Wednesday, May 6, 2020

Ikan Sumatra; Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Ikan Sumatra (Puntius tetrazona) merupakan salah satu ikan hias asli Indonesia yang banyak ditemukan di perairan umum pulau Sumatera dan Kalimantan. Mempunyai warna dan bentuk tubuh yang cukup menarik dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ikan ini memiliki ciri khas berupa bentuk badan memanjang, pipih ke samping, warna dasar badannya putih keperakan. Ikan ini memiliki empat buah garis berwarna hitam kebiruan yang memotong badannya. Ikan Sumatra hidup pada habitat alaminya di rawa-rawa.

P. tetrazona dijuluki ikan Sumatra karena pertama kali ditemukan di Pulau Sumatra, tepatnya di perairan Lampung, Jambi, dan Riau. Lantaran berasal dari Sumatra, orang lantas menyebutnya ikan Sumatra atau bard sumatra kata orang asing. Belakangan, baru ketahuan bahwa ia bisa juga ditemukan di Kalimantan. Menurut Axelrod dalam "Exotic Tropical Fish", di habitat aslinya "harimau air" hidup di perairan jernih, dengan pH 6,6-6,7 dan temperatur 23-27 oC. Makanan alaminya jasad renik (zooplankton) dan unsur tumbuh-tumbuhan (phytoplankton). Varietasnya ada 4 (empat) dengan bentuk tubuh yang sama hanya berbeda pada warna tubuh dan sirip.

KLASIFIKASI IKAN SUMATRA
Adapun klasifikasi Ikan Sumatra (Puntius tetrazona) menurut Richo (2010) adalah:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius tetrazona

HABITAT IKAN SUMATRA
Habitat alami ikan sumatra adalah sungai dangkal dengan arus sedang berair keruh atau jernih. Mereka menyukai habitat air dengan keasaman antara 6-8 dan tingkat kesadahannya 5 hingga 19 dGH, serta suhu lingkungan antara 20 hingga 26 derajad Celcius. Daerah rawa juga sering dijadikan tempat hidup, sehingga bisa disimpulkan bahwa ikan jenis ini mampu hidup dengan kondisi air yang berubaha drastis. Mereka bisa bertahan hidup hingga enam tahun (Permana,2013).

Ikan Sumatra merupakan salah satu ikan hias perairan tropis. Habitat asli Ikan Sumatra adalah di Kepulauan Malay, Sumatra, dan Borneo . Ikan Sumatra hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, dan rawa. Ikan ini menyukai perairan yang berarus tenang. Ikan ini dapat tumbuh mencapai panjang 7 cm. Ikan Sumatra hidup pada perairan yang memiliki kisaran derajat keasaman (pH) 6 – 8, dengan tingkat kesadahan 5 – 19 dH (optimum 10), dan suhu berkisar 25 – 29° C (Wibawa,2012).

FISIOLOGI IKAN SUMATRA
Ikan yang berukuran kecil, dengan panjang total (beserta ekor) mencapai 70mm. Tubuh berwarna kekuningan dengan empat pita tegak berwarna gelap; pita yang pertama melewati mata dan yang terakhir pada pangkal ekor. Gurat sisi tak sempurna, 22-25 buah dengan hanya 8-9 sisik terdepan yang berpori. Batang ekor dikelilingi 12 sisik. Tinggi tubuh sekitar setengah kali panjang standar (tanpa ekor). Sekitar mulutnya, sirip perut dan ekor berwarna kemerahan. Sirip punggung dan sirip dubur berwarna hitam, namun warna hitam pada sirip punggung dibatasi oleh garis merah (Richo, 2010).

MORFOLOGI IKAN SUMATRA
Ikan sumatra  memiliki ukuran tubuh kecil dengan panjang keseluruhan hanya 70 mm. Ukurannya yang kecil tidak mengurangi keindahan warnanya sehingga sangat cantik sebagai ikan peliharaan di akuarium rumah. Mimiliki warna kekuning-kuningan pada mulut dan sirip bawah, ikan ini juga memiliki pita warna gelap tegak mengelilingi tubuhnya. Warna hitam juga tampak apda bagian sirip punggung dan sirip dubur. Hanya saja, pada sirip punggung ditemukan pemisah garis merah(Permana,2013).

CIRI-CIRI IKAN SUMATRA
Ciri ikan ini tampak jelas, badannya memanjang, pipih ke samping. Pada tubuhnya yang berwarna putih keperakan terdapat empat buah garis berwarna hitam kebiruan memotong badannya. Keempat garis tersebutberjejer : satu buah di bagian kepala melewati mata dan tutup insang, dua buah di bagian badan, dan satu buah lagi di pangkal ekor (Atom, 2009).

REPRODUKSI IKAN SUMATRA
Axelrod et al. (1983) dalam Wibawa (2012), mengemukakan bahwa proses pemijahan pada ikan Sumatra dapat dipercepat apabila media pemijahan memiliki kesadahan yang lebih rendah daripada media pemeliharaan. Pemijahan ikan Sumatra berlangsung pada pagi hari di tanaman-tanaman air. Telur yang dipijahkan bersifat adhesif atau menempel pada substrat. Ikan Sumatra mampu menghasilkan telur 300 butir setiap kali memijah. Setiap kali induk Sumatra memijah, mampu mengahasilkan telur sebanyak 300 – 1000 butir. Telur ikan Sumatra berdiameter 1.18 + 0.05.

TINGKAH LAKU IKAN SUMATRA
Ikan sumatra senang berenang bergerombol. Bila dipelihara dalam jumlah kecil, kurang dari 5 ekor, ikan ini dapat menjadi agresif dan mengganggu ikan-ikan yang lain. Ikan-ikan yang lemah dan kurang gesit dapat menjadi sangat menderita akibat gigitan ikan sumatra yang dominan, yang terutama akan menyerang sirip-siripnya (Ucan, 2012).

MANFAAT IKAN SUMATRA
Ikan sumatra memiliki manfaat yaitu sebagai ikan hias karena warnanya yang sedap dipandang mata, Secara global perdagangan ikan hias sangat menjanjikan. Komoditas ikan hias air tawar mempunyai jumlah lebih besar dari pada dengan ikan hias yang berasal dari laut. Pangsa pasar ikan hias air tawar mencapai 85%. Hal tersebut disebabkan ikan hias air tawar lebih banyak dibudidayakan, sehingga perkembangannya lebih cepat dari pada dengan ikan hias air laut yang berasal dari tangkapan nelayan.

Salah satu faktor penting dalam penyediaan ikan hias untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan hias dan keberhasilan dalam budidaya ikan hias adalah transportasi ikan hidup. Transportasi ikan hidup pada dasarnya memaksa dan menempatkan ikan dalam suatu lingkungan yang berlainan dengan lingkungan asalnya, disertai dengan perubahan sifat lingkungan yang mendadak. Ikan hidup yang akan dikirim dipersyaratkan dalam keadaan sehat dan tidak cacat untuk mengurangi peluang mati selama pengangkutan (Handisoeparjo, 1982 dalam Kusyairi, 2013).

Transportasi ikan hidup terbagi dua yaitu sistem basah dan sistem kering. Sistem basah terbagi atas dua metode, yakni metode terbuka dan metode tertutup. Faktor yang sangat penting pada pengangkutan benih ikan sistem tertutup adalah jumlah kepadatan hal ini penting dilakukan untuk menjamin tersedianya oksigen terlarut yang memadai. Kemampuan ikan untuk mengkonsumsi oksigen juga dipengaruhi oleh toleransi terhadap stress, suhu air, pH, konsentrasi CO2, sisa metabolisme lain seperti amoniak dan kepadatan ikan. Transportasi benih ikan, biasanya dilakukan dengan kepadatan yang sedikit lebih tinggi, hal ini bertujuan agar biaya transportasi lebih efisien. Namun, semakin padat ikan yang dibawa di dalam suatu wadah, semakin besar kemungkinan ikan tersebut terluka akibat gesekan antar ikan. Ikan yang ditransportasikan secara padat dalam suatu wadah akan mudah mengalami stres. Stres dan luka akibat gesekan dapat menimbulkan penyakit dan akhirnya ikan mati.

PERAN IKAN SUMATRA DI PERAIRAN
Ikan ini berperan sebagai predator maupun sumber nutrisi bagi ikan predator di perairan tempat tinggalnya. Ikan sumatra termasuk ikan omnivora atau pemakan apa saja walaupun pakan hidup lebih disukai. Sebagai ikan sungai maka pakannya adalah organisme dasar perairan seperti cacing rambut (Tubifex sp). Cacing rambut merupakan salah satu pakan yang baik karna mengandung pigmen yang dapat memperindah warna sumatra atau larva insekta dasar seperti cacing darah (Chironomus sp.) dan pellet dengan kandungan protein 30%.

PENULIS
Risma Novita Santi
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Atom. 2009. Budidaya ikan sumatra. http://iniikanku.blogspot.com diakses 11 Desember  2015.
https://www.seriouslyfish.com/species/puntigrus-tetrazona/
Permana, Yuli. 2013. Ikan hias. http://www.ikanhias-yuli-org/p/disclaimer.html.
Siswaidi.2013.Ajasmanfaat:ikansumatra.http:ajasmanfaat.blogspot.com/2013/04/Ikan –sumatra.html.
Ucan. 2012. Tingkah laku ikan Sumatra http://duniaikan-surabaya.blogspot.co.id/2012/05/sumatra-si-kecil-yang-lincah-nan-gesit.html.
Wibawa.2012.MorfologiikanSumatra.http://zonaikan.wordpress.com/2012/07/18/morfologi-ikan-sumatra/

No comments:

Post a Comment