Wednesday, March 4, 2020

Ikan Sepat Rawa Atau Sepat Siam; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Sepat Rawa atau Sepat Siam (Trichogaster pectoralis) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku gurami (Osphronemidae). Di Jawa Timur ia juga dikenal dengan nama sliper. Dalam bahasa Inggris disebut Siamese gourami (Siam adalah nama lama Thailand) atau snake-skin gouramy, merujuk pada pola warna belang-belang di sisi tubuhnya. Ikan rawa yang bertubuh sedang, panjang total mencapai 25cm; namun umumnya kurang dari 20 cm. Lebar pipih, dengan mulut agak meruncing.

Sirip-sirip punggung (dorsal), ekor, sirip dada dan sirip dubur berwarna gelap. Sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut, yang memanjang hingga ke ekornya, dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. Rumus sirip punggungnya: VII (jari-jari keras atau duri) dan 10–11 (jari-jari lunak); dan sirip anal IX-XI, 36–38.
Ikan yang liar biasanya berwarna perak kusam kehitaman sampai agak kehijauan pada hampir seluruh tubuhnya. Terkadang sisi tubuh bagian belakang tampak agak terang berbelang-belang miring. Sejalur bintik besar kehitaman, yang hanya terlihat pada individu berwarna terang, terdapat di sisi tubuh mulai dari belakang mata hingga ke pangkal ekor.

KLASIFIKASI IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Klasifikasi menurut (Adawyah, 2007) adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Fillum
: Chordata
Kelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Familia
: Osphronemidae
Genus
: Trichogaster
Spesies
: Trichogaster Pectoralis
         
HABITAT IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Seperti umumnya sepat, ikan ini menyukai rawa-rawa, danau, sungai dan parit-parit yang berair tenang, terutama yang banyak ditumbuhi tumbuhan air. Juga kerap terbawa oleh banjir dan masuk ke kolam-kolam serta saluran-saluran air hingga ke sawah. Ikan ini sering ditemui di tempat-tempat yang kelindungan oleh vegetasi atau sampah-sampah yang menyangkut di tepi air (Arikunto, 2002).

MORFOLOGI IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Ikan sepat rawa yang bertubuh sedang, panjang total mencapai 25 cm, namun umumnya kurang dari 20 cm. Lebar pipih, dengan mulut agak meruncing. Warna ikan yang liar biasanya kehitaman sampai agak kehijauan pada hamper seluruh tubuhnya (Afrianto dan Liviawaty, 1989).

CIRI-CIRI IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Sepat rawa memiliki warna kehijauan sampai kebiruan dengan beberapa pita warna kuning berwarna gelap dan sebuah bercak ditengah sisi pada pangkal sirip ekor ekor, termasuk kedalam subordo Anabantoidei yang memiliki labirin pada insang sebagai ciri khususnya, adanya organ ini memungkinkan ikan menghirup oksigen dari udara. Ciri-cirinya pada sirip perut mempunyai jari-jari seperti filament yang panjangnya hamper dengan panjang badan, sirip ekor berbentuk sabit sedikit cekung (Anggraini, 2009).

TINGKAH LAKU IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Seperti umumnya sepat, ikan ini menyukai rawa-rawa, danau, sungai dan parit-parit yang berair tenang; terutama yang banyak ditumbuhi tumbuhan air. Juga kerap terbawa oleh banjir dan masuk ke kolam-kolam serta saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Sebagian besar makanan sepat siam adalah tumbuh-tumbuhan air dan lumut. Namun ikan ini juga mau memangsa hewan-hewan kecil di air, termasuk ikan-ikan kecil yang dapat termuat di mulutnya. Ikan ini sering ditemui di tempat-tempat yang kelindungan oleh vegetasi atau sampah-sampah yang menyangkut di tepi air.

Ikan sepat siam menyimpan telur-telurnya dalam sebuah sarang busa yang dijagai oleh si jantan. Setelah menetas, anak-anak sepat diasuh oleh bapaknya itu hingga dapat mencari makanan sendiri. Sebagaimana kerabat dekatnya yakni tambakan, gurami, betok dan cupang, sepat siam tergolong ke dalam anak bangsa Anabantoidei. Kelompok ini dicirikan oleh adanya organ labirin (labyrinth) di ruang insangnya, yang amat berguna untuk membantu menghirup oksigen langsung dari udara. Adanya labirin ini memungkinkan ikan-ikan tersebut hidup di tempat-tempat yang miskin oksigen seperti rawa-rawa, sawah dan lain-lain. Akan tetapi, tak seperti ikan-ikan yang mempunyai kemampuan serupa (lihat misalnya ikan gabus, betok, atau lele), ikan sepat tak mampu bertahan lama di luar air. Ikan ini justru dikenal amat mudah mabuk dan lekas mati jika ditangkap.

Penyebaran asli ikan ini adalah di wilayah Asia Tenggara, terutama di lembah Sungai Mekong di Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam; juga dari lembah Sungai Chao Phraya. Ikan ini diintroduksi ke Filipina, Malaysia, Indonesia, Singapura, Papua Nugini, Sri Lanka, dan Kaledonia Baru. Sepat siam dimasukkan ke Indonesia pada tahun 1934, untuk dikembangkan pembudidayaannya di kolam-kolam dan sawah. Tahun 1937, sepat ini dimasukkan ke Danau Tempe di Sulawesi dan sedemikian berhasil, sehingga dua tahun kemudian ikan ini mendominasi 70% hasil ikan Danau Tempe. Saat ini sepat siam telah meliar dan berbiak di berbagai tempat di alam bebas, termasuk di Jawa.

REPRODUKSI IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Kebanyakan hidup di air yang tenang dan kadang-kadang hidup diperairan dengan konsentrasi oksigen rendah diantara vegetasi yang lebat. Ikan sepat rawa menyimpan telur-telurnya dalam sebuah sarang busa yang dijaga oleh si jantan. Setelah menetas, anak-anak sepat diasuh oleh bapaknya itu hingga dapat mencari makanan sendiri (Anggraini, 2009).

MANFAAT IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM
Sepat siam merupakan ikan konsumsi yang penting, terutama sebagai sumber protein di daerah pedesaan. Selain dijual dalam keadaan segar di pasar, sepat siam kerap diawetkan dalam bentuk ikan asin dan diperdagangkan antar pulau di Indonesia.

Tidak seperti jenis sepat yang lain, sepat siam kurang populer sebagai ikan akuarium. Namun terdapat beberapa varian yang berwarna cerah (putih, kuning atau merah) yang diperdagangkan sebagai ikan hias. Di Thailand, sepat siam merupakan salah satu dari lima ikan air tawar terpenting yang dibudidayakan untuk konsumsi maupun untuk akuarium.

PERAN IKAN SEPAT RAWA ATAU SEPAT SIAM DI PERAIRAN
Dengan adanya ikan sepat rawa maka hama yang sering menyerang terutama keong yang sering berkembang pada padi bisa dimakan oleh ikan. Penggunaan atau perpaduan budidaya ikan dengan pertanian memang menjadi salah satu metode budidaya menguntungkan yang nantinya bisa memberikan keuntungan ganda bagi pembudidayaannya. Areal persawahan yang digunakan untuk budidaya ikan bisa menjadi lebih subur (Anonim, 1983).

PENULIS
Anhar Ridwan
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Afrianto, E dan E. Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Anggraini. 2009. Variasi Jenis Ikan Sepat Rawa (Trichogaster Trichopterus) dengan          Pemberian Pakan Buatan yang Dipelihara didalam Hapa. Laporan Penelitian Skripsi        Perikanan UNLAM. Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Fakultas Perikanan. Banjarbaru. 60 halaman.
Anonim. 1983. Laporan Survei dan Pengembangan Ikan Rawa. Pusat Penelitian UNLAM Banjarmasin. 241 halaman.
Arikunto, s. 2002. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta.
Hasan, I. 2002. Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Ghalia Indonesia. Jakarta. 260 hal.
https://id.wikipedia.org/wiki/Sepat_siam
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. University of California : Binacipta.

No comments:

Post a Comment