Saturday, May 16, 2020

Ikan Sepat Siam (Trichogaster Pectoralis); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Sepat siam (Trichogaster pectoralis) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku gurami (Osphronemidae). Ikan sepat biasanya hidup di rawa dimana ikan ini bertubuh sedang, panjang total mencapai 25 cm dengan lebar pipih, dan mulut agak meruncing. Sirip-sirip punggung (dorsal), ekor, sirip dada dan sirip dubur berwarna gelap. Sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut, yang memanjang hingga ke ekornya, dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. Sepat siam merupakan ikan konsumsi yang penting, terutama sebagai sumber protein di daerah pedesaan. Selain dijual dalam keadaan segar di pasar, sepat siam kerap diawetkan dalam bentuk ikan asin dan diperdagangkan antar pulau di Indonesia.

KLASIFIKASI IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Menurut Robison (1971), klasifikasi ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Familiy : Osphronemidae
Genus : Trichogaster
Species : Trichogaster pectoralis

HABITAT IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Menurut Aziz et al., (2005), Ikan sepat siam merupakan ikan asli negara Thailand.  Di habitat aslinya, ikan ini hidup di rawa - rawa yang banyak ditumbuhi tanaman airnya, karena ikan ini butuh substrat sebagai tempat melatakkan busa untuk telur - telurnya. Ikan sepat siam tumbuh pada 23-270C dan pada suhu sekitar 6,5-7. Meskipun ikan ini tidak begitu populer dikalangan masyarakat luas, namun ikan ini cukup dikenal di Indonesia. Meskipun ikan ini adalah ikan untuk konsumsi, tapi pada ukuran kecil ikan ini bisa dijadikan sebagai ikan hias, karena bentuk tubuh dan warnanya sangat menarik. Ikan sepat siam merupakan ikan asli  negara Thailand, dan hidup di rawa-rawa. Ikan ini di datangkan ke Indonesia pada tahun 1934 dari semenanjung Malaka.

FISIOLOGI IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Menurut Froese et al., (2007), fisiologi ikan sepat siam menyukai air yang jernih untuk memijah dan beraktifitas. Selain itu, ikan ini menyukai perairan yang tenang. Ikan ini hidup di perairan air tawar dimana insang mereka harus mampu mendifusikan air sembari menjaga kadar garam dalam cairan tubuh secara simultan. Adaptasi pada bagian sisik ikan juga memainkan peran penting, ikan air tawar yang kehilangan banyak sisik akan mendapatkan kelebihan air yang berdifusi ke dalam kulit, dan dapat menyebabkan kematian pada ikan.

Menurut Aziz et al., (2005), ikan sepat siam dapat di pelihara di kolam atau di sawah, terutama di daerah-daerah dataran rendah atau di rawa-rawa yang pH-nya sedikit asam atau di kolam-kolam tergenang tanpa adanya aliran air sehingga zat asam minimal. Ikan sepat siam adalah ikan yang mempunyai alat labyrinth sehingga kekurangan zat asam tidak merupakan masalah besar.

MORFOLOGI IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Men urut Kottelat et al., (1993), morfologi ikan sepat siam yaitu bentuk tubuh pipih (compressed), tubuh dilapisi sisik dari ujung mulut sampai ekor. Tubuh berwarna perak kusam kehitaman sampai agak kehijauan pada hampir seluruh tubuhnya dengan pola warna belang belang hitam dan terdapat sejalur bintik besar kehitaman yang terdapat di sisi tubuh mulai dari belakang mata hingga ke pangkal ekor. Memiliki alat pernapasan tambahan yaitu Mulut dapat disembulkan. Mulut kecil, sempit, dan tebal dengan moncong yang pendek, tumpul dan tidak terdapat duri. Bibir atas bersambung dengan bibir bawah dan hanya bibir rahang atas  yang berlipatan. Memiliki sepasang lubang hidung (monorhinous), dan tidak memiliki sungut. Posisi mulut berada tepat di ujung hidung (terminal). Gurat sisi (linea lateralis) seperti garis lurus dan susunan tapi tidak sempurna. Ikan ini memiliki sirip yang lengkap yaitu sirip punggung yang memanjang mulai dari pertengahan tubuh sampai ke pangkal ekor dan berjumlah 1 buah. Permulaan dasar sirip punggung terletak di belakang sirip perut dan terpisah dengan sirip ekor. Sirip dada (pectoral fin) terletak di linea lateralis persis di bawah sudut tutup insang (operculum posisi dasar vertikal. Sirip perut (ventral fin) terletak di bawah sirip dada yang disebut thoracic. Sepasang jari terdepan sirip perut bermodifikasi menjadi bulu cambuk. Sirip anus (anal fin) menyatu dengan sirip ekor dan tidak diliputi sisik (squama). Sirip ekor (caudal fin) memiliki bentuk berlekuk tunggal. Seluruh sirip berwarna gelap.

CIRI-CIRI IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Menurut Sugio (1996), ciri khusus ikan sepat siam merupakan ikan sepat terbesar. Ikan sepat dapat tumbuh hingga ukuran panjang mencapai 25cm. Sedangkan ikan sepat seumumnya dapat tumbuh hanya dengan berukuran 12cm. Corak pada tubuh ikan sepat siam yang belang-belang seperti kulit ular sehingga ikan ini mendapat sebutan snake skin.

REPRODUKSI IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Menurut Suyanto (1995), untuk membiakan jenis ikan ini tidak diperlukan perlakuan khusus seperti pada halnya ikan-ikan mas, tawes atau gurame.  Ikan sepat dapat berbiak di kolam pemeliharaan dengan sendirinya.  Tumbuh-tumbuhan air seperti Hydrilla persicillata dan air yang cukup zat asam diperlukan.

Kolam pemijahan hendaknya agak dalam yaitu sekitar 70 - 100 cm, dan pada waktu pemijahan terjadi kolam hendaknya berair diam sehingga pemasukan air cukup untuk mengganti air yang hilang karena penguapan atau merembes. Tumbuh-tumbuhan air yang mengapung baik sekali disediakan untuk menutup sebagian kecil permukaan saja.  Pada waktu pemijahan maka ikan jantan akan membuat sarang terlebih dahulu.  

Pembuatan sarang dilakukan selama 1 - 2 hari.  Gelembung - gelembung udara (buih) yang membentuk sarang tersebut bergaris tengah 1,5 - 3 mm.  Pada waktu pembuatan sarang tersebut ikan - ikan lain tidak diperkenankan mendekat.  Jika ada ikan yang mendekat maka akan dikejarnya sehingga keluar dari daerah territorial tempat  sarang  dibuat.   Sarang  biasa dibuat dari bagian tepi
atau di sudut - sudut.  Setelah sarang siap maka ikan jantan memikat betina dan pemijahan terjadi di bawah sarang.

Telur yang telah dibuahi tadi mengapung sampai mencapai sarang tersebut.  Telur menetas setelah 2 - 3 hari.  Telur kemudian dijaga oleh jantan, terutama dari gangguan-gangguan lain yang mendekat. Untuk mengembangbiakkan ikan sepat siam ini sebaiknya kolam dipersiapkan dengan pengeringan, pemupukan dan sebagainya, agar hama benih dapat hilang dan benih cukup mendapat makanan terutama makanan alami (Zooplankton). Menurut Sudarsono (2010), ikan sepat akan melakukan pemijahan kurang lebih 2 hari. Selanjutnya ikan akan menunggu masa menetas telur hingga 2 atau 3 hari. Sebenarnya agar lebih aman ikan sepat dibuatkan tempat pemijahan sendiri dengan pemijahan yang sudah diatur dan diberi tempat untuk menempel telur.

PERAN IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS) DI PERAIRAN
Menurut Odum (1971), sepat siam dapat memberikan manfaat pada persawahan. Dengan adanya ikan sepat siam maka hama yang sering menyerang terutama keong yang sering berkembang pada dasar padi bisa dimakan oleh ikan. Ikan sepat siam memang sangat cocok dibudidayakan dengan menggabungkan di lahan pertanian. Karena kondisi sawah yang tergenang dengan air dan pH air yang cukup baik adalah habitat yang sempurna untuk ikan sepat siam.

TINGKAH LAKU IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Tingkah laku ikan sepat siam merupakan fototaksis positif. Dikarenakan ikan sepat apabila diberikan cahaya akan mendekati cahaya. Itu disebabkan karena ikan sepat hidup di permukaan perairan yang dimana langsung dekat oleh cahaya. Fototaksis adalah gerak taksis yang menyebabkan oleh adanya rangsangan berupa cahaya.Ikan tertarik cahaya melalui otak (pineal rigean pada otak). Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut fototaksis. Dengan demikian ikan tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis,yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal, sedangkan ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya akan menjauhi cahaya biasa disebut fotophobi (Sudarsono,2010).

MANFAAT IKAN SEPAT SIAM (TRICHOGASTER PECTORALIS)
Ikan sepat siam, Trichopodus pectoralis Regan 1910, merupakan salah satu ikan yang potensial untuk dikembangkan menjadi komoditas budi daya ekonomis. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan penting suatu komoditas potensial budi daya adalah tingginya nilai ekonomis dan jumlah produksi yang tinggi. Jumlah produksi ikan sepat siam relatif lebih tinggi dibandingkan ikan-ikan lokal lainnya. Data Statistik Kelautan dan Perikanan 2011 (Pusdatin KKP 2013) menunjukkan pada periode 2007-2010 tingkat produksi ikan sepat siam meningkat dari 17.919 ton menjadi 22.306 ton. Namun, tingginya produksi tersebut sebagian berasal dari tangkapan alam (Nasution 2012). Volume produksi ikan sepat dari kegiatan budi daya pada empat tahun berturut-turut (2008-2011) hanya berkisar 2,82-12,36% dari total produksi setiap tahun (Pusdatin KKP 2013). Suplai ikan sepat siam yang banyak berasal dari penangkapan di alam berpotensi menyebabkan ketersediaan di alam semakin menurun. Indikasi penurunan kelimpahan ikan sepat siam di perairan umum dibuktikan dengan semakin kecilnya ukuran individu ikan sepat siam yang berhasil ditangkap oleh masyarakat nelayan. Langkah domestikasi ikan sepat siam diperlukan agar pengembangbiakan melalui kegiatan budi daya dapat dilakukan untuk mengatasi kelangkaan dan menjaga kelestariannya.

PENULIS
Shierly Raghvira R
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Ath-thari, MH. F., D. T. Soelistyowati., dan R. Gustiano. 2014.Performa reproduksi ikan sepat siam (Trichopodus pectoralis Regan 1910) asal Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Jurnal Iktiologi Indonesia, 14(3):201-210
Azis D.A. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Sepat Siam Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
Froese E. R and Pauly. D. 2007 version. N.p.: FishBase, 2007. "Trichogaster pectoralis". FishBase.
http://www.fao.org/fishery/species/3321/en
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. dan Proyek EMDI KMNKLH Jakarta.
KOTTELAT, M., A.J. WHITTEN, S.N. KARTIKASARI, S. WIRJOATMODJO. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. dan Proyek EMDI KMNKLH Jakarta. hal 75
Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. 3rd Edition. W.B. Sounders Company, Philadelpia. pp. 368-381.
Robison, Henry Welborn (1971), An Ethological Study of the Snakeskin Gourami, Trichogaster pectoralis, with Comments on Phylogenetic Relationships Among Species of Trichogaster (Pisces, Belontiidae)
Sudarsono dan Moyoginta. 2010. Pengaruh Kromanium dalam Pakan Terhadap Kadar Glukosa Darah, Koesien Respirator, Ekstkresi NH3-N dan Pertumbuhan Ikan Gurami; Vol. 10 No. 1 hal. 25-29.
Sugio. 1996. Preferensi Pakan Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus Pall) Melalui Teknis Analisis Lambung dan Pengajarannya di Sekolah Menengah Umum. Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya.
Suyanto, S. Rachmatun. 1995.  “Parasit Ikan dan Cara-cara Pemberantasannya”. Jakarta: Yayasan Sosial Tani Membangun.

No comments:

Post a Comment