Sunday, June 14, 2020

Isthmia Sp Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Isthmia sp adalah alga mikroskopik uniseluler yang memiliki kandungan silica pada dinding selnya (frustule) (Smith, 1950 dan Lee, 1989 dalam Fitri,2011). Isthmia merupakan fitoplankton dengan kelimpahan tertinggi diperairan. Mikroalga ini diketahui memiliki tipe heteromorphy, yaitu perbedaan morfologi dalam satu spesies akibat respon terhadap perubahan lingkungan. Perubahan kondisi lingkungan akan mendorong perubahan bentuk morfologi diatom, terutama perubahan morfologi valve (Hastle and Syvertsen, 1997 dalam Fitri,2011).

KLASIFIKASI ISTHMIA SP
Phylum : Bacillariophyta
Kelas : Coscinodiscophycidae
Ordo : Biddulphiales
Genus : Isthmia
Spesies : Isthmia sp

MORFOLOGI ISTHMIA SP
Secara biologi Isthmia termasuk kelas diatom yang hidup pada lingkungan perairan laut, dimana pada bagian luamya dibungkus oleh cangkang dari silikat dengan bentuk yang geometric beraturan. Jenis ini telah banyak diidentifikasi dan diklasifikasi berdasarkan ukuran, bentuk dan struktur silikat pada cangkangnya (Hourmant et al., 2009 dalam Herlinah,2010).

Dalam memeperoleh nutrient yang cukup dari lingkungan, diatom melakukan adaptasi dengan melebarkan valve dan memperkecil panjang sel. Round and Mann (1990 dalam Fitri,2011), menyatakan bahwa pengaruh tingginya tekanan akan menyebabkan diatom yang berbentuk tabung seperti Synedra, Niztschia dan Thalassionema, ukuran selnya akan menjadi lebih besar, perluasan ini akan meningkatkan volume sel. Peningkatan volume sel ini merupakan salah satu bentuk adaptasi morfologi diatom agar dapat lebih mudah menyerap nutrient dari lingkungan yang memiliki kandungan nutrient yang sedikit (Fitri, 2011).

Perubahan ukuran morfologi diatom yang ditemukan diperkirakan diakibatkan oleh pengaruh perbedaan kondisi lingkungan. Namun hal tersebut belum dapat dipastikan. Menurut Endler (1977 dalam Fitri, 2011), perubahan morfologi pada suatu individu merupakan gabungan dari faktor genetik dan faktor lingkungan, seperti kondisi fisika kimia lingkungan dan barrier geografis. Perubahan morfologi tersebut dapat bersifat permanent dan dapat bersifat sementara yang akan berubah ke ukuran semula apabila dikembalikan pada kondisi lingkungan semula (Fitri, 2011).

HABITAT ISTHMIA SP
Perairan mangrove yang kaya akan nutrient merupakan tempat hidup yang sangat mendukung untuk perkembangan Isthmia, semakin terancam keberadaannya. Perubahan kondisi lingkungan pada kawasan mangrove diperkirakan dapat mempengaruhi morfologi diatom sebagai bentuk adaptasi Isthmia terhadap perubahan kondisi habitat (Fitri,2011).

FISIOLOGI ISTHMIA SP
Tingginya kandungan Silika, Nitrogen dan Phospat diperkirakan memiliki pengaruh yang besar terhadap ukuran frustule diatom. Diatom sangat membutuhkan Silika dalam pembentukan dinding sel diatom. Silika terlibat dalam pembentukan protein dan karbohidrat. Selain itu Silika berperan penting dalam pembelahan sel untuk pembentukan dinding sel dan metabolisme tubuh. Selian itu, N dan P merupakan nutrient penting dalam pertumbuhan diatom. konsentrasi N dan P turut mempengaruhi siklus Si diperairan. Nitrogen sangat dibutuhkan dalam penyusunan klorofil dan Phosphat berperan dalam pembentukan protein dan metabolism organisme (Herawati, 2008 dalam Fitri,2011).

Diatom mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat cepat dengan kondisi lingkungan tempat hidupnya (Dixit et al., 1992 cit. Mills et al., 2002 dalam Fitri,2011). Faktor lingkungan ini dapat mempengaruhi variasi bentuk dari valve diatom karena dinding sel diatom tersebut bersifat fleksibel (Mann, 1994 cit. Pappas and Stoemer, 2003 dalam Fitri,2011).

Algae pada fase eksponensial kemungkinana memiliki komposisi kimia yang berbeda dibandingkan pada pase stasioner. Selain itu perubahan komposisi media kultur dapat merubah pola Asam lemak pada algae. Menurut beberapa factor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan mikroalga yaitu ukuran dan bentuk, kecernaan (Komposisi dan struktur dinding sel}, komposisi kimia (Natrien ,enzim dan toksin). Selanjutnya dijelaskan bahwa pada fase akhir logaritma Chaetoceros mengandung protein (30-40%}, lemak (10-20%) dan karbohidrat (5-15%). Sedangkan pada fase stasioner komposisi nutrisi dapat berubah karena kurangnya • Nitrat pada media kultur sehingga karbohidrat meningkat dan protein cenderung turun (Brown 2002 dalam Herlinah, 2010).

