Friday, April 3, 2020

Pengaruh Perairan Lentik Terhadap Budidaya Perairan (Limnologi Atau Limnology)


EKOLOGI PERAIRAN TERGENANG (LENTIK) - ppt download

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Dua pertiga bagian dari bumi merupakan daerah perairan yang kemudian membentuk ekosistem perairan atau disebut juga ekosistem akuatik. Ekosistem akuatik terbentuk karena adanya interaksi antara makhluk hidup akuatik dengan lingkungannya. Ekosistem akuatik sendiri merupakan ekosistem yang memiliki substrat berupa cairan. Berdasarkan tingkat salinitasnya ekosistem perairan dibagi menjadi ekosistem air tawar dengan salinitas rendah yaitu kurang dari 5 %, air payau dengan tingkat salinitas 5-30% dan air laut dengan tingkat salinitas tertinggi yaitu antara 30-40% (Odum, 1998).

Perkembangan masyarakat dunia pada abad ke 21 telah menunjukkan kecenderungan adanya perubahan peri-laku dan gaya hidup serta pola konsumsinya ke produk perikanan. Dengan keterbatasan kemampuan pasok hasil perikanan dunia, ikan akan menjadi komoditas strategis yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu, permintaan komoditas peri-kanan di masa datang akan semakin tinggi sehagai akibat meningkatlya jumlah penduduk, kualitas dan gaya hidup masyarakat dunia. Perubahan gaya hidup tersebut antara lain disebabkan kebutuhan makanan sehat, tingkat aktifitas yang tingi dan kegiatan yang cakupannya global. Pasokan ikan dunia saat ini sebagian besar berasal dari hasil penangkapan ikan di laut. Namun demikian pemanfaatan sumberdaya ter-sebut di sejumlah negara dan perairan internasional saat ini dilaporkan telah berlebih. Oleh karena itu' alternative pemasok hasil perikanan diharapkan berasal dari pembudidayaan ikan. Namun karena keterbatasan lahan dan kondisi iklim yang tidak selalu mendukung, hal ini menjadi pengham-bat pengembangan budidaya perikanan di sebagian negara di dunia. Sesuai dengan potensi sumber-daya perikanan yang dimiliki serta dalam rangka menghadapi tantangan global termasuk di bidang perikanan maka visi pembangunan perikanan budidaya adalah: perikanan budidaya sebagai salah satu sumber pertum-buhan ekonomi andalan yang diwujudkan melalui sistem budidaya yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.

Ekosistem disusun oleh komponen fisika, kimia dan biologi yang satu sama lain saling berinteraksi di dalam suatu “wadah”,seperti danau, sungai, waduk, estuaria, dan rawa. Perbedaan antar ekosistem satu dengan lainnya biasanya terjadi antara komponen-komponen penyusun ekosistem bersangkutan, antara lain komponen biologi . Bioata penyusun komunitas di perairan, secaraekologis dan kebiasaan serta tingkah lakunya terdiri dari plankton, bentos, nekton, nesuton, pleusron dan makrofita perairan. Masing-masing kelompok biota tersebut mempunyai struktur komunitas yang berbeda antara satu ekosistem dengan ekosistem lainnya.

Ekosistem air tawar dibedakan menjadi lotik dan lentik. Lotik merupakan ekosistem air tawar yang airnya mengalir, sedangkan lentik merupakan ekosistem air tawar yang airnya  tergenang. Pada ekosistem lentik terdapat organism yang tidak pernah berubah dan tidak memiliki kemampuan adaptasi khusus karena airnya yang tenang, tidak mengalir bahkan tidak bergelombang. Perairan tergenang atau lentik meliputi danau, rawa, kolam, waduk dan sebagainya.

Sebagai salah satu bentuk ekosistem, perairan danau terdiri dari factor abiotik (fisika dan kimia) dan faktor biotik (produsen, konsumen dan dekomposer), dimana faktor-faktor tersebut membentuk suatu hubungan timbale balik dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Secara fisik, danau merupakan suatu tempat yang luas yang mempunyai air tetap, jernih atau beragam dengan aliran tertentu dan keberadaan tumbuhan air terbatas hanya pada daerah pinggir saja (Jorgensen and Vollenweiden, 1989; Barus, 2004). Menurut Ruttner (1977), danau adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu danau ke danau yang lain, serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi.

RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud dengan budidaya perairan ?
Apa yang dimaksud dengan perairan lentik ?
Bagaimana pengaruh perairan lentik terhadap kegiatan budidaya ?

TUJUAN DAN MAKSUD
Untuk mengetahui apa itu budidaya perairan
Untuk mengetahui apa itu perairan lentik
Untuk mengetahui pengaruh perairan lentik terhadap kegiatan budidaya
BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN BUDIDAYA PERAIRAN
Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi, dan berbagai avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di Indonesia, menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Dengan demikian, perikanan dapat dianggap merupakan usaha agribisnis.

Umumnya, perikanan dimaksudkan untuk kepentingan penyediaan pangan bagi manusia. Selain itu, tujuan lain dari perikanan meliputi olahraga, rekreasi (pemancingan ikan), dan mungkin juga untuk tujuan membuat perhiasan atau mengambil minyak ikan.

Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan (usaha penetasan, pembibitan, pembesaran) ikan, termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan, pengeringan, atau mengawetkan ikan dengan tujuan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha (komersial/bisnis).

Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air lain seperti kerang, udang maupun tumbuhan air. Istilah akuakultur yang diambil dari istilah dalam Bahasa Inggris Aquaculture.

Aquaculture (Akuakultur): Menurut FAO, akuakultur(Aquaculture) "diartikan pertanian organisme akuatik termasuk ikan, moluska, krustasea dan tanaman air. Pertanian menyiratkan beberapa bentuk intervensi dalam proses pemeliharaan untuk meningkatkan produksi, seperti pengaturan stok, makan, perlindungan dari predator dan lainnya. Pertanian juga menyiratkan kepemilikan individu atau perusahaan dari objek yang dibudidayakan.

Akuakultur juga dikenal sebagai budidaya perikanan, adalah pembudidayaan organisme perairan seperti ikan, krustasea, moluska, dan tanaman air. Akuakultur termasuk budidaya air tawar dan air asin dalam kondisi populasi yang terkendali, dan dapat dibedakan dengan penangkapan ikan komersial yang melakukan pemanenan ikan liar. Marikultur. mengacu pada akuakultur yang dipraktekkan di lingkungan laut dan habitat bawah air laut. Dari sisi produksi, pada tahun 2011 produksi perikanan nasional mencapai 12,39 juta ton. Dari jumlah itu, produksi perikanan tangkap sebanyak 5,41 juta ton dan produksi perikanan budidaya 6,98 juta ton.

Dari total produksi perikanan budidaya, jumlah budidaya ikan dalam kolam air tawar menyumbangkan angka hingga 1,1 juta ton. Sisanya adalah budidaya tambak air payau, budidaya di laut, budidaya dalam keramba dan budidaya jaring apung. Kenaikan produksi budidaya ikan dalam kolam air tawar cukup pesat yaitu berkisar 11 persen setiap tahun. Hal ini menujukkan ada gairah besar di masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Tentunya pertumbuhan produksi ini mengacu pada permintaan pasar yang terus meningkat.

PENGERTIAN PERAIRAN MENGGENANG (LENTIK)
Perairan tawar dapat dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu perairan lentik dan perairan lotik. Perairan lentik adalah kumpulan masa air yang relatif diam atau tenang seperti danau, situ, rawa, waduk atau telaga. Adapun perairan lotik merupakan suatu habitat perairan yang mengalir seperti sungai dan kanal. Situ merupakan salah satu tipe perairan lentik, dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai telaga atau danau, namun biasanya situ lebih kecil ukurannya dibandingkan danau (Marwoto dan Isnaningsih, 2014).

Menurut Kasasiah et al. (2009), tipe perairan menggenang seperti rawa dan situ dicirikan dengan tepian yang landai, kedalaman < 10 m, fluktuasi air 2–5 m, daerah derodon luas, daerah tangkap hujan sedang, masa simpan air sedang, pengeluaran air atas.

Perbedaan utama antara perairan lotik dan lentik adalah dalam kecepatan arus air. Perairan lentik mempunyai kecepatan arus yang lambat serta terjadi akumulasi massa air dalam periode waktu yang lama, sementara perairan lotik umumnya mempunyai kecepatan arus yang tinggi, disertai perpindahan massa air yang berlangsung dengan cepat (Daulay et al., 2012).

PENGARUH PERAIRAN MENGGENANG (LENTIK) TERHADAP KEGIATAN BUDIDAYA
Indonesia memiliki lebih dari 500 waduk, namum status kondisi sebagian besar sudah sangat memprihatinkan akibat pencemaran (Sumarwoto, et al., 2004). Pencemaran yang terjadi di perairan waduk, merupakan masalah penting yang  perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan beragamnyasumber pencemar yang masuk dan terakumulasi di waduk, antara lain berasal dari kegiatan produktif maupun non produktif di upland (lahan atas) dari permukiman dan dari kegiatan yang berlangsung di badan perairan waduk sendiri. Jenis bahan pencemar utama yang masuk ke perairan waduk terdiri terdiri dari beberapa macam, antara lain limbah organik dan anorganik, residu pestisida, sedimen dan bahan-bahan lainnya.Sumber timbulan limbah di WGM dari berbagai aktivitas penduduk di sempadan waduk, seperti permukiman, perhotelan, pertanian dan peternakan, serta kegiatan di badan perairan waduk seperti budidaya ikan dengan teknik karamba jarring apung (KJA).

Usaha KJA meningkat dari tahun 1997 berjumlah 185 petak menjadi 231 petak (Bappeda, 2007), 1164 petak (Pujiastuti, 2010) dan telah menyebar ke zona wisata, suaka serta zona bebas (Sudarmono, 2006). Limbah pakan ikan yang menumpuk bertahun-tahun, telah menurunkan kualitas air antara lain derajad keasaman air (Pujiastuti, 2003), cadangan oksigen terlarut, meningkatkan kandungan N-NO2 dan N-NH3 (Simarmata, 2008), menaikkan tingkat kerusakan bagian-bagian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dilewati seperti sistem cooler, turbin, dan lain-lain (Sumarna, 2005), merusak kehidupan biota air (Pujiastuti, 2003), maupun merusak tanaman yang dialiri (Pujiastuti, 2009).

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pencemaran yang terjadi di WGM semakin mengkhawatirkan karena dapat mengancam fungsi waduk. WGM mempunyai masalah pencemaran perairan, penurunan kualitas perairan, penurunan debit air dan pendangkalan waduk (Pujiastuti, 2003). Diperlukan usaha-usaha pencegahan dan pengendalian yang terpadu agar pencemaran dan sedimentasi dapat dikendalikan, sehingga fungsi utama waduk dapat dijaga kelangsungannya. Sumber pencemaran diperkirakan berasal dari aliran beban limbah dari kegiatan masyarakat yang berlangsung di indigenous (badan air waduk) dan exogenous (luar danau). KJA merupakan sumber limbah yang berasal dari kegiatan di badan air. 

Budidaya ikan dalam KJA akan memberikan buangan berupa pakan yang tidak termakan dan feses ke badan air, hal ini dapat menurukan kualitas perairan waduk (Pujiastuti, 2003). Selain itu, penurunan kualitas perairan waduk juga disebabkan oleh limbah yang berasal dari luar waduk, seperti limbah domestik, limbah kegiatan pertanian dan peternakan yang berada disekitar waduk. Kegiatan perikanan yang tidak ramah lingkungan seperti KJA yang melebihi      daya dukung lingkungan maupun penggunaan pakan ikan akan meninggalkan sisa pakan yang menumpuk didasar perairan selama bertahun-tahun. Hal ini menimbulkan pengkayaan unsur hara dan mempercepat eutroikasi yang ditandai dengan berkembangnya tanaman air seperti enceng gondok, azola (Pujiastuti, 2003).

