Wednesday, February 19, 2020

Ikan Pari; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Pari adalah Elasmobranchii, yaitu binatang yang memiliki skeleton yang terbentuk dari kartilago tulang lunak. Elasmobranchii terbagi menjadi dua yaitu Selachii atau hiu dan Batoidea atau pari (Compagno et al., 2005).

Ikan Pari (rays) termasuk ke dalam sub kelas elasmobranchii (ikan bertulang rawan). Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid, yaitu sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk. Ikan ini diperkirakan memiliki lebih dari 300 spesies dan bersifat kosmopolitan di laut (bond, 1979).

Ikan pari banyak jenisnya, beberapa jenis yang terdapat di perairan Indonesia adalah: pari torpedo, pari kelapa, pari duri, pari hidung sapi, pari kupu, pari macan, pari sengat dan pari bidadari (Agustine dan Dewi, 1990). Ikan pari dalam perdagangan dikenal dengan nama Stingrays (Sahubawa dan Untari, 2009). Menurut Pauly dan Martosubroto (1996) serta Budihardjo, dkk (1992), ikan pari termasuk dalam spesies Dasyatis sp. Distribusi geografis ikan pari sangat luas. Ikan pari ditemukan di perairan tropis, subtropis (beriklim sedang), dan perairan antartika yang dingin.

KLASIFIKASI IKAN PARI
Phylum
: Chordata
Subphylum
: Vertebrata
Class
: Pisces
Subclass
: Elasmobranchii
Ordo
: Batoidei
Family
: Trygonidae
Genus
Dasyatis
Species
Dasyatis sp.

Beberapa spesies dari genus Dasyatis antara lain: D. Americana, D. Imbricatus, D. Kuhlii, D. Lata, D. Longa, D. Margarita, D. Bennetti, D. Brevicaudatus, D. Sabina, D. Centroura, D. Chrysonata, D. Marmorata, D. Pastinaca, D. Margarita, D. Margaritella, D. Rudis, D. Thetidis (Schwartz, 2007; Jerez et al., 2011).


MORFOLOGI IKAN PARI



Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk kelas Elasmobranchii. Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid, yaitu kelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk. Ikan pari memiliki celah insang yang terletak di sisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Allen, 2000).


Last dan Stevens (2009) menyatakan bahwa ikan pari (rays) termasuk ikan bertulang rawan dalam grup Cartilaginous. Ikan pari mempunyai bentuk tubuh gepeng melebar (depressed)sepasang sirip dada (pectoral fins) melebar dan menyatu dengan sisi kiri-kanan kepalanya, sehingga tampak atas atau tampak bawahnya terlihat bundar atau oval. Ikan pari umumnya mempunyai ekor yang sangat berkembang (memanjang) menyerupai cemeti. Pada beberapa spesies, ekor ikan pari dilengkapi duri penyengat sehingga disebut sting-rays. Mata ikan pari umumnya terletak di bagian samping kepala. Posisi dan bentuk mulutnya adalah terminal dan umumnya bersifat predator. Ikan ini bernapas melalui celah insang (gill openings atau gill slits) yang berjumlah 5-6 pasang. Posisi celah insang adalah dekat mulut di bagian bawah (ventral)Ikan pari jantan dilengkapi sepasang alat kelamin yang disebut “clasper” letaknya di pangkal ekor. Ikan pari betina umumnya memijah secara melahirkan anak (vivipar) dengan jumlah anak antara 5-6 ekor.


Ukuran ikan pari dewasa bervariasi. Ikan pari yang berukuran relatif kecil memiliki panjang 10 cm dan lebar 5 cm. Ikan pari terbesar, dikenal juga pari manta, berukuran panjang 700 cm, lebar 610 cm, dan berat 1-3 ton (Bond, 1979).


HABITAT IKAN PARI
Ikan pari (famili Dasyatidae) mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik. Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut. Dasyatis sp. banyak ditemukan pada habitat dasar di perairan pesisir (Schwartz 2007). Habitat ikan pari ini berada di dasar perairan berlumpur, lumpur berpasir, tanah keras, bahkan yang berbatu atau koral.


Dasyatis pastinaca merupakan salah satu contoh ikan pari yang hidup di perairan dengan substrat lumpur atau pasir dan kadang-kadang memasuki periran dengan substrat batu karang atau ke daerah estuari. Beberapa jenis ikan pari tidak hidup di dasar perairan, melainkan di zona epipelagis, misalnya dari genus MantaDasyatis longa memiliki habitat di daerah estuari dengan dasar lumpur atau pasir minimal pada kedalaman 100 m dibawah permukaan air laut (Garcia et al. 2012).


Perubahan ontogeni juga berpengaruh terhadap habitat Dasyatis sp. Garcia et al. (2012) menjelaskan bahwa pada saat juvenile, Dasyatis longa akan hidup di habitat dasar berlumpur, ketika dewasa beralih ke dasar dengan substrat berbatu-batu. Jerez et al.(2011) mengungkapkan bahwa D. Centroura dan D. Pastinaca banyak ditemukan di sekitar area budidaya ikan di pesisir.


Beberapa spesies Dasyatis umumnya akan memasuki air tawar di area Amerika utara bagian tenggara walaupun tidak sampai menembus ke hulu (Berra 2001). Dsabinaatau yang lebih dikenal dengan sebutan Atlantic stingrays mampu mentolerir variasi salinitas dan dapat masuk ke air tawar. Hal ini telah dilaporkan berdasarkan penelitian di sungai Missisipi, danau Pontchartrain, dan sungai St. Johns. Spesies ini umumnya memiliki habitat di pesisir dangkal dengan dasar berpasir atau berlumpur. Menyukai suhu perairan 15°C dan dapat mentolelir hingga suhu 30°C.


Beberapa Dasyatis tropis hanya ditemukan di perairan tawar Asia, Afrika, Papua New Guinea, dan Australia. Selain itu terdapat pula DGarouaensis yang merupakan pari endemik dari perairan tawar Afrika, DUkpam dari persilangan sungai di Nigeria (sungaiOgowe dan sungai Congo), serta DLaosensis spesies endemik dari sungai Mekong, perbatasan antara Laos dan Thailand.


Last dan Stevens (2009) menyatakan bahwa Ikan pari (famili Dasyatidae) mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik. Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut. Ikan pari biasa ditemukan di perairan laut tropis. Di perairan tropis Asia Tenggara (Thailand, Indonesia, Papua Nugini) dan Amerika Selatan (Sungai Amazon).


REPRODUKSI IKAN PARI
Ikan pari merupakan dioecious. Ikan pari jantan dilengkapi sepasang alat kelamin, disebut klasper (clasper) yang terletak di pangkal ekor. Ikan pari betina tidak dilengkapi klasper, tetapi lubang kelaminnya mudah dilihat. Ikan pari berkembang biak secara ovovivivar dengan jumlah anak sekitar 5-6 ekor.

Pengamatan yang dilakukan pada reproduksi ikan pari Dasyatis pastinaca menunjukkan hasil bahwa setelah terjadi pembuahan, embrio pada akan mendapatkan energi dari kuning telur yang selanjutnya diberikan suplemen oleh histotrof (uterine milk yang diperkaya dengan protein, lemak, dan mukosa). Transfer energi ini dilakukan dari induk betina melalui sejumlah uterine epithelium yang disebut troponemata.

Ukuran pertama kali matang gonad ditentukan berdasarkan rata-rata berat tubuh dan rata-rata panjang ikan dan dapat juga berdasarkan perhitungan persentase berat hati dibandingkan berat tubuh (Devadoss 1983). D. Americana jantan umumnya matang gonad pada ukuran lebar tubuh 48-52 cm, sedangkan ikan betina pada ukuran lebar tubuh 75-80 cm. Umur saat pertama kali matang gonad pada ikan jantan sekitar 3-4 tahun, sedangkan betina sekitar 5-6 tahun. Karakteristik ini juga mengindikasikan bahwa pertumbuhan dan umur pada saat matang gonad dari D. Americana sama seperti pada Dasyatis sp. pada umumnya (Henningsen &Leaf 2010).

Meskipun umur dan ukuran pada saat matang gonad hampir sama pada setiap spesies Dasyatis, terdapat juga variasi ukuran antar individu pada spesies yang sama. Variasi ini jelas terlihat berbeda berdasarkan sebaran geografis (Henningsen & Leaf 2010). Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan berperan sangat penting bagi pertumbuhan dan kematangan gonad Dasyatis sp. Kesesuaian habitat, kecukupan makanan, dan kenyamanan ikan (faktor fisika-kimia perairan, predator, pencemaran) menjadi hal penting yang berpengaruh pada proses biologis ikan.

Ilmuwan terdahulu telah melakukan studi untuk melihat hubungan antara ukuran hati dengan saat pertama kali matang gonad. Devadoss (1983) menjelaskan bahwa ada suatu mekanisme perkembangan tertentu pada hati yang terjadi secara signifikan sebelum dan sesudah awal kematangan individu. Berat hati maksimum Dasyatis imbricatussebesar 6,5% dari berat tubuh rata-rata (220 gr) ditemukan pada ikan-ikan yang betina yang sedang tidak memijah, dan sebesar 3,2% pada ikan jantan dengan berat tubuh rata-rata 190 gr.

Tahap awal dari proses pemijahan menyebabkan berat hati mencapai maksimum, akan tetapi secara berangsur-angsur akan menurun selama perkembangan periode kehamilan. Hati berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi yang dikonsumsi selama proses kehamilan sebagai makanan selama perkembangan embrio (Devadoss 1983).

CIRI-CIRI IKAN PARI
Ciri-ciri Taksonomi & morfologi ikan pari:
·Hidup di dasar laut
·Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid (sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk)
·Memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala
·Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala
·Bagian tubuh sangat pipih
·Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies, dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Anonim, 1988).


Ada berbagai macam sisik
Sisik adalah bagian tubuh luar dan merupakan ciri sangat penting baik untuk I ikan tulang keras maupun ikan tulang rawan. Sisik, umumnya sebagai pelindung dan penutup tubuh. Sisik placoid, hanya ada pada ikan bertulang rawan, terdapat lapisan dentin. Bentuk sisik seperti bunga mawar dengan dasar yang bulat/bujur sangkar, bagian yang menonjol seperti duri keluar dari epidermis. Contoh: Ikan pari dan hiu. Sisik plakoid pada ikan hiu dan ikan pari sangat berbeda dalam bentuk dan susunannya. Ikan pari, giginya berubah secara berkala menjadi lebih besar, piringan dasar tergabung menjadi satu sehingga mampu memecah cangkang moluska, gigi ini merupakan derivate dari sisik.

Sisik tipe ktenoid pada dasarnya sama seperti sikloid mengenai struktur dan susunannya, tetapi berbeda pada bagian belakangnya yaitu berbentuk seperti sisir. Beberapa spesies mungkin mereduksi menjadi satu tonjolan atau spina (duri). Sisik ktenoid ditemukan menjadi duri sirip dorsal pada ikan pari.

Alat Gerak (appendages) dan Lokomosi
Kelompok ikan sejenis ikan pari, sirip pektoralnya sangat membesar dan menempel sepanjang tubuh mulai dari belakang kepala sampai di depan sirip pelvik. Bahkan pada ikan electric ray sirip tersebut menyatu pada ujungnya sebagai alat untuk memancarkan cahaya. Ikan pari umumnya memiliki dua sirip median dorsal yang letaknya jauh dari ekor, tetapi tidak ada pada ikan pari berduri (sting ray). Sirip anal jelas tidak ada. Meski sirip ekor tidak ditemukan pada kebanyakan ikan pari, tetapi berkembang baik pada ikan pari elektrik. Bagian dalam dari sirip pelvik ikan hiu jantan dan ikan pari jantan berubah menjadi klasper sebagai alat untuk memindahkan sperma kepada hewan betina.

Ikan pari duri (ray-finned) siripnya disokong oleh duri lembut yang mudah terlihat, selamanya tidak tertutup oleh kulit keras seperti elasmobranchii.

Ikan pari berenang dengan gerakan menggelombang sirip pectoral yang lebar. Warna punggung dari ikan pari mirip dengan warna dasar sekitar dan beberpa jenis mempunayi duri beracun atau organ elektrik yang juga merupakan alat pelindung diri.

Ikan berbisa dan beracun
Luka yang disebabkan oleh ikan berbisa umumnya karena injeksi racun ke dalam tubuh korban dengan menggunakan duri yang sangat pendek. Ikan beracun, dapat meneyebabkan sakit atau kematian bila daging atau sebagian organ tubuhnya dimakan hewan pemangsa. Beberapa ikan hiu dan pari, spina dorsal berhubungan dengan kelenjar bisa yang sangat beracun. Kelenjar racun ikan pari (Dasyatis), yaitu pada duri ekor yang bengkok & dalam (jaringan vasodentine).

Ikan bioluminesen
Bioluminesen adalah pancaran sinar oleh organisme, sebagai hasil oksidasi dari berbagai substrat dalam memproduksi enzim. Susunan substratnya lusiferin, dan enzim yang sangat sensitive sebagai katalisator oksidasi, disebut lusiferase.
Bioluminesen diproduksi oleh bakteri, jamur ataupun binatang invertebrate. Diantara hewan bertulang, hanya ikan yang mampu memproduksi sinar. Organ luminesen ditemukan pada ikan pari berlistrik dan beberapa ikan tulang keras khsusnya ikan yang tinggal di laut dalam.

Adanya organ yang memproduksi sinar ini dapat digunakan untuk menaksir kadalaman laut, dimana ikan tersebut tinggal. Ini dimaksudkan juga bahwa ikan tersebut memproduksi sinar untuk mendapatkan makanan, mengacaukan musuh, menerangi lingkungan ataupun menarik perhatian lawan jenisnya. Semua ini masih dugaan, akan tetapi pada prinsipnya berfungsi untuk mendapatkan “penghargaan” antar indivdu dalam satu jenis.

Ikan memproduksi bioluminesen dengan 2 cara, yaitu oleh pori-pori yang bercahaya ataupun organ bersimbiose dengan bakteri pengahasil sinar. Intensitas bioluminesen mungkin bertambah atau berkurang. Cara lain dalam memproduksi sinar bergantung pada ekspansi dan kontraksi kromatofora pada permukaan kulit.

Organ Listrik
Mengapa ikan listrik tidak menyengat dirinya sendiri, hal tersebut sulit untuk dipahami meskipun ada dua penjelasan, yaitu bahwa system saraf ikan selalu diseliputi oleh lemak dan arus listrik mengalir selalu tegak lurus.

MANFAAT IKAN PARI
Manfaat ikan pari adalah:
·untuk diambil dagingnya, sbgai bahan makanan
·untuk diambil kulitnya
·untuk diambil tulangnya, sebagai sumber penghasil gelatin
Meskipun ikan pari tertangkap dalam jumlah yang cukup besar, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas sedangkan bagian lainnya terbuang sebagai limbah (Anonim, 1989; Saleh et al., 1995).

TINGKAH LAKU IKAN PARI

a. Interaksi dengan hewan Lain
Ikan-ikan kecil diketahui sering berada di dekat manta. Salah satu spesies ikan laut yang paling sering diketahui suka berada di dekat manta adalah ikan remora (Echeneida sp.). Ikan ini biasa ditemukan menempel pada bagian bawah tubuh manta memakai semacam penghisap pada bagian atas tubuhnya. Remora mendapat keuntungan dengan menempel pada manta karena ia terlindung dari pemangsanya dan ia memperoleh “makanan gratis” berupa parasit yang menempel pada kulit manta.

b. Pemangsa
Hewan laut yang diketahui sebagai pemangsa utama pari manta adalah ikan-ikan hiu semisal hiu macan (Galeocerdo cuvier). Manta tidak memiliki alat pertahanan semisal gigi tajam atau sengat sehingga ia mengandalkan kemampuan berenangnya untuk melarikan diri dari musuhnya (termasuk mungkin dengan melompat keluar dari air). Manta juga diketahui bisa memakai sirip dadanya untuk memukul penyerangnya.

PERAN IKAN PARI DI PERAIRAN
Ikan pari (famili Dasyatidae) mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik (Cartamil et al., 2003). Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut dan biasanya ditemukan:

·Di perairan laut tropis (Tam et al., 2003)
·Di perairan tropis Asia Tenggara (Thailand,Indonesia,Papua Nugini)
·Amerika Selatan (Sungai Amazon)

Tetapi terdapat sejumlah spesies ikan pari bermigrasi dari perairan laut ke perairan tawar (Yuen et al., 2003).
Di perairan laut, ikan pari mempunyai peran ekologis yang sangat penting, terutama sebagai predator bentos (Gray et al., 1997). Namun beberapa aspek biologi (misalnya: reproduksi, diet dan fisiologi) ikan pari belum dikaji secara menyeluruh (Snelson et al., 1988; Gilliam and Sullivan, 1993; Sisneros and Tricas, 2000).

Di perairan Indonesia, ikan pari tertangkap hampir sepanjang tahun (Anonim, 1979). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian (1995), bahwa produksi tangkapan ikan pari pada tahun 1993 sebesar lebih kurang 35.686 ton (Statistika Perikanan Indonesia, 1995).


Ikan pari memegang peranan penting dari hasil perikanan laut di perairan Laut Jawa. Penelitian mengenai studi perbandingan komposisi jenis ikan pari berdasarkan lima lokasi pendaratan utama di perairan Laut Jawa telah dilaksanakan mulai bulan April 2001 sampai Desember 2004. Hasil penelitian pada lima lokasi penelitian menunjukan ikan pari terdiri dari 4 Ordo, 9 Famili, 16 Genus, dan 42 jenis ikan. Famili yang paling banyak diperoleh dari Dayastidae yang mencapai 80% dari seluruh hasil tangkapan pari. Komposisi jenis ikan pari di Laut Jawa didominasi oleh Himantura gerrardi sebesar 25,45%, kemudian disusul secara berurutan oleh Dasyatis kuhlii sebesar 23,05%, Dasyatis zugei sebesar 8,30%, Himantura bleekeri sebesar 7,11%, Aetoplatea zonura sebesar 6,38%, dan Himantura jenkinsii sebesar 5,22%. Analisis perbandingan komposisi jenis dilakukan dengan menggunakan metode multidimensi (bagian dari analisa 8 multivariat). Hasil analisis multidimensi menunjukan bahwa masing-masing lokasi memiliki perbedaan dalam komposisi hasil tangkapan pari (Anonim (a), 2008). 


PENULIS
Dewi Rizky Pertiwi
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


DAFTAR PUSTAKA
Allen, G.2000.Marine Fishes of South And East Asia.A Field Guide For Anglers And Diversi.Western Australia

Berra TM. 2001. Freshwater Fish Distribution. California: Academis Press. 606 hal.

Bjørn, R Nilsen.2011. Artificial Reefs in Fisheries Management. Edited by Bortone SA,FP Brandini, G Fabi, S Otake. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

Bond CE. 1979. Biology of Fishes. Philadephia: W.B. Saunders Company. 514 hal.

Devadoss P. 1983.Further Observations on the Biology of the Stingray, Dasyatis imbricatus (Schneider) at PortoNovo.Matsya 9-10; 129-134.

Garcia JL, AF Navia, PAM Falla, EA Rubio. 2012. Feeding Habits and Trophic Ecology of        Dasyatis longa (Elasmobranchii: Myliobatiformes): sexual, temporal and ontogenetic         effects. Journal of Fish Biology (2012) 80, 1563–1579.

Henningsen AD, RT Leaf. 2010. Observations on the Captive Biology of the Southern Stingray. Transactions of the American Fisheries Society 139:783–791.

http://kerangbambu2011.blogspot.co.id/2012/12/ekobiologi-ikan-pari-dasyatis-sp.html (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

http://mudah2anbermanfaat.blogspot.co.id/2012/04/ciri-ciri-ikan-pariumum-khusus.html (diakses pada tanggal 17 oktober 2015)

http://nangroe-geutanyoe.blogspot.co.id/2012/01/daerah-penangkapan-ikan-pari-manta-di.html (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

http://ratnamentariblogspotcom.blogspot.co.id/2010/02/2.html

Jerez PB, DF Jover, I Uglem, PA Lopez, T Dempster, JTB Sempere, CV Pérez, D Izquierdo, PA

Last, P. R. And J. D. Stevens.2009.Sharks and Rays of Australia Second Edition.CSIRO.Victoria Australia

Schwartz FJ. 2007. A Survey of Tail Spine Characteristics of Stingrays Frequenting African, Arabian to Chagos-Maldive Archipelago Waters. Smithiana Bulletin 8: 41-52.

2 comments: