Tuesday, March 31, 2020

Pengaruh Faktor Fisika Dalam Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Ikan, Budidaya Ikan, Akuarium, Bawah Air

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Budidaya perairan adalah kegiatan pemeliharaan hewan air pada air tawar, payau dan air laut untuk diambil manfaatnya. Di dalam budidaya perairan kita dapat membudidayakan baik binatang meliputi crustacea, moluska dan ikan bersirip, serta tanaman air contohnya rumput laut. Dalam hal budidaya kita harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu faktor fisika, kimia, dan biologi.

Menurut Tatangindatu (2013), masalah yang selalu timbul dalam sistem budidaya karamba jaring apung dan jaring tancap adalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh berbagai kegiatan disekitar perairan maupun usaha budidaya itu sendiri. Pencemaran ini dapat berupa pencemaran fisika – kimia. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan data kualitas air khususnya parameter fisika – kimia agar dapat diketahui sejauh mana daya dukung kualitas air untuk kegiatan budidaya jaring apung dan jaring tancap saat ini. Tujuannya adalah untuk menganalisis parameter fisika – kimia yang meliputi suhu, kecerahan, pH, oksigen terlarut, nitrat, fosfat, amoniak dan BOD pada lokasi budidaya karamba jaring apung dan jaring tancap untuk menunjang pertumbuhan yang optimal.

RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud dengan faktor fisika?
Apa macam-macam faktor fisika?
Apa pengaruh faktor fisika dalam kegiatan budidaya?

TUJUAN
Untuk mengetahui apa itu faktor fisika perairan
Untuk mengetahui pengaruh faktor fisika dalam kegiatan budidaya
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Limnologi
BAB II
PEMBAHASAN

FAKTOR FISIKA
Faktor fisika dalam kualitas air merupakan faktor yang bersifat fisik. Dalam arti faktor fisika dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan air dapat diketahui secara visual, sedangkan perubahan bau pada air dapat dideteksi dengan penciuman, peraba pada kulit dapat membedakan suhu air, serta rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh lidah (indera perasa). Untuk mengukur faktor fisika kita tidak perlu melakukan uji laboratorium, kita dapat mengukurnya langsung di lapang.

FAKTOR FISIKA DAN PENGARUH TERHADAP BUDIDAYA IKAN

PENGERTIAN SUHU
Suhu adalah derajat panas dinginnya suatu perairan. Suhu merupakan salah satu faktor penting untuk kelangsungan kehidupan ikan di suatu perairan. Faktor yang mempengaruhi suhu adalah intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan dan kedalaman perairan. Tiap kenaikan suhu 10OC metabolisme ikan akan meningkat dua kali lipat.

Menurut Tatangindatu (2013), suhu mempunyai peranan penting dalam menentukan pertumbuhan ikan yang dibudidaya, kisaran yang baik untuk menunjang pertumbuhan optimal adalah 28 0C – 32 0C. Kisaran untuk kegiatan budidaya air tawar adalah deviasi 3 sedangkan toleransi suhu perairan yang baik untuk menunjang pertumbuhan optimal dari beberapa ikan budidaya air tawar seperti mas dan nila adalah 28OC.
PENGERTIAN KECERAHAN
Kecerahan perairan adalah kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Kecerahan sangat penting karena berhubungan dengan proses fotosintesis. Hasil dari proses fotosintesis berupa oksigen sendiri dapat digunakan langsung oleh organisme yang ada pada kolam. Kecerahan suatu perairan dapat diukur menggunakan secchi disk.

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi. Kecerahan digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkanoleh bahan-bahan yang melayang. Kecerahan merupakan indikator penetrasi cahaya matahari yang masuk ke badan perairan, sehingga dapat mengalami proses fotosintesis dan produksi primer perairan. Kecerahan dapat untuk mengetahui sampai dimana proses asimilasi dapat berlangsung di dalam air. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan. Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad renik atau plankton. Nilai kecerahan yang baik untuk pemeliharaan ikan adalah antara 98,2 – 102 cm (Pujiastuti et al., 2013)..

PENGERTIAN KEKERUHAN
Kekeruhan suatu perairan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut serta berupa plankton dan mikroorganisme lain. Kekruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi dan daya lihat organisme akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya kedalam air.

Menurut Wijaya dan Hariyati (2011), kekeruhan adalah suatu ukuran biasan cahaya di dalam air yang disebabkan oleh adanya partikel koloid dan suspensi yang terkandung dalam air. Kekeruhan air disebabkan oleh lumpur, partikel tanah, potongan tanaman atau fitoplankton. Kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi yang ada dalam air tersebut.

PENGERTIAN KEDALAMAN PERAIRAN
Kedalaman perairan adalah tinggi rendahnya perairan yang diukur dari dasar hingga permukaan perairan. Kedalaman suatu perairan dipengaruhi oleh topografi dan padatan tersuspensi. Semakin dalam perairan semakin rendah kecerahannya.

Menurut Hasim et al. (2015), Kedalam merupakan parameter fisik yang menunjukan ukuran ketinggian air dari dasar perairan. Kedalam sangat mempengaruhi suatu kegiatann budidaya perikanan khususnya untuk kegiatan budidaya di karamba jaring apung. Kedalaman minimum untuk kegiatan budidaya menggunakan karamba jaring apung adalah 2 meter dari dasar perairan.

PENGERTIAN WARNA PERAIRAN
Warna perairan disebabkan oleh bahan-bahan terlarut seperti humus, plankton, partikel-partikel tanah, dan partikel baha organik. Warna perairan tergantung apa yang mendominasi pada perairan tersebut. seperti jika perairan berwarna biru kehijauan maka perairan tersebut mengandung alga biru, bila berwarna kecoklatan perairan mengandung humus, jika berwarna hijau kecoklatan perairan mengandung diatom dan chlorophyceae, dan seterusnya. Warna yang baik untuk budidaya ikan sendiri adalah warna hijau kecoklatan karena mengandung pakan alami bagi organisme yang dibudidayakan.

Warna air mempunyai hubungan dengan kualitas perairan. Warna perairan dipengaruhi oleh adanya padatan terlarut dan padatan tersupensi. Nilai warna perairan diduga ada kaitannya dengan masuknya limbah organik dan anorganik yang berasal dari kegiatan keramba jaring apung dan permukiman penduduk di sekitar perairan danau. Kondisi ini juga dapat meningkatkan blooming pertumbuhan fitoplankton dari filum Cyanophyta (Pujiastuti et al., 2013).

PENGERTIAN KECEPATAN ARUS
Kecepatan arus adalah pergerakan masa air secara horizontal dan vertikal dengan membawa nutrient. Kecepatan arus suatu perairan dapat diukur menggunakan alat current meter konvensional. Pergerakan air memiliki peranan penting yaitu untuk distribusi temperatur atau suhu, peredaraan zat-zat terlarut, dan untuk distribusi organisme terutama plankton.

Menurut Mudeng et al. (2015), gerakan air yang cukup akan membawa nutrien yang cukup pula dan sekaligus mencuci kotoran yang menempel pada thallus, membantu pengudaraan dan mencegah adanya fluktuasi suhu air yang besar. Besarnya kecepatan arus yang ideal antara 20-40 cm/det. Arus yang kuat dapat menyebabkan kekeruhan hingga menghalangi fotosintesis.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Faktor fisika dalam kualitas air merupakan faktor yang bersifat fisik. Dalam arti faktor fisika dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Macam-macam faktor fisika adalah suhu, kecerahan, kekeruhan, kedalaman, warna perairan, dan kecepatan arus. Suhu yang optimal untuk budidaya adalah 28-32OC. Kecerahan yang optimal untuk budidaya adalah 98,2-102 cm. Kekeruhan disebabkan oleh adanya partikel koloid dan zat tersuspensi yang terkandung dalam air. Kedalaman yang optimal untuk budidaya minimal 2 meter dari dasar. Warna perairan yang baik untuk budidaya adalah coklat kehijauan. Kecepatan arus yang ideal adalah 20-40 cm/s.

SARAN
Dalam mengerjakan makalah sebaiknya penulis lebih banyak mencari referensi agar ilmu yang didapat lebih banyak.

PENULIS
Ramanda Ahmad Rizal Rifa’i         
Yuri Aulia Pangestu
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Hasim., Y.Koniyo. dan F. Kasim. 2015. Parameter Fisik-Kimia Perairan Danau Limboto sebagai dasar Pengembangan Perikanan Budidaya Air Tawar. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 3(4): 130-136
Mudeng, J. D., M. E. F. Kolopita. Dan A. Rahman. 2015. Kondisi Lingkungan Perairan Pada Lahan Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Di Desa Jayakarsa Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Budidaya Perairan. 3(1):172-186
Pujiastuti, P., Bagus, I., Pranoto. 2013. Kualitas Dan Beban Pencemaran Perairan Waduk Gajah Mungkur. JurnalEkosainsvol 5 (1)
Tatangindatu, F., O. Kalesaran. Dan R. Rompas. 2013. Studi Parameter Fisika Kimia Air pada Areal Budidaya Ikan di Danau Tondano Desa Paleloan, Kabupaten Minahasa. Jurnal Budidaya Perairan. 1(2):8-19
Wijaya, T. S dan R. Hariyati. 2011. Struktur Komunitas Fitoplankton sebagai Bio Indikator Kualitas Perairan Danau Rawapening Kabupaten Semarang Jawa Tengah. 19(1):55-61

Monday, March 30, 2020

Pengaruh Densitas Terhadap Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Budidaya Ikan, Ikan, Makan, Ikan Trout, Makanan

1.      PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia mempunyai luas wilayah serta adanya sumber daya alam yang mendukung untuk dapat mengembangkan usaha budidaya udang/ikan. Sistem budidaya udang/ikan terdiri dari sistem ekstensif (tradisional) dan sistem intensif. Sistem ekstensif (tradisional) masih mendominasi tambak-tambak rakyat Indonesia. Tambak udang/ikan sistem ekstensif (tradisional) adalah tambak yang sistem pengelolaannya benar-benar bergantung pada kemurahan alam. Sistem ekstensif (tradisional) sangat sederhana sehingga pengelolaannya tidak rumit. Budidaya tambak udang/ikan sistem intensif memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan budidaya sistem ekstensif. Budidaya sistem intensif lebih banyak menggunakan input produksi. Salah satu ciri dari sistem budidaya intensif adalah padat tebar yang tinggi (Utami et al., 2014).

Menurut Baras (2009) dalam Priyadi et al. (2010), pengetahuan mengenai pengaruh padat adalah sangat penting untuk menunjang upaya produksi massal dari ikan yang saat ini coba dikembangkan. Hal ini akan menjadi sangat penting apabila di masa yang akan datang, para importir ikan membatasi produk mereka dengan produk-produk perikanan yang hanya diproduksi melalui proses budidaya. Upaya peningkatan padat tebar harus diiringi dengan kemampuan ikan untuk tumbuh dan mempertahankan tingkat sintasan yang maksimal. Peningkatan padat tebar tanpa disertai dengan kualitas air yang terkontrol akan menyebabkan penurunan sintasan ikan dan pertumbuhan yang lambat. Dengan demikian, untuk dapat meningkatkan sintasan larva ikan, selain memperhatikan faktor padat tebar juga harus diperhatikan kualitas air media pemeliharaannya.

Dalam budidaya perikanan perlu mengetahui tingkatan padat tebarnya. Apabila semakin tinggi padat tebarnya, maka semakin banyak pula kegiatan yang dilakukan oleh pengelolaannya. Peningkatan padat tebar dilakukan untuk memperbanyak produksi dan pemanfaatan lahan secara optimal. Padat tebar merupakan jumlah kepadatan ikan setiap meter per segi nya (m¬2). Pada sistem budidaya intensif biasanya padat tebar tinggi dan pakan yang diberikan tidak hanya pakan alami tetapi, juga pakan buatan sebab pakan alami tidak mencukupi kebutuhan ikan. Sedangkan pada sistem budidaya semi intensif biasanya padat tebar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah serta pakan yang diberikan yaitu pakan alami dan buatan. Terakhir pada sistem budidaya ekstensif biasanya padat tebar rendah dan pakan yang diberikan yaitu pakan alami.

RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan densitas/padat tebar?
2.
Bagaimana pengaruh densitas bagi budidaya ikan?
3.
Metode apa saja yang digunakan untuk mengetahui pengaruh padat tebar?
4.
Apa yang menyebabkan densitas tinggi pada kegiatan budidaya?
         
TUJUAN

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui maksud dari densitas/padat tebar.
2.
Mengetahui pengaruh densitas bagi budidaya ikan.
3.
Mengerti metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh padat tebar.
4.
Mengerti penyebab densitas tinggi pada kegiatan budidaya.

2.      PEMBAHASAN

PENGERTIAN DENSITAS ATAU PADAT TEBAR
Menurut Priyadi et al. (2010), padat tebar merupakan salah satu variabel yang sangat penting dalam bidang budidaya karena berpengaruh secara langsung terhadap sintasan, pertumbuhan, tingkah laku, kesehatan, dan kualitas air. Lebih lanjutnya bahwa hubungan yang negatif maupun positif antara padat tebar dengan pertumbuhan telah dilaporkan, dan pola dari interaksi ini muncul secara spesifik pada tiap-tiap spesies. Tingkat padat tebar yang tepat akan memberikan kesempatan bagi ikan dalam memanfaatkan pakan, oksigen, dan ruang sehingga pertumbuhan berjalan secara optimal dan menghasilkan sintasan yang tinggi.

Padat penebaran ikan merupakan jumlah ikan yang ditebar dalam wadah budidaya per satuan luas atau volume. Kepadatan benih ikan pada pendederan I (ukuran 4-6 cm) umumnya adalah 1 ekor/liter. Kepadatan yang berbeda sangat berpengaruh nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan, tetapi tidak berpengaruh nyata dengan kelulushidupan ikan dengan pada sistem resirkulasi. Hal ini diduga ikan pada perlakuan A mempunyai ruang gerak yang lebih luas sehingga konsumsi pakan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan B maupun perlakuan C yang berpengaruh pada nafsu makan (Alfia et al., 2013).

Menurut Wardoyo et al. (2007) dalam Karlyssa et al., (2014), pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah padat penebaran. Padat penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup yang mengarah kepada tingkat produksi. Permasalahan yang timbul akibat ikan ditebar dalam keadaan padat adalah kompetisi untuk mendapatkan pakan dan ruang gerak. Perbedaan dalam memanfaatkan pakan dan ruang gerak mengakibatkan pertumbuhan ikan bervariasi. Dan jika kualitas air sebagai media hidup bagi ikan memburuk dapat menurukan pertumbuhan ikan bahkan dapat menyebabkan menurunnya kelangsungan hidup ikan/kematian.

PENGARUH DENSITAS BAGI BUDIDAYA IKAN
Menurut Kadarini et al. (2010) dalam Yunus et al., (2013), padat penebaran selain dapat menyebabkan kompetisi ruang gerak dan perebutan oksigen terlarut pada ikan. Hal ini juga dapat menyebabkan ikan mengalami stres, sehingga menghambat metabolisme dan mengakibatkan nafsu makan ikan menurun. Ikan yang mengalami stres diduga karena tidak dapat menerima kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kehidupannya. Padat penebaran yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan berat benih ikan.

Tingkat padat tebar akan mempengaruhi keagresifan ikan. Ikan yang dipelihara dalam kepadatan yang rendah akan lebih agresif, sedang ikan yang dipelihara dalam kepadatan yang tinggi akan lambat pertumbuhannya karena tingginya tingkat kompetisi dan banyaknya sisa-sisa metabolisme yang terakumulasi dalam media air. Selama masa pemeliharaan, berat dan panjang benih ikan lele menunjukkan peningkatan untuk setiap kepadatan. Pertambahan bobot ikan diiringi dengan pertambahan panjang ikan tersebut atau laju pertumbuhan bobot harian berbanding lurus dengan laju pertumbuhan panjang harian ikan. Diduga pengaruh terhadap panjang sudah terjadi pada awal pemeliharaan karema adanya perbedaan kepadatan. Ruang gerak ikan yang semakin sempit dalam suatu wadah dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi terganggu (Waker et al., 2015).

METODE UNTUK MENGETAHUI PENGARUH PADAT TEBAR
Menurut Waker et al. (2015), metode yang digunakan untuk melakukan penelitian tentang pengaruh padat tebar (densitas) pada suatu perairan yaitu menggunakan rancangan  acak  lengkap  (RAL)  dengan tiga perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, yaitu :
1.   Perlakuan P1 dengan padat tebar 600 ekor/m³.
2.   Perlakuan P2 dengan padat tebar 700 ekor/m³.
3.   Perlakuan P3 dengan padat tebar 800 ekor/m³.
Penelitian untuk mengetahui padat tebar menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang  sebanyak 3 kali yaitu; Perlakuan 1 dengan padat tebar 1 ekor/liter (P1) ; Perlakuan 2 dengan padat    tebar    1,5    ekor/liter    (P2)    ; Perlakuan 3 dengan padat tebar 2 ekor/liter (P3). Rancangan ini digunakan karena keragaman kondisi lingkungan, alat, bahan   dan   media   yang   digunakan adalah homogen atau letak/posisi masing-  masing  unit  tidak mempengaruhi hasil percobaan, dan percobaan ini   dilakukan pada kondisi terkendali atau setiap unit percobaan secara keseluruhan memiliki peluang yang sama besar untuk menempati akuarium percobaan  (Hanafiah, 2007 dalam Siregar et al., 2015).

Metode yang digunakan dalam penelitian pengaruh padat penebaran Gracilaria sp adalah metode eksperimental dengan rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan pada penelitian ini adalah perbedaan padat tebar ikan bandeng dan Gracilaria sp. Sebagai berikut : tanpa Gracilaria sp (A), Gracilaria sp. sebanyak 250 kg (B), Gracilaria sp. sebanyak 500 kg (C). Prosedur penelitian ini terdiri dari persiapan tambak, penyiapan hewan uji dan tumbuhan uji, dan pelaksanaan penelitian. Penyesuaian pH dan salinitas anatar air yang ada didalam kantong dengan air tambak. Ikan bandeng yang telah menyesuaikan diri akan berenang keluar kantong plastic menuju perairan tambak. Setelah tambak, ikan bandeng dan  Gracilaria sp. beradaptasi, lalu penelitian dilaksanakan (Reksono et al., 2012).

PENYEBAB DENSITAS TINGGI PADA KEGIATAN BUDIDAYA
Menurut Yunus et al. (2013), pada tingkat kepadatan yang terlalu tinggi, sering menyebabkan laju pertumbuhan individu dan pemanfaatan pakan pada ikan menurun. Selain itu, tingginya tingkat kepadatan pada setiap perlakuan mengakibatkan semakin rendahnya panjang benih ikan. Pada padat penebaran yang terlalu tinggi, ikan akan berkompetisi untuk mendapatkan ruang gerak, pakan, dan kebutuhan oksigen antar individu yang menyebabkan ikan stres dalam jangka waktu yang lama. Keadaan ikan yang stres secara terus menerus menyebabkan fungsi normal ikan akan terganggu sehingga pertumbuhan ikan menjadi lambat. Jika ikan dipelihara dalam padat penebaran rendah maka pertumbuhannya lebih baik dibandingkan pada padat penebaran tinggi.

Ikan yang dipelihara pada padat tebar tinggi memiliki bobot individu yang lebih rendah daripada ikan yang dipelihara pada padat tebar rendah. Rendahnya bobot ikan pada perlakuan kepadatan tinggi ini berkorelasi dengan jumlah konsumsi pakan per individu ikan dan laju pertumbuhan yang juga lebih rendah. Walaupun jumlah konsumsi pakan dan pertumbuhan tertekan dengan tingginya padat tebar, namun efisiensi pakan perlakuan padat tebar tinggi nilainya sama dengan perlakuan padat tebar rendah. Oleh karena itu, peningkatan padat tebar secara nyata mempengaruhi nafsu makan ikan. Ikan yang dipelihara pada kepadatan tinggi menunjukkan penurunan nafsu makan yang ditandai dengan jumlah konsumsi pakan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pada kepadatan rendah. Terjadinya penurunan nafsu makan ini berkorelasi dengan nilai amonia (NH3) dan nitrit, yakni pada perlakuan padat tebar tinggi yang memiliki rentang nilai lebih tinggi. Semakin meningkatnya padat tebar mengakibatkan semakin banyaknya amonia yang diekskresikan (Sofian et al., 2016).

3.      PENUTUP

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah tersebut diatas adalah sebagai berikut:
1.
Densitas/padat tebar merupakan jumlah ikan yang ditebar dalam wadah budidaya per satuan luas atau volume.
2.
Densitas dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ikan, karena akan terjadi kompetisi ruang gerak, perebutan oksigen terlarut dalam perairan, serta penurunan pertumbuhan benih ikan.
3.
Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian tentang pengaruh padat tebar (densitas) pada suatu perairan yaitu menggunakan rancangan  acak  lengkap  (RAL)  dengan tiga perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.
4.
Densitas/padat tebar yang tinggi akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan individu, penurunan pemanfaatan pakan pada ikan, kandungan oksigen menjadi rendah, meningkatnya amonia (NH3), nitrit, dan karbondioksida di perairan.

SARAN
Disarankan para pembaca untuk membaca makalah ini, karena akan memperoleh pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui. Apabila terdapat kritik maupun saran, akan sangat membantu untuk pembuatan makalah yang lebih baik ke depannya. Sekiranya terdapat kesalahan, mohon dapat dimaafkan dan dimaklumi sebab manusia tidak luput dari kesalahan.

PENULIS
Sherly Oktaviyanti
Farida Mauludia 
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA
Alfia, Averus R., Endang A., Tita E. 2013. Pengaruh Kepadatan yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan dan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Pada Sistem Resikurlasi Dengan Filter  Bioball. Journal of Aquaculture Management and Technology. Vol. 2 No. 3: hal 86-93.
Karlyssa, Frizca J., Irwanmay., Rusdi L. 2014. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Ikan Nila Gesit (Oreochromis niloticus). Jurnal Perikanan. Hal 76-85.
Priyadi, Agus., Rendy G., Asep P., Jacques S. 2010. Tingkat Densitas Larva Biota (Chromobotia macracanthus) Dalam Satuan Volume Air Pada Akuarium Sistem Resirkulasi. Jurnal Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Hal 439-446.
Reksono, Bayu., Herman H., Yuniarti MS. 2012. Pengaruh Padat Penebaran Gracilaria sp. Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos chanos )  Pada Budidaya Sistem Polikultur. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol. 3 No. 3: hal 41-49.
Siregar, Riwaldy., Eryusni., Indra Lesmana. 2015. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan Ikan Redfin (Epalzeorhynchos frenatum). Jurnal Perikanan.
Sofian., Dedi J., Sri N. 2016. Pertumbuhan dan Status Antioksidan Ikan Gurami yang Diberi Level Suplementasi Astaxanthin Berbeda. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol. 15 No. 1: 24-31.
Utami, Rizki., Tavi Supriana., Rahmanta Ginting. 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tambak Udang Sistem Ekstensif dan Sistem Intensif. Jurnal Perikanan.
Waker, M. Bobbie., Yunasfi., Syammaum. U. 2015. Pengaruh Padat Tebar Tinggi Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Jurnal Perikanan.
Yunus, Taufiq., Hasim dan Rully. 2013. Pengaruh Padat Penebaran yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus ) di Balai Benih Ikan (BBI) Kota Gorontalo Provinsi Gorontalo. Jurnal Perikanan.

Pengaruh Besi (Fe) Terhadap Budidaya Ikan (Limnologi Atau Limnology)


Dayung Roda, Aerator, Menyuntikkan, Air, Menitik

1.PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Air merupakan bagian integral dari kehidupan manusia sehari-hari, namun hampir 98% dari air ini berada di lautan, dan hanya sekitar 45.000 km3 (0,003%) dari air tawar tersedia untuk minum, kebersihan, pertanian dan industri. Dengan bertambahnya populasi manusia yang cepat, secara global terdapat kekurangan air tawar dan kompetisi untuk sumber yang berkurang ini semakin meningkat. Keberadaan air dapat menjadi masalah apabila air ti-dak tersedia dalam kondisi yang baik dalam kuanti-tas maupun kualitasnya. Kualitas air perairan diten-tukan oleh beberapa faktor seperti zat yang terlarut, zat yang tersuspensi, dan makhluk hidup khususnya jasad renik dalam air (Imamsjah, 2001). Air yang tidak mengandung zat terlarut tidak baik untuk ke-hidupan, tetapi zat terlarut dinyatakan bersifat racun jika melebihi standar baku mutu yang telah ditentu-kan (Mahida, 2003). Menurunnya kualitas perairan disebabkan masuknya sumber polutan ke dalam ba-dan air, salah satunya logam Fe.

Perairan laut Indonesia selain dimanfaatkan sebagai sarana perhubungan lokal maupun internasional, juga memiliki sumber daya laut yang sangat kaya, antara lain sumber daya perikanan, terumbu karang, mangrove, bahan tambang, dan daerah pesisir pantai dapat dimanfaatkan sebagai wisata yang menarik (Rengki, 2011).

Di lihat dari aspek biologi, logam dibagi atas 3 kelompok, yaitu logam ringan, logam transisional dan logam metalloid. Logam ringan secara normal di transfor  sebagai kation yang mobile dalam larutan encer, seperti Na, K dan Ca. Logam transisional adalah logam yang esensial pada konsentrasi rendah, tetapi dapat menjadi toksik pada konsentrasi tinggi, misal Fe, Cu, Co dan Mg. Metalloid adalah logam yang umumnya tidak di perlukan untuk aktivitas metabolisme dan toksik terhadap sel pada konsentrasi yang rendah, misalnya Hg, Pb, Sn, Se dan As.

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian budidaya perikanan ?
Apa yang di maksud dengan Besi (Fe) ?
Sebutkan jenis-jenis budidaya perikanan !
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Budidaya perikanan?
Apa pengaruh besi terhadap budidaya perikanan ?

TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui lebih dalam pengertian budidaya perikanan.
Untuk mengetahui pengertian dari Besi (Fe).
Untuk mengetahui jenis-jenis budidaya perikanan.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi budidaya   perikanan.
Untuk mengetahui pengaruh besi terhadap budidaya perikanan.

2. PEMBAHASAN

PENGERTIAN BUDIDAYA PERIKANAN
Ruang lingkup budidaya ikan (Fish Culture) adalah pengendalian pertumbuhan dan perkembangbiakan yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas perikanan melalui pemeliharaan dan penambahan sumber-sumber perikanan untuk mengembangkan produksi perikanan laut dan darat serta memperbaiki manajemen perikanan. Kegiatan budidaya perikanan merupakan usaha manusia untuk mengelola faktor-faktor budidaya, hama, dan penyakit organisme budidaya serta dapat memproduksi organisme yang dibudidayakan (Reksono et al., 2012).

Pembudidayaan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan membiakkan ikan dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, menggangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah dan mengawetkannya. Pembangunan kolam ikan dalam kegiatan pembudidayaan ikan faktor-faktor yang sangat perlu dikaji dan dievaluasi yang tenang ketersediaan air dalam hal jumlah dan mutu air, keadaan tanah dan topografi (keadaan muka tanah). Selain faktor tersebut diatas, perlu dikaji status tanah (apakah milik semdiri atau sewa) jenis ikan yang akan dibudidayakan, keadaan pasar, ketersediaan tenaga kerja, makanan ikan serta sarana dan prasarana lainnya seperti jalan (Chakroff,1976 dalam  Koten et al.,2015).

PENGERTIAN BESI ( FE)
Besi atau ferrum (Fe) adalah metal berwarna putih keperakan, liat dan dapat dibentuk. Zat besi terdapat dimana-mana baik di dalam air maupun di dalam tanah dalam berbagai bentuk. Zat besi dalam air biasanya terlarut dalam bentuk senyawa atau garam bikarbonat, garam sulfat, hidroksida dan juga dalam bentuk koloid atau dalam keadaan bergabung dengan senyawa organik (Purba, 2013)

Besi merupakan logam berat yang dibutuhkan dimana zat ini dibutuhkan dalam proses untuk menghasilkan oksidasi enzim cytochrome dan pigmen pernapasan (haemoglobin). Logam ini akan menjadi racun apabila keadaannya terdapat dalam konsentrasi di atas normal (Hasbi, 2007).

JENIS-JENIS BUDIDAYA PERIKANAN
Menurut Sukadi (2002), jenis-jenis dari budidaya perikanan adalah sebagai berikut :

BUDIDAYA AIR TAWAR
Potensi lahan budidaya kolam yang dapat digunakan untuk pembu-didayaan ikan di kolam tercatat 375.800 ha, dan potensi budidaya mina padi yang dimungkinkan untuk budidaya ikan bersama padi (mina padi) mencapai 240.000 ha. Jenis-jenis komoditas ikan air tawar yang dapat dibudidayakan adalah ikan mas, gurame, patin, arwana, nila, mola, tawes, sepat siam, tambakan, lele, udang galah, sidat, belut, kodok lembu dan labi-labi. Perkembangan luas areal budidaya kolam selama enam tahun (1994-2000) mengalami peningkatan rata-rata pertahun sebesar 2,l9Yo yaitu dari 60.892 ha pada tahun 1994 menjadi 68.690 ha pada tahun 2000, karamba/jaing apung meningkat 53,1106 yaitu dari 15 ha tahun 1994 menjadi 5l ha tahun 2000, mina padi meningkat 0,440 yaitu dari 138.277 ha tahun 1994 menjadi 141.270 ha tahun 2000. Perkembangan produksi perikan-an budidaya kolam selama enam tahun (1994-2000) mengalami peningkatan rata-rata pertahun 4,57o/o yaitu 140,10 ribu ton tahun 1994 menjadi 181,84 ribu ton pada tahun 2000, mina padi meningkat 6,66yo yaitu dari 78,20 ribu ton tahun 1994 menjadi 100,33 ribu ton tahun 2000, jaring apung meningkat 35,86% yaitu dari 33,01 ribu ton tahun 1994 menjadi 65,50 ribu ton tahun 2000.

BUDIDAYA AIR PAYAU
Potensi lahan untuk pembudi-dayan di pantai (tambak) sebesar 913.000 ha (Ditjen Perikanan Budi-daya, 2002). Jenis-jenis komoditas budidaya di tambak masih didominasi oleh udang windu, sedangkan jenis lain adalah udang lain (non windu) dan bandeng. Perkembangan luas areal pembudidayaan di pantai (tarnbak) selama enam tahun (1994-2000) mengalami peningkatan ratarata 4,12%o yaitu dari 326.908 ha pada tahun 1994 menjadi 4ll.n0 ha pada tahun 2000, sedangkan produksinya mengalami peningkatan sebesar 4,06yo pertahun yaitu 346,21 ribu ton pada tahun 1994 menjadi430,45 ton pada tahun 2000.

BUDIDAYA LAUT
Pelaksanaan kebijakan pengem-bangan budidaya laut dirintis sejak diterbitkannya keputusan Presiden RI No. 23 tahun 1982 dan Keputusan Menteri Pertanian No. 437 pada tahun yang sama yang mengatur tentang pengembangan usaha budidaya laut. Dalam penerapannya usaha budidaya laut yang berkembang pesat hanya pada budidaya kerang mutiara, rumput laut dan kerapu.Potensi lahan dan perairan untuk pengembangan  budidaya laut diperki-rakan mencapai sekitar 24.528. 178 ha (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002), dengan rencana pengembangan208.365 ha dengan komoditas kakap, kerapu, tiram mutiara, teripang, abalone dan rumput laut. Lahan yang bisa digunakan untuk budidaya laut dan pantai yaitu (a) pantai, (b) pasang surut (intertidat), (c) sublitoral, (d) kolom permukaan air, (e) mid-water, (f) dasar perairan (sea bed). Peningkatan produksi selama periode tahvn 1999-2000 meningkat 8,98o/o yaint dari 135,97 ribu ton tahun 1999 menjadi 148,18 ribu ton tahun 2000, sedangkan luas areal selama periode tahun 1999-2000 mengalami peningkatan 3,74yo yaitu dari 374.000 ha tahun 1999 menjadi 388.000 ha tahun 2000.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BUDIDAYA
Menurut Sukadi (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi budidaya yaitu faktor independen, faktor manusia dan faktor dependen.

Faktor independen
Faktor independen adalah faktor-faktor yang umumnya tidak di pengaruhi oleh faktor lain. Faktor tersebut adalah lingkungan.
Ciri-ciri fisik lingkungan yang penting bagi pengembangan budidaya perikanan sangat bergantung kepada ketersediaan dan kecocokan fisik dari areal untuk pengembangan budidaya perikanan yaitu:
a.   Tersedianya lahan;
b.   Topografi dan elevasi lahan;
c.   Sifat-sifat tanah, teristimewa komposisi, tekstur dan kemampuan menahan air, sifat oseanografi perairan;
d.   Frekuensi, jumlahdan disfiibusi hujan;
e.   Mutu, kuantitas, ketersediaan dan aksesibilitas
f.     Kondisi cuaca, seperti suhu, laju penguapan, perubahan musim, frekuensi topan dan lamanya
g.   Kualitas dan kuantitas populasi;
h.   Akses ke suplai dan pasar.

Faktor Manusia
Faktor manusia meliputi sikap, adat istiadat dan gaya hidup dari warga, stabilitas dan kekuatan ekonomi serta politik dari pemerintah. Faktorfaktor ini beragam dan kompleks, contohnya:
a.   Sikap dan keterampilan produsen relatif terhadap mengadopsi teknologi dan modal untuk ditanamkan dalam produksi.
b.   Perminataan pasar, sikap konsumen, daya beli.
c.   Kemauan dan kemampuan pemerintah melengkapi prasarana, kredit dan sebagainya.
d.   Kemampuan lembaga pemerintah melengkapi sistem dukungan pela-yanan bagi pengembangan budidaya perikanan antara lain pelatihan bagi profesional, penelitian guna mengembangkan teknologi baru, dan penyuluhan.

Faktor Dependen
Faktor dependen adalah faktor-faktor yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut ialah wadah budidaya ikan, input hara, spesies ikan, dan teknologi Wadah budidaya ikan seperti tambak, kolam, keramba dan sebagainya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik dan manusia misalnya:
a.   Kolam lebih cocok di daerah lahan pegunungan
b.   Keramba jaring apung dikembang-kan di perairan waduk dan laut

PENGARUH BESI (FE) TERHADAP BUDIDAYA PERIKANAN
Menurut Elfiana (2010), Secara fisik, keberadaan besi dalam air menyebabkan air berwarna kuning kecoklatan, menimbulkan bau yang tidak enak, memberikan rasa amis dalam air dan memberikan kesempatan tumbuhnya bakteri pengguna besi di dalam sistem air distribusi sehingga dapat mengganggu kesehatan. Kandungan besi maksimum yang diperbolehkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.416/MENKES/PER/IX/1990 tanggal 3 September 1990 adalah 0,3 mg/L. Banyak metode telah dilakukan untuk menyisihkan logam besi dalam air, baik secara fisika maupun kimia. Proses kimia yang sering dilakukan adalah metode aerasi dan oksidasi menggunakan kalium permanganat. Oksidasi dengan kalium permanganat justru menambah permasalahan baru terhadap endapan Mn2+ berwarna hitam. Sedangkan metode aerasi air hasil olahannya masih mengalami perubahan warna menjadi kuning kecoklatan setelah kontak dengan udara. Fenomena ini menggambarkan besi terlarut bersenyawa kompleks dengan organik, dan sulit dihilangkan melalui oksidasi  biasa.

Menurut Purba (2013), Adanya kandungan Fe dalam air menyebabkan warna air tersebut berubah menjadi kuning coklat setelah beberapa saat kontak dengan udara. Disamping dapat mengganggu kesehatan juga menimbulkan bau kurang enak serta menyebabkan warna kuning pada dinding bak serta bercak-bercak kuning pada pakaian. Kondisi inilah yang dikeluhkan oleh warga pemilik air sumur gali tersebut. Salah satu cara untuk menghilangkan zat besi dalam air yakni dengan oksidasi dengan udara atau aerasi. Aerasi telah digunakan secara luas untuk pengolahan air yang mengandung besi atau mangan terlalu tinggi di atas ambang batas sebesar 1 mg/l. Diantaranya Penelitian yang dilakukan oleh Benny (2008) pada air sumur yang berlokasi di Dukuh Siwarak, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang, kandungan Fe nya masih melebihi batas maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 1,6 mg/l, setelah dilakukan proses aerasi menggunakan selama 20 menit dapat memenuhi ambang batas yang diperbolehkan berdasarkan PERMENKES No.416/Menkes/ Per/IX/1990 untuk air bersih sebesar 1,0 mg/ l. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Saleh (2002) secara eksperimen terhadap penurunan zat Besi (Fe) membuktikan bahwa dengan sistem ini mampu menurunkan rata-rata 93,8% kadar zat besi dalam air sumur pompa tangan.


Hasil  penelitian  terhadap  mineral  besi  (Fe)  memnunjukkan  penurunan kadarnya pada  semua  akuarium.  Ini  disebabkan  adanya  aerasi.  Aerasi  bertujuan  untuk meningkatkan  kadar  oksigen  terlarut  di  dalam  akuarium  dengan  suatu  alat berupa aerator  yang  menghasilkan  gelembung-gelembung  udara.  Hal  ini  menyebabkan oksidasi  terhadap  mineral  besi  menjadi ferri  oksida  (FeO3)  yang bisa  mengendap. Endapan  ini  selanjutnya  disedot  oleh  pompa  menuju  filter  akuarium.  Salah  satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah pH. Kandungan mineral besi (Fe) awal air sungai  Tuntungan  Medan  adalah  sebesar 3,2667  mg/L.  Hasil  penelitian  selama  50 hari   memunjukkan   bahwa   pada   akuarium   air sungai   pH   =   5,5   didapatkan kandungan besi (Fe) akhir 0,4343 mg/L.Sedangkan pada akuarium air sungai pH = 262 Prosiding SNYuBe 2013 8,5 didapatkan kandungan besi (Fe) akhir 0,2246 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa pengendapan Fe2O3 terbesar   terjadi   pada   lingkungan   basa   sedangkan   pada lingkungan asam masih dapat melarutkan mineral besi (Fe) dalam jumlah yang lebih banyak. Bahkan  hanya  dalam  waktu  10  hari,  pada  akuarium  pH  =  9,5  sudah didapatkan  kandungan besi  (Fe)  sebesar  0,2688  mg/L. Mineral  besi  (Fe)  sendiri  memegang peranan yang penting dalam tubuh ikan. Unsur ini sangat penting dalam pigmen   darah   (hemoglobin   dan   myoglobin)   dan   terlibat   dalam pengangkutan oksigen dalam darah dan urat daging (otot) serta pemindahan/transfer electron.Ikan dapat  menyerap  zat besi terlarut dari  air melalui insang,  sirip  dan  kulit.Kekurangan mineral  ini  dapat  menyebabkan  anemia  pada  ikan,  konversi  pakan  kurang,  nafsu makan  menurun  dan  abnormalitas.Namun menurut [4],  kelebihan  mineral  ini menyebabkan  gastrointestinal  distress (penyakit  saluran  pencernaan)  pada  ikan sehingga   mengganggu pertumbuhan.Penyerapan   berlebih   dapat   terjadi   pada lingkungan   hidup   yang   memiliki   pH   rendah.  Hasil   penelitian   selama  50   hari menunjukkan  bahwa  pada  akuarium  air  sungai  pH  =  5,5  dengan  kandungan  Fe yang  berfluktuasi  antara  0,4343  mg/L –0,6020    mg/L  didapatkan  pertumbuhan paling  minimum  sebesar  88,02%.  Sedangkan  pertumbuhan  maksimum  sebesar 120,50%  terjadi  pada  lingkungan sedikit  basa  yaitu  pada akuarium  air sungai pada  pH  =  8,5  dengan  kandungan  Fe  yang  berfluktuasi  antara  0,2246 mg/L -0,5610 mg/L.


3. PENUTUP

KESIMPULAN
ü budidayan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan membiakkan ikan dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol.
ü Besi (Fe) adalah metal berwarna putih keperakan, liat dan dapat dibentuk.
ü Jenis-jenis budidaya perikanan adalah budidaya air tawar, budidaya air payau dan budidaya air laut.
ü Faktor-faktor yang mempengaruhi budidaya antara lain faktor independen, faktor manusia dan faktor dependen.
ü Adanya kandungan Besi (Fe) dalam perairan budidaya dapat mempengaruhi perairan tersebut.
ü dengan adanya kandungan besi (Fe) air menjadi berwarna kuning kecoklatan, menimbulkan bau yang tidak enak, memberikan rasa amis.

SARAN
Dengan terselesainya makalah ini di harapkan agar penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi saya dan khususnya bagi orang lain yang membacanya. Penulis sangat berharap pembaca setelah membaca makalah ini dapat meningkatan potensi pembaca dalam mengetahui pengaruh Besi (Fe) dalam budidaya perikanan. Penulis juga mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Apabila ada kritik dan saran itu akan sangat membantu kami untuk membuat makalah yang lebih baik lagi kedepannya.

PENULIS
Erlinda Arianti Putri
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

DAFTAR PUSTAKA

Reksono, Bayu. Herman Hamdani.Yuniarti. 2012. Pengaruh Padat Penebaran Gracilaria sp. Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hhidup Ikan Bandeng (Chanos chanos) Pada Budidaya Sistem Polikultur. Vol 3. No 3.ISSN : 2088-3137.
Koten, Elias. Lukas. .J.J. Mondaringin.Indra. R.NSalindeho. 2015. Evaluasi Usaha pembudidayaan Ikan di Desa matungkas.Vol 3. No 1: 203-210.
Ditjen Perikanan Budidaya. 2002. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia. Jakarta
Syahputra, Benny. 2008. Penurunan Kadar Besi (Fe) Pada Air Sumur Secara Pneumatiksystem.36.72.219.27/km/file_ebook/48Sumur%20Bor%20OKE.pdf.
Saleh, Muh. 2002. Penurunan Kadar Besi (Fe) Pada Air Sumur Pompa Tangan dengan Metode Try Aerator di Kelurahan Tamallayang Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Unhas. Makassar.
Hasbi, R. 2007. Analisis Polutan Logam Tembaga (Cu) Dan Timbal (Pb) Dalam Sedimen Laut Pelabuhan Pantoloan Berdasarkan Kedalamannya (skripsi). UNTAD Press, Palu.
Elfiana. 2010. Penurunan Konsentrasi Besi Dalam Air Secara Oksidasi Kimia Lanjut. Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology). Jurnal Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe Vol.8 No.17, April 2010 ISSN 1693-248X. Jakarta
Purba, Dinata Maxell Findo. Hartini, Eko. 2013. Penurunan Kandungan Zat Besi (Fe) Dalam Air Sumur Dengan Metode Aerasi.Junal Penurunan Kandungan Zat Besi. Semarang
Sukadi, M. Fatuchri. 2002. Peningkatan Teknologi Budidaya Perikanan..Vol.2, No. 2.6l-66.ISSN 1693 – 0339. Jakarta
Imamsjah, R. 2001. Bahan Kimia Beracun. http://www.w3.journal.unair.ac.d.html Diakses pada 8 Februari 2013.
Mahida, U.N. 2003. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.