Friday, March 27, 2020

Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Larva Ikan Mas (Limnologi Atau Limnology)


Ikan, Ikan Mas, Pola, Tekstur, Air, Kolam, Danau, Hewan

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki kekayaan alam yang banyak dan beraneka ragam. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km 2, panjang garis pantai ± 95,181 km, dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.480 pulau. Kekayaan Indonesia berupa sumberdaya perikanan yang sangat luas menjadi modal dasar dalam pembangunan nasional sekaligus memiliki potensi yang sangat besar bagi pembangunan kelautan dan perikanan.

Faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan selain pakan adalah kualitas air terutama suhu. Karena suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan. Suhu dapat mempengaruhi aktivitas penting ikan seperti pernapasan, pertumbuhan, dan reproduksi. Suhu yang tinggi dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut dan mempengaruhi selera makan ikan.

Ikan mempunyai suhu optimum tertentu untuk selera makannya. Menurut Cholik et al. (1986), bahwa kenaikan suhu perairan diikuti oleh derajat metabolisme dan kebutuhan oksigen organisme akan naik pula. Suhu optimum untuk selera makan ikan adalah 25 – 27oC, suhu optimum ini akan dicapai pada pagi dan sore hari.

Dalam rangka meningkatkan kelangsungan hidup dan mempercepat proses pertumbuhan ikan, maka perlu dilakukan pengkajian mengenai suhu yang optimal untuk kelangsungan hidup. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui akibat dari adanya perubahan suhu terhadap pertumbuhan dan kelangsung hidup larva ikan mas.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan mas ?
Bagaimana pengaruh suhu terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan mas ?
Berapakah suhu yang optimum untuk kelangsungan hidup larva ikan mas ?

TUJUAN
Menjelaskan aspek yang harus diperhatikan untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan mas.
Menjelaskan akibat dari adanya perubahan suhu terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan mas.
Menjelaskan suhu yang optimum dalam pemeliharaan larva ikan mas.

BAB II
PEMBAHASAN

KLASIFIKASI IKAN MAS
Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih ke samping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan ikan mas yang berasal dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Jenis ikan mas merupakan salah satu komoditas dari sektor perikanan yang dapat dibudidayakan pada beberapa lahan yang memenuhi syarat tumbuhnya ikan mas. Pembudidayaan ikan mas di Indonesia banyak ditemui di Jawa dan Sumatera dalam bentuk empang, maupun keramba terapung yang diletakkan di danau atau waduk besar. Habitat aslinya di alam meliputi sungai berarus tenang sampai sedang dan di area danau yang dangkal. Perairan yang disukai tentunya yang banyak menyediakan pakan alaminya. Adapun klasifikasi dari ikan Mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut:

Klasifikasi ikan mas menurut Kottelat et al.(1993) dalam Sinaga (2012), adalah sebagai berikut:
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Sub filum
Vertebrata
Kelas
Pisces
Sub kelas
Teleostei
Ordo
Ostariophysi
Sub ordo
Cyprinoidea
Famili
Cyprinidae
Sub famili
Cyprininae
Genus
Cyprinus
Spesies
Cyprinus carpio

KUALITAS AIR UNTUK PEMBESARAN IKAN
Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan diuji berdasarkan parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115: Tahun 2003), kualitas air tersebut dapat dinyatakan dengan parameter fisik karakteristik air dan kualitas air sungai. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan-bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Parameter fisik tersebut adalah kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, dan suhu (Nisa et al.,2015).

Kualitas air adalah suatu keadaan dan sifat-sifat fisik, kimia dan biologi suatu perairan yang hasilnya harus optimal. Sehingga kualitas harus diketahui oleh pembudidaya agar mendapatkan profit dalam budidaya. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kualitas air: 1) Tingkat pemanfaatan dari penggunaan air; 2) Faktor kualitas alami sebelum dimanfaatkan; 3) Faktor yang menyebabkan kualitas air bervariasi; 4) Perubahan kualitas air secara alami; 5) Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kualitas air; 6) Persyaratan kualitas air dalam penggunaan air; 7) Pengaruh perubahan dan keefektifan kriteria kualitas air; 8) Perkembangan teknologi.

PERTUMBUHAN
Menurut Mallaya (2007) dalam Kusriani et al. (2012), Nilai FCR pada ikan mas yang diberi pestisida lebih besar dibandingkan pada ikan mas yang tanpa pemberian pestisida. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh racun pestisida yang masuk pada tubuh ikan , dapat berpengaruh pada fungsi respirasi dari insang sehingga menghambat proses metabolisme dalam tubuh.pada kondisi seperti ini ikan stres dan mengalami hipoksia sehingga nafsu makan ikan berkurang dan menyebabkan nilai rasio konversi pada ikan tinggi. Hipoksia atau diplesi oksigen merupakan fenomena yang terjadi di lingkungan akuatik dimana molekul oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang. Pada kondisi seperti ini merupakan suatu titik yang merugikan bagi organisme hidup, dimana pertumbuhan ikan terganggu apabila terjadi kondisi ini.

Pertumbuhan adalah perpanjangan berat dan panjang ikan atau volume. Dimana pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu internal dan eksternal, contoh dari eksternal yaitu lingkungan yang meliputi serangan penyakit, kualitas air, dan ketersediaan pakan. Sedangkan yang internal yaitu sex, gen, spesies ikan. Pemberian pakan dengan konversi pakan yang benar akan membuat ikan dapat tumbuh secara optimal. Suhu yang optimal juga dapat mempengaruhi nafsu makan ikan yang berarti dapat mempercepat pertumbuhan.

SUHU
Secara umum tingkat mortalitas benih pada fase larva sampai 80%. Selain faktor ketersediaan pakan yang sesuai selama periode larva, faktor kualitas air terutama suhu merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan organisme. Dimana perubahan temperatur memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap proses fisiologis dan biologis suatu organisme. Suhu adalah derajat panas atau dinginnya suatu benda (Putri et al,2013).

Penelitian pengaruh suhu rendah yang berpengaruh terhadap transprotasi ikan atau lobster telah dilakukan. Menurut Karmila (2001), menyebutkan bahwa suhu dan waktu terbaik untuk pembiusan ikan jambal siam dengan suhu rendah secara bertahap yaitu 15oC selama 15 menit. Sedangkan menurut Ikasari et al. (2008), menyebutkan bahwa metode shock secara langsung selama 45 menit dan metode shock secara bertahap selama 30 menit berpeluang untuk digunakan penangan dan transportasi lobster air tawar hidup.

Hasil penelitian Busroni (2008), menunjukkan bahwa pada suhu penetasan 28oC menghasilkan presentasi penetasan yang tertinggi, yaitu sebesar 83% dan presentase kelangsungan hidup yang tertinggi sebesar 73% pada larva ikan kerapu sunu. Kemudian menurut Agustina (2007), pada suhu 29 – 33oC penetasan telur sebesar 68,52% menghasilkan presentase kelangsungan hidup larva patin jambal 76,58%.

Ikan mempunyai suhu optimum tertentu untuk selera makannya. Menurut Cholik et. al (1986) bahwa kenaikan suhu perairan diikuti oleh derajat metabolisme dan kebutuhan oksigen organisme akan naik pula, hal ini sesuai dengan hukum Van’t Hoff yang menyatakan bahwa untuk setiap perubahan kimiawi, kecepatan reaksinya naik 2 – 3 kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10°C. Djajasewaka dan Djajadireja (1990) menyatakan bahwa suhu optimum untuk selera makan ikan adalah 25 –  27oC. Suhu optimum seperti ini akan dicapai pada pagi dan sore hari. Menurut Wardoyo (1975) meskipun ikan dapat beraklimatisasi pada suhu yang relatif tinggi, tetapi pada suatu derajat tertentu kenaikan suhu dapat menyebabkan kematian ikan. Cholik et. al (1986) menyebutkan bahwa perubahan drastis suhu sampai mencapai 5oC dapat menyebabkan stress pada ikan atau membunuhnya. Ikan mas dapat tumbuh cepat pada suhu lingkungan berkisar antara 20-28 °C dan akan mengalami penurunan pertumbuhan bila suhu lingkungan lebih rendah. Pertumbuhan akan menurun dengan cepat di bawah suhu 13°C dan akan berhenti makan apabila suhu berada di bawah 5 °C.

STRATIFIKASI SUHU
Menurut Lukman dan Ridwansyah (2010), stratifikasi perairan di danau toba secara vertikal tersebut, diperikaran lapisan epilimnion akan berada pada strata kedalaman 0 - 30 meter, lapisan metalimnoin pada strata kedalaman 30 - 100 meter, lapisan hipolimnion berada pada strata kedalaman > 100 meter.

Suhu tertinggi pada ekosistem perairan tergenang akan di peroleh di lapisan epilimnion karena lebih banyak menerima sinar matahari. Sehingga viscositas air lebih kecil dan fotosintesis terjadi lebih banyak. Difusi dari udara hanya terjadi di lapisan ini. Untuk peraitan selain di wilayah tropis, lapisan epilimnion dapat membeku pada musim dingin. Karena suhu udara yang akan mempengaruhi suhu permukaan air.

Lapisan metalimnion memiliki suhu missal dari 25oC di lapisan epilimnion, pada bagian lebih dalam terukur 15oC. Batas awal perbedaan suhu ini sebagai batas awal lapisan metalimnion. Lapisan ini masih menerima matahari sehingga phytoplankton masih dapat melakukan proses fotosintesis. Viscositas air lebih tinggi daripada lapisan epilimnion, sehingga terjadi difusi oksigen dari lapisan epilimnion. Pada lapisan ini terjadi perubahan suhu secara drastis atau disebut dengan termoklin.

Di bawah lapisan metalimnion akan ditemukan suhu air lebih kecil dari 4oC. Lapisan ini mengalami difusi oksigen dari lapisan metalimnion karena ada perbedaan tekanan air oleh viscositas air. Tetapi karena terbatasnya oksigen di lapisan metalimnion, maka difusi oksigen ini tidak terjadi. Hipolimnion merupakan bagian perairan gelap yang tidak menerima cahaya matahari sehingga tidak ditemukan phytoplankton di lapisan ini karena tidak dapat melakukan proses fotosintesis. Lapisan- lapisan di perairan yang memiliki perbedaan suhu ini akan mempengaruhi pertumbuhan pada ikan yang dibudidayakan. Selain perbedaan pada tersedianya oksigen di perairan juga karena terbatasnya pakan alami berupa plankton untuk ikan.

PERUBAHAN SUHU TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN
Faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan selain pakan adalah kualitas air terutama suhu. Karena suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan. Suhu dapat mempengaruhi aktivitas penting ikan seperti pernapasan, pertumbuhan dan reproduksi. Suhu yang tinggi dapat mengurangi oksigen terlarut dan mempengaruhi selera makan ikan. Suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembangbiak.

Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air, karena bersama-sama dengan zat/unsur yang terkandung didalamnya akan menentukan massa jenis air, dan bersama-sama dengan tekanan dapat digunakan untuk menentukan densitas air. Selanjutnya, densitas air dapat digunakan untuk menentukan kejenuhan air. Suhu air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut berada.

Kenaikan suhu air di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya akan menimbulkan akibat sebagai berikut: 1) Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun; 2) Kecepatan reaksi kimia meningkat; 3) Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, maka akan menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati.

Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa, sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton.

Perbedaan suhu air media dengan tubuh ikan akan menimbulkan gangguan metabolisme. Kondisi ini dapat mengakibatkan sebagian besar energi yang tersimpan dalam tubuh ikan digunakan untuk penyesuaian diri terhadap lingkungan yang kurang mendukung tersebut, sehingga dapat merusak sistem metabolisme atau pertukaran zat. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan ikan karena gangguan sistem pencernaan.

Menurut Dominggas (2009), berdasarkan hasil pertumbuhan berat larva ikan mas pada perlakuan B dengan suhu 28oC memberikan tingkat pertumbuhan  yang berbeda nyata dengan perlakuan A dengan suhu 26oC. Kondisi ini menggambarkan bahwa suhu 28oC memberikan tingkat pertumbuhan berat yang lebih baik dibandingkan perlakuan A. Hal ini membuktikan bahwa suhu media pemeliharaan dapat memberikan laju pertumbuhan yang tinggi pada larva ikan mas.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1.Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai pertumbuhan bentuk ikan baik panjang dan berat sesuai dengan pertambahan waktu, sedangkan kelangsungan hidup dinyatakan sebagai persentase jumlah ikan yang hidup selama jangka waktu pemeliharaan dibagi dengan jumlah ikan yang ditebar

2.Suhu dapat mempengaruhi pernapasan, pertumbuhan serta reproduksi, suhu yang tinggi dapat mengurangi oksigen terlarut dan mempengaruhi selera makan ikan.

3.Perubahan suhu dapat merusak sistem metabolisme atau pertukaran zat, mengganggu sistem pencernaan dan pertumbuhan ikan

4.Perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan ikan stress dan menimbulkan kematian

5. Suhu 28oC merupakan suhu yang optimal untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan mas.

SARAN
Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam usaha pembenihan ikan maka perlu diperhatikan kualitas lingkungan baik fisika maupun kimia. Selain itu, para pembudidaya ikan perlu memperhatikan manajemen pemeliharaan ikan (kolam pemeliharaan maupun pakan) dengan baik, karena hal ini sangat mempengaruhi kesehatan ikan. Selain suhu, banyak faktor yang juga mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan. Disarankan juga diadakan penelitian lanjutan dengan jumlah ikan dan jenis ikan yang lebih banyak agar bisa diperoleh data mengenai kisaran nilai normal terhadap pengaruh perubahan suhu pada ikan.


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno

FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Agustina, A.T.2007. Optimasi Suhu Untuk Penetasan Telur dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal).Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Indralaya.
Busroni.2008. Penetasan Telur Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus sp.) Pada Suhu Yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Indralaya.
Cholik. F., Artati, dan R. Ariffudin.1986. Pengolahan Kualitas Air Kolam.INFIS Manual seri 26.Dirjen Perikanan.Jakarta. 52hal.
Djajasewaka dan Djajadiredja. R.1990 Budidaya Ikan di Indonesia. Cara Pengembangannya. Badan Litbang Pertanian. Lembaga Penelitian Perikanan Darat.Jakarta.48 hal.
Dominggas M., K.2010. Pengaruh Suhu Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Mas (Cyprinus carpio). Berkala Perikanan Terubuk. Vol 38 No.1. Hal 71 – 81.
Ikasari D., Syamdidi, dan Suryaningrum TD.2008. Kajian Fisiologis Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) Pada Suhu Dingin Sebagai Dasar Untuk Penanganan dan Transportasi Hidup Sistem Kering. J Pasca Panen Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3 No.1.DKP Jakarta.
Karmila R. Edison.2001. Pengaruh Suhu dan Waktu Pembiusan Bertahap Terhadap Ketahanan Hidup Ikan Jambal Siam (Pangasius sutchi) Dalam Transportasi Sistem Kering. Jurnal Natur Indonesia 3:151-167.
Kusriani, P.Widjanarko, dan N. Rohmawati.2012. Uji Pengaruh Sublethal Pestisida Daizinon 60 EC Terhadap Rasio Konversi Pakan (FCR) dan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio L.,). Jurnal Penelitian Perikanan 1 (1). Hal 36-42.
Lukman dan Ridwansyah I.2010. Kajian Kondisi Morfometri dan Beberapa Parameter Stratifikasi Perairan Danau Toba. Limnotek 17(2). Hal 158 – 170.
Nisa K., Zulkifli N., dan Khadijal EL.R.2015.Studi Kualitas Perairan Sebagai Alternatif Pengembangan Budidaya Ikan Di Sungai Keureuto Kecamatan Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam.
Putri D.A., Muslim, dan Mirna F.2013. Presentase Penetasan Telur Ikan Betok (Anabas testudineus) Dengan Suhu Inkubasi Yang Berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia 1(2). Hal 184-191
Sinaga, Anasthazya C.H.2016.Pengaruh Garam (NaCl) terhadap Pengendalian Infeksi Argulus sp. pada Ikan Mas (Cyprinus carpio).Skripsi.Manajemen Sumberdaya Perairan.Fakultasi Perikanan dan Ilmu Kelautan, USU.
Wardoyo, S.T.H.1975. Pengolahan Kualitas Air. IPB. Bogor.41 hal.

No comments:

Post a Comment