Keadaan ini dapat menyebabkan sejumlah masalah penting dalam penggunaan air (Connel dan Miller, 1995). Kenaikan populasi tanaman dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut dalam air karena adanya tanaman yang mati dan pembusukan oleh jasad renik. Hal ini dapat menurunkan kecocokan daerah tersebut sebagai habitat beberapa spesies ikan dan makhluk hidup lainnya. Peningkatan kekeruhan dan warna yang terjadi selama eutroikasi menyebabkan air tidak sesuai untuk rumah tangga atau sulit dikelola sampai memenuhi baku mutu air minum. Suhu air mempunyai pengaruh yang nyata terhadap proses pertukaran atau metabolisme makhluk hidup. Selain mempengaruhi proses pertukaran zat, suhu juga berpengaruh terhadap kadar oksigen yang terlarut dalam air, juga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan nafsu makan ikan. Dalam berbagai hal suhu berfungsi sebagai syarat rangsangan alam yang menentukan beberapa proses seperti migrasi, bertelur, metabolisme, dan lain sebagainya.

Diperairan lokasi budidaya ikan sistem karamba mempunyai kisaran suhu antara 27 - 30°C. Ikan dapat tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25- 32°C, tetapi dengan perubahan suhu yang mendadak dapat membuat ikan stress. Berdasarkan hasil pemantauan peneliti selama 7 bulan dari bulan April 2010 sampai Oktober 2010 diperoleh ratarata suhu perairan pada titik sampling karamba jaring apung 31,2° C, titik sampling di tengah-tengah waduk 30°C. Suhu air waduk yang berjarak 100 m dari DAS Keduang 31,20°C, DAS Bengawan Solo 30,40°C, DAS Alang Unggahan 30,20°C, DAS Wiroko 30,70°C, DAS Temon. Dengan demikian kisaran suhu di lokasi budidaya ikan di Waduk Serbaguna Wonogiri masih sesuai untuk budidaya ikan. Jika dibandingkan dengan Baku Mutu Kualitas Air pada PP Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran, maka seluruh titik sampling pada air WGM masih memenuhi kualitas suhu air normal alamiah ± 3 ºC.

Kekeruhan diartikan sebagai intensitas kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan perairan umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan organic terlarut, bakteri, plankton dan organism lainnya. Kekeruhan perairan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan yang terjadi pada perairan tergenang seperti waduk lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan parikel-partikel halus. Kekeruhan digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari yang masuk ke badan perairan, sehingga dapat menghalangi proses fotosintesis dan produksi primer perairan. Kekeruhan biasanya terdiri dari partikel anorganik yang berasal dari erosi dari DAS dan resuspensi sedimen di dasar waduk. Kekeruhan memiliki korelasi positif dengan padatan tersuspensi, yaitu semakin tinggi nilai kekeruhan maka semakin tinggi pula nilai padatan tersuspensi (Marganof, 2007).

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk (Effendi, 2003). Kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikelpartikel dan warna air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air waduk menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas perairan. Parameter kecerahan dapat untuk mengetahui sampai dimana proses asimilasi dapat berlangsung di dalam air. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan. Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad renik atau plankton. Hasil pemeriksaan laboratorium nilai kecerahan WGM dari tahun 1995 – 1999 berkisar antara 98,2 – 102 cm, tahun 2002 sebesar 84 cm (Pujiastuti, 2003), 82,2 cm (Pujiastuti, 2009) dan pada penelitian ini berkisar antara 40-82 cm. Nilai kecerahan pada perairan WGM dan lokasi budidaya ikan karamba jaring apung mengalami penurunan. Hal ini mungkin disebabkan oleh akumulasi pakan ikan dan sedimentasi air waduk akibat erosi di daerah hulu. Nilai kecerahan yang baik untuk pemeliharaan ikan adalah antara 98,2 – 102 cm.

Total Suspended Solid (TSS) suatu contoh air adalah jumlah bobot bahan yang tersuspensi dalam suatu volume air tertentu, dengan satuan mg perliter (Sastrawijaya, 2000). Padatan tersuspensi terdiri dari komponen terendapkan, bahan melayang dan komponen tersuspensi koloid. Padatan tersuspensi mengandung bahan anorganik dan bahan organik. Bahan anorganik antara lain berupa liat dan butiran pasir, sedangkan bahan organik berupa sisa-sisa tumbuhan dan padatan biologi lainnya seperti sel alga, bakteri dan sebagainya (Marganof, 2007), dapat pula berasal dari kotoran hewan, kotoran manusia, lumpur dan limbah industri (Sastrawijaya, 2000). Zat padat tersuspensi pada baku mutu air kelas dua dipersyaratkan maksimal 50 mg/l, kelas tiga dipersyaratkan maksimal 400 mg/l. Hasil analisis laboratorium adalah 241 mg/l (Pujiastuti, 2009), Tengah waduk berkisar antra 26,3-76,0 (PJT, 2010). Pada penelitian ini TSS pada titik sampling berkisar antara 24-228 mg/L. Padatan terlarut di tengah WGM 24 mg/L dan dibeberapa lokasi masih dibawah baku mutu, sedangkan air waduk yang berjarak 100m dari DAS Keduang, DAS Bengawan Solo dan DAS Alang Unggahan tidak memenuhi syarat. Nilai total padatan terlarut yang didapatkan pada penelitian ini lebih rendah dari nilai total padatan tersuspensi. Hal ini menggambarkan bahwa padatan yang masuk ke perairan WGM lebih banyak yang berbentuk padatan yang ukurannya besar (padatan tersuspensi), atau padatan yang terdapat di perairan WGM lebih didominasi oleh padatan yang berasal dari lumpur.

Warna air mempunyai hubungan dengan kualitas perairan. Warna perairan dipengaruhi oleh adanya padatan terlarut dan padatan tersupensi (Sastrawijaya, 2000). Hasil pengukuran nilai warna perairan di WGM berkisar antara 3-65 unit PtCo. Nilai ini menggambarkan bahwa perairan WGM dari DAS Keduang dan DAS Alang Unggahan melebihi nilai perairan alami yang digunakan sebagai sumber air baku air minum, yaitu 10 unit PtCo. Berdasarkan WHO (1992), yang mensyaratkan nilai warna untuk air minum maksimal 15 unit PtCo, maka perairan WGM masih layak  digunakan sebagai sumber air baku air minum. Nilai warna perairan ini diduga ada kaitannya dengan masuknya limbah organik dan anorganik yang berasal dari kegiatan KJA dan permukiman penduduk di sekitar perairan danau. Kondisi ini juga dapat meningkatkan blooming pertumbuhan itoplankton dari ilum Cyanophyta (Marganof, 2007).

Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hydrogen dalam perairan Derajad keasaman menunjukkan suasana air tersebut apakah masih asam ataukah basa. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi, 2003). Adanya karbonat, bikarbonat dan hidroksida akan menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman suatu perairan. Sejalan dengan pernyataan tersebut Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah buangan industry dan rumah tangga dapat mempengaruhi nilai pH perairan. Derajad keasaman mempunyai pengaruh yang besar terhadap tumbuhtumbuhan dan hewan air, sehingga sering dipergunakan sebagai petunjuk untuk untuk menyatakan baik buruknya keadaan air sebagai lingkungan hidup biota air.  Data yang diperoleh selama kurun waktu 1995-2003, keasaman air WGM sekitar 7,5 - 8,4 (Pujiastuti, 2003). Derajad keasamana daerah inlet berkisar 7,13 - 7,48 dan zona budidaya ikan karamba adalah 7,7 (Pujiastuti, 2009). Rata-rata pH air WGM 6,7-8.0 (PJT,2009). Pada penelitian ini rata-rata pH air WGM berkisar antara 6,7-7,67. Sebarab pH perairan WGM pada penelitian ini disajikan dalam gambar 4. Perairan yang baik untuk budidaya ikan adalah perairan dengan derajat keasaman 6 - 8,7 (Suhaili Asmawi, 1984). PP. No. 82 tahun 2001 mensyaratkan kualitas air kelas II dan III berkisar antara 6-9. Sehingga perairan WGM masih sesuai untuk sumber air PDAM, PLTA dan budidaya ikan.

Oksigen merupakan salah satu gas terlarut di perairan alami dengan kadar bervariasi yang dipengaruhi oleh suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosir. Selain diperlukan untuk kelangsungan hidup organisme di perairan, oksigen juga diperlukan dalam proses dekomposisi senyawa- senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Sumber oksigen terlarut terutama berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer. Difusi oksigen ke dalam air terjadi secara langsung pada kondisi stagnant (diam) atau karena agitasi (pergolakan massa air) akibat adanya gelombang atau angin (Marganof, 2007). Kandungan oksigen terlarut menunjukkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. Adanya oksigen yang terlarut dalam air secara mutlak terutama dalam air permukaan. Dalam hubungannya dengan pencemaran limbah pakan ikan dalam KJA dan limbah domestic, pengukuran oksigen terlarut merupakan dasar pengukuran BOD. Sebaran oksigen terlarut perairan WGM disajikan pada gambar 5.

Berdasarkan PP 82 tahun 2001, golongan kelas II sebagai air baku air minum minimum 4 mg/L dan kelas III minimum 3 mg/L. Hasil pemeriksaan laboratorium angka 5,3 - 7,5 mg/l dan tahun 2002 menunjukkan angka 6,1 mg/l (Pujiastuti, 2003). Penelitian Pujiastuti (2009) menunjukkan kandungan paling rendah 5,9 mg/l di zona pertanian dan paling tinggi 7,3 mg/l di zona inlet PLTA, sedangkan di zona budidayapun kandungan oksigen terlarut 6,1 mg/l. Sebaran oksigen terlarut pada penelitian ini antara 4,46 – 7,70 mg/L. Kualitas air WGM mengalami tren yang menurun dari tahun ke tahun. Oksigen terlarut air waduk pada titik sampling air waduk pada100 meter dari DAS Wiroko dan KJA tidak memenuhi baku mutu air pada semua kelas I. Kandungan oksigen terlarut ini memberikan gambaran bahwa secara umum perairan WGM sudah tercemar oleh bahan organic yang mudah terurai dari limbah cair hotel dan restoran disekitar WGM.

BOD (Biological Oxygen Demand) merupakan salah satu indicator pencemaran organik pada suatu perairan.    Bahan organik akan distabilkan secara biologis dengan melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi aerobik atau anaerobik, maka jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organic yang ada di dalam perairan tersebut dinamakan dengan BOD (Wardhana, 2001). Oksidasi aerobik dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen terlarut di perairan sampai pada tingkat terendah bahkan anaerob, sehingga dalam hal ini baketri yang bersifat anaerob akan menggantikan peran dari bakteri yang bersifat aerobic dalam mengoksidasi bahan organik dengan cara oksidasi anaerobik. Perairan dengan nilai BOD5 tinggi mengindikasikan bahwa bahan pencemar yang ada dalam perairan tersebut juga tinggi, yang menunjukkan semakin besarnya bahan organik yang terdekomposisi menggunakan sejumlah oksigen di perairan. Adapun sebaran nilai ratarata BOD5 di perairan WGM diperlihatkan pada gambar 6. PP 82 tahun 2001 mensyaratkan BOD maksimal 3 mg/L air kelas II dan 6 mg/L pada air kelas III. Nilai BOD pada perairan WGM berkisar pada 3,89-8,89 mg/L. Perairan WGM sudah tercemar oleh bahan organik mudah terurai dan tidak layak dipergunakan sebagai sumber air baku air minum, namun masih dapat dipergunakan untuk kegiatan budidaya ikan KJA.

Nitrat merupakan salah satu bentuk nitrogen yang larut dalam air. Pencemaran dari pemupukan, kotoran hewan dan manusia merupakan penyebab tingginya kadar nitrat. Sebaran nilai N-NO3 pada perairan WGM disajikan pada gambar 8. Kandungan Nitrogen sebagai nitrat menurut PP 82 tahun 2001 Baku mutu air kelas dua dan tiga maksimum 10mg/L. Konsentrasi maksimum nitrat pada zona wisata 1,05 mg/l dan minimum 0,18mg/L pada titik input air PDAM. Jadi secara keseluruhan kualitas air pada zona karamba dan zona manfaat lainnya masih memenuhi         baku mutu (Pujiastuti, 2009). Hasil penelitian menunjukkan kandungan nitrat tertinggi 3,32 mg/L pada titik sampling budidaya ikan KJA. Kualitas air WGM masih memenuhi baku mutu namun demikian terjadi tren peningkatan kandungan nitrat, yang disebabkan terjadinya penumpukan limbah pakan ikan pada budiaya ikan dengan system karamba jaring apung dan masuknya limbah domestic melalui DAS dan kegiatan penduduk sekitar waduk yang mengalir ke WGM.

Amoniak merupakan senyawa nitrogen yang berubah menjadi ion NH4 pada pH rendah. Amoniak berasal dari limbah domestic dan limbah pakan ikan. Ammonia di perairan waduk dapat berasal dari nitrogen organik dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air berasal dari dekomposisi bahan organik oleh mikroba dan jamur. Selain itu, ammoniak juga berasal dari denitriikasi pada dekomposisi limbah oleh mikroba pada kondisi anaerob (Sastrawijaya, 2000). Ammonia juga dapat berasal dari limbah domestik dan limbah industry (Marganof, 2007). Sebaran kandungan nitrogen sebagai amoniak disajikan pada gambar 9. Baku mutu air kelas satu mensyaratkan kandungan nitrogen sebagai amoniak maksimum 0,5 mg/L, sedangkan kelas dua sampai empat tidak dipersyaratkan. Untuk budidaya ikan Penelitian Pujiastuti (2009) nilai maksimum diperoleh 0,4 mg/L pada titik sampling sumber air baku PDAM dan terendah 0,2 pada zona wisata. Pada titik sampling zona budidaya ikan karamba diperoleh 0,33 mg/l.

Menurut Nastiti dkk (2001), perkembangan unit karamba jarring apung dan jarring tancap pada areal budidaya yang kurang terkendali telah menimbulkan damapk negative terhadap lingkungan perairan. Dampak negative yang sering ditimbulkan antara lain disebabkan kurang diperhatikannya prinsip-prinsip teknologi dalam budidaya ikan dengan system keramba jarring apung dan jarring tancap. Dalam suatu usaha budidaya perikanan, sangat penting untuk dipelajari kondisi kualitas suatu perairan untuk dijadikan indikasi kelayakan suatu perairan untuk budidaya perikanan. Untuk mengelola sumberdaya perikanan yang baik maka salah satu persyaratan yang ahrus diperhatikan adalah kualitas perairan, Boyd (1982), menyatakan bahwa untuk tumbuhan dan organism perairan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, organism tersebut memerlukan persyaratan tertentu dalam habitat hidupnya yaitu kondisi perairan.

Masalah yang selalu timbul dalam system budidaya karamba jarring apung dan jarring tancap adalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh berbagai kegiatan disekitar perairan maupun usaha budidaya itu sendiri. Pencemaran ini dapat berupa pencemaran fisika-kimia khususnya (suhu, kecerahan, ph, oksigen terlarut, nitrat, fosfat, amoniak dan BOD). Meskipun aspek fisika – kimia ini pernah di teliti, anmun para pakar dan pengelola perairan selalu menganjurkan bahwa penelitian pencemaran perairan perlu dilaksanakan secara verkesinambungan mengingat setiap waktu dapat saja terjadi perubahan lingkungan (Dundu dkk, 1993).

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan data kualitas air khususnya parameter fisika-kimia agar dapat diketahui sejauh mana daya dukung kualitas air untuk kegiatan budidaya jarring apung dan jarring tancap sat ini di Danau Tondano khususnya Kelurahan Paleloan kecamatan Tondano Selatan Kabupaten Minahasa dengan mengacu kepada Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis parameter fisika-kimia yang meliputi suhu, kecerahan, ph, oksigen terlarut, nitrat, fosfat, amoniak dan BOD pada lokasi budidaya karamba jarring apung dan jarring tancap di Kelurahan Paleloan, Kecamatan Tondano Selatan kabupaten Minahasa, serta menentukan lokasi budidaya yang cocok untuk menunjang pertumbuhan yang optimal.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Ekosistem disusun oleh komponen fisika, kimia dan biologi yang satu sama lain saling berinteraksi di dalam suatu “wadah”,seperti danau, sungai, waduk, estuaria, dan rawa. Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Perairan lentik adalah kumpulan masa air yang relatif diam atau tenang seperti danau, situ, rawa, waduk atau telaga. Kekeruhan yang terjadi pada perairan tergenang seperti waduk lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan parikel-partikel halus. Banyak hal yang bersangkutan dengan lentik yang dapat mempengaruhi budidaya perikanan. Sifat Kimia, Fisika mau pun Biologi ikut berperan di dalamnya.

PENULIS
Evi Zulfiana                                     
Riska Febriandany Hartoyo  
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Bapedal, 1994, Standar Nasional Indonesia “Pengujian Kualitas Air Sumber dan           Limbah Cair”, Jakarta: Direktorat Pengembangan Laboratorium Rujukan dan           Pengolahan Data, Badan Pengendali Dampak Lingkungan.
Daulay, A. T., D. Bakti, dan R. Leidonald. 2013. Keaneka Ragaman Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Siombak          Kecamatan Medan Marelan Kota Medan. Fakultas Pertanian. Universitas        Sumatera Utara.
Kasasiah, A., D.I. Hartoto, F. Yulianda, Haroyo, dan M. Marzuki. 2009. Pedoman Penilaian kerusakan Habitat Sumberdaya Ikan di Perairan Daratan. Jakarta.
Marganof, 2007, Model Pengendalian Pencemaran Perairan Di Danau Maninjau Sumatra Barat, Laporan hasil penelitian Sekolah Pasca Sarjana IPB Bogor, http://www.damandiri. or.id/ile/marganoipb.
Marwoto, R.M. dan N.R. Isnaningsih. 2014. Tinjauan Keaneka Ragaman Moluska Air Tawar di Beberapa Situ di Das Ciliwung – Cisadane. LIPI : Jakarta. 13(2)   : 1-2
Pujiastuti, P., (2003) Dampak Budidaya Ikan Dalam Karamba Jaring Apung Terhadap Perkembangan Biota Air Lokal di WGM, Prosiding Seminar Nasional Unika Soegijopranoto Semarang, ISBN 979-8366-61-1i
Pujiastuti, P., (2003) Dampak Budidaya Ikan Dalam Karamba Jaring  Seminar      Nasional Unika Soegijopranoto Semarang, ISBN 979-8366-61-1i
Pujiastuti, P., (2009) Deteksi Dini Dampak Berantai Budidaya Ikan KJA Terhadap           Nilai Manfaat WGM., Fakultas Teknik Universitas Setia Budi Surakarta.
Sudarmono, 2006, Budidaya Karamba Apung Serta Peranannya Bagi Pendapatan           Pemilik Karamba di Perairan Waduk Gadjah Mungkur Kabupaten Wonogiri,           jtptums-gdl- S1-2006-sudarmonoe-3004-ums Digital Library-GDL4.0
Sumarna, 2005, Harus Ada Perbaikan Pembangkit (laporan utama), Majalah Bulanan Indonesia Poweredisi 3 tahun 2005.
World Health Organization (WHO), 1993, Rapid Assesment of Sources of Air, Water, and Land Pollution. Genewa, Switzerland.

No comments:

Post a Comment