Wednesday, May 13, 2020

Ikan Lemeduk; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Lemeduk mempunyai sinonim nama seperti Barbonymorus schwanefeldii, Barbus pentazona schwanefeldii, Barbus schwanefeldii, Puntius schwanefeldii (Fishbase, 2014). Ikan Lemeduk (B. schwanenfeldii) mempunyai nama lokal yang sering disebut ikan kapiek, lempam, lempem, lampam, tenadak merah (dalam Aisyah, 2014).

Ikan lemeduk (Barbonymus schwanenfeldii) adalah salah satu sumber daya perikanan air tawar yang terdapat di Perairan Sungai Tamiang. Nama lain ikan ini sering disebut ikan lampam, ikan tengadak, kapiek, kapiat, lempem, lempam dan nama international disebut tinfoil barb. Ikan lemeduk mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh pipih dan berwarna putih keperak-perakan, sirip punggung berwarna merah bercampur hitam pada ujungnya, sirip dada, sirip perut dan sirip dubur berwarna merah, sirip ekor berwarna merah bercampur orange dengan pinggiran bergaris hitam dan putih (Kottelat dan Whitten, 1993). Dalam Gunawan, et al. (2017).

KLASIFIKASI IKAN LEMEDUK
Klasifikasi ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) menurut Kottelat dan Whitten (1993) dalam Aisyah (2014) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Barbodes
Spesies : Barbodes schwanenfeldii

HABITAT IKAN LEMEDUK
Ikan lemeduk merupakan ikan yang hidup di sungai dan danau. Pada musim banjir ikan ini masuk ke rawa-rawa dan tempat-tempat yang baru tergenang. Ikan-ikan ini sering tertangkap di tempat-tempat yang digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pada malam hari berada di daerah pinggir dan tempat yang bervegetasi (Setiawan, 2007 dalam Aisyah, 2014). Distribusi ikan Lemeduk ini mulai dari Sumatra, Borneo, Malaya dan Indochina. Ikan ini merupakan ikan konsumsi penting, terutama di Sumatera Barat yang secara umum dipelihara di kolam-kolam (Kottelat dan Whitten, 1993 dalam Aisyah, 2014).

Secara umum ikan Lemeduk dapat dijumpai hidup pada kedalaman 1,0-4,0 m, suhu antara 25°C-30°C, kecerahan antara 40-120 cm, pH berkisar 5-7 dengan keadaan arus lemah atau pada tempat-tempat yang merupakan lubuk. Hidup pada dasar perairan berpasir lumpur dan ditempat-tempat berbatu yang banyak ditumbuhi tanaman air (Pulungan, 1987 dalam Aisyah, 2014).

Di daerah Riau, ikan Lemeduk (B. schwanenfeldii) merupakan salah satu spesies ikan hasil utama Sungai Kampar dan perairan umum lain sekitarnya. Ikan lemeduk tertangkap dengan alat tangkap seperti rawai, jala, jaring insang dan pancing. Penangkapan ikan dilakukan sepanjang tahun, namun khusus ikan Lemeduk, puncak penangkapannya adalah musim kemarau yaitu pada saat permukaan air di sungai mencapai titik paling rendah. Pada waktu tersebut kadang-kadang penangkapan dilakukan beramai-ramai dengan menggunakan jaring atau alat penangkap yang terbuat dari daun kelapa (Siregar, 1989 dalam Aisyah, 2014).

FISIOLOGI IKAN LEMEDUK
Faktor fisiologi dapat menunjukkan keadaan ikan baik dilihat dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan reproduksi. Selain itu faktor fisiologi dapat dipengaruhi oleh makanan, umur, jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad. Faktor fisiologi dalam siklus ikan mengalami peningkatan dan penurunan. Hal ini merupakan indikasi dari musim pemijahan ikan yang menggunakan lemaknya sebagai sumber tenaga selama proses pemijahan, pada umumnya akan mengalami penurunan faktor fisiologi (Setiawan 2007).

MORFOLOGI IKAN LEMEDUK
Ikan Lemeduk mempunyai ciri-ciri seperti bentuk tubuh pipih melebar dengan badan berwarna perak dan kuning keemasan, sirip punggung berwarna merah dengan bercak hitam pada ujungnya, sirip dada, sirip perut dan sirip dubur berwarna merah, sirip ekor berwarna oranye atau merah dengan pinggiran garis hitam dan putih sepanjang cuping sirip ekor. Garis rusuk dengan sisik garis rusuk 35-36, terdapat 13 sisik sebelum awal sirip punggung dan 8 sisik antara sirip punggung dan gurat sisi (Kottelat dan Whitten, 1993 dalam Aisyah, 2014). Ukuran rata-rata ikan ini antara 10-25 cm dan berat sekitar 200-600 g. Ikan ini dapat mencapai ukuran maksimal 30 cm dan berat lebih dari 1 kg (Christensen, 2007 dalam Aisyah, 2014).

