Sunday, January 5, 2020

Karang Meja (Acropora Hyacinthus); Klasifikasi, Morfologi, Habitat Dll



Karang Meja termasuk Genus Acropora merupakan karakter family Acroporidae dengan septa sederhana dan tidak memiliki  columella) dan dapat didefinisikan dengan cara pertumbuhannya di mana pusat atau aksial corallitenya meluas (Wallace, 1998).

KLASIFIKASI KARANG MEJA
Phylum :  Cnidaria
Sub phylum :  Anthozoa
Klas :  Anthozoa
Sub klas :  Zoantharia
Ordo :  Scleractinia
Sub ordo :  Astrocoeniina
Family :  Acroporidae
Genus :  Acropora
Spesies :  Acropora hyacinthus

MORFOLOGI KARANG MEJA
Karang memiliki bentuk pertumbuhan koloni yang berbeda-beda. Variasi tersebut bisa dipengaruhi oleh sifat karang itu sendiri, maupun kondisi lingkungan tempat dia tinggal. Beberapa pengaruh yang berasal dari kondisi habitat diantaranya adalah intensitas cahaya matahari, pergerarakan gelombang dan arus, ketersediaan nutrien, serta sedimentasi.

Secara umum, bentuk pertumbuhan karang (life form) dibagi menjadi dua, yaitu Acropora dan non-Acropora. Perbedaan yang terdapat diantara keduanya adalah pada Acropora memiliki struktur yang disebut aksial koralit dan radial koralit. Aksial koralit adalah titik tumbuh yang terletak pada ujung cabang yang dimiliki oleh karang. Warna aksial koralit akan cenderung lebih pucat daripada warna karang itu sendiri. Sedangkan radial koralit merupakan titik tumbuh yang terletak pada sisi-sisi karang.

Pada life form Acropora, dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis berdasarkan bentukan karang yang muncul. Tabulate Acropora (ACT) bentukan formasi ini sering disebut juga dengan karang meja karena meskipun mereka memiliki bentuk bercabang, pertumbuhan mereka cenderung mendatar menyerupai meja. Karang jenis ini memiliki suatu penopang pada satu sisi bagian ventral. Contoh dari karang tabulate ini adalah Acropora hyacinthus.


HABITAT DAN PERAN KARANG MEJA DI PERAIRAN
Karang meja tinggal di laut dan menyediakan tempat sebagai substrat bagi banyak spesies binatang lain. Satu simbiosis yang saling menguntungkan satu sama lain. Selain dengan Zooxanthella yang dapat bersimbiosis mutualisme dengan karang ini, kepiting dan udang pun dapat bersimbiosis mutualisme dengan spesies ini. Hewan ini dapat dijadikan tempat menempel oleh larva kepiting. Arus yang diciptakan oleh kepiting dapat mempengaruhi pertumbuhan spesies ini.

REPRODUKSI KARANG MEJA
Cara berkembangbiaknya berawal dari polip. Sebelum dari polip, hewan ini melakukan pembelahan sel. Setelah itu mengalami fragmentasi. Setelah polip mengalami fragmentasi, polipnya menghasilkan gamet. Gamet tersebut akan menjadi zigot hingga polip dewasa.

Perkembangbiakan spesies ini terjadi secara seksual sama seperti perkembangbiakan anemon laut yaitu secara hermaprodit. Dari reproduksi ini lah dihasilkannya polip yang kemudian menempel pada substrat. Setelah menempel pada substrat polip spesies ini membuat kuncup dan melepaskannya saat menetap dan akan tumbuh menjadi dewasa.

PERTUMBUHAN KARANG MEJA
Genus Acropora memiliki jumlah jenis (spesies) terbanyak dibandingkan genus lainnya pada karang. Karang jenis ini biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas penangkapan ikan. Pada Acrpora hyacinthus arah pertumbuhan ke samping atau biasa di sebut hidroliza berbeda dengan karang bercabang yang arah pertumbuhannya ke atas atau disebut hidrokauli. Karang tumbuh membentuk seperti menyerupai meja dengan permukaan lebar dan datar serta ditopang oleh semacam tiang penyangga yang merupakan bagian dari koloninya.

FISIOLOGI KARANG MEJA
Polip karang merupakan hewan sederhana berbentuk tabung dengan bagian-bagian tubuh sebagai berikut: (1) Mulut terletak di bagian atas, dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan (Suharsono 1996; Timotius 2003) dan sebagai alat pertahanan diri (Timotius, 2003). (2) Tenggorokan pendek, rongga tubuh (coelenteron) merupakan saluran pencernaan. (3) Tubuh terdiri atas dua lapisan, ektoderm dan endoderm (gastrodermis), diantara keduanya dibatasi oleh lapisan mesoglea (Timotius, 2003). Lapisan ektoderm mengandung nematokista (nematocyst) dan sel mukus, sedangkan lapisan endodermisnya mengandung simbion zooxanthellae (Suharsono, 1996). (4) Sistem saraf, otot, dan reproduksi masih sederhana namun telah berkembang dan berfungsi dengan baik (Suharsono, 2004).

PENULIS 
Fahmi Trihartono
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015


EDITOR
Gery Purnomo Aji Sutrisno
FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015

No comments:

Post a Comment