Wednesday, February 19, 2020

Ikan Tuna; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan ikan pelagis besar dan bernilai ekonomis tinggi dan tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Menurut Saanin (1968), Ikan tuna termasuk dalam keluarga scombroidae, tubuhnya berbentuk cerutu, memiliki dua sirip punggung, memiliki jari-jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Ikan tuna tertutup oleh sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya, adapula yang memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah (yellowfin) seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1 dan taksonomi dari ikan tuna (Saanin, 1968) adalah sebagai berikut :


KLASIFIKASI IKAN TUNA
Filum
: Chordata
Subfilum
: Vertebrata
Klas
: Teleostei
Subklas
: Actinopterygii
Family
: Scombroidae
Ordo
: Perciformes
Subordo
: Scombridea
Genus
: Thunnus
Spesies
Thunnus thynnus


Tuna terdiri atas beberapa spesies diantaranya mata besar (Thunnus obesus), albakora (T. alalunga), madidihang (T. albacores), sirip biru (T. maccoyii), dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Penyebaran tuna di perairan sangat ditentukan oleh parameter suhu. Jenis madidihang dan cakalang merupakan spesies yang paling banyak tertangkap di Indonesia. Berdasarkan Food and Agryculture Organization (FAO) (2012), madidihang banyak ditemukan di bagian bawah dan di atas lapisan termokline sehingga penyebaran jenis tuna ini banyak ditemukan di daerah tropis seperti di Indonesia.


MORFOLOGI IKAN TUNA


Ikan tuna memiliki badan yang tertutupi oleh sisik kecil memanjang berbentuk cerutu serta mempunyai dua sirip punggung, sirip depan yang biasanya pendek dan terpisah dari sirip belakang, mempunyai jari-jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor berbentuk bulan sabit.(Saanin 1984).

Secara global, terdapat 7 spesies ikan tuna yang memiliki nilai ekonomi penting, yaitu albacore (Thunnus alalunga), bigeye tuna (Thunus obesus), atlantic bluefin tuna (Thunnus thynnus), pacific bluefin tuna (Thunnus oreintalis), southern bluefin tuna (Thunnus maccoyii), yellowfin tuna (Thunnus albacares), dan skipjack tuna (Katsuwonus pelamis). Kecuali pacific bluefin dan southern bluefin tuna, kelima spesies tuna lainnya hidup dan berkembang di perairan Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia. Sejak tahun 2000, total hasil tangkapan dunia dari 7 spesies ikan tersebut sekitar 4 juta ton/tahun. Perinciannya 65 % berasal dari Samudra Pasifik, 21 % dari Samudra Hindia dan 14 % dari Samudra Atlantik (Dahuri, 2008).

Morfologi Ikan tuna yang dijadikan sebagai bahan praktek adalah tuna sirip kuning (Thunnus albacares) dan tuna mata besar (Thunnus obesus). Ikan tuna termasuk dalam keluarga Scombroidae, tubuhnya seperti cerutu. mempunyai dua sirip pungung, sirip depan yang biasanya pendek dan terpisah dari sirip belakang. Mempunyai jari-jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari penyokong menutup seluruh ujung hipural. Tubuh ikan tuna tertutup oleh sisik-sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya, sebagian besar jenis Thunnus memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap (Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1983).

Tuna adalah salah satu jenis ikan ekonomis penting, selain itu tuna juga jenis ikan penjelajah yang jauh (highly migration species) dan pemangsa yang tangkas, Ikan tuna sirip kuning mempunyai nama latin Thunnus albacares. Ikan dengan sirip punggung kedua yang panjang dan juga pada sirip dubur, dimana beberapa diantaranya dapat mencapai 20% dari panjang cagak, dengan sirip dada yang pada umumnya panjang. Warna badan adalah hitam metalik agak kebiru-tuaan hingga kuning keperakan pada atas perut. Sirip punggung dan sirip dubur juga finlet berwarna kuning terang (Sumadhiharga, 2009).

Kisaran temperatur untuk penyebaran ikan yellowfin tuna adalah 180C-310C dan untuk penangkapan antara 200C-230C. Hidup pada daerah thermocline, dilautan lepas dan hidup didaerah karang, mereka berkumpul (bergerombol) berdasarkan ukuran. Jaring dipergunakan untuk menangkap kumpulan ikan yang berada dekat permukaan. Penyebaran ikan tuna mata besar berada pada kisaran suhu 100C-280C dan lokasi penangkapan berada pada kisaran 180C-220C.

HABITAT IKAN TUNA
Habitat ikan tuna berada di lapisan atas dan tengah dari laut sampai kedalaman 1600 kaki atau lebih 500m. Adapun daerah penyebaran ikan tuna dilaut meliputi perairan Samudera Indonesia, Samudera Pasifik Tengah, hampir diseluruh perairan Indonesia terutama di perairan terbuka, termasuk bagian barat Sumatera, Selatan Jawa, Timur Sumatera, Laut Natuna, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Sulawesi, dan Perairan Maluku. Persentase pemanfaatan ikan tuna di beberapa daerah adalah sebagai berikut:
1)Samudera Hindia
termanfaatkan 48,74 %
2)Laut Sulawesi
termanfaatkan 87,54 %
3)Laut Arafura
termanfaatkan 67,93 %
4)Laut Banda
termanfaatkan 27,95 %
5)Laut seram
termanfaatkan 35,17 %

REPRODUKSI IKAN TUNA
Tuna merupakan binatang yang suka hidup dengan kawanan kecil bersama-sama dengan binatang lain yang seukuran (pada fase tak enentu); Ketika mulai periode reproduksi, April-Mei, kawanan menjadi lebih banyak, dengan kompak mereka mengambil keuntungan dari arus yang mengalir untuk bermigrasi menuju baik ke teluku Meksiko maupun laut Mediterania.

Fase reproduksi dimulai ketika mereka sudahh sampai di wilayah itu selama musim panas bulan Juli dan Agustus. Kawanan mulai berputar-putar membentuk pusaran air yang pada gilirannya mereka meletakkan gametes; produk seksual di letakkan di tengah-tengah pusaran, didorong oleh gaya centripetal yang dihasilkan dari gerakan tuna dimana saat itu pertemuan dan peleburan berlangsung. Sekali fase reproduksi diakhiri, tuna kehilangan semangat berkawan, lelah dan lamban, berhenti sejenak di sepanjang pantai untuk mencari makan, setelah itu menuju lautan Atlantik.

Betina meletakkan puluhan juta telur; berbentuk bulat berukuran sekitar 1 mm dan dilengkapi dengan tetesan berminyak agar telur tetap mengapung. telur menetas setelah sekitar 2 hari dan larva voracious berukuran 3 mm muncul, larva-larva ini bahkan akan mencapai panjang 45 cm dalam waktu beberapa bulan. Tuna-tuna muda ini hidup di wilayah dimana mereka ditetaskan selama tahun-tahun pertama. sekali mereka mencapai kematangan seksual, mereka bergegas menuju laut Mediterania sebagaimana layaknya tuna dewasa pada periode reproduksi. Pada usia 6-7 tahun, setelah periode reproduksi mereka menuju dan akan kembali ke lautan Mediterania beberapa tahun kemudian, saat mereka berumur sekitar 10 tahun.

CIRI-CIRI IKAN TUNA
Ikan tuna merupakan keluarga Scombroidae, tubuhnya seperti cerutu, memiliki dua sirip punggung, sirip depan yang biasanya terpisah dari sirip belakang. Mempunyai jari – jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari – jari penyokong menutup seluruh ujung hipural. Tubuh ikan tuna tertutup oleh sisik – sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya, sebagian memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap.

Ikan tuna merupakan jenis ikan perenang cepat dan selalu bergerombol bersama ikan sejenisnya. Jenis ikan ini senang melakukan perjalanan jauh secara bersama – sama, misalnya ribuan ikan tuna sirip biru selatan (southern blue fin tuna) bisa berpindah dari Samudera Hindia ke sebelah barat Benua Australia hingga Samudera Selatan dekat Kutub. Jarak ribuan kilometer itu ditempuh dengan kecepatan tinggi sehingga jenis ikan pelagis ini tergolong sulit ditangkap.

Ikan tuna termasuk dalam keluarga Scombroidae, tubuhnya seperti cerutu.mempunyai dua sirip pungung, sirip depan yang biasanya pendek dan terpisah dari sirip belakang. Mempunyai jari-jari sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur.Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari penyokong menutup seluruh ujung hipural.Tubuh ikan tuna tertutup oleh sisik-sisik kecil, berwarna biru tua dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya, sebagian besar jenis Thunnus memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap(Cahyono, 2008).

MANFAAT IKAN TUNA
Manfaat dan kandungan ikan tuna. Posisi perairan Indonesia yang terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik merupakan tempat perlintasan ikan tuna dalam pengembaraan jarak jauhnya ikan tuna terdiri dari bermacam-macam jenis, antara lain mandidihang/yellowfin (Thunnus albacores), mata besar (Thunus obesus), abu-abu (Thunus tonggol), albakora (Thunus alalunga), dan sirip biru (Thunus thynnus).

Hingga saat ini tuna masih dihasilkan dari kegiatan penangkapan, bukan hasil budi daya. Keberhasilan operasi penangkapan sangat ditentukan oleh keterampilan mengenali pola tingkah laku ikan tuna yang berkaitan dengan kebiasaan makan, suhu air, arus air, dan musim kawin Kaya Omega-3 Nilai gizi tuna yang sangat baik, kandungan omega-3-nya membuat tuna mempunyai seribu satu manfaat bagi kesehatan tubuh. Namun, hal itu harus didukung dengan pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan tuna yang baik.

Ikan tuna yang masih segar sebaiknya disimpan di lemari es (jika akan segera digunakan) atau dibekukan (jika ingin disimpan untuk beberapa lama). Dilihat dari komposisi gizinya, tuna mempunyai nilai gizi yang sangat luar biasa. Kadar protein pada ikan tuna hampir dua kali kadar protein pada telur yang selama ini dikenal sebagai sumber protein utama. Kadar protein per 100 gram ikan tuna dan telur masing-masing 22 g dan 13 g.

Sumber Mineral Ikan tuna juga kaya berbagai mineral penting yang esensial bagi tubuh. Kandungan iodium pada ikan tuna mencapai 28 kali kandungan iodium pada ikan air tawar. Iodium sangat berperan penting untuk mencegah penyakit gondok dan meningkatkan kecerdasan anak. Selain itu, ikan tuna juga kaya akan selenium. Konsumsi 100 gram ikan tuna cukup untuk memenuhi 52,9 persen kebutuhan tubuh akan selenium. Selenium mempunyai peran penting di dalam tubuh, yaitu mengaktifkan enzim antioksidan glutathione peroxidase. Enzim ini dapat melindungi tubuh dari serangan radikal bebas penyebab berbagai jenis kanker.

Sumber Vitamin Kandungan vitamin pada ikan tuna, terutama jenis sirip biru sangat tinggi, yaitu mencapai 2,183 IU. Konsumsi 100 gram ikan tuna sirip biru cukup untuk memenuhi 43,6 persen kebutuhan tubuh akan vitamin A setiap hari. Vitamin A sangat baik untuk pemeliharaan sel epitel, peningkatan imunitas tubuh, pertumbuhan, penglihatan, dan reproduksi

Cegah Stroke dan Obesitas Kandungan gizi yang tinggi membuat tuna sangat efektif untuk menyembuhkan berbagai penyakit, salah satunya stroke. Sebuah studi yang pernah dilakukan selama 15 tahun menunjukkan bahwa konsumsi ikan tuna 2-4 kali setiap minggu, dapat mereduksi 27% resiko penyakit sroke daripada yang hanya mengkonsumsi 1 kali dalam sebulan. Konsumsi 5 kali atau lebih dalam setiap minggunya dapat mereduksi penyakit stroke hingga 52 persen. Konsumsi tuna 13 kali per bulan dapat mengurangi risiko tubuh dari ischemic stroke, yaitu stroke yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah ke otak.

Tangkal Kanker Payudara Ikan tuna juga baik untuk mencegah kanker payudara. Hal tersebut disebabkan kandungan omega-3 pada tuna dapat menghambat enzim proinflammatory yang disebutcyclooxygenase 2 (COX 2), enzim pendukung terjadinya kanker payudara. Omega-3 juga dapat mengaktifkan reseptor di membran sel yang disebut peroxisome proliferator-activated receptor (PPAR)-ã, yang bisa menangkap aktivitas sel penyebab kanker. Selain itu, omega-3 juga dapat memperbaiki DNA.

Ikan tuna bagi Indonesia merupakan komoditas ekspor terbesar kedua setelah udang. Dari nilai ekspor sebesar 2 miliar dollar AS per tahun, 20 persen disumbang dari ikan tuna. Ekspor tuna total dari Indonesia mencapai 200.000 ton per tahun.

Ikan tuna banyak digemari dan dikonsumsi masyarakat karena memiliki banyak kelebihan dan keunggulan. Diantaranya adalah tekstur daging yang padat, halus dan rasanya enak, juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi.

TINGKAH LAKU IKAN TUNA
Tuna adalah ikan perenang cepat dan hidup bergerombol (schooling) sewaktu mencari makan. Kecepatan renang ikan dapat mencapai 50 km/jam. Kemampuan renang ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyebarannya dapat meliputi skala ruang (wilayah geografis) yang cukup luas, termasuk diantaranya beberapa spesies yang dapat menyebar dan bermigrasi lintas samudera. Distribusi ikan Tuna di laut sangat ditentukan oleh berbagai faktor, baik faktor internal dari ikan itu sendiri maupun faktor eksternal dari lingkungan. Faktor internal meliputi jenis (genetis), umur dan ukuran, serta tingkah laku (behaviour).

Perbedaan genetis ini menyebabkan perbedaan dalam morfologi, respon fisiologis dan daya adaptasi terhadap lingkungan. Faktor eksternal merupakan faktor lingkungan, diantara adalah parameter oseanografis seperti suhu, salinitas, densitas dan kedalaman lapisan thermoklin, arus dan sirkulasi massa air, oksigen dan kelimpahan makanan. Kedalaman renang Tuna bervariasi tergantung jenisnya. Umumnya Tuna dapat tertangkap di kedalaman 0-400 meter. Suhu perairan berkisar 17-31oC. Salinitas perairan yang disukai berkisar 32-35 ppt atau di perairan oseanik.

Madidihang (Thunnus albacares) tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Panjang madidihang bisa mencapai lebih dari 2 meter. Jenis tuna ini menyebar di perairan dengan suhu yang berkisar antara 17-31oC dengan suhu optimum yang berkisar antara 19-23oC sedangkan suhu yang baik untuk kegiatan penangkapan berkisar antara 20-28oC (Uda, 1952 dalam Laevastu dan Hela, 1970).

PERAN IKAN TUNA DI PERAIRAN
Ikan Tuna menjadi sumber nutrisi untuk predator yang lebih besar contohnya hiu.

PENULIS
Dewi Rizky Pertiwi
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


DAFTAR PUSTAKA

Allen, G.2000.Marine Fishes of South And East Asia.A Field Guide For Anglers And Diversi.Western Australia

Berra TM. 2001. Freshwater Fish Distribution. California: Academis Press. 606 hal.

Bond CE. 1979. Biology of Fishes. Philadephia: W.B. Saunders Company. 514 hal.

Henningsen AD, RT Leaf. 2010. Observations on the Captive Biology of the Southern

Stingray. Transactions of the American Fisheries Society 139:783–791.

Jerez PB, DF Jover, I Uglem, PA Lopez, T Dempster, JTB Sempere, CV Pérez, D Izquierdo, PA Bjørn, R Nilsen.2011. Artificial Reefs in Fisheries Management. Edited by Bortone SA,FP

Brandini, G Fabi, S Otake. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

http://mudah2anbermanfaat.blogspot.co.id/2012/04/ciri-ciri-ikan-pariumum-khusus.html (diakses

        pada tanggal 17 oktober 2015)

https://id.wikipedia.org/wiki/Tuna (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

http://auliayuaninda.blogspot.co.id/2014/11/morfologi-ikan-tuna.html (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

https://fiqrin.wordpress.com/artikel-tentang-ikan/blufin-tuna/ (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

http://shofisyihabdillah.blogspot.co.id/2013/03/pengantar-ilmu-pertanian-ikan-tuna.html (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

http://tami-bi07.blogspot.co.id/2011/01/biologi-kehidupan-ikan-tuna.html (diakses pada tanggal 17 oktober 2015)

http://ratnamentariblogspotcom.blogspot.co.id/2010/02/2.html (diakses pada tanggal 17 Oktober 2015)

http://indrasupriyatno.blogspot.co.id/2013/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html#pages/2 (diakses pada  tanggal 17 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment