Friday, April 24, 2020

Ikan Baung; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Baung (Mystus nemerus) merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar di Indonesia. Ketersediaan ikan baung sebagai bahan pangan masyarakat sebagian besar masih berasal dari hasil tangkapan di alam. Ikan Baung merupakan ikan perairan umum yang mempunyai nilai ekonomis penting, yang banyak dijumpai di perairan Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Robert, 1989). Ikan ini merupakan salah satu spesies lokal yang telah dibudidayakan sejak tahun 1980, baik di kolam maupun di sangkar bambu (keramba) dengan menggunakan benih dari hasil tangkapan di alam (Suryanti dan Priyadi, 2002). Ketersediaan ikan baung sebagai bahan pangan masyarakat sebagian besar masih berasal dari hasil tangkapan di alam. Semakin meningkatnya minat konsumen terhadap ikan baung, mendorong penangkapan yang berlebihan, sehingga kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan terhadap keberadaan dan ketersediaannya di alam. Benih yang ditangkap dari alam tidak tersedia secara terus menerus sepanjang waktu, jumlahnya terbatas, kualitas tidak terjamin dan ketersediaanya juga masih bergantung pada kondisi lingkungan (Prabarini, 2017).

Morfologi ikan baung adalah tubuhnya yang memanjang, agak pipih, kepala ikan besar, sirip lemak di punggung sama panjang dengan sirip dubur, pinggiran ruang mata bebas, bibir tidak bergerigi dan dapat digerakkan serta daun-daun insang terpisah. Pada rahang terdapat 3-4 pasang sungut peraba yang panjang, sirip punggung pendek, memiliki sepasang patil dan memiliki sirip punggung tambahan atau sirip lemak. Sirip ekor bercagak dan tidak berhubungan dengan sirip punggung maupun sirip dubur. Sirip dubur pendek dan sirip dada mempunyai jari-jari keras yang sangat kuat serta bergerigi (Kottelat et al, 1993)

KLASIFIKASI IKAN BAUNG
Menurut Kottelat et al (1993) ikan baung yang termasuk dalam golongan catfish dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Filum
: Chordata
Kelas
: Osteichthyes
Ordo
: Siluriformes
Familia
: Bagridae
Genus
: Mystus
Spesies
: Mystus nemerus

HABITAT  IKAN BAUNG
Secara umum ikan baung terdistribusi di beberapa daerah atau negara yaitu : Asia : Mekong, Chao Phraya dan Xe Bangfai basins, juga dari Malay Peninsula, Sumatera, Java dan Borneo (Sukendi, 2010).penyebaran ikan Baung (Mystus nemurus) di indonesia meliputi pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Surayanti, 2002).

Ikan baung banyak hidup di perairan tawar, daerah yang paling disukai adalah perairan yang tenang, bukan air yang deras. Karena itu, ikan baung banyak ditemukan di rawa-rawa, danau-danau, waduk dan perairan yang tenang lainya. Di Sumatera, ikan baung banyak ditemukan di Danau Toba, tetapi populasinya terus berkurang, karena adanya penangkapan yang tidak selektif. Selain itu ikan baung juga sering ditemukan di sungai-sungai, tentu saja sungai yang berarusnya lambat (Rukmini, 2012).

FISIOLOGI IKAN BAUNG
Secara fisiologis ikan akan mengubah pigmen yang diperoleh dari makanannya, sehingga menghasilkan variasi warna. Perubahan warna secara fisiologis adalah perubahan warna yang diakibatkan oleh aktivitas pergerakan butiran pigmen atau kromatofor (Evan, 1993). Pergerakan butiran pigmen secara mengumpul atau tersebar di dalam sel pigmen warna, akibat dari rangsangan yang berbeda, seperti suhu, cahaya, dan lain-lain.

Pigmentasi pada ikan dikendalikan oleh sistem saraf dan dua zat kimia yang dihasilkan oleh saraf, yaitu (1) epinefrin (adrenalin) merupakan neurohormon yang dikeluarkan oleh organisme ketika terkejut atau takut sehingga menyebabkan butiran pigmen berkumpul di tengah sel dan menyebabkan hewan tersebut kehilangan warna, (2) asetilkolin adalah zat kimia yang dikeluarkan sel saraf menuju otot, sehingga menyebabkan melanin menyebar dan mengakibatkan warna tubuh organisme menjadi gelap (Evan, 1993). Penyerapan karotenoid dalam sel-sel jaringan mempengaruhi kromatofor dalam lapisan epidermis ikan. Kromatofor yang terdapat di kulit memungkinkan ikan untuk mengubah warna. Kandungan astaxanthin dalam karotenoid akan meningkatkan pigmen warna merah pada eritrofor sehingga warna merah yang dihasilkan akan tampak lebih jelas.

MORFOLOGI IKAN BAUNG
Ciri-ciri umum dari ikan Baung (Mystus nemurus) adalah kepala ikan kasar, sirip lemak dipunggung sama panjang dengan sirip dubur, pinggiran ruang mata bebas, bibir tidak bergerigi yang dapat digerakkan, daun-daun insang terpisah.Langit-langit bergerigi, lubang hidung berjauhan, yang dibelakang dengan satu sungut hidung. Sirip punggung berjari-jari keras tajam. Ikan ini tidak bersisik, mulutnya tidak dapat disembulkan, biasanya tulang rahang atas bergerigi, 1-4 pasang sungut dan umumnya berupa sirip tambahan (Sukendi, 2010).

Bagridae merupakan ikan berkumis yang terdapat di Eropa dan Asia. Ciri khusus dari ikan famili ini tidak mempunyai sirip lemak, tidak mempunyai duri pada sirip punggung dan sirip duburnya sangat panjang. Hidup di lapisan bawah sungai-sungai dan danau-danau dan memakan ikan-ikan yang lebih kecil (Fithra dan Siregar, 2010).

Ikan baung mempunyai empat pasang sungut peraba yang terletak disudut rahang atas. Sepasang dari sungut peraba sangat panjang sekali dan mencapai sirip dubur. Sirip punggung mempunyai dua buah jari-jari keras, satu diantaranya keras dan meruncing menjadi patil. Kepala besar dengan warna tubuh abu-abu kehitaman, dengan punggung gelap, tapi perut lebih cerah. Badan ikan baung tidak bersisik, bewarna coklat kehijauan dengan pita tipis memanjang jelas di tutup insang hingga pangkal ekor, panjang totalnya lima kali tingginya, sekitar 3- 3,5 panjang kepala, serta mempunyai panjang maksimal 350 mm (Rukmini, 2012).

CIRI-CIRI IKAN BAUNG
Ciri umum dari ikan baung adalah kepala ikan kasar, sirip lemak di punggung sama panjang dengan sirip dubur, pinggiran ruang mata bebas, bibir tidak bergerigi, lubang hidung berjauhan, yang di belakang dengan satu sungut hidung. Sirip punggung berjari-jari keras tajam. Ikan ini tidak bersisik, mulutnya tidak dapat di sembulkan, biasanya tulang rahang atas bergerigi, 1-4 pasang sungut dan umumnya berupa sirip tambahan.

REPRODUKSI IKAN BAUNG
Selama proses reproduksi, sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Hal ini menyebabkan terdapatnya perubahan dalam gonad itu sendiri. Umumnya pertambahan dalam gonad ikan betina 10-25% dan pada ikan jantan 5-10% dari bobot tubuh. Pengetahuan tentang perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan atau tidak melakukan reproduksi. Pengetahuan tentang kematangan gonad juga didapatkan keterangan bilamana ikan akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Ukuran ikan pada saat pertama kali gonadnya masak, ada hubungan dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Tang dan Affandi, 2001).

Ikan baung, sebagaimana ikan-ikan yang hidup di perairan umum air tawar memijah pada awal musim hujan. Hal ini merupakan fenomena umum karena saat musim hujan, kawasan (daerah) yang kering pada musim kemarau akan ditumbuhi rerumputan dan tergenang air. Di kawasan demikian, banyak terdapat makanan dan cukup terlindungi bagi ikan untuk melakukan pemijahan. Alawi dkk (1992) dalam Kordi (2009) melaporkan bahwa ikan baung di perairan Sungai Kampar (Riau) memijah pada sekitar bulan Oktober sampai Desember.

PERAN IKAN BAUNG DI PERAIRAN
Mustafakamal et al (2012) menyatakan ikan baung memakan ikan, serangga air, krustacea, detritus dan tumbuhan. Adapun menurut Mohammad (1987) menyebutkan ikan baung ikan pemakan dasar yang memakan segala jenis makanan termasuk teleost, krustacea, invertebrata bentik dan bahan bahan detritus. Ikan baung termasuk sebagai predator di perairan.

TINGKAH LAKU IKAN BAUNG
Usaha penangkapan dan usaha budidaya ikan baung(Hemibagrus sp) sangat membutuhkan pengetahuan tentang tingkah laku ikan tersebut. Kajian tingkah laku dan fungsi system organ serta pengetahuan tentang biologi perikanan dapat membantu dalam pengembangan teknik penangkapan dan jenis alat yang digunakan(Uyan et al., 2006; von Brandt,1984; Nofrizal, 2009). Hal yang sangat penting dalam mempelajari tingkah laku ikan adalah aktivitas renang ikan tersebut, yang meliputi daya tahan, kecepatan dan daya tahan renang ikan. Dengan mempelajari ketiga hal tersebut akan mengetahui karateristik aktivitas renang ikan.

Kajian mengenai karateristik renang ikan sangat diperlukan dalam usaha budidaya ikan. Dalam aktivitas renang ikan dapat kita bagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu suistained, prolonged dan brust swimming speed.Ketiga kelompok kecepatan renang ikan ini dapat memberikan gambarkan kondisi fisiologis ikan ketika berenang (Nofrizal et al., 2009). Hal ini dibutuhkan dalam menentukan kecepatan maksimum arus keramba apung di sungai tempat pembudidayaan ikan baung. Kecepatan arus yang terlalu tinggi dapat memicu ikan berenang lebih cepat, hal ini tidak menguntungkan dalam proses metabolisme dan pertumbuhan ikan (Nofrizal et al., 2009). Selain itu, dengan mengetahui kecepatan maksimum (brust swimming speed) renang ikan dapat mengetahui peluang lolosnya ikan baung dalam proses penangkapan dengan alat tangkap.Sedangkan, kecepatan prolonged dapat mengakibatkan stress yang tinggi pada ikan (Nofrizal et al., 2009dan Nofrizal & Arimoto, 2011).

Permasalahan yang mendasar dalam pengembangan usaha penangkapan dan budidaya ialah perlu mengetahui tingkah laku renang, terutama kecepatan dan daya tahan renang ikan. Sementara itu,setiap species memiliki karateristik dan kemampuan berenang yang berbeda. Belum diketahuinya kemampuan dan karateristik renang ikan baung merupakan hal yang penting untuk dilakukan kajian yang mendalam untuk pengembangan usaha perikanan ikan baung kedepan.

MANFAAT IKAN BAUNG
Ikan baung merupakan salah satu komoditas budidaya air tawar di Indonesia. Ikan ini berpotensi untuk dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Keunggulan lain dari ikan baung adalah rasa dagingnya yang pulen, gurih dan lezat. Selain itu ikan baung memiliki kandungan protein yang tinggi dan rendah lemak (Prabarini, 2017).

PENULIS
Noerikke Dwi N.
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alawi, H, M. Ahmad, Rusliadi, Pardinan. 1992. Some Biological Aspects of Catfish (Macronemus nemurus CV) from Kampar River. Journal Terubuk Vol XVIII No 52 : 32-47.
Jalaprang.2008.Ciri Khusus Ikan. Jakarta : Gramedia.
Kottelat, M dan A.J Witten., Kartikasari, S.N dan S. Wirjoatmodjo 1993. Freshwater Fishes Of Western Indonesia and Sulawesi. Barkeley Book.Pte Ltd, Terrer Road, Singapore.
Mandala. 2010. Tingkah Laku Pemijahan Biota Akuatik. http://mandala-manik.blogspot.com/2010/07/tingkah-laku-pemijahan-biota-akuatik.html. Diakses pada tanggal 26 Desember 2015.
Mohammad, S.K. 1987. Some Aspect of The Biology og Ikan Baung (Mystus Nemerus) with Reference to Chenderoh Reservior. Thesis. Universitas Putra Malaysia. Malaysia.
Mustafakamal, A.S., I.S. Kamaruddin, A. Cristianus, S.K. Daud dan L. Yuabit. 2012. Feeding Habits of Fishes in the Pangkalan Dawi – Pulau Dula Section of Kenyir Lake Terengganu, Malaysia. Journal Asian Fisheris Science. 25: 144-157.
Prabarini, D. 2017. Performa Pertumbuhan Ikan Baung Mystus Nemurus (Valenciennes, 1840) Melalui Melalui Penambahan Komposisi Enzim Dalam Pakan Komersil Di Kolam Terpal. SKRIPSI. Fakultas Pertanian, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Program Studi Budidaya Perairan. 30 halaman.
Rukmini, 2012. Teknologi Budidaya Biota Air. Karya Purta Darwati, Bandung.
Sugianti B., Enjang Hernandi Hidayat ,Nuah Japet ,Yeni Anggraen. 2014. Daftar Pisces Yang Berpotensi Sebagai Spesies Asing Invasif Di Indonesia Cetakan ke-2 (Edisi Revisi).Kementerian Kelautan Dan Perikanan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan Pusat Karantina Ikan. Jakarta.
Sukendi. 2010. Biologi Reproduksi dan Pengendaliannya Dalam Upaya Pembenihan Ikan Baung (Mystus nemurus CV) Dari Perairan Sungai Kampar Riau.IPB, Bogor.
Tang, U.M dan Affandi, R. 2001. Biologi Reproduksi Ikan. IPB Press, Bogor.
Www.wikipedia.com. Diakses 30 Desember 2015

No comments:

Post a Comment