TINGKAH LAKU ISTHMIA SP
Lebih banyaknya jumlah jenis yang ditemukan pada kawasan mangrove diperkirakan berkaitan dengan kondisi lingkungan perairan pada daerah tersebut masih alami dengan kandungan nutrient yang cukup yang berasal dan jatuhan serasah tumbuhan mangrove. Diperkirakan banyaknya jatuhan serasah yang bersal dari hutan mangrove telah meningkatkan kesuburan perairan seperti meningkatnya kandungan N, P, C dan Si, salinitas dan oksigen terlarut diperairan serta rendahnya suhu dan karbondioksida terlarut pada perairan ini berperan penting dalam pertumbuhan diatom. Menurut Graham dan Wilcox (2000 dalam Fitri,2011 ), fitoplankton diperairan cendrung beragam dan melimpah pada kondisi lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhannya  (Fitri,2011).

REPRODUKSI ISTHMIA SP
Komposisi kimia fitoplankton merupakan aspek penting dalam akuakultur terutama pada kualitas nutriennya karena berpengaruh terhadap performa dan produksi kultivan. Komposisi kimia mikroalga sangat dipengaruhi oleh fase pertumbuhan, intensitas cahaya, suhu, ketersediaan nutrisi dan kepadatan sel (Boeing, 2008 dalam Herlinah, 2010).

Menurut Fox (1983 dalam Herlinah, 2010) Pertumbuhan Biddulphiales meliputi beberapa Pase pertumbuhan yaitu Pase Lag dimana terjadi sedikit peningkatan jumlah sel dalam waktu yang relative lama hal tersebut disebabkan oleh adaptasi perubahan media kultur. Selanjutnya pada fase eksponensial terjadi peningkatan jumlah sel secara cepat . Kemudian fase penurunan pertumbuhan dimana pembelahan sel terjadi secara lambat  karena penurunan faktor pembatas seperti nutrient, cahaya, pH, karbon dioksida dan faktor fisika kimia lainnya.

Secara normal Biddulphiales berkembang melalui pembelahan sel secara vegetative, selama pembelahan sel bagian epiteka dan hypoteka masing-masing akan membentuk sel baru dengan ukuran yang lebih kecil (Fryxell dan Medlin. 1981 dalam Herlinah, 2010).

Karakterisasi pakan alami yang digunakan yaitu mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, dan kemampuan berkembang biak dengan cepat. Pada kultur pakan alami yang berupa fitoplankton, pemantauan pertumbuhan sel sangat diperlukan disamping kualitas dan jumlah selnya. Pertumbuhan setiap jenis fitoplankton bervariasi tergantung pada kondisi kultur (kualitas air, pencahayaan dan suhu), inokulan, unsur hara, keterampilan teknis dalam penangananannya serta spesies yang digunakan (Liao et al. 1983 dalam Herlinah, 2010).

PERAN ISTHMIA SP DI PERAIRAN
Isthmia Sebagai fitoplankton mempunyai beberapa peranan yaitu hasil fotosintesis berupa oksigen dimanfaatkan untuk respirasi aerobic, untuk stabilitasi dan perbaikan sifat fisik tanah, bahan penggosok. Kebanyakan Biddulphiales adalah bersel tunggal, walaupun beberapa membentuk rantai atau koloni. Sel Biddulphiales dilapisi dinding sel unik yang terbuat dari silika. Biddulphiales memiliki klorofil dan mampu berfotosintesis (Oktaviani, 2011).
         
Diatom seperti Isthmia secara kuantitatif merupakan komponen dan juga memiliki fungsi biologis dan ekologis yang sangat penting, misalnya sebagai produsen primer dalam rantai makanan (Lin et al., 2005 dalam Herlinah, 2010), sebagai pakan hidup dalam marikultur (Brown and Miller 1992; Rao et al., 2005 dalam Herlinah, 2010), sebagai penyerap bahan pencemar (Gonzales - Davina 1995 dalam Herlinah, 2010) dan sebagai transfer polutan dalam rantai makanan (Okay et al., 2000 dalam Herlinah, 2010). Keberadaan konsumen primer berupa zooplankton, larva invertebrata (udang dll) serta ikan sangat dipengaruhi oleh jumlah produsen primer dalam hal ini mikroalga yang terdapat di suatu perairan (Bosman and Hockey 1988 dalam Herlinah, 2010) dan dalam lingkup yang lebih kecil yakni ketersediaan mikroalga di perbenihan (Herlinah, 2010).

PENULIS
Dian Senja Lazuardi
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA

Fitri, Wiya Elsa.2011. Jenis-Jenis Dan Variasi Morfologi Diatom Pada Dua Kawasan Mangrove (Sungai Pisang, Kota Padang Dan Air Bangis, Pasaman Barat, Sumatera Barat)

Herlinah. 2010. Karakterisasi Genetik Berbagai Spesies Chaetoceros Serta Analisis Pemanfaatannya pada Perbenihan Udang Windu (Panaeus monodon) Dewan Riset Nasional Kementerian Negara Riset Dan Teknologi : Jakarta

OktavianiSheni.2011.MikrobiologiAlga.http://shenioktaviani3a.blogspot.com/2011/01/mikrobiologi-alga.html . Diakses pada tanggal 1 April 2015

2 comments: