Saturday, July 18, 2020

Amphisolenia; Klasifikasi, Morfologi, Reproduksi Dll


Klasifikasi Amphisolenia
Menurut Hauer (1963):
Kingdom : Chromista
Phylum : Myzozoa
Class : Dinophyceae
Order : Dinophysiales
Family : Amphisoleniaceae
Genus : Amphisolenia
Spesies : Amphisolenia sp.

Morfologi Amphisolenia
Dinophysiid dinoflagellate, body extremely elongate and thin; epicone much reduced; lower part of hypocone may be branched; tropical marine.

Dinophysialeans in which the motile cell is more than four times as long as it is broad. The ventral pore is on the ventral episome and the flagellar pore is significantly posterior to the cingulum.

Reproduksi Amphisolenia
Reproduksi pada dinoflagelat umumnya adalah dengan pembelahan sel (binary fission). Laju pembelahan ini akan sangat tinggi bila lingkungannya optimal, meskipun terdapat variasi antar jenis dan antar waktu. Masa penggandaan (doubling time) pada Peridinium misalnya berkisar 10 hingga 50 jam, Prorocentrum berkisar 12 hingga 127 jam, Exuviella antara 15 hingga 90 jam, dan Ceratium furca maksimum 48 Jam (Sachlan, 1982).

- Depth range based on 154 specimens in 10 taxa.
- Water temperature and chemistry ranges based on 72 samples.

Environmental ranges:
- Depth range (m): 0 – 150
- Temperature range (°C): 11.025 - 28.600
- Nitrate (umol/L): 0.178 - 17.101
- Salinity (PPS): 34.353 - 39.066
- Oxygen (ml/l): 2.063 - 5.866
- Phosphate (umol/l): 0.096 - 1.151
- Silicate(umol/l):0.818-14.676

Graphical representation:
- Depthrange (m): 0 -150 
- Temperature range (°C): 11.025 - 28.600
- Nitrate (umol/L): 0.178 - 17.101
- Salinity (PPS): 34.353 - 39.066
- Oxygen (ml/l): 2.063 - 5.866
- Phosphate (umol/l): 0.096 - 1.151
- Silicate(umol/l):0.818-14.676

Fisiologi Amphisolenia

Physical Description:
- Cell Volume = 426.580 µm3  (Barton dan Finkel et al, 2013)
- Cell Mass = 0.0407 µm3  (Barton dan Finkel et al, 2013)

Dinding sel pada dinoflagelata ada yang berupa dinding selulosa yang tebal dan kuat yang bisa berupa pelat – pelat yang melindungi sel. Oleh karenanya, dinoflagelata yang memiliki pelat –pelat ini disebut tibe berperisai. Ada pula dinoflagelat tipe telanjang, yang tidak memiliki pelat perisai. Ciri - ciri pelat perisai Ciri - ciri pelat perisai ini merupakan hal penting untuk identifikasi jenis (Sachlan,1982).

Tingkah Laku Amphisolenia
Banyak yang dapat membentuk sista. Beberap jenis dapat membalut dirinya dengan lapisan bergelatin sebagai tahap istirahat. Yang lebih spesifik adalah dengan pembentukan dinding tebal yang meliputi sael dan membentuk resting spore. Sista dinoflagelat ini sering mengendap di dasar laut, dan disitu dia istirahat sampai tiba saatnya bila lingkungannya mendukung dia tumbuh kembali sebagai plankton. Lamanya dalam bentuk sista bisa sampai waktu yang sangat panjang, misalnya pada Peridinium trochoideum bisa sampai sembilan bulan (Sachlan, 1982).

Pembentukan sista ini dapat menyulitkan penelitian dan pengendalian HAB (Harmful Algae Bloom). Salah satu dinoflagelat penyebab HAB, Pyrodinium bahamense var. compressum misalnya, bila pengamatannya hanya berdasarkan contoh plankton saja mungkin tidak menemukan apa-apa karena sebenarnya dia sedang istirahat panajng dalam bentuk sista di dasar laut. Tetapi suatu waktu dia akan bangkit tumbuh dengan populasi meledak sebagai plankton yang minumbulkan masalah lingkungan, kesehatan dan ekonomi yang sangat merugikan (Sachlan, 1982).

Peran Amphisolenia di Perairan
Ada berbagai marga dinoflagelat yang sering dijumpai, antara lain Prorocentrum, Peridinium, Gymnodinium, Noctiluca, Gonyaulax, Ceratium, Ceratocorys, Ornithocercus, Amphisolenia. Banyak jenis dinoflagelat memiliki arti penting bagi perikanan karena merupakan makanan bagi banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi (Sachlan, 1982).
Namun disamping itu, banyak pula jenis dinoflagelat yang dapat menghasilkan toksin, dan karenanya bila jenis-jenis ini tumbuh meledak akan menimbulkan kerugian besar, misalnya dapat menimbulkan kematian massal ikan. Dapat juga terjadi toksin dari dinoflagelat ini, lewat rantai pakan, akan ditransfer ke dalam tubuh kerang-kerangan, dan bila orang memakan kerang tersebut akan dapat menimbulkan gejala keracunan, dari gejala keracunan ringan hingga yang dapat mematikan. Ledakan populasi Pyrodinium bahamense var. compressum misalnya, telah dilaporkan pernah menyebabkan kasus kematian penduduk di berbagai tempat di indonesia. Dinoflagelata juga dikenal banyak memiliki kemampuan bioluminisensi, yakni menghasilkan cahaya dari proses yang terjadi di dalam tubuhnya. Noctiluca scintillans misalnya, dapat menghasilkan cahaya biru muda. Suatu literatur menyebutkan bahwa dengan konsentrasi sebesar 200 sel/liter noctiluca dapat menghasilkan cahaya lemah, sedangkan dengan konsenstrasi 1000-2000 sel/liter dapat menghasilkan cahaya yang lumayan kuat. Banyak dinoflagelata lain dapat menghasilkan chaya bioliminisensi melalui reaksi enzimatis luciferin-luciferase. Bila malam hari kita berlayar di laut akan sering kita jumpai laut gemerlap bila tersibak ombak. Ini adalah bioluminisensi yang disebabkan oleh berbagai jenis plankton, antara lain oleh dinoflagelata (Sachlan, 1982).

Penulis
Rabella Septi Fauziah
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2014

Editor
Gery Purnomo Aji Sutrisno
Fpik Universitas Brawijaya Angkatan 2015

No comments:

Post a Comment