Monday, March 30, 2020

Pengaruh Densitas Terhadap Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Budidaya Ikan, Ikan, Makan, Ikan Trout, Makanan

1.      PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia mempunyai luas wilayah serta adanya sumber daya alam yang mendukung untuk dapat mengembangkan usaha budidaya udang/ikan. Sistem budidaya udang/ikan terdiri dari sistem ekstensif (tradisional) dan sistem intensif. Sistem ekstensif (tradisional) masih mendominasi tambak-tambak rakyat Indonesia. Tambak udang/ikan sistem ekstensif (tradisional) adalah tambak yang sistem pengelolaannya benar-benar bergantung pada kemurahan alam. Sistem ekstensif (tradisional) sangat sederhana sehingga pengelolaannya tidak rumit. Budidaya tambak udang/ikan sistem intensif memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan budidaya sistem ekstensif. Budidaya sistem intensif lebih banyak menggunakan input produksi. Salah satu ciri dari sistem budidaya intensif adalah padat tebar yang tinggi (Utami et al., 2014).

Menurut Baras (2009) dalam Priyadi et al. (2010), pengetahuan mengenai pengaruh padat adalah sangat penting untuk menunjang upaya produksi massal dari ikan yang saat ini coba dikembangkan. Hal ini akan menjadi sangat penting apabila di masa yang akan datang, para importir ikan membatasi produk mereka dengan produk-produk perikanan yang hanya diproduksi melalui proses budidaya. Upaya peningkatan padat tebar harus diiringi dengan kemampuan ikan untuk tumbuh dan mempertahankan tingkat sintasan yang maksimal. Peningkatan padat tebar tanpa disertai dengan kualitas air yang terkontrol akan menyebabkan penurunan sintasan ikan dan pertumbuhan yang lambat. Dengan demikian, untuk dapat meningkatkan sintasan larva ikan, selain memperhatikan faktor padat tebar juga harus diperhatikan kualitas air media pemeliharaannya.

Dalam budidaya perikanan perlu mengetahui tingkatan padat tebarnya. Apabila semakin tinggi padat tebarnya, maka semakin banyak pula kegiatan yang dilakukan oleh pengelolaannya. Peningkatan padat tebar dilakukan untuk memperbanyak produksi dan pemanfaatan lahan secara optimal. Padat tebar merupakan jumlah kepadatan ikan setiap meter per segi nya (m¬2). Pada sistem budidaya intensif biasanya padat tebar tinggi dan pakan yang diberikan tidak hanya pakan alami tetapi, juga pakan buatan sebab pakan alami tidak mencukupi kebutuhan ikan. Sedangkan pada sistem budidaya semi intensif biasanya padat tebar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah serta pakan yang diberikan yaitu pakan alami dan buatan. Terakhir pada sistem budidaya ekstensif biasanya padat tebar rendah dan pakan yang diberikan yaitu pakan alami.

RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan densitas/padat tebar?
2.
Bagaimana pengaruh densitas bagi budidaya ikan?
3.
Metode apa saja yang digunakan untuk mengetahui pengaruh padat tebar?
4.
Apa yang menyebabkan densitas tinggi pada kegiatan budidaya?
         
TUJUAN

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui maksud dari densitas/padat tebar.
2.
Mengetahui pengaruh densitas bagi budidaya ikan.
3.
Mengerti metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh padat tebar.
4.
Mengerti penyebab densitas tinggi pada kegiatan budidaya.

2.      PEMBAHASAN

PENGERTIAN DENSITAS ATAU PADAT TEBAR
Menurut Priyadi et al. (2010), padat tebar merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam bidang budidaya karena berpengaruh secara langsung terhadap sintasan, pertumbuhan, tingkah laku, kesehatan, dan kualitas air. Lebih lanjutnya bahwa hubungan yang negatif maupun positif antara padat tebar dengan pertumbuhan telah dilaporkan, dan pola dari interaksi ini muncul secara spesifik pada tiap-tiap spesies. Tingkat padat tebar yang tepat akan memberikan kesempatan bagi ikan dalam memanfaatkan pakan, oksigen, dan ruang sehingga pertumbuhan berjalan secara optimal dan menghasilkan sintasan yang tinggi.

Padat penebaran ikan merupakan jumlah ikan yang ditebar dalam wadah budidaya per satuan luas atau volume. Kepadatan benih ikan pada pendederan I (ukuran 4-6 cm) umumnya adalah 1 ekor/liter. Kepadatan yang berbeda sangat berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan, tetapi tidak berpengaruh nyata dengan kelulushidupan ikan dengan pada sistem resirkulasi. Hal ini diduga ikan pada perlakuan A mempunyai ruang gerak yang lebih luas sehingga konsumsi pakan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan B maupun perlakuan C yang berpengaruh pada nafsu makan (Alfia et al., 2013).

Menurut Wardoyo et al. (2007) dalam Karlyssa et al., (2014), pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah padat penebaran. Padat penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup yang mengarah kepada tingkat produksi. Permasalahan yang timbul akibat ikan ditebar dalam keadaan padat adalah kompetisi untuk mendapatkan pakan dan ruang gerak. Perbedaan dalam memanfaatkan pakan dan ruang gerak mengakibatkan pertumbuhan ikan bervariasi. Dan jika kualitas air sebagai media hidup bagi ikan memburuk dapat menurukan pertumbuhan ikan bahkan dapat menyebabkan menurunnya kelangsungan hidup ikan/kematian.

PENGARUH DENSITAS BAGI BUDIDAYA IKAN
Menurut Kadarini et al. (2010) dalam Yunus et al., (2013), padat penebaran selain dapat menyebabkan kompetisi ruang gerak dan perebutan oksigen terlarut pada ikan. Hal ini juga dapat menyebabkan ikan mengalami stres, sehingga menghambat metabolisme dan mengakibatkan nafsu makan ikan menurun. Ikan yang mengalami stres diduga karena tidak dapat menerima kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kehidupannya. Padat penebaran yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan berat benih ikan.

Tingkat padat tebar akan mempengaruhi keagresifan ikan. Ikan yang dipelihara dalam kepadatan yang rendah akan lebih agresif, sedang ikan yang dipelihara dalam kepadatan yang tinggi akan lambat pertumbuhannya karena tingginya tingkat kompetisi dan banyaknya sisa-sisa metabolisme yang terakumulasi dalam media air. Selama masa pemeliharaan, berat dan panjang benih ikan lele menunjukkan peningkatan untuk setiap kepadatan. Pertambahan bobot ikan diiringi dengan pertambahan panjang ikan tersebut atau laju pertumbuhan bobot harian berbanding lurus dengan laju pertumbuhan panjang harian ikan. Diduga pengaruh terhadap panjang sudah terjadi pada awal pemeliharaan karema adanya perbedaan kepadatan. Ruang gerak ikan yang semakin sempit dalam suatu wadah dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi terganggu (Waker et al., 2015).

METODE UNTUK MENGETAHUI PENGARUH PADAT TEBAR
Menurut Waker et al. (2015), metode yang digunakan untuk melakukan penelitian tentang pengaruh padat tebar (densitas) pada suatu perairan yaitu menggunakan rancangan  acak  lengkap  (RAL)  dengan tiga perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, yaitu :
1.   Perlakuan P1 dengan padat tebar 600 ekor/m³.
2.   Perlakuan P2 dengan padat tebar 700 ekor/m³.
3.   Perlakuan P3 dengan padat tebar 800 ekor/m³.
Penelitian untuk mengetahui padat tebar menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang  sebanyak 3 kali yaitu; Perlakuan 1 dengan padat tebar 1 ekor/liter (P1) ; Perlakuan 2 dengan padat    tebar    1,5    ekor/liter    (P2)    ; Perlakuan 3 dengan padat tebar 2 ekor/liter (P3). Rancangan ini digunakan karena keragaman kondisi lingkungan, alat, bahan   dan   media   yang   digunakan adalah homogen atau letak/posisi masing-  masing  unit  tidak mempengaruhi hasil percobaan, dan percobaan ini   dilakukan pada kondisi terkendali atau setiap unit percobaan secara keseluruhan memiliki peluang yang sama besar untuk menempati akuarium percobaan  (Hanafiah, 2007 dalam Siregar et al., 2015).

Metode yang digunakan dalam penelitian pengaruh padat penebaran Gracilaria sp adalah metode eksperimental dengan rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan pada penelitian ini adalah perbedaan padat tebar ikan bandeng dan Gracilaria sp. Sebagai berikut : tanpa Gracilaria sp (A), Gracilaria sp. sebanyak 250 kg (B), Gracilaria sp. sebanyak 500 kg (C). Prosedur penelitian ini terdiri dari persiapan tambak, penyiapan hewan uji dan tumbuhan uji, dan pelaksanaan penelitian. Penyesuaian pH dan salinitas anatar air yang ada didalam kantong dengan air tambak. Ikan bandeng yang telah menyesuaikan diri akan berenang keluar kantong plastic menuju perairan tambak. Setelah tambak, ikan bandeng dan  Gracilaria sp. beradaptasi, lalu penelitian dilaksanakan (Reksono et al., 2012).

PENYEBAB DENSITAS TINGGI PADA KEGIATAN BUDIDAYA
Menurut Yunus et al. (2013), pada tingkat kepadatan yang terlalu tinggi, sering menyebabkan laju pertumbuhan individu dan pemanfaatan pakan pada ikan menurun. Selain itu, tingginya tingkat kepadatan pada setiap perlakuan mengakibatkan semakin rendahnya panjang benih ikan. Pada padat penebaran yang terlalu tinggi, ikan akan berkompetisi untuk mendapatkan ruang gerak, pakan, dan kebutuhan oksigen antar individu yang menyebabkan ikan stres dalam jangka waktu yang lama. Keadaan ikan yang stres secara terus menerus menyebabkan fungsi normal ikan akan terganggu sehingga pertumbuhan ikan menjadi lambat. Jika ikan dipelihara dalam padat penebaran rendah maka pertumbuhannya lebih baik dibandingkan pada padat penebaran tinggi.

Ikan yang dipelihara pada padat tebar tinggi memiliki bobot individu yang lebih rendah daripada ikan yang dipelihara pada padat tebar rendah. Rendahnya bobot ikan pada perlakuan kepadatan tinggi ini berkorelasi dengan jumlah konsumsi pakan per individu ikan dan laju pertumbuhan yang juga lebih rendah. Walaupun jumlah konsumsi pakan dan pertumbuhan tertekan dengan tingginya padat tebar, namun efisiensi pakan perlakuan padat tebar tinggi nilainya sama dengan perlakuan padat tebar rendah. Oleh karena itu, peningkatan padat tebar secara nyata mempengaruhi nafsu makan ikan. Ikan yang dipelihara pada kepadatan tinggi menunjukkan penurunan nafsu makan yang ditandai dengan jumlah konsumsi pakan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pada kepadatan rendah. Terjadinya penurunan nafsu makan ini berkorelasi dengan nilai amonia (NH3) dan nitrit, yakni pada perlakuan padat tebar tinggi yang memiliki rentang nilai lebih tinggi. Semakin meningkatnya padat tebar mengakibatkan semakin banyaknya amonia yang diekskresikan (Sofian et al., 2016).

3.      PENUTUP

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah tersebut diatas adalah sebagai berikut:
1.
Densitas/padat tebar merupakan jumlah ikan yang ditebar dalam wadah budidaya per satuan luas atau volume.
2.
Densitas dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ikan, karena akan terjadi kompetisi ruang gerak, perebutan oksigen terlarut dalam perairan, serta penurunan pertumbuhan benih ikan.
3.
Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian tentang pengaruh padat tebar (densitas) pada suatu perairan yaitu menggunakan rancangan  acak  lengkap  (RAL)  dengan tiga perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.
4.
Densitas/padat tebar yang tinggi akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan individu, penurunan pemanfaatan pakan pada ikan, kandungan oksigen menjadi rendah, meningkatnya amonia (NH3), nitrit, dan karbondioksida di perairan.

SARAN
Disarankan para pembaca untuk membaca makalah ini, karena akan memperoleh pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui. Apabila terdapat kritik maupun saran, akan sangat membantu untuk pembuatan makalah yang lebih baik ke depannya. Sekiranya terdapat kesalahan, mohon dapat dimaafkan dan dimaklumi sebab manusia tidak luput dari kesalahan.

PENULIS
Sherly Oktaviyanti
Farida Mauludia 
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alfia, Averus R., Endang A., Tita E. 2013. Pengaruh Kepadatan yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan dan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Pada Sistem Resikurlasi Dengan Filter  Bioball. Journal of Aquaculture Management and Technology. Vol. 2 No. 3: hal 86-93.
Karlyssa, Frizca J., Irwanmay., Rusdi L. 2014. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Nila Gesit (Oreochromis niloticus). Jurnal Perikanan. Hal 76-85.
Priyadi, Agus., Rendy G., Asep P., Jacques S. 2010. Tingkat Densitas Larva Biota (Chromobotia macracanthus) Dalam Satuan Volume Air Pada Akuarium Sistem Resirkulasi. Jurnal Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Hal 439-446.
Reksono, Bayu., Herman H., Yuniarti MS. 2012. Pengaruh Padat Penebaran Gracilaria sp. Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos chanos )  Pada Budidaya Sistem Polikultur. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol. 3 No. 3: hal 41-49.
Siregar, Riwaldy., Eryusni., Indra Lesmana. 2015. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan Ikan Redfin (Epalzeorhynchos frenatum). Jurnal Perikanan.
Sofian., Dedi J., Sri N. 2016. Pertumbuhan dan Status Antioksidan Ikan Gurami yang Diberi Level Suplementasi Astaxanthin Berbeda. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol. 15 No. 1: 24-31.
Utami, Rizki., Tavi Supriana., Rahmanta Ginting. 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif. Jurnal Perikanan.
Waker, M. Bobbie., Yunasfi., Syammaum. U. 2015. Pengaruh Padat Tebar Tinggi Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Jurnal Perikanan.
Yunus, Taufiq., Hasim dan Rully. 2013. Pengaruh Padat Penebaran yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus ) di Balai Benih Ikan (BBI) Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Jurnal Perikanan.

No comments:

Post a Comment