Wednesday, April 1, 2020

Pengaruh Fitoplankton Dalam Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Fitoplankton, Plankton, Hidup Organisme

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Plankton yang mempunyai sifat selalu bergerak dapat juga dijadikan indikator pencemaran perairan. Plankton akan bergerak mencari tempat yang sesuai dengan hidupnya apabila terjadi pencemaran yang mengubah kondisi tempat hidupnya. Dengan demikian terjadi perubahan susunan komunitas organisme di suatu perairan di mana hal ini dapat dijadikan petunjuk terjadinya pencemaran di perairan. Dalam hal ini terdapat jenis-jenis plankton yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui hal tersebut sesuai dengan kondisi biologi perairan tersebut.

Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton. Keberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai keadaan perairan. Fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan indikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan (bioindikator). Salah satu cara untuk mengukur kualitas suatu perairan yakni dengan mengetahui nilai koefisien saprobik. Koefisien saprobik adalah suatu indeks yang erat kaitannya dengan tingkat pencemaran. Hal inilah yang akan mengindikasikan tingkat kualitas air di suatu perairan. Koefisien saprobik ini akan terlihat setelah mengetahui struktur komunitas fitoplankton di suatu perairan tersebut (Wijaya dan Hariyati,2009)

Dalam rantai makanan di suatu ekosistem air, fitoplankton termasuk ke dalam kelompok produsen karena kemampuannya melakukan fotosintesis. Oleh karena itu keberadaan fitoplankton di suatu ekosistem air menjadi sangat penting terutama dalam mendukung kelangsungan hidup organisma air lainnya, seperti zooplankton,benthos ikan dan sebagainya. Sebagai organisme air, plankton mempunyai kisaran toleransi tertentu terhadapat perubahan berbagai faktor lingkungan abiotik seperti temperatur air, pH,kadar oksigen terlarut (DO) dan sebagainya. Sehingga perubahan nilai dari berbagai faktor lingkungan abiotik tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi keanekaragaman plankton (Barus,2011).

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian fitoplankton ?
Apa pengaruh fitoplankton terhadap lingkungan budidaya ?
Apa klasifikasi dari fitoplankton
Bagaimana pengaruh fitoplankton terhadap budidaya ikan ?

TUJUAN MAKALAH
Untuk mengetahui pengertian fitoplankton.
Untuk mengetahui pengaruh fitoplankton terhadap lingkungan budidaya
Untuk mengetahui klasifikasi fitoplankton
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh fitoplankton terhadap budidaya ikan.
BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN FITOPLANKTON
Plankton merupakan organisme yang hidup melayang didalam air. Organisme ini mempunyai kemampuan gerak yang sangat terbatas, sehingga sebaran organisme ini dipengaruhi oleh kondisi arus perairan. Plankton dapat dibagi menjadi dua yaitu fitoplankton (plankton nabati) dan zooplankton (plankton hewani). Plankton (fitoplankton dan zooplankton) mempunyai peran yang sangat besar dalam ekosistem perairan, karena sebagai sumber makanan bagi hewan perairan lainnya. Distribusi fitoplankton dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya dalam perairan atau tersebar dalam zona eufotik. Kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik dalam perairan menjadikan fitoplankton dikenal sebagai produsen primer (Nontji, 1993 dalam Radiarta,2013).

Fitoplankton bersifat autotrof yaitu dapat menghasilkan sendiri makanannya. Selain itu fitoplankton juga mengandung klorofil yang mempunyai kemampuan berfotosintesis dengan menggunakan energi matahari untuk mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik. Bahan organik inilah yang menjadi makanannya dan sebagai sumber energi yang menghidupkan seluruh fungsi ekosistem di perairan(Nontji, 2006).

Fitoplankton adalah golongan plankton yang mempunyai klorofil di dalam tubuhnya. Daerah hidup fitoplankton adalah di lapisan yang masih terdapat sinar matahari. Fitoplankton dapat membuat makanannya sendiri dengan mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis dengan menggunakan bantuan sinar matahari(Mulyanto, 1992).

PENGARUH FITOPLANKTON TERHADAP LINGKUNGAN BUDIDAYA
Perairan yang subur tentunya dapat mendukung keanekaragaman sumberdaya biota yang tersedia. Kesuburan perairan dapat diindikasikan dengan kelimpahan fitoplankton yang tersedia. Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton. Keberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan tersebut. Bahkan beberapa penelitian menggunakan indek ekologi fitoplankton sebagai indikator pencemaran (Spellerberg, 1993 dalam Gao and Song, 2005)

Fitoplankton dapat dijadikan indikator biologi yang dapat menentukan kualitas perairan baik melalui pendekatan keragaman spesies maupun spesies indikator. Fitoplankton sebagai indikator biologis bukan saja menentukan tingkat kesuburan perairan, tetapi juga fase pencemaran yang terjadi dalam perairan(Basmi,1998).

Selain itu Fitoplankton juga dapat dijadikan sebagai indikator biologis dalam pencemaran air sungai. Bila keanekaragaman Fitoplankton di ekosistem tinggi menandakan kualitas air baik dan bila keanekaragaman Fitoplankton sedikit menandakan air tercemar (Sastrawijaya, 1991 dalam Widiana, 2009).

Fitoplankton memiliki siklus hidup pendek sehingga cepat sekali memberi reaksi terhadap perubahan kualitas air yang disebabkan oleh pencemaran. Dampak pencemaran dapat mempengaruhi perubahan struktur dan fungsi ekosistem sungai, baik hewan maupun tumbuhan. Banyaknya bahan pencemar dalam perairan akan mengurangi keanekaragaman organisme dan pada umumnya akan meningkatkan populasi jenis yang tahan terhadap kondisi perairan tersebut. Indikator biologi digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseim-bangan ekologi khususnya ekosistem akibat pengaruh limbah (Sastrawijaya, 1991 dalam Widiana, 2009).

KLASIFIKASI FITOPLANKTON
Fitoplankton terdiri dari alga, yaitu kelompok organisme yang termasuk ke dalam divisi Thallophyta. Tujuh kelas yang ada dalam divisi tersebut, kebanyakan hidup sebagai plankton, perifiton dan bentos. Kelas yang bersifat plankton adalah Clorophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Chrysophyceae dan Phyrophyeae (Dinoflagelata), sedangkan Phaeophyceae dan Rhodophyceae sebagai rumput laut. Penentuan jenis Fitoplankton tergantung pada warna atau pigmen yang dikandungnya. Kelas yang hidup sebagai Fitoplankton adalah Chlorophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Chrysophyceae dan Bacillariophyceae (Sachlan, 1974 dalam Widiana,2009).

Menurut habitatnya, Arinardi et al. (1995) dalam Indriany (2005) membagi plankton menjadi dua kelompok yaitu plankton bahari dan plankton air tawar. Plankton bahari terdiri dari plankton oseanik, plankton neritik serta plankton air payau. Berdasarkan divisinya terbagi fitoplankton menjadi tujuh divisi yaitu Cyanophyta, Chlorophyta, Chrysophyta, Euglenophtya, Pyrrophyta, Phaeophyta dan Rhodophyta.

Fitoplankton terdiri dari divisi Chyrsophyta (diatom), Chlorophyta dan Cyanophyta. Biasanya Chlorophyta dan Cyanophyta mudah ditemukan pada komunitas plankton perairan tawar, sedangkan Chyrsophyta dapat ditemukan diperairan tawar dan asin. Komunitas fitoplankton umumnya mendominasi oleh jenis fitoplankton yang berukuran lebih kecil dari 10mm (Soetrisno,2002).

PENGARUH FITOPLANKTON TERHADAP BUDIDAYA IKAN
Pakan merupakan kunci keberhasilan dalam budidaya perikanan, karena berpengaruh terhadap ketahanan dan perkembangan larva. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah sejenis pakan ikan yang berupa organisme air renik seperti, fitoplankton (Basri,2013).

Unsur P dan N adalah dua unsur yang bertanggung jawab terhadap terjadinya blooming fitoplankton di suatu ekosistem dan unsur fosfor lebih sering sebagai penyebab utamanya. Keadaan ini terjadi karena adanya fenomena denitrifikasi pada senyawa nitrogen, sehingga nitrogen tidak mengalami akumulasi di sedimen, seperti halnya yang terjadi pada senyawa P.

Menurut Ghufran dan Kordi (2011), kadar fitoplankton pakan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan organisme. Kekurangan fitoplankton berpengaruh negatif terhadap konsumsi pakan, akibatnya terjadi penurunan pertambahan bobot ikan , sedangkan peningkatan fitoplankton akan meningkatkan daya konsumsi pakan alami ikan. Fitoplankton menurun sejalan dengan meningkatnya energi pakan. Hal ini diduga karena peningkatan energi pakan akan menurunkan konsumsi pakan alami ikan , maka akan mengakibatkan menurunnya laju pertumbuhan.

BAB III
KESIMPULAN

KESIMPULAN
Fitoplankton adalah golongan plankton yang mempunyai klorofil di dalam tubuhnya.
Fitoplankton bersifat autotrof yaitu dapat menghasilkan sendiri makanannya.
Fitoplankton terdiri dari beberapa kelas, yaitu Chlorophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Chrysophyceae dan Bacillariophyceae.
Fitoplankton terdiri dari beberapa divisi, yaitu Cyanophyta, Chlorophyta, Chrysophyta, Euglenophtya, Pyrrophyta, Phaeophyta dan Rhodophyta.
Fitoplankton terdiri dari alga, yaitu kelompok organisme yang termasuk ke dalam divisi Thallophyta.
Fitoplankton adalah jenis pakan alami buat ikan.
Komunitas fitoplankton umumnya mendominasi oleh jenis fitoplankton yang berukuran lebih kecil dari 10mm.
Faktor yang menyebabkan blooming fitoplankton yaitu banyak kandungan P , N dan terjadinya denitrifikasi nitrogen.
         
SARAN
Untuk meningkatkan fitoplankton dalam budidaya ikan diperlukan unsur hara yaitu P dan N namun, jumlah tidak terlalu banyak. Jika terlalu banyak maka akan terjadi blooming dan harus adanya manajemen kontrol pemeliharaan baik kolam maupun pakan. Disarankan juga diadakan penelitian lanjutan tentang fitoplankton yang lebih banyak agar bisa diperoleh data akurat mengenai kisaran terhadap pengaruh fitoplankton terhadap budidaya ikan.

PENULIS
M. Noorhadiansyah Alam   
Angga Dwi Sapto R.
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015       

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Barus, T A. 2004. Faktor-Faktor Lingkungan Abiotik dan Keanekaragaman Plankton Sebagai Indikator Kualita Perairan Danau Toba. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Vol. XI, No. 2. Hal 64-72.
Basmi, J. 1997. Planktonologi : Terminologi dan Klasifikasi Zooplankton Laut. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Basri S. 2013. Pakan dan pemberian pakan. Kendari: Universitas Haluoleo.
Gao, X. and Song, J. 2005. Phytoplankton distribution and their relationship with the environment in the Cahngjiang Estuary, China. Marine Pollution Bulletin, 50. 327-335.
Ghufran M, Kordi K. 2011. Marikultur: Prinsip dan Praktik Budidaya Laut. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Indriany, M. 2005. Struktur Komunitas Diatom dan Dinoflagellata Pada Beberapa Daerah Budidaya di Teluk Hurun, Lampung. Program Studi Biologi. Universitas Negeri Jakarta. Jakarta.
Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Bumi Lestari. Vol. 13 No.2 : 234-243.
Mulyanto, S. 1992. Lingkungan Hidup Untuk Ikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Nontji, A.2006. Plankton. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi. Jakarta.
Radiarta. I Nyoman. 2013. Hubungan Antara Distribusi Fitoplankton Dengan Kualitas Perairan Di Selat Alas,
Sastrawijaya, T. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta: Jakarta.
Soetrisno, H. 2002. Struktur Komunitas Fitoplankton dan Kaitannya dengan Unsur Hara N dan P di Muara Sungai Cimandiri, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Widiana, Rina. 2009. Komposisi Fitoplankton Yang Terdapat Di Perairan Batang Palangki Kabupaten Sijunjung
Wijaya, T R. Hariyati, R. 2009. Struktur Komunitas Fitoplankton sebagai Bio Indikator Kualitas Perairan Danau Rawapening Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jawa Tengah.

No comments:

Post a Comment