CIRI-CIRI IKAN LEMEDUK
Genus Puntius termasuk sub famili Cyprininae dari famili Cyprinidae dengan ciri khas mempunyai dua pasang sungut (Nelson, 1994). Menurut Kottelat, Whitten, Kartikasari dan Wirjoatmodjo (1993) Puntius mempunyai karakteristik pada sisik yang mempunyai proyeksi dari pusat ke pinggir terlihat seperti jari-jari pada roda, jari-jari yang ke arah samping tidak melengkung ke belakang dan tidak terdapat tonjolan keras (Vitri dkk., 2012) (dalam Rahman, 2014).

Ikan Lemeduk mempunyai ciri-ciri seperti bentuk tubuh pipih melebar
dengan badan berwarna perak dan kuning keemasan, sirip punggung berwarna merah dengan bercak hitam pada ujungnya, sirip dada, sirip perut dan sirip dubur berwarna merah, sirip ekor berwarna oranye atau merah dengan pinggiran garis hitam dan putih sepanjang cuping sirip ekor. Garis rusuk dengan sisik garis rusuk 35-36, terdapat 13 sisik sebelum awal sirip punggung dan 8 sisik antara sirip punggung dan gurat sisi (Kottelat dan Whitten, 1993). Ukuran rata-rata ikan ini antara 10-25 cm dan berat sekitar 200-600 g. Ikan ini dapat mencapai ukuran
maksimal 30 cm dan berat lebih dari 1 kg (Christensen, 2007 dalam Isa, dkk., 2012).

REPRODUKSI IKAN LEMEDUK
Yustina dan Arnentis (2002) dalam Aisyah (2014), berpendapat ikan kapiek (B. schwanenfeldii) bereproduksi disekitar bulan September. Pada bulan September jumlah ikan semakin berkurang, disebabkan oleh permukaan air yang naik dan merupakan stimulus bagi ikan untuk bereproduksi. Berarti ikan pada bulan September sudah mulai melakukan perjalanan (ruaya) ke daerah pemijahan. Ikan dalam melakukan ruaya ke daerah pemijahan antara ikan jantan dan ikan betina masing-masing membuat kelompok sendiri. Umumnya jadwal pemijahan pada ikan berhubungan dengan penyesuaian terhadap keadaan yang menguntungkan, terutama yang berhubungan dengan persediaan makanan yang diambil dari luar setelah persediaan kuning telurnya habis (Elrifadah dan Rimalia, 2013 dalam Aisyah, 2014).

Ikan Lemeduk tergolong pada ikan yang mempunyai tipe reproduksi biseksual, artinya sperma dan telur berkembang secara terpisah pada individu yang berbeda. Dengan kata lain, ditemukan adanya ikan jantan dan betina yang berkembang sejak lahir atau menetas dan setiap individu akan tetap sebagai jantan atau betina selama hidupnya (Siregar, 1989 dalam Aisyah, 2014).

PERAN IKAN LEMEDUK DI PERAIRAN
Karena ikan lemeduk merupakan herbivora, sifatnya dapat mengendalikan gulma pada air. Ikan lemeduk memakan fitoplankton sehingga dapat sebagai pembersih di perairan. Karena sekarang ini banyak perairan yang blooming.

TINGKAH LAKU IKAN LEMEDUK
Ikan lampam berenang seperti biasanya dan mempunyai kebiasaan makannya untuk melangsungkan hidupnya dan kesukaannya pada makanannya. Saat pemijahan ikan lemeduk jantan dan betina akan membuat kelompok sendiri dan akan saling bergantung.

MANFAAT IKAN LEMEDUK
Ikan lemeduk memiliki rasa yang gurih sehingga sangat digemari oleh
masyarakat dan bernilai ekonomis, harga pasar yaitu berkisar Rp 40.000 – Rp 50.000 perkilogram, menjadikan ikan ini sebagai target utama penangkapan untuk memenuhi permintaan pasar ikan lemeduk. Alat tangkap yang digunakanpun beragam, antara lain jala, “gontang”, jaring insang (gill net), pancingan, bahkan ada juga masyarakat yang menggunakan racun. Kondisi ini dapat mengancam populasi ikan lemeduk di alam. Ancaman terhadap populasi ikan lemeduk semakin meningkat akibat berbagai aktifitas manusia di sepanjang Sungai Tamiang diantaranya pemukiman penduduk, perkebunan dan pertambangan (Galian C). Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah pengembangbiakan ikan lemeduk, baik untuk tujuan budidaya maupun konservasi, untuk mendukung tujuan tersebut diperlukan serangkaian penelitian termasuk tentang kebiasaan makannya. (Gunawan, et al., 2017).

PENULIS
Saraswati Destri Pritaningtyas
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. 2014. Aspek biologi reproduksi ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) di sungai Belumai Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.
Gunawan, R. H., Z. A. Muchlisin., dan S. Mellisa. 2017. Kebiasaan Makan Ikan Lemeduk (Barbonymus Schwanenfeldii) di Sungai Tamiang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah Volume 2, Nomor 3: 379-388
Rahman, A. 2014. Studi morfometrik dan meristik ikan Lemeduk (Barbodes schwanenfeldii) di sungai Belumai Kabupaten Deli Serdang. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.
Setiawan, B. 2007. Biologi reproduksi dan kebiasaan makanan ikan Lampam (Barbonymus schwanenfeldii) di sungai Musi, Sumatera Selatan. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

No comments:

Post a Comment