Friday, January 3, 2020

Udang Vaname Atau Vannamei; Klasifikasi,Morfologi, Habitat Dll



Litopenaeus vannamei, biasa juga disebut sebagai udang putih atau Vaname masuk ke dalam famili Penaidae. Anggota famili ini menetaskan telurnya di luar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang betina.

KLASIFIKASI UDANG VANNAMEI
Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Malacostraca

Ordo : Decapoda

Famili : Panaeidae

Genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei


MORFOLOGI UDANG VANNAMEI
Udang Penaeid dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Penaeid vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum bagian ventral dan 8-9 gigi pada tepi rostrum bagian dorsal.

HABITAT UDANG VANNAMEI

Habitat udang vannamei di perairan laut dan perairan payau.


REPRODUKSI UDANG VANNAMEI
A. Petasma jantan 
B. Satu dari sepasang appendix masculine

C. Satu dari sepasang terminal ampoule D. Open thelycum

Gambar  Struktur Reproduksi Eksternal Udang Vannamei

Organ reproduksi udang vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan dikelilingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel. Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous spermatophore. 

PROSES PERKAWINAN (MATING) INDUK UDANG VANNAMEI 
Udang vannamei melakukan mating (perkawinan) apabila udang betina telah matang telur yang ditandai dengan warna orange pada punggungnya, udang jantan segera memburu oleh rangsangan feromon yang dikeluarkan oleh betina dan terjadilah mating. Dari hasil mating tersebut sperma akan ditempelkan pada telikum, 4-5 jam kemudian induk betina tersebut akan mengeluarkan telur (spawning) dan terjadilah pembuahan.


Perilaku kawin pada udang vannamei pada wadah pemijahan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa faktor biologis seperti densitas aerial dan rasio kelamin.


Spesies udang vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut kawin saat udang betina pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur dalam satu atau dua jam setelah kawin.


PENELURAN DAN PERKEMBANGAN TELUR UDANG VANNAMEI
Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang. Proses tersebut berlangsung kurang lebih selama dua menit. Udang vannamei biasa bertelur di malam hari atau beberapa jam setelah kawin. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/ nauplius (Perry, 2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea. Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut terbuka saat dewasa.

FISIOLOGI UDANG VANNAMEI
Daya tahan hidup udang dipengaruhi oleh olah keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dengan air lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik itu dilakukan melalui mekanisme osmoregulasi. Udang yang hidup di air laut memiliki pola regulasi yang sama dengan teleostei laut, yaitu regulasi hiposmotik. Hewan yang hiposmotik terhadap medianya mengalami masalah dehidrasi, karena tekanan osmotik di dalam tubuh lebih kecil dari lingkungannya sehingga air cenderung keluar ke lingkungannya. Masalah lainnya adalah garam-garam dan ion-ion akan cenderung masuk ke dalam tubuh secara difusi karena lebih besar konsentrasinya di luar tubuh. Salah satu adaptasi udang dalam mengatasi masalah dehidrasi adalah kurang permeabilitas air, sehingga dapat membatasi air yang keluar secara pasif. Adaptasi lainnya adalah dengan meminum air dari medianya, baik secara oral maupun anal (contoh: artemia). Air kemudian diserap di usus. Untuk mengatasi kelebihan garam dan ion yang masuk secara difusi, NaCl secara aktif dipompa keluar dari tubuh melalui insang.


Adaptasi fisiologi lainnya yaitu dimana udang yang hidup di laut selalu mengeluarkan urine yang lebih pekat dibandingkan dengan udang yang hidup di air tawar, hal ini dikarenakan kadar garam air laut lebih tinggi dari pada kadar garam air tawar. Tingginya kadar garam menyebabkan udang kekurangan air sehingga udang harus banyak minum. Akibatnya, kadar garam dalam darahnya menjadi tinggi sehingga untuk mengurangi kepekatan cairan dalam tubuhnya, udang akan selalu mengeluarkan urine yang pekat.


PERAN UDANG VANNAMEI DALAM PERAIRAN
Udang berfungsi sebagai konsumen utama, konsumen primer dan detrivitor di dalam suatu perairan, oleh karena itu dapat udang ini diklasifikasikan sebagai omnivora. Udang ini sangat besar perannanya dalam perairan. Hewan ini termasuk dalam konsumen setrivitor atau disebut sebagai hewan pemakan biossa mati atau organik termasuk hewan, tumbuhan, dan tinja.


PERTUMBUHAN UDANG VANNAMEI
Penaeus vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan.


TINGKAH LAKU UDANG VANNAMEI
Salah satu adaptasi tingkah laku udang yaitu adaptasi terhadap cahaya atau bersifat fototaksis negatif (menjauhi cahaya) atau kesukaannya terhadap cahaya sangat kurang. Sehingga udang selalu aktif pada malam hari (Nokturnal) untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dasar perairan sehingga dapat terhindar dari kejaran predator.


PENULIS

Desita Dwi Pratiwi

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR

Gery Purnomo Aji Sutrisno


FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


DAFTAR PUSTAKA

http://Budisma.net/2015/perbedaan-detritivitor-dan-saproof.

http://images.google.com/.

http://paj89.blogspot.co.id/2012/09/adptasi-pola-tingkah-laku-persebaran.html.

Perry, H. M. 2008. Marine Resources and History of the Gulf Coast.

Wyban James A., Sweeney, James N., 1991. Intensive Shrimp Poduction Technology. The Oceanic. Hawaii.

No comments:

Post a Comment