
10 Parasit yang Menyerang Udang Vaname dan Penyakit yang Ditimbulkannya
Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Udang ini banyak dibudidayakan menggunakan sistem tradisional, semiintensif, hingga intensif karena memiliki pertumbuhan relatif cepat dan mampu beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan.
Namun, keberhasilan budidaya udang vaname tidak terlepas dari berbagai ancaman penyakit. Salah satu penyebab gangguan kesehatan udang adalah serangan parasit. Parasit dapat menyerang bagian luar tubuh, insang, kaki renang, kaki jalan, saluran pencernaan, hingga organ hepatopankreas.
Infeksi parasit dapat menyebabkan pertumbuhan udang terhambat, nafsu makan menurun, gangguan pernapasan, ukuran udang tidak seragam, bahkan meningkatkan risiko kematian apabila disertai kondisi lingkungan yang buruk.
Lantas, apa saja parasit yang menyerang udang vaname dan penyakit apa yang ditimbulkannya? Berikut penjelasan 10 jenis parasit yang perlu diketahui oleh para pembudidaya udang.
1. Zoothamnium sp.
Zoothamnium sp. merupakan protozoa golongan Ciliophora yang termasuk ektoparasit. Parasit ini sering ditemukan menempel pada permukaan tubuh, insang, kaki renang, dan kaki jalan udang vaname.
Zoothamnium memiliki bentuk koloni bercabang dengan tangkai yang dapat berkontraksi. Pertumbuhan koloni biasanya lebih mudah terjadi pada lingkungan perairan yang memiliki kandungan bahan organik tinggi.
Organ yang diserang:
Insang.
Karapas.
Kaki renang.
Kaki jalan.
Permukaan tubuh.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan:
Infestasi Zoothamnium.
Gangguan pernapasan akibat penempelan pada insang.
Gangguan pergerakan.
Penurunan kemampuan mencari makanan.
Hambatan pertumbuhan.
Serangan Zoothamnium dalam jumlah tinggi dapat mengganggu proses pertukaran oksigen pada insang. Kondisi tersebut dapat semakin berbahaya apabila kualitas air tambak tidak terjaga.
2. Vorticella sp.
Vorticella sp. merupakan protozoa bersilia yang memiliki bentuk menyerupai lonceng dan tangkai panjang. Organisme ini dapat menempel pada permukaan tubuh udang vaname dan beberapa bagian organ luar.
Vorticella sering ditemukan pada udang yang dipelihara dalam lingkungan dengan akumulasi bahan organik dan sisa pakan.
Organ yang diserang:
Insang.
Kaki renang.
Kaki jalan.
Karapas.
Permukaan tubuh.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan:
Infestasi Vorticella.
Gangguan fungsi insang.
Iritasi permukaan tubuh.
Gangguan aktivitas pergerakan.
Penurunan kondisi kesehatan udang.
Apabila jumlah Vorticella yang menempel terlalu banyak, lapisan koloni parasit dapat mengganggu fungsi insang dan meningkatkan stres pada udang.
3. Epistylis sp.
Epistylis sp. merupakan protozoa bersilia yang dapat hidup berkoloni dan menempel pada berbagai permukaan tubuh organisme perairan.
Parasit ini juga ditemukan pada udang vaname, khususnya pada bagian kaki renang, kaki jalan, insang, dan permukaan tubuh.
Epistylis memiliki bentuk koloni bercabang dengan tangkai yang tidak berkontraksi seperti Zoothamnium.
Organ yang diserang:
Insang.
Kaki renang.
Kaki jalan.
Karapas.
Permukaan tubuh.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan:
Infestasi Epistylis.
Gangguan pernapasan.
Gangguan pergerakan.
Penurunan aktivitas makan.
Penurunan kualitas kesehatan udang.
Keberadaan Epistylis dalam jumlah tinggi dapat mengganggu fungsi organ luar udang. Oleh karena itu, pemeriksaan mikroskopis diperlukan untuk mengetahui tingkat infestasinya.
4. Acineta sp.
Acineta sp. merupakan protozoa golongan suctoria yang termasuk kelompok Ciliophora. Organisme ini memiliki struktur khusus untuk menangkap dan mengisap makanan dari organisme berukuran mikroskopis.
Acineta sp. telah ditemukan dalam penelitian identifikasi ektoparasit pada tambak udang vaname.
Organ yang dapat ditempeli:
Permukaan tubuh.
Insang.
Kaki renang.
Kaki jalan.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan:
Infestasi Acineta.
Gangguan pada permukaan tubuh.
Potensi gangguan fungsi insang apabila infestasi tinggi.
Penurunan kondisi kesehatan udang.
Keberadaan Acineta perlu diperhatikan terutama pada tambak dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan organisme penempel.
5. Trichodina sp.
Trichodina sp. merupakan protozoa bersilia yang memiliki bentuk menyerupai cakram. Parasit ini dikenal dapat menyerang berbagai organisme akuatik.
Pada udang vaname, Trichodina pernah ditemukan sebagai ektoparasit pada pemeriksaan sampel tambak.
Organ yang diserang atau ditempeli:
Permukaan tubuh.
Insang.
Kaki renang.
Kaki jalan.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan:
Infestasi Trichodina.
Iritasi permukaan tubuh.
Gangguan fungsi insang.
Peningkatan stres.
Penurunan kondisi kesehatan udang.
Intensitas infestasi perlu diperhatikan karena keberadaan protozoa dalam jumlah tinggi dapat mengganggu fungsi organ luar udang.
6. Arcella sp.
Arcella sp. merupakan protozoa golongan Amoebozoa yang memiliki cangkang atau struktur pelindung berbentuk seperti kubah.
Organisme ini dapat ditemukan pada lingkungan perairan tawar maupun perairan dengan kondisi tertentu. Penelitian identifikasi parasit pada tambak udang vaname di Padang Pariaman juga melaporkan keberadaan Arcella sp.
Bagian yang dapat ditemukan:
Permukaan tubuh.
Insang.
Sampel lendir dan kotoran tubuh.
Lingkungan perairan tambak.
Gangguan yang berkaitan dengan keberadaannya:
Keberadaan organisme penempel pada permukaan tubuh.
Potensi gangguan pada organ luar apabila ditemukan dalam jumlah tinggi.
Perlu diketahui bahwa Arcella tidak selalu merupakan parasit patogen yang menyebabkan penyakit. Organisme ini juga dapat ditemukan sebagai bagian dari komunitas mikroorganisme perairan.
7. Lagynophryis sp.
Lagynophryis sp. merupakan protozoa bersilia yang termasuk kelompok suctoria. Organisme ini memiliki struktur khusus untuk menangkap makanan dan dapat ditemukan sebagai organisme penempel.
Kelompok suctoria juga dilaporkan dalam kajian parasit yang berkaitan dengan budidaya udang vaname.
Organ yang berpotensi ditempeli:
Permukaan tubuh.
Insang.
Kaki renang.
Kaki jalan.
Gangguan atau penyakit yang berkaitan:
Infestasi protozoa penempel.
Potensi gangguan pada permukaan organ luar.
Gangguan fungsi insang apabila jumlahnya berlebihan.
Identifikasi Lagynophryis perlu dilakukan menggunakan mikroskop agar tidak tertukar dengan jenis protozoa penempel lainnya.
8. Gregarine (Gregarinidae)
Gregarine merupakan kelompok protozoa parasit yang dapat menyerang saluran pencernaan udang vaname.
Berbeda dengan Zoothamnium, Vorticella, dan Epistylis yang umumnya ditemukan pada bagian luar tubuh, gregarine hidup di dalam saluran pencernaan udang.
Parasit ini dapat ditemukan pada usus bagian tengah dan bagian saluran pencernaan lainnya.
Organ yang diserang:
Usus.
Saluran pencernaan.
Bagian lumen usus.
Gangguan atau penyakit yang ditimbulkan:
Infeksi gregarine.
Gangguan penyerapan nutrisi.
Penurunan nafsu makan.
Pertumbuhan lambat.
Ketidakseragaman ukuran udang.
Infeksi gregarine yang berat dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi dan menyebabkan penurunan performa pertumbuhan.
Penelitian pada udang vaname di kawasan Delta Mekong, Vietnam, menemukan infeksi gregarine pada 96,5% sampel udang yang diperiksa.
Namun, tingkat infeksi yang tinggi tidak selalu berarti seluruh udang mengalami penyakit klinis berat.
9. Enterocytozoon hepatopenaei (EHP)
Enterocytozoon hepatopenaei atau EHP merupakan salah satu parasit yang sangat diperhatikan dalam industri budidaya udang vaname.
EHP termasuk kelompok Microsporidia, yaitu organisme parasit yang memiliki spora dan dapat menginfeksi sel inang.
Parasit ini terutama menyerang organ hepatopankreas, yaitu organ penting yang berperan dalam proses pencernaan, penyerapan nutrisi, dan metabolisme udang.
Organ yang diserang:
Hepatopankreas.
Sel epitel hepatopankreas.
Penyakit yang ditimbulkan:
Hepatopancreatic Microsporidiosis (HPM).
Penyakit ini dikenal sebagai salah satu penyebab utama gangguan pertumbuhan udang vaname.
Gejala yang dapat ditemukan:
Pertumbuhan udang lambat.
Ukuran udang tidak seragam.
Perbedaan bobot antarindividu semakin besar.
Efisiensi pakan menurun.
Ukuran panen tidak sesuai target.
Kondisi hepatopankreas mengalami perubahan patologis.
EHP umumnya tidak menyebabkan kematian massal secara langsung, tetapi dapat menimbulkan kerugian ekonomi besar akibat pertumbuhan yang terhambat dan masa pemeliharaan yang lebih panjang.
Penularan EHP dapat terjadi melalui jalur horizontal, termasuk melalui material yang terkontaminasi dan praktik kanibalisme.
Pemeriksaan PCR merupakan salah satu metode penting untuk mendeteksi keberadaan EHP secara lebih akurat.
10. Nematoda (Cacing Parasit)
Nematoda merupakan kelompok cacing berbentuk panjang dan silindris. Beberapa jenis nematoda dapat ditemukan sebagai parasit pada berbagai organisme perairan, termasuk udang penaeid.
Pada udang vaname, penelitian pemantauan patogen juga melaporkan keberadaan larva nematoda pada bagian saluran pencernaan.
Organ yang dapat diserang:
Saluran pencernaan.
Dinding lambung.
Bagian anterior saluran pencernaan.
Gangguan yang dapat ditimbulkan:
Infestasi nematoda.
Iritasi jaringan.
Kerusakan jaringan apabila terjadi penetrasi.
Gangguan saluran pencernaan.
Penurunan kondisi kesehatan udang.
Keberadaan nematoda perlu diperiksa lebih lanjut untuk memastikan identitas spesies dan tingkat bahayanya. Tidak semua nematoda yang ditemukan pada udang otomatis merupakan penyebab penyakit.
Tabel 10 Parasit yang Menyerang Udang Vaname dan Gangguan yang Ditimbulkannya
| No. | Jenis Parasit | Organ yang Diserang | Gangguan atau Penyakit |
|---|---|---|---|
| 1 | Zoothamnium sp. | Insang dan permukaan tubuh | Infestasi Zoothamnium |
| 2 | Vorticella sp. | Insang dan permukaan tubuh | Infestasi Vorticella |
| 3 | Epistylis sp. | Insang dan kaki renang | Infestasi Epistylis |
| 4 | Acineta sp. | Permukaan tubuh dan insang | Infestasi Acineta |
| 5 | Trichodina sp. | Permukaan tubuh dan insang | Infestasi Trichodina |
| 6 | Arcella sp. | Organ luar atau lingkungan perairan | Organisme penempel, belum tentu patogen |
| 7 | Lagynophryis sp. | Permukaan tubuh dan organ luar | Infestasi protozoa penempel |
| 8 | Gregarine | Usus dan saluran pencernaan | Infeksi gregarine |
| 9 | EHP | Hepatopankreas | Hepatopancreatic Microsporidiosis |
| 10 | Nematoda | Saluran pencernaan | Infestasi nematoda |
Catatan: Daftar tersebut merupakan rangkuman kelompok organisme yang pernah dilaporkan pada udang vaname atau udang penaeid. Tidak semua organisme memiliki tingkat patogenisitas yang sama dan tidak semuanya menyebabkan penyakit klinis.
Faktor Penyebab Parasit Berkembang di Tambak Udang Vaname
Perkembangan parasit pada tambak udang vaname dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan dan manajemen budidaya.
Berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
1. Kualitas Air yang Buruk
Kualitas air yang tidak terkontrol dapat menyebabkan udang mengalami stres sehingga lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.
Parameter yang perlu diperhatikan antara lain:
Suhu air.
pH air.
Salinitas.
Oksigen terlarut (DO).
Amonia.
Nitrit.
Alkalinitas.
2. Tingginya Bahan Organik
Sisa pakan, feses udang, plankton mati, dan bahan organik lainnya dapat menumpuk di dasar tambak.
Akumulasi bahan organik dapat mendukung perkembangan mikroorganisme dan organisme penempel seperti beberapa jenis protozoa.
3. Kepadatan Udang Terlalu Tinggi
Padat tebar yang terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan lingkungan dan memperbesar risiko penyebaran organisme penyebab penyakit.
4. Biosekuriti yang Tidak Optimal
Penggunaan peralatan secara bergantian tanpa disinfeksi, pemasukan benur yang tidak teruji kesehatannya, serta sumber air yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan risiko masuknya patogen.
5. Pengelolaan Pakan yang Tidak Tepat
Pemberian pakan berlebihan dapat meningkatkan akumulasi bahan organik dan menurunkan kualitas air tambak.
Cara Mencegah Serangan Parasit pada Udang Vaname
Pencegahan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan udang vaname selama masa pemeliharaan.
Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan pembudidaya:
Memilih benur SPF yang berasal dari hatchery terpercaya dan memiliki hasil pemeriksaan kesehatan yang baik.
Melakukan pemeriksaan mikroskopis terhadap benur sebelum penebaran.
Melakukan pemeriksaan parasit secara berkala.
Menjaga kualitas air tambak sesuai kebutuhan biologis udang.
Mengontrol pemberian pakan menggunakan anco.
Mengelola lumpur dan limbah organik di dasar tambak.
Melakukan pengelolaan air secara teratur.
Menerapkan biosekuriti pada pintu masuk tambak.
Menghindari penggunaan peralatan antarpetak tanpa disinfeksi.
Melakukan pemeriksaan PCR apabila terdapat dugaan infeksi EHP.
Apabila ditemukan indikasi serangan parasit, pembudidaya sebaiknya melakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan pengendalian.
Penggunaan bahan kimia atau obat-obatan tanpa diagnosis yang tepat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap udang, lingkungan tambak, dan organisme non-target.
Cara Pemeriksaan Parasit pada Udang Vaname
Pemeriksaan parasit dapat dilakukan melalui pengamatan langsung dan pemeriksaan laboratorium.
Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain:
1. Pemeriksaan Mikroskopis (Wet Mount)
Metode ini dilakukan dengan mengambil sampel lendir, insang, kaki renang, kaki jalan, atau jaringan tertentu untuk diamati menggunakan mikroskop.
Metode wet mount dapat membantu mengidentifikasi beberapa jenis ektoparasit dan organisme mikroskopis.
2. Pemeriksaan Histopatologi
Metode histopatologi digunakan untuk mengetahui perubahan jaringan akibat infeksi parasit.
Pemeriksaan ini sangat bermanfaat untuk mengamati kerusakan jaringan hepatopankreas akibat infeksi EHP.
3. Pemeriksaan PCR
PCR merupakan metode deteksi molekuler yang digunakan untuk mengidentifikasi materi genetik patogen tertentu.
Pemeriksaan PCR sangat penting untuk mendeteksi EHP karena keberadaan parasit ini tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan visual udang.
Kesimpulan
Parasit merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu keberhasilan budidaya udang vaname. Beberapa jenis parasit yang perlu diperhatikan adalah Zoothamnium sp., Vorticella sp., Epistylis sp., Acineta sp., Trichodina sp., Arcella sp., Lagynophryis sp., Gregarine, Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), dan nematoda.
Setiap kelompok parasit memiliki karakteristik, lokasi infeksi, serta dampak yang berbeda terhadap kesehatan udang.
Salah satu parasit yang paling penting mendapatkan perhatian adalah EHP karena dapat menyerang hepatopankreas dan menyebabkan pertumbuhan udang terhambat.
Oleh karena itu, pengelolaan kualitas air, penerapan biosekuriti, pemilihan benur berkualitas, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah penting untuk meningkatkan keberhasilan budidaya udang vaname.
Dengan manajemen kesehatan yang baik, pembudidaya diharapkan dapat menekan risiko serangan parasit, meningkatkan produktivitas tambak, dan memperoleh hasil panen yang optimal.
Melekperikanan.com – Since 2019. Bismillah, Semoga Ilmu yang Didapat Bermanfaat.
Artikel ini disusun dengan mengacu pada beberapa penelitian ilmiah berikut:
- Hafidloh & Sari (2019). Protozoan Parasites of Vannamei Shrimp (Litopenaeus vannamei) in Farmed Fish from Pasuruan. Penelitian Universitas Airlangga dan IOP Publishing
- Mairawita dkk. (2025). Prevalence of Parasites and Water Quality Measurement in Vannamei Shrimp Ponds in Padang Pariaman Area, Indonesia. Jurnal Pembelajaran dan Biologi Nukleus
- Dang dkk. (2021). Investigation of Parasites in the Digestive Tract of White Leg Shrimp (Litopenaeus vannamei) Cultured at Coastal Farms in the Mekong Delta. Can Tho University Journal
- Kumar dkk. (2024). Ecytonucleospora hepatopenaei (EHP) Disease Prevalence and Mortality in Litopenaeus vannamei. BMC Microbiology
- Dinisa dkk. (2022). Prevalensi dan Intensitas Ektoparasit pada Benur Udang Vaname di Kabupaten Jepara. Jurnal TECHNO-FISH
- Fisheries and Oceans Canada. Gregarine Disease of Penaeid Shrimp. Informasi penyakit gregarine pada udang penaeid
Post a Comment for "10 Parasit yang Menyerang Udang Vaname dan Penyakitnya"