Sunday, June 14, 2020

Chlorella Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Chlorella Menurut Steenblock (2000), arti nama berasal dari zat bewarna hijau (chlorophyll) yang juga berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis. Chlorella sp. dikategorikan ke dalam kelompok alga hijau yang memiliki jumlah genus sekitar 450 dan jumlah spesies lebih dari 7500. Nama alga hijau diberikan karena kandungan zat hijau (chlorophyll) yang dimilikinya sangat tinggi, bahkan melebihi jumlah yang dimiliki oleh beberapa tumbuhan tingkat tinggi.

KLASIFIKASI CHLORELLA
Menurut Bold dan Wynne (1985), klasifikasi Chlorella sp. adalah sebagai berikut:
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Chlorococcales
Famili : Oocystaceae
Genus : Chlorella
Spesies : Chlorella sp.

MORFOLOGI CHLORELLA
Bentuk umum sel-sel Chlorella sp. adalah bulat atau elips (bulat telur), termasuk fitoplankton bersel tunggal (unicellular) yang soliter, namun juga dapat dijumpai hidup dalam koloni atau bergerombol. Diamater sel umumnya berkisar antara 2-12 mikron, warna hijau karena pigmen yang mendominasi adalah klorofil. Chlorella sp. merupakan organisme eukariotik (memiliki inti sel) dengan dinding sel yang tersusun dari komponen selulosa dan pektin sedangkan protoplasmanya berbentuk cawan (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).

Dinding Chlorella terdiri dari selulosa yang kuat. Mitokondria Chlorella terletak di dalam sitoplasma. Pada mitokondria terjadi proses pembentukan energi untuk kelangsungan hidup sel dan aktivitas sehari-hari. Kloroplas Chlorella berbentuk seperti bulan yang terdiri dari ruang sel fotosintetik yang terletak di tepi. Kloroplas tersebut merupakan bagian sel berwarna hijau untuk tempat terjadinya proses fotosintesis. Pada inti sel Chlorella terdapat faktor tumbuh yang dapat disebut sari Chlorella. Sari Chlorella ini merupakan komponen gizi yang paling berharga bagi Chlorella, yang terdiri dari unsur-unsur gizi yaitu nukleotidepeptide komplek (Novitasari, 2012).

HABITAT CHLORELLA
Alga hijau dapat ditemukan pada habitat perairan tawar maupun asin. Jenis alga hijau yang biasa digunakan dalam budidaya adalah Scenedesmus dan Chlorella. Chlorella bersifat kosmopolit yang dapat tumbuh dimana-mana, kecuali pada tempat yang sangat kritis bagi kehidupan. Alga ini dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt. salinitas 10-20 ppt merupakan salinitas optimum untuk pertumbuhan alga ini. Alga ini masih dapat bertahan hidup pada suhu 40oC, tetapi tidak tumbuh. Kisaran suhu 25-30oC merupakan kisaran suhu yang optimal (Artana, 2012).

REPRODUKSI CHLORELLA
Reproduksi Chlorella sp biasa dilakukan secara aseksual dengan pembelahan sel, tetapi bisa juga dengan pemisahan autospora dari sel induknya. Reproduksi sel diawali dengan produksi sel yang berukuran besar, periode selanjutnya akan terjadi peningkatan aktifitas sintesa sebagai persiapan dari pembentukan sel anak yang merupakan tingkat pemasakan awal dan tahap selanjutnya membentuk sel induk yang merupakan tingkat pemasakan akhir dan akan disusul oleh pelepasan sel anak. Reproduksi aseksual dengan membentuk autospora adalah spora non flagelata yang mempunyai bentuk seperti sel induknya tetapi mempunyai ukuran yang lebih kecil.

Menurut Bold dan Wynne (1985), perkembangbiakan aseksual pada Chlorella sp dimulai dengan pembelahan di dalam sel menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel dan 16 sel yang disebut dengan aplanospora. Setiap aplanospora akan membentuk dinding di sekitar dirinya dan akhirnya dinding sel induk pecah dan sel-sel anakan menjadi individu baru yang akan berkembang seperti induknya.Sel anak berkembang menjadi sel induk, sel-sel induknya mengeluarkan zoospora yang masing-masing dinamakan aplanospora. Dari satu sel induk dapat dihasilkan beberapa buah spora. Tahap pertumbuhan Chlorella sp dapat dibedakan sebagai berikut: (a) Tingkat pertumbuhan; pada tingkat ini terjadi penambahan besarnya sel. (b) Tingkat pemasakan awal; pada tingkat ini terjadi beberapa proses persiapan pembentukan sel anak. (c) Tingkat pemasakan akhir; pada tingkat ini terjadi pembentukan sel induk muda. (d) Tingkat pelepasan sel atau pelepasan autospora; pada tahap ini dinding sel induk akan pecah dan akhirnya terlepas menjadi sel-sel baru.

Perkembangbiakan secara vegetatif diawali dengan membentuk spora. Setiap sel induk Chlorella sp akan mengeluarkan zoospora yang disebut aplanospora sebanyak 8 buah. Selanjutnya aplanospora berkembang menjadi individu-individu baru. Setiap aplanospora yang telah dewasa akan mengeluarkan 8 aplanospora baru dan seterusnya selama kondisi lingkungan memungkinkan.

Chlorella sp mempunyai waktu regenerasi yang sangat cepat dalam waktu yang relatif singkat biasanya 4-14 hari. Perbanyakan sel itu akan sangat dipengaruhi oleh cahaya sebagai sumber energi dan kondisi lingkungan yang optimal. Kematian dan pembusukan ganggang hijau ini dapat menyebabkan kondisi perairan semakin buruk. Chlorella sp dapat mengeluarkan zat kimia yang menghambat pertumbuhan fitoplankton jenis lain sehingga hanya Chlorella yang tetap sumbuh dengan subur.

TINGKAH LAKU CHLORELLA
Alga hijau dapat ditemukan pada habitat perairan tawar maupun asin. Jenis alga hijau yang biasa digunakan dalam budidaya adalah Scenedesmus dan Chlorella. Chlorella bersifat kosmopolit yang dapat tumbuh dimana-mana, kecuali pada tempat yang sangat kritis bagi kehidupan. Alga ini dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt. salinitas 10-20 ppt merupakan salinitas optimum untuk pertumbuhan alga ini. Alga ini masih dapat bertahan hidup pada suhu 40oC, tetapi tidak tumbuh. Kisaran suhu 25-30oC merupakan kisaran suhu yang optimal (Artana, 2012).

Cahaya sangat diperlukan bagi fitoplankton untuk dapat melakukan proses fotosintesis karena membutuhkan asupan cahaya yang cukup. Pada proses fotosintesis Chlorella sp membutuhkan intensitas cahaya dengan rata-rata 3000-4000 lux.

Suhu juga memiliki pengaruh yang penting terhadap kultur alga. Pada suhu optimalnya organisme akan berkembang dengan baik, sedangkan di atas ataupun di bawah suhu optimalnya akan menghambat perkembangan mikroorganisme tersebut dan pada suhu ekstrim dapat menyebabkan kematian. Suhu optimal bagi Chlorella sp berkisar antara 25-30oC (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).

Nilai pH merupakan hasil pengukuran aktivitas ion hidrogen dalam perairan dan menunjukkan keseimbangan antara asam dan basa air. Perubahan pH akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas biologis. Keberadaan unsur hara di laut secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh perubahan pH. Alga laut pada umumnya memerlukan pH antara 7,5-8,5 (Taw, 1990), sedangkan menurut Ohama dan Miyachi (1992) Chlorella sp. Dapat tumbuh baik pada kisaran pH 6,6-7,3.

PERAN CHLORELLA DI PERAIRAN
Kegunaan Chlorella secara tidak langsung mulai berkembang. Chlorella merupakan makanan hidup bagi jenis-jenis tertentu golongan ikan sehingga seringkali sangat diperlukan dalam budidaya. Penyediaan makanan alami berupa plankton nabati dan plankton hewani yang tidak cukup tersedia, seringkali menyebabkan kegagalan dalam mempertahankan kelangsungan hidup larva pada budidaya (Gusri, 2012).

MANFAAT CHLORELLA
Chlorella mengandung gizi yang cukup tinggi, yaitu protein 42,2%, lemak kasar 15,3%, nitrogen dalam bentuk ekstrak, kadar air 5,7%, dan serat 0,4%. Untuk setiap berat kering yang sama, Chlorella mengandung vitamin A, B, D, E, dan K, yaitu 30 kali lebih banyak dari pada vitamin yang terdapat dalam hati anak sapi, setta empat kali vitamin yang terkandung dalam sayur bayam, kecuali vitamin C (Watanabe, 1978 dalam Gusri, 2012).

PENULIS
Muhammad Luthfi Fajari
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

No comments:

Post a Comment