Saturday, February 22, 2020

Ikan Terbang; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan terbang di jepang dikenal dengan nama Tobiuo. Di Majene (Sulawesi Barat), mereka dikenal dengan panggilan ikan tuing-tuing. Ada sekitar 52 spesies ikan terbang di dunia, beberapa di antaranya memiliki dua pasang sirip (satu pasang di sekitar dada dan satu pasang di sekitar perut) yang jika dikembangkan terlihat ikan terbang seperti memiliki empat sayap. Ikan terbang dengan dua pasang sayap ini disebut dengan istilah biplanes, sedangkan ikan terbang yang hanya memiliki satu pasang sayap disebut monoplanes.

KLASIFIKASI IKAN TERBANG
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Actinopterygii
Ordo
: Beloniformes
Family
: Exocoetidae
Genus
: Cypselurus
Species
:Hirundichthys oxycephalus

MORFOLOGI IKAN TERBANG
Ikan terbang memiliki warna kulit biru dengan perut berwarna putih, sirip dada sangat panjang dan lebar, dan sirip ekor membentuk huruf V. Mata ikan terbang relatif besar dibanding spesies ikan lainnya. Ikan terbang memiliki panjang tubuh rata-rata 17 cm, namun sebagian spesies (California Flying Fish) mampu tumbuh hingga 40 cm.

HABITAT IKAN TERBANG
Ikan terbang menyukai perairan hangat di laut lepas, seperti Samudera Hindia, Pasifik dan Atlantik. Di Indonesia, sebagian besar populasi ikan terbang hidup di perairan Sulawesi, Papua, hingga Flores. Ikan terbang adalah hewan sosial dan senang hidup berkelompok.

REPRODUKSI IKAN TERBANG
Berdasarkan analisa hubungan panjang dan berat, diperoleh pola pertumbuhan ikan terbang (H. oxycephalus)jantan dan betina adalah allometriknegatif. Berdasarkan pengamatan tingkat kematangan gonad diperolehhasil bahwa kematangan gonad ikan terbang terjadi secara serentak pada selang panjang total 172-182 mm. Tidak ditemukannya gonad dalam fase salin (TKG V) ditambah dengan perkembangan nilai IKG yang positif pada setiap bulannya, menimbulkan degaan bahwa ikan terbang (H. oxycephalus) sedang berada dalam masa memasuki pemijahan. Jumlah telur ikan terbang (H. oxycephalus) yang ditemukan berkisar antara 3224-9309 butir telur. distribusi diameter telur memperlihatkan lebih dari satu modus yang menggambarkan bahwa ikan terbang (H. oxycephalus) memiliki pemijahan yang bersifat parsial (pemijahan dilakukan lebih dari satu kali selama satu musim pemijahan).

Meskipun musim berbiaknya sepanjang tahun, ikan terbang tidak dapat menghasilkan telur setiap saat. Masa puncak produksi telur ikan terbang adalah antara Juni-Agustus, dimana sering terjadi upwelling, arus vertikal yang membawa plankton naik. Dengan jumlah plankton berlimpah, ikan terbang memiliki persediaan makanan yang cukup untuk mereka dan keturunannya. Pada musim ini pula, banyak nelayan yang berburu telur ikan terbang dengan alat berbentuk tabung berbahan rotan dan jerami yang menjadi media ikan betina meletakkan telur. Telur ini selanjutnya dibersihkan hingga kadar seratnya kurang dari 20% sebelum bisa diperjualbelikan. Dengan perburuan ikan terbang dewasa dan juga telur secara berlebihan menyebabkan populasi ikan terbang terus menyusut dengan cepat, karena sistem regenerasi mereka terganggu.

Telur ikan terbang mempunyai benang-benang ikatan (serat) antar telur yang berfungsi untuk melekat pada substrat yang dijadikan sarangnya. Benda yang sering dijadikan ikan terbang untuk meletakkan telur-telur mereka adalah pelepah/daun kelapa yang mengapung atau pada rumput laut Sargasso (Sargassum fluitans).

Setelah bertelur dan dibuahi, ikan terbang akan meninggalkan telur mereka dan telur akan menetas 24-36 jam setelah kawin (biasanya pada malam hari). Anak-anak ikan terbang berjuang hidup mandiri tanpa pengawasan orang tua mereka dengan memakan plankton dan menjauhi predator hingga mereka dewasa. Ikan terbang dapat hidup hingga 5 tahun.

CIRI-CIRI IKAN TERBANG
Ikan terbang merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang banyak ditemukan diperairan tropis maupun sub tropis dengan kondisi perairan tidak keruh dan berlumpur. Ikan terbang merupakan ikan yang memiliki banyak jenis, menurut klasifikasinya ikan terbang termasuk dalam Klas Actinopterygii, Subklas Neopterygii, Super ordo

Acanthopterygii, Ordo Beloniformes, Sub Ordo Belonoidei, Famili Exocoetidae dan memiliki 9 genus. Ikan terbang dari genus Cheilopogon terdiri 33 spesies diantaranya Cheilopogon ebei, C. agoo, genus Cypselurus terdiri dari 12 spesies diantaranya Cypselurus angusticeps, C. callopterus; genus Danichthys terdiri dari 1 spesies yaitu Danichthys i1ma. genus Exocoetus terdiri dari 5 spesies diantaranya Exocoetus gibbosus dan E. monocirrhus-, genus Fodiator terdiri dari 2 spesies yaitu Fodiator acutus dan E rostratus; genus Hirundichthys terdiri dari 8 spesies diantaranya Hirundichthys oxycephalus dan H. rondeletii;

genus Oxyporhamphus terdiri dari 4 spesies diantaranya Oxyporhamphus convexus dan 0. micropterus ; genus Parexocoetus terdiri dari 3 spesies diantaranya Parexocoetus brachypterus; dan genus Prognichthys terdiri dari 2 spesies diantaranya Prognichthys brevipinnis dan P gibbifrons.

Ikan terbang memiliki ciriciri yaitu panjang rata-rata 18 cm, tubuhnya bulat memanjang, bagian atas tubuh berwarna gelap, bagian bawah tubuh mengkilap, sirip dorsal dan anal transparan, sirip ekor abu-abu, sirip ventral keabu-abuan di bagian atas dan terang di bagian bawah, sirip pectoral abu-abu tua dengan belang-belang pendek.

Duri- duri lemah pada sirip dorsal berjumlah 10-12, pada sirip anal 1-12, pada sirip pectoral 14-15 dengan sirip pertama tidak bercabang, sirip ventral tidak mencapai sirip dorsal dengan pangkal sirip ventral lebih dekat ke ujung posterior kepala daripada ke pangkal ekor, garis lateral terletak pada bagian bawah tubuh. sisik sikloid berukuran relatif besar dan mudah lepas dengan sisik pradorsal 32-37 dan jumlah sisik pada poros tubuh 51-56.

MANFAAT IKAN TERBANG
Telur ikan terbang lebih dikenal dengan nama tobiko (bahasa Jepang). Tobiko populer digunakan oleh chef di Jepang dan Amerika dalam tiap hidangannya, terutama sushi. Tobiko lebih besar dari masago (telur ikan capelin), tetapi lebih kecil dari ikura (telur ikan salmon). Untuk menambah nilai estetika dan rasa, tobiko sering dicampur dengan bahan campuran tertentu. Tobiko hijau memiliki rasa pedas hasil percampuran dengan wasabi, tobiko hitam didapat dari percampuran dengan tinta cumi-cumi, tobiko merah didapat dari campuran cabai merah dan tobiko kuning didapat dari campuran yuzu (sejenis jeruk mandarin) dan jahe. Telur ikan terbang memiliki tekstur yang crunchy, segar dan tinggi kandungan protein, vitamin, kolesterol, omega-3, dan omega-6 yang baik untuk tubuh.

Di beberapa negara, telur ikan terbang dipercaya memiliki efek seperti obat dan dapat memperlancar peredaran darah sehingga telur ikan terbang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun dibanding caviar jenis lain, tobiko relatif tidak terlalu mahal (sekitar Rp 60.000/100 gram).

TINGKAH LAKU IKAN TERBANG
Kemampuan mereka melayang di atas permukaan laut adalah salah satu bentuk evolusi untuk menghindar dari predator. Memanfaatkan bentuk tubuhnya yang seperti torpedo, ikan terbang mampu berakselerasi dalam air dan mencapai kecepatan hingga 56km/jam sebelum meluncur ke permukaan.Setelah berada di udara, ikan terbang akan mengembangkan sirip dadanya yang lebar agar tetap melayang dalam waktu yang cukup lama. Perilaku melayang ikan terbang tidak sama seperti burung yang mengepakkan sayap mereka, tetapi lebih mirip dengan tupai terbang. Ikan terbang dapat menembus kecepatan melayang hingga 30km/jam. Saat di udara, ikan terbang menahan nafas, sama halnya saat kita berenang di air.Saat tubuh mereka mulai turun mendekati permukaan air, ikan terbang akan menggerakkan ekornya untuk kembali ke posisi yang lebih tinggi sehingga dapat tetap melayang. Ekor mereka juga dapat digunakan untuk mengubah haluan/arah. Dengan teknik ini, ikan terbang dapat bertahan di atas permukaan air hingga 43 detik dan dapat menempuh jarak hingga 400m.

PERAN IKAN TERBANG DI PERAIRAN
Ikan terbang tergolong ikan pelagis kecil, hidup di permukaan laut, termasuk perenang cepat, dapat tertarik oleh cahaya pada malam hari, dan mampu meluncur keluar dari permukaan air dan melayang di udara. Kecepatan renang ikan terbang 35-40 mil per jam dan dapat mencapai 100 m dalam waktu kurang lebih 10 detik. Penelitian mekanisme terbang ikan ini telah diteliti dengan bantuan alat fotografi (Stroboscopic filming) untuk pengembangan ilmu pengetahuan aerodinamika. Tingkah laku ikan terbang diuraikan oleh, bahwa sirip dan gelembung gas mempunyai peranan keseimbangan di udara. Sirip dada (pectoral fin) yang lebar berfungsi sebagai alat keseimbangan terutama pengaruh grativasi. Sirip ekor sebagai alat pendorong ketika akan mulai terbang (taxing flight). Sirip dada dikendalikan oleh otot-otot aerobik masing-masing, otot lateral membuka sayap dan otot medial melipat sayap. Dalam proses terbang, pertama-tama ikan berenang mendekati permukaan air dengan sayap terlipat, kemudian keluar dari permukaan laut dengan dengan sudut 30o dari permukaan air, sayap dibuka lalu melakukan taxing flight sekitar 5 -25m. Pada saat taxing flight, sirip ekor berputar setengah lingkaran sebanyak 50-70 kali/detik untuk menimbulkan dorongan, kemudian ikan lepas dari permukaan air dan terbang dengan kecepatan sekitar 72 km/jam. Setelah mencapai jarak 50m dengan ketinggian sekitar 8 m ikan mulai turun dan ekornya masuk terlebih dahulu ke dalam air. Kemudian ekor kembali mendorong untuk melakukan terbang ulang. Dalam waktu 30 detik akan menempuh jarak sekitar 400 m setelah melalui beberapa kali terbang. Tingkah laku ini bertujuan untuk menghindar dari predator dan gangguan kapal, serta untuk menghemat energi dalam pencarian makanan. Berdasarkan kemampuan terbang ini, maka ikan terbang dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok monoplanes dan biplanes. Kelompok monoplanes seperti genus Exocoetus, terbang ke udara tanpa meluncur di permukaan air terlebih dahulu dan dapat menempuh jarak kurang lebih 20 m. Ikan terbang monoplanes ini memiliki kemampuan terbang yang relatif lebih rendah dibandingkan kelompok ikan terbang bersayap empat (biplanes). Kelompok biplanes memiliki cara terbang lebih sempurna sebagaimana ditemukan pada spesies dari genus Cypselurus (Hutomo et al., 1985).

PENULIS
Arif Pandu
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Ali, S. A. (1981). Kebiasaan Makan, Pemijahan, Hubungan Berat Panjang dan Faktor Kondisi Ikan Terbang Cypselurus oxycephalus (Bleeker) di Laut Flores, Sulawesi Selatan, Makassar. Tesis Pascasarjana UNHAS : 49 hlm.
Ali, S.A., M.N. Nessa, M.I. Djawad,. S.B.A. Omar. 2004a. Analisis fluktuasi hasil tangkapan dan hasil maksimum lestari ikan terbang (Exocoeitidae) di Sulawesi Selatan. Torani. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan. 2 (14): 104-112.
Ali, S.A., M.N. Nessa, M.I. Djawad,. S.B.A. Omar. 2004b. Musim dan
Bengen, D.G. 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisis Data Biofisik Sumberdaya Pesisir. PKSPL. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Bogor.
Bond, C.E. 1979. Biology of Fishes. W.B. Saunders Company. Philadelphia, London. p. 479.
https://nanankurnia.wordpress.com/2008/04/26/ikan-terbang/ Diakses pada 24 Oktober 2015 pada jam 20.00 WIB
kelimpahan ikanterbang(Exocoetidae)disekitarKabupatenTakalar
Nessa, M. N., H. Sugondo, J. Andarias dan A. Rotentondok. (1977). Studi Pendahuluan Terhadap Perikanan Ikan Terbang di Selat Makassar . Lontara : Lembaga Pangabelat Makassar, 13 : 643-669.
S. Nurhakim. (1983). Pengkajian Potensi dan Tingkat Pengusahaan Perikanan Torani di Perairan Sulawesi Selatan. Laporan Penelitian Perikanan Laut, 25 : 1 – 12.

No comments:

Post a Comment