Monday, March 2, 2020

Ikan Bilis Atau Bilih; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Bilis atau Bilih atau dalam bahasa ilmiah disebut Mystacoleucus padangensis Bleeker adalah ikan endemik yang hidup di Danau Singkarak, Sumatera Barat (Kartamihardja dan Sarnita, 2008).

KLASIFIKASI IKAN BILIS ATAU BILIH
Secara sistematik, ikan bilih termasuk ke dalam klasisfikasi sebagai berikut (Kartamihardja dan Sarnita, 2008):
Kingdom
: Animalia
Kelas
: Actinopterygii
Ordo
: Cypriniformes
Famili
: Cyprinidae
Sub Famili
: Cyprininae
Genus
: Mystacoleucus
Species
: Mystacoleucus padangensis

MORFOLOGI IKAN BILIS ATAU BILIH
Menurut Asmawi. (1986), tanda-tanda Mystacoleucus padangensis antara lain sebagai berikut:
1)   Sirip punggung mempunyai jari-jari keras (berduri) yang rebah ke muka, kadangkadang duri ini tertutup oleh sisik sehingga tidak kelihatan jika tidak diraba. Sirip dubur tidak mempunyai jari-jari keras, hanya terdapat 8- 9 jari-jari lemah;
2)   Badan bulat panjang dan pipih, tinggi badan 2-3 cm, panjang badan maksimum 11,6 cm;
3)   Sisiknya kecil-kecil dan tipis, terdapat 37-39 baris antara tengah-tengah dasar sirip punggung dan gurat sisi (lateral line); 4
4)   Tubuh ditutupi oleh sisik yang berwarna keperak-perakan. Punggung dan ekor bagian sebelah sirip berwarna kehitam-hitaman.

CIRI-CIRI IKAN BILIS ATAU BILIH
Ikan Bilih merupakan ikan air tawar yang hidup dan bersifat endemik di Danau Singkarak. Panjang ikan Bilih dewasa berkisar antara 58,00-107,00 mm dengan panjang rata-rata 89,00 mm. Berat badan ikan bilih sekitar 3,00-10,50 gr dengan rata-rata 6,80 gr. Tinggi badan rata-rata 18,50 mm dan ekor bertipe “homocercal”. Jari-jari pada sirip punggung, dada, dan perut masing-masing terdiri dari jari-jari keras 1 buah dan jari-jari lemah 8-9 buah. Pada garis sisi (linea literalis) terdapat sisi yang bersifat sikloid sebanyak 35 buah dan di atas garis sisi sebanyak 5 buah. Sisik daerah perut sampai ekor bagian bawah berwarna putih keperakan. Sedangkan sisik diatas garis sisi atau bagian punggung berwarna agak gelap (kecoklatan). Iklan Bilih tidak mempunyai sunggut (Jafnir,1989).

REPRODUKSI IKAN BILIS ATAU BILIH
Ikan bilih melakukan reproduksi atau pemijahan dengan cara menyongsong aliran air di 8 sungai yang bermuara di danau. Induk jantan dan betina berupaya ke arah sungai dengan kecepatan arus air ke arah sungai berkisar antara 0,3-0,6 m/detik dan dangkal dengan kedalama air antara 10-20 cm. Habitat pemijahan ikan bilih adalah perairan sungai yang jernih dengan suhu air relatif rendah, berkisar antara 24,0-26,0°C, dan dasar sungai yang berbatu kerikil dan atau pasir. Dalam hal ini, faktor lingkungan yang mempengaruhi pemijahan ikan bilih adalah arus air dan substrat dasar. Ikan bilih menuju ke daerah pemijahan menggunakan orientasi visual dan insting. Sesampainya di habitat pemijahan tersebut, ikan bilih betina melepaskan telur dan bersamaan dengan itu juga ikan jantan melepaskan sperma untuk membuahi telur tersebut. Telur ikan bilih yang telah dibuahi berwarna transparan dan tenggelam berada di dasar sungai untuk kemudian hanyut terbawa arus air masuk ke danau. (Kartamihardja, E.S dan Sarnita, A.S, 2008).

Telur-telur tersebut akan menetas di danau sekitar 19 jam setelah dibuahi pada suhu air antara 27,0-28,0°C dan larvanya berkembang di danau menjadi dewasa. Populasi ikan bilih memijah setiap hari sepanjang tahun, mulai dari sore hari sampai dengan pagi hari. Puncak pemijahan ikan bilih terjadi pada pagi hari mulai jam 5.00 sampai 9.00, seperti diperlihatkan dengan banyaknya telur yang dilepaskan. Pemijahan ikan bersifat parsial, yakni telur yang telah matang kelamin tidak dikeluarkan sekaligus tetapi hanya sebagian saja dalam satu periode pemijahannya. Jumlah telur yang dikeluarkan (fekunditas) ikan bilih berkisar antara 3.654-14.561 butir telur dengan rata-rata 7.580 butir per induk. (Kartamihardja, E.S., 2009).

HABITAT IKAN BILIS ATAU BILIH
Menurut Kartamihardja, E.S., (2009), ikan bilih pada umumnya ditangkap di daerah sekitar muara-muara sungai, misalnya: sungai Sipiso-piso (Tongging), sungai Naborsahan (Ajibata), sungai Sisodang (Tomok), sungai Simangira dan sungai Silang (Bakara), sungai di Hatinggian (Balige) dan sungai di daerah Silalahi II.

Menurut Kartamihardja, E.S. (2009), ada beberapa alasan mengapa ikan bilih hidup, tumbuh dan berkembang pesat di Danau Toba, yaitu karena: 1. Di danau toba tersedia makanan ikan bilih yang berupa pankton, detritus dan sisa pakan dari budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) yang cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh ikan lain, 2. Ikan bilih termasuk ikan benthopelogis, yaitu jenis ikan yang dapat memanfaatkan jenis makanan yang berada di dasar perairan (benthic) maupun di lapisan tengah dan permukaan air (pelagic). 3. Ikan bilih tidak berkompetisi makanan dan ruang dengan ikan lain di danau Toba seperti ikan mujair, mas, nila dan lainnya. 9 4. Menggantikan ikan pora-pora yang populasinya sudah menurun/tidak tertangkap lagi sejak 1990. 5. Tempat hidup ikan bilih 10 kali lebih luas dibanding di Danau Singkarak. 6. Tempat pemijahan ikan bilih yang berupa sungai yang masuk ke Danau Toba (191 sungai) 30 kali lebih banyak dari sungai yang masuk ke Danau Singkarak (6 sungai).

MANFAAT IKAN BILIS ATAU BILIH
Ikan bilih merupakan makanan dengan sumber protein yang tinggi memiliki rasa yang enak dan biasa dimasak dengan tepung.

PERAN IKAN BILIS ATAU BILIH DI PERAIRAN
Ikan Bilih memiliki peran yaitu sebagai sumber makanan bagi ikan predator di perairan. Di danau toba tersedia makanan ikan bilih yang berupa pankton, detritus dan sisa pakan dari budidaya Keramba Jaring Apung (KJA).

TINGKAH LAKU IKAN BILIS ATAU BILIH
Terkadang mencari makan di daerah Keramba Jaring Apung (KJA).

PENULIS
Andrie Budi Setya Sasongko
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. Jakarta: Gramedia.
Darti S.L dan Iwan, D. 2006. Penyakit Ikan Hias. Penebar Swadaya. Jakarta
Ditjenkan Budidaya (2004), Prosiding Pertemuan Teknis Budidaya, Jakarta. Divisi Pengembangan Rumput Laut Seaweed, UNDIP, (2007)
Jafnir, Harun, J., Marusin, N., Hamru dan Salsabila, A. 1989. Biologi Ikan Bilih Danau Singkarak. Laporan Penelitian. Departemen Pendidikan dan Budaya. FIPIA Universitas Andalas
Kartamihardja, E.S dan Sarnita, A., 2008. Populasi Ikan Bilih di Danau Toba. Jakarta: Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan.
Kartamihardja, E.S dan Sarnita, A.S, 2008. Populasi Ikan Bilih di Danau Toba. Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Suyanto SR. 1986. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya., Jakarta.

No comments:

Post a Comment