Thursday, October 8, 2020

Faktor-Faktor Ekosistem Kolam (Fisika, Kimia, Biologi)

 

 

Faktor-Faktor Ekosistem Kolam Fisika

Menurut Andayani et al. (2016), ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan masalah pada kolam budidaya  antara lain, kotoran di kolam yang disebabkan oleh residu pakan atau pembuangan metabolisme ikan dan udang. Hal ini akan berdampak negatif pada lingkungan budidaya termasuk terjadinya penyakit pada budidaya karena munculnya mikroorganisme penyebab penyakit dan blooming plankton yang dapat menyebabkan gagal panen. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memperhatikan pengelolaan kualitas air pada kolam melalui parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut, dan lain-lain).

 

Menurut Tharavathy (2014), parameter fisika pada kolam terdiri dari suhu air, transparansi dan total padatan. Suhu air memainkan peran yang sangat penting dalam mengatur aktivitas hewan budidaya dan kebutuhan oksigen terlarut dari hewan air lebih tinggi pada perairan bersuhu hangat daripada perairan bersuhu dingin. Dalam budidaya, transparansi harus dipertahankan pada tingkat 30-40 cm karena transparansi mempengaruhi tingkat oksigen terlarut dan pH pada kolam. Jumlah total padatan terlarut dalam air dihasilkan dari timbunan bahan organik, limbah dari pelet pakan buatan, kotoran organisme dan pupuk yang digunakan dalam kolam dan secara tidak langsung dapat menurunkan kedalaman air dan transparansi.

 

Faktor-Faktor Ekosistem Kolam Kimia

Menurut Sagala (2013), karakteristik kimia lingkungan terhadap kehidupan ekosistem kolam meliputi: sifat-sifat air (garam-garam terlarut, komponen-komponen organik, komponen-komponen mineral, gas-gas terlarut: meliputi oksigen, nitrogen, karbon dioksida). Selanjutnya dapat dikatakan bahwa lingkungan fisiko-kimia sangat berkaitan terhadap terjadinya atau keberadaan, pertumbuhan dan kerusakan algae serta ekologinya sering dapat diinterpretasikan bilamana faktor-faktor lingkungan abiotiknya dipelajari secara bersama-sama. Dinamika plankton adalah suatu proses hidrodinamika yang terjadi dalam kolam yang dipengaruhi oleh faktor kimia seperti perubahan gas-gas terlarut (DO dan CO2), dan kandungan hara atau nutrisi seperti fosfat (PO4), nitrat (NO3), sulfat (SO4), potasium (K), sodium (Na), khlor (Cl), besi (Fe) dan mineral-mineral lainnya.

 

Menurut Sudarsono (2014), pengukuran parameter kimia meliputi pH yang diukur pada perairan kolam. Nilai pH pada perairan umumnya berkisar antara 6,5 sampai 9,0 dan.nilai pH air normal adalah sekitar 6 – 8. Seperti yang kita ketahui bahwa pH, BOD dan nitrat merupakan bagian dari siklus hidro-ekologis yang tentunya antara faktor lingkungan dan plankton saling berinteraksi. Sifat plankton yang aerob fakultatif akan mempengaruhi BOD dan COD yang berada dalam perairan.

 

Faktor-Faktor Ekosistem Kolam Biologi

Menurut Radiarta (2013), faktor biologi merupakan salah satu faktor terpenting pada ekosistem kolam. Kelimpahan organisme juga merupakan parameter biologi dari ekosistem kolam. Plankton (fitoplankton dan zooplankton) mempunyai peran yang sangat besar dalam ekosistem perairan, karena sebagai sumber makanan bagi hewan perairan lainnya. Perairan yang subur tentunya dapat mendukung keanekaragaman sumberdaya biota yang tersedia. Kesuburan perairan dapat diindikasikan dengan kelimpahan fitoplankton yang tersedia. Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton. Keberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan tersebut. Bahkan beberapa penelitian menggunakan indeks ekologi fitoplankton sebagai indikator pencemaran.

 

Menurut Rahman et al. (2016), kelimpahan organisme juga merupakan faktor biologi dari ekosistem kolam. Plankton (fitoplankton dan zooplankton) mempunyai peran yang sangat besar dalam ekosistem perairan. Keberadaan fitoplankton dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya unsur hara, kondisi cahaya, suhu, pH, serta pemangsaan oleh zooplankton dan ikan planktivor Fitoplankton merupakan salah satu organisme perairan yang sangat penting berperan sebagai  produsen primer di perairan. Fitoplankton akan memberikan respons terhadap perubahan kondisi perairan baik berupa perubahan pada kelimpahan, jumlah jenis, maupun struktur komunitas fitoplankton.

 

Publisher

Gery Purnomo Aji Sutrisno

Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

 

Daftar Pustaka

Andayani, S., R. Yuwanita and N, Izzah .2016. Biofilter application using seaweed (Gracillaria verucosa) to increase production of Vannameii shrimp in traditional pond district Bangil-Pasuruan. Research Journal of Life Science. 3(1): 16-22.

Radiarta, I. N. 2013. Hubungan antara distribusi fitoplankton dengan kualitas perairan di selat alas, kabupaten sumbawa, nusa tenggara barat. Jurnal Bumi Lestari. 13(2): 234-243.

Rahman, A., N. T. M. Pratiwi dan S. Hariyadi . 2016. Struktur komunitas fitoplankton di danau toba, Sumatera Utara(the structure of phytoplankton communities in lake toba, North Sumatera). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 21(2): 120-127.

Sagala, E. P. 2013. Dinamika dan komposisi chlorophyceae pada kolam pemeliharaan ikan gurame berumur satu tahun dalam permanen di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Lir Barat 1 Palembang. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung. 235-241 hlm.

Tharavathy, N. C. 2014. Water quality management in shrimp culture. Acta Biologica Indica. 3(1): 536-540.

No comments:

Post a Comment