan bahan organik sama halnya seperti organisme non-fotosintetik. Jadi, mikroalga dapat melakukan metabolismenya dengan menggunakan energi kimia dari degradasi simpanan dari pati atau minyak, atau dari konsumsi protoplasma alga itu sendiri (Setiawan, 2008 dalam Fadilla, 2010).

TINGKAH LAKU SCENEDESMUS
Algae diklasifikasikan berdasarkan jenis pigmen dan cadangan makanan yang hadir dalam spesies tertentu. Perbedaan dalam pigmen memainkan peran utama dalam menentukan distribusi habitat spesies alga tertentu. Mengenai distribusi alga, mereka dapat beradaptasi dalam kondisi lingkungan yang beragam. Mayoritas alga yang ditemukan di habitat air, baik di air tawar atau air laut. Beberapa spesies alga yang ditemukan di lingkungan yang ekstrim seperti salju dan es, sedangkan beberapa lagi beradaptasi dalam air panas.

PERAN SCENEDESMUS DI PERAIRAN
Berperan sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai jenis alga yang hidup bebas di air terutama yang tubuhnya bersel satu dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun fitoplankton. Sebagian fitolankton adalah alga hijau, pigmen klorofil yang dimilikinya aktif melakukan fotosintesis sehingga alga hijau merupakan produsen utama dalam ekosistem perairan. Peranan Scenedesmus bagi kehidupan manusia antara lain, digunakan dalam penyelidikan metabolisme di laboratorium. Juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat-obatan, bahan kosmetik dan bahan makanan. Scenedesmus dapat dimanfaatkan sebagai makanan tambahan dalam bentuk PST (Protein Sel Tunggal), pakan alami, dan pakan ternak karena memiliki kandungan gizi tinggi. Scenedesmus mengandung 55% protein, 13% karbohidrat, asam-asam amino, vitamin, dan serat. Scenedesmus juga mengandung vitamin seperti vitamin B1, B2, B12, dan vitamin C (Prihantini, 2007).

Menurut Nurtiyani (1998), salah satu mikroalga yang sering digunakan dalam memecahkan masalah pencemaran limbah adalah Scenedesmus. Mikroalga ini mampu merombak nutrient yang terkandung di dalam limbah cair tahu menjadi biomassa.

Scenedesmus merupakan sumber daya potensial yang mempunyai prospek yang cerah di masa mendatang, karena kandungan proteinnya cukup tinggi, juga mengandung karbohidrat, lemak, vitamin, asam-asam amino esensial, asam lemak esensial, enzim, beta karoten dan klorofil. Sebagai salah satu sumber daya hayati, mikroalga ini memiliki beberapa potensi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, antara lain sebagai pakan alami (jenis udang, ikan), bahan makanan non-konvensional, bahan industri kimia dan farmasi, indikator pencemaran air serta sebagai agen bioremediasi (Prihantini, 2007).

PENULIS
Muhammad Luthfi Fajari
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

No comments:

Post a Comment