Thursday, June 11, 2020

Ceratium Sp Atau Ceretium Adalah; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ceratium Sp merupakan fitoplantkon berwarna coklat, tergabung dalam genus yang berbentuk menajam (armoused). Termasuk dalam kelas dynoflagellata.

KLASIFIKASI CERATIUM SP
Menurut Naksar (2012), klasifikasi dari Ceratium sp yaitu:
Kingdom : Protista
Phylum : Protozoa
Kelas : Phytomastigophorea                           
Ordo : Dinoflagellida
Family : Ceratideae                                                                     
Genus : Ceratium
Spesies : Ceratium sp

MORFOLOGI CERATIUM SP
Memiliki bentuk umum yaitu terdiri membran vesikel berisi lapisan – lapisan theca yang cukup nyata, memiliki substansi cadangan utama berupa karbohidrat dan garam, memiliki nukleus yang besar dengan penampilan berbentuk seperti manik – manik, Ceratium sp juga memiliki trichocysr dan stigma (Nybakken, 1992).

Menurut Susyawati (2011), Ceratium termasuk dalam kelas Pyrrophyta. Pyrrophyta merupakan alga uniselular (bersel satu) dengan dua flagel yang berlainan, berbentuk pita, keluar dari sisi perut dalam suatu saluran. Mengandung pigmen (klorofil A,C2 dan piridinin, sementara yang lain memiliki klorofil A,C1,C2 dan fucosantin) yang dapat berfotosintesis. Hanya dinoflagellata yang memiliki kemampuan untuk berfotosintesis. Alga api ini berbentuk sel tunggal dan bentuk filamennya bercabang. Dikelompokkan sebagai protista autotrof oleh adanya klorofil a dan c, tetapi tidak mempunyai klorofil b pigmen xantofil yang khas yaitu peridinin, neoperidinin, dinoxanthin dan neodinoxanthin) dan b karoten yang memberikan warna coklat atau warna coklat emas. Pyrrophyta memiliki alat gerak berupa flagel sebanyak 2 buah, satu buah melingkar sedangkan satu lagi berada dibagian posterior. Ada juga falgel yang terletak di bagian lateral. Bila flagel yang melingkar bergerak, maka sel akan berputar dan bila flagel bagian posterior yang bergerak maka sel akan maju.

HABITAT CERATIUM SP
Menurut Taylor et al (1995) dalam Praseno dan Sugestiningsih (2000), Ceratium sp biasanya tersebar sangat luas di perairan pantai dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap variasi salinitas yang besar (5 -70 ‰). Berbeda halnya dengan ceratium yang saya teliti, jumlah Ceratium sp yang kita amati cukup banyak, dengan dibuktikan oleh 3 X penemuan pada saat praktium berlangsung. Ceratium sp merupakan phytoplankton yang jumlahnya dipengaruhi oleh salinitas lingkungan.

FISIOLOGI CERATIUM SP
Ceratium sp hidup di air laut ataupun air tawar, mempunyai tiga prosesus dinding sehingga berbentuk seperti terompet, yang satu pada akhir tubuh, sedang yang dua ditempat tubuh lain yang tidak digunakan untuk berlabuh. Ceratium furca juga dapat hidup meskipun dalam kondisi nutrisi yang sangat rendah karena spesies ini merupakan organisme heterotof yang mampu melakukan migrasi vertikal dari permukaan ke kolom air di bawahnya dan sebaliknya, dan bersifat kosmopolit  (Okaichi, 2003).
                  
Tubuh dinoflagellata primitif pada umumnya berbentuk ovoid tapi asimetri, mempunyai dua flagella, satu terletak di lekukan longitudinal dekat tubuh bagian tengah yang disebut sulcus dan memanjang ke bagian posterior. Sedangkan flagella yang lain ke arah transversal dan ditempatkan dalam suatu lekukan (cingulum) yang melingkari tubuh tau bentuk spiral pada beberapa belokan. Lekukan tranversal disebut girdle, merupakan cincin yang sederhana dan jika berbentuk spiral disebut annulus. Flagellum transversal menyebabkan pergerakan rotasi dan pergerakan kedepan, sedangkan flagellum longitudinal mengendalikan air ke arah posterior      

REPRODUKSI CERATIUM SP
Meurut Susyawati (2011), perkembangbiakkan dari ceratium yaitu dengan pembelahan sel yang bergerak. Jika sel memiliki panser, maka selubung akan pecah. Dapat juga dengan cara protoplas membelah membujur, lalu keluarlah dua sel telanjang yang dapat mengembara yang kemudian masing – masing membuat panser lagi. Setelah mengalami waktu istirahat zigot yang mempunyai dinding mengadakan pembelahan reduksi, mengeluarkan sel kembar yang telanjang. Dengan pembelahan biner, yaitu pembelahan sel dengan sel anak mendapatkan sebagian dari sel induk (sel anak yang membentuk dinding baru).

Reproduksi pada dinoflagelata umumnya adalah dengan pembelahan sel (binary fission). Laju pembelahan ini akan sangat tinggi bila lingkungannya optimal, meskipun terdapat variasi antar jenis dan antar waktu. Masa penggandaan (doubling time) pada Peridinium misalnya berkisar 10 hingga 50 jam, Prorocentrum berkisar 12 hingga 127 jam, Exuviella antara 15 hingga 90 jam, dan Ceratium furca maksimum 48 Jam (Sachlan, 1982).
         
TINGKAH LAKU CERATIUM SP
Cahaya sangat mempengaruhi tingkah laku organisme akuatik. Algae planktonik menunjukkan respom yang berbeda terhadap perubahan intensitas cahaya. Perubahan intensitas cahaya menyebabkan Ceratium hirudinella (Dinoflagellata) melakukan pergerakan vertikal pada kolom air (Jeffries dan Mills, 1996)

PERAN CERATIUM SP DI PERAIRAN
Ceratium furca mampu berkompetisi dengan spesies fitoplankton lain, terutama dalam hal ketersediaan nutrisi, cahaya matahari, dan faktor lingkungan lain. Ceratium furca sering ditemukan dalam jumlah melimpah dan mendominasi spesies lain. Oleh karena itu, C. furca lebih sering blooming, yang mengakibatkan kematian massal organisme laut karena dapat terjadi deplesi oksigen pada perairan dan mempengaruhi kultur atau sumber daya lain (GEOHAB, 2001).     

Ceratium furca juga merupakan penyebab red tide dari kelompok Dinoflagellata, yang ditemukan di seluruh stasiun. Spesies tersebut merupakan organisme heterotof yang mampu melakukan migrasi vertikal dari permukaan ke kolom air di bawahnya dan sebaliknya, dan bersifat kosmopolit (Okaichi, 2003; Tomas, 1997).

Gymnodinium sanguineum umumnya menyebabkan red tide dan deplesi oksigen terhadap invertebrata dan ikan. Gymnodinium sanguineum sering ditemukan blooming bersamaan dengan Ceratium furca, yang dapat menyebabkan air berubah warna menjadi merah, bahkan berkaitan dengan kematian ikan (Hallegraeff, 1991).

Berdasarkan data monitoring dari Dinas Kelautan dan Perikanan (2006) di perairan Sidoarjo ditemukan spesies yang berpotensi menyebabkan HABs yaitu Ceratium fucus, Ceratium tripos dan Dinophysis caudata. Sedangkan Perairan Sidoarjo merupakan daerah penting bagi nelayan sekitar karena telah lama dijadikan sebagai area penangkapan perikanan. Sehingga pemanfaatan tersebut harus didukung dengan adanya informasi mengenai potensi dan ancaman di perairan Sidoarjo agar dapat digunakan se-optimal mungkin dan untuk mempermudah dalam pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi serta mengetahui kepadatan dan distribusi fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HABs di perairan Sidoarjo.

PENULIS
Muhammad Arief
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2014

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

No comments:

Post a